Konsultasi

7 Lubang Tubuh Yang Membatalkan Puasa

Fri 26 June 2015 - 10:03 | 2887 views

Assalamualaikum ustadz,

Ada salah seorang ustadz yang saya liat di tivi beberapa hari lalu, menjelaskan kalau dalam tubuh manusia ini ada 7 lubang yang jika kemasukan sesuatu maka batal puasa kita. Pertanyaannya adalah apakah memang benar seperti itu? Dan mohon penjelasan tentang 7 lubang dalam diri kita itu yang jika kemasukan sesuatu, maka puasa kita batal. Lubang apa saja?

syukran, wassalamualaikum

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ini memang yang masyhur dalam madzhab al-Syafi’iyyah, mengingat bahwa yang membatalkan puasa adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam jauf atau rongga. Dan harus diperhatikan lagi bahwa ini termasuk masalah yang tidak disepakati, artinya ada perbedaan pandangan di dalam masalah ini. perbedaannya bersumbu pada makna dari jauf atau rongga itu sendiri.

Semua sepakat bahwa yang membatalkan puasa adalah adanya sesuatu yang masuk ke dalam rongga tubuh manusia, akan tetapi mereka berselisih dengan apa itu yang disebut dengan jauf atau rongga;

Pertama: kelompok ulama yang mengatakan bahwa Jauf yang dimaksud itu ialah seluruh anggota tubuh manusia yang mempunyai rongga atau ruang. Seperti Faring tenggorokan, otak (rongga tengkorak), rongga perut, rongga dada, rongga telinga, rongga hidung dan seterusnya sampai usus serta lambung.

Kedua: Kelompok ulama lain yang mengatakan bahwa Jauf (Rongga) yang dimaksud oleh ulama fiqih dalam masalah puasa ialah hanya lambung, atau alat pencernaan manusia seperti usus dan lambung. Selain itu bukanlah disebut Jauf.

Nah perbedaan pendapat inilah yang akhirnya membuat perbedaan hukum dalam hal sesuatu yang membatalkan puasa. Apakah yang masuk dalam rongga secara makna umum? Atau rongga yang dimaksud dengan lambung sebagai tempat makanan? Untuk lebih jelasnya tentang makna Jauf (Rongga) menurut 4 madzhab Fiqih, kami sudah jelaskan di sini (Klik http://goo.gl/6fq715 )

Dan dalam madzhab al-Syafi’iyyah, 7 lubang itulah yang merepresentasikan jauf atau rongga yang memang membatalkan puasa jika kemasukan sesuatu, walaupun memang dari 7 lubang itu ada yang bukan termasuk jauf atau rongga. Dan masuk dalam kategori membatalkan puasa karena sebab lain. 7 lubang yang dimaksud adalah Lubang mulut, 2 lubang hidung, 2 lubang telinga, lubang kemaluan depan dan lubang kemaluan belakang.  

a. Lubang Mulut

Dalam madzhab ini, ada pembagian mulut bagian zahir (luar) dan mulut bagian Bathin (dalam). Yang dimaksud mulut bagian dalam yaitu tempat keluarnya huruf Ha’ (kecil) yang berada di awal bagian kerongkongan sampai seterusnya itulah bagian dalam mulut yang kalau ada sesuatu masuk ke situ, makanan atau bukan makanan, maka batal puasanya. Sedangkan mulut bagian luar adalah dari mulai bibir mulut sampai awal kerongkongan atau tempat keluarnya huruf Ha’ kecil dan juga Hamzah. (Mughni al-Muhtaj 2/194)

Maka dari itu dalam hal menelan ludah, madzhab ini mensyaratkan bahwa menelan ludah tidak batal dengan persyaratan:

1.   Ludah belum keluar dari mulut, artinya masih di bagian zahir (luar mulut),

2.   Ludahnya tidak tercampur dengan sesuatu yang lain dengan faktor sengaja.

Sedangkan untuk sisa makanan, imam Nawai menjalskan dalam al-Minhaj (hal. 76):

وَلَوْ بَقِيَ طَعَامٌ بَيْنَ أَسْنَانِهِ فَجَرَى بِهِ رِيقُهُ لَمْ يُفْطِرْ إنْ عَجَزَ عَنْ تَمْيِيزِهِ، وَمَجِّهِ.

“Kalau seandainya ada sisa makanan di antara giginya kemudian bercampur dengan ludahnya (dan tertelan) itu tidak membatalkan, jika memang sulit untuk memisahkannya dan juga membuangnya”

Imam Ibn Hajar al-Haitami ketika menjelaskan kalimat Imam Nawawi di atas, beliau mengatakan bahwa yang tidak membatalkan adalah memang sisa makanan yang tidak bisa terpisah dengan ludah karena kecilnya atau juga karena sulit dan sudah bercampur. Akan tetapi jika memang sisanya besar dan bisa dipisahkan lalu sengaja dikunyah agar bercampur dengan ludah, lalu ditelan itu termasuk membatalkan puasa. (Tuhfatul-Muhtaj 3/407)

b. 2 Lubang Hidung

Dalam al-Minhaj (hal. 75) Imam Nawawi menjelaskan, mana kadar lubang hidung yang jika kemasukan sesuatu itu batal dan mana yang tidak batal:

وَلَوْ سَبَقَ مَاءُ الْمَضْمَضَةِ أَوْ الِاسْتِنْشَاقِ إلَى جَوْفِهِ فَالْمَذْهَبُ أَنَّهُ إنْ بَالَغَ أَفْطَرَ وَإِلَّا فَلَا

“Kalau air kumur-kumur dan juga air istinsyaq (membersihkan hidung) masuk ke dalam rongganya, madzhab kami (al-syafiiyah) menghukumi itu batal puasa jika dilakukan secara berlebihan dan tidak batal jika tidak berlebihan.”

Imam al-Syirbini menjalskan teks Imam Nawawi ini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj (2/197-198), beliau menjelaskan bahwa dengan teks ini yang membatalkan ialah jika memasukkan sesuatu melebih batas wajar, seperti berlebih-lebihan dalam wudhu. Karena memang dalam wudhu kita dianjurkan oleh Nabi s.a.w. untuk ber-Mubalaghah (berlebihan) dalam kumur-kumur dan juga membersihkan hidung. Maksudnya tidak sekedar masuk air, akan tetapi benar-benar serius membersihkan.

Akan tetapi membersihkan ini secara mubalaghah (berlebihan) hanya boleh jika kita sedang dalam keadaan tidak berpuasa. kalau berpuasa, maka ber-mubalaghah dalam kumur-kumur dan membersihkan hidung itu dilarang. Artinya kumur-kumur dan membersihkan hidung itu sewajarnya saja, karena dikhawatirkan akan ada yang masuk, karena 2 lubang tersebut adalah bagian dari jauf (rongga).

بَالِغْ فِي الاِسْتِنْشَاق ، إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Nabi s.a.w. bersabda: “ber-mubalaghah (serius) lah dalam membersihkan hidung (ketika wudhu) kecuali jika kau dalam keadaan puasa”. (HR. Abu Daud dan al-Hakim juga Ibn Abi Syaibah)

Dalam bahasa lain, lubang hidung yang terjangkau dengan jari saat membuang kotoran itulah yang dikatakan wajar. Sedangkan mengoreknya dengan sesuatu yang sampai pada ujung hidung mendekati bagian mata, itulah yang tidak dikatakan wajar.

c. 2 Lubang Telinga

Batal puasa seorang muslim –menurut madzhab ini- kalau ada sesuatu yang masuk ke dalam lubang salah satu telinganya, seperti meneteskan air ke dalamnya. Imam Nawawi dalam al-Minhaj (hal. 75) mengatakan:

وَالتَّقْطِيرُ فِي بَاطِنِ الْأُذُنِ وَالْإِحْلِيلِ مُفْطِرٌ فِي الْأَصَحِّ

“meneteskan air ke dalam kuping bagian dalam dan juga ke dalam lubang kemaluan itu membatalkan puasa dalam pendapat yang lebih shahih (dalam madzhab kami).”

Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam hal ini, bahwa Imam Nawawi menyebutkan dengan kata Bathin al-Udzun, yakni telinga bagian dalam, itu adalah bagian dalam telinga yang sudah tidak terjangkau oleh jari terkecil kita, yakni kelingking. Begitu salah satu penjelasan ulama al-Syafiiyyah yang dikutip oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul-Muhtaj (3/403).

Artinya telinga bagian luar tidak termasuk dalam lubang yang batal puasa kita jika kemasukan sesuatu. Seperti kita wudhu, itu tidak membatalkan puasa, karena masuknya sampai pada lubang yang wajar, yakni terjangkau dengan jari kita, dan itu bukan bagian dalam.

Poin keduanya dari perkataan Imam Nawawi di atas adalah bahwa beliau mengatakan “ini pendapat yang lebih shahih”, artinya memang bahwa dalam madzhab ini, memasukkan air ke telinga tidak semua ulama al-Syafiiyah mengatakan batal puasanya. Imam al-Rafi’I dalam al-Syarhu al-Kabir menjelaskan bahwa beberapa ulama al-Syafi’iyyah tidak sepakat bahwa masuknya air ke telinga itu membatalkan wudhu, karena memang tidak ada jalur dari telinga yang menghubungkannya ke jauf (rongga) perut atau lambung. Ini yang pegang oleh Imam al-Ghazali, juga al-Qadhi Husain dan juga al-Faurani.

d. Lubang Kemaluan Depan dan Belakang

Puasa seorang muslim batal jika ada sesuatu yang ia atau orang lain masukkan ke dalam lubang kemaluannya, baik depan maupun belakang. Dan biasanya beberapa pengobatan menggunakan metode ini, yakni memasukkan obat dari lubang dubur, semua sepakat itu membatalkan.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan dalam Tuhfatul-Muhtaj (3/403):

وَكَذَا يُفْطِرُ بِإِدْخَالِ أَدْنَى جُزْءٍ مِنْ أُصْبُعِهِ فِي دُبُرِهِ أَوْ قُبُلِهَا بِأَنْ يُجَاوِزَ مَا يَجِبُ غَسْلُهُ فِي الِاسْتِنْجَاءِ

“Dan begitu juga batal puasanya, jika memasukkan bagian terkecil jarinya ke dalam duburnya dan juga qubulnya (lubang depan), yakni dengan memasukkannya melebihi dari apa yang harus dibasuh ketika istinja’ (mensucikan kotoran dari 2 lubang itu).”

Syarat Membatalkan

Inilah 7 lubang pada tubuh manusia yang dimaksud dalam madzhab al-Syafi’iyyah yang memang membatalkan puasa jika ada sesuatu masuk ke dalam lubang-lubang tersebut. Dan salah satu syarat membatalkan adalah jika memang benda itu masuk dengan sengaja, sebagaimana dijelasn oleh Imam Nawawi (al-Minhaj hal. 75) dalam teks berikut ini:

وَشَرْطُ الْوَاصِلِ كَوْنُهُ مِنْ مَنْفَذٍ مَفْتُوحٍ فَلَا يَضُرُّ وُصُولُ الدُّهْنِ بِتَشَرُّبِ الْمَسَامِّ. وَلَا الِاكْتِحَالُ وَإِنْ وَجَدَ طَعْمَهُ بِحَلْقِهِ. وَكَوْنُهُ بِقَصْدٍ: فَلَوْ وَصَلَ جَوْفَهُ ذُبَابٌ، أَو بَعُوضَةٌ، أَوْ غُبَارُ الطَّرِيقِ، أَوْ غَرْبَلَةُ الدَّقِيقِ لَمْ يُفْطِرْ.

“syarat sesuatu yang masuk (dan membatalkan puasa) adalah ia masuk ke lubang tubuh yang terbuka, karenanya tidak membatalkan puasa masuknya minyak lewat pori-pori, dan juga tidak membatalkan memakai celak mata walaupun ada celak itu ada rasanya.

(dan syarat selanjutnya) ia masuk ke lubang itu dengan sengaja, maka jika ada lalat masuk ke rongganya, atau juga nyamuk, atau juga debu jalan, atau debu terigu (yang terbang jika ditepuk), itu semua tidak membatalkan.”

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc