Konsultasi

Apakah Boleh Zakat Fithrah Untuk Selain Fakir Miskin?

Fri 10 July 2015 - 21:59 | 1555 views

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh,

Ustadz, saya ada pertanyaan mengenai zakat fitrah. Yaitu soal masharif-nya. apakah zakat fitrah itu hanya untuk fakir miskin saja sebagaimana yang banyak kita dengar? Atau apakah boleh zakat fitrah itu juga kita berikan kepada mustahiq2 lain, seperti gharim, muallaf, amil, fi sabilillah dan ibnu sabil. Mohon penjelasannya sekaligus rukujan kitab ulama2 madzhab yang muktamad.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Membuka artikel ini, ada hal yang harus diketahui bahwa Penyebutan zakat fitrah sebenarnya kurang tepat, walaupun tidak bisa dikatakan salah. Penyebutan yang sering dipakai oleh ulama itu adalah zakat al-Fithr.

Masalah mustahiq zakat al-fithr ini memang sejak dulu sampai saat ini masih dalam perselisihan, apakah memang mustahiq dalam zakat al-Fithr ini sama seperti zakat yang lain, atau memang hanya si fakir dan miskin saja yang mendapatkannya.

1. Zakat al-Fithr Untuk 8 Mustahiq

Ini pandangan yang dipegang oleh jumhur ulama dari 4 madzhab fiqih selain madzhab al-Malikiyah. Madzhab al-Hanafiyah dan al-Syafi’iyyah serta al-Hanabilah mengemukakan bahwa masharif atau mustahiq zakat Fithr itu sama seperti zakat harta pada umumnya yang berjumlah 8 golongan itu.

Pendapat jumhur ini didasari karena memang zakat fitrah itu salah satu zakat. Ia tetaplah zakat, karena zakat maka kotak penyalurannya pun sama seperti kotak penyaluran zakat pada umumnya. Dengan Masharif zakat fitrah itu ada 8 golongan sebagaimana jelas termaktub dalam al-Taubah ayat 60:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالمـسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالمـؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. At-Taubah : 60)

 

Artinya ketentuan masharif zakat fitrah itu sama seperti ketentuan zakat pada umumnya, dan Amil masuk dalam bagian penerima zakat.

Dalam kitab Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar (2/368) yang merupakan kitab fiqih muktamad madzhab al-Hanafiyah disebutkan:

(وَصَدَقَةُ الْفِطْرِ كَالزَّكَاةِ فِي الْمَصَارِفِ) وَفِي كُلِّ حَالٍ (إلَّا فِي) جَوَازِ (الدَّفْعِ إلَى الذِّمِّيِّ)

“zakat Fithr sama seperti zakat lain dalam hal masharifnya, dalam segala aspeknya. Kecuali dalam masalah boleh tidaknya seorang kafir dzimmy menerima zakat.”  

 

Imam Ibnu Qudamah dari kalangan al-Hanabilah dalam kitabnya al-Mughni (3/98) menyebutkan:  

وَيُعْطِي صَدَقَةَ الْفِطْرِ لِمَنْ يَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَ صَدَقَةَ الْأَمْوَالِ إنَّمَا كَانَتْ كَذَلِكَ؛ لِأَنَّ صَدَقَةَ الْفِطْرِ زَكَاةٌ، فَكَانَ مَصْرِفُهَا مَصْرِفَ سَائِرِ الزَّكَوَاتِ، وَلِأَنَّهَا صَدَقَةٌ، فَتَدْخُلُ فِي عُمُومِ قَوْله تَعَالَى: {إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ} [التوبة: 60] الْآيَة.

dan zakat fitrah itu diberikan kepada kelompok yang mana zakat harta boleh diberikan kepada mereka, dan memang begitu. Karena zakat fitrah adalah zakat juga. Maka masharifnya sama seperti masharif zakat yang lain. Dan ia termasuk sedekah (wajib) yang masuk dalam keumuman ayat 60 al-taubah.”

 

Bahkan madzhab al-Syafi’iyah mewajibkan zakat itu harus sampai kepada 8 kelompok yang disebutkan itu, bukan hanya satu atau dua kelompok saja. Imam al-Ramliy dalam kitabnya, Nihayah al-Muhtaj (6/164) menegaskan:

(يَجِبُ) (اسْتِيعَابُ الْأَصْنَافِ) الثَّمَانِيَةِ بِالزَّكَاةِ وَلَوْ زَكَاةَ الْفِطْرِ

“wajib hukumnya meratakan pembagian zakat ke semua 8 kelompok mustahiq itu, termasuk juga zakat fitrah”.

 

Madzhab al-Syafi’iyah mewajibkan zakat itu harus sampai ke 8 kelompok penerima zakat, atau berapapun yang memang ada ketika itu. Kalau yang ada 7, maka kesemuanya harus dapat dan begitu juga kalau jumlah penerima yang ada hanya 3 atau 2 kelompok.

2. Zakat al-Fithr Hanya Untuk Fakir

Berbeda dengan jumhur, madzhab Fiqih al-Maliki justru mengatakan dengan tegas bahwa zakat fithr itu hanya untuk fakir. Imam al-Dardir mengatakan:

)وَإِنَّمَا تُدْفَعُ لَحُرٍّ مُسْلِمٍ فَقِيرٍ) غَيْرِ هَاشِمِيٍّ فَتُدْفَعُ لِمَالِكِ نِصَابٍ لَا يَكْفِيهِ عَامَهُ فَأَوْلَى مَنْ لَا يَمْلِكُهُ لَا لِعَامِلٍ عَلَيْهَا وَمُؤَلَّفٍ قَلْبُهُ وَلَا فِي الرِّقَابِ وَلَا لِغَارِمٍ وَمُجَاهِدٍ وَغَرِيبٍ

dan zakat fithr itu diberikan kepada orang yang fakir lagi merdeka. Bukan dari bani Hasyim. Jadi diberikan kepada orang yang punya harta mencapai nishab tapi tidak mencukupi kebutuhannya dalam setahu (kategori fakir menurut madzhab al-Malikiyah), apalagi ia yang tidak punya sama sekali. Dan zakat Fithr ini tidak diberikan kepada Amil, tidak juga kepada muallaf, tidak kepada budak, tidak kepada orang yang berhutang, tidak juga kepada mujahid atau juga musafir”. (Hasyiyah al-Dusuqi ‘ala al-Syarh al-Kabir 1/508)

Dan pendapat ini kemudian diikuti oleh Imam Ibnu Taimiyah. Ini didasarkan pada hadits perintah zakat fithr itu sendiri yang kemudian Nabi saw mengatakan bahwa alokasinya itu kepada si miskin dan tidak menyebutkan golongan yang lain. (Majmu’ al-Fatawa 25/73)

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

Ibnu Abbas berkata: Nabi saw mewajibkan zakat fithr sebagai pensucian diri muslim yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor. Serta sebagai makanan bagi orang miskin”. (HR Abu Dauda dan Ibnu Majah)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc