Konsultasi

Ilmu, Syarat Mutlak Berdakwah

Thu 25 June 2015 - 04:30 | 1404 views

Assalamuaalaikum ustd. Bnyk saya melihat org yg smgat berdkwah, ceramah kesana kemari dll. Tp yg plg sering dibahs adalh masalah khilafiyah. Lalu mengambil satu pndapat dan menyalahkan pndpat yg lain. Misal msalh qunut subuh, mereka mngatakn itu bidah dan pndapat ini yg benar. Pertanyaan sy ustd bkankah dakwah intinya amar ma`ruf nahi munkar. Apakah masalah khilafiah seperti kasus diatas bisa disebut amar ma`ruf nahi munkar.?? moohn penjelasannya. syukran

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ya. Memang yang namanya amar ma’ruf Nahyu Munkar adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki; entah itu dengan kekuatan, atau juga dengan ilmunya, atau kalau kedua media itu tidak punya dan tidak bisa, cukuplah dengan hati dan diri yang tidak meridhai dan membenci kemunkaran tersebut.

Dan kewajiban beramar ma’ruf serta nahyi munkar adalah kewajiban bagi muslim yang tidak ada seorang pun sejagad ini menyelisih kewajiban tersebut. Semua sepakat satu suara bahwa muslim wajib melakukan itu, dengan cara yang mereka mampu.

Tapi memang melakukan amar ma’ruf serta nahyu munkar, tidak bisa dikerjakan dengan terjun bebas sesuai dengan semangat yang menggebu di dada. Semangatnya bagus, akan tetapi jika itu dilepas begitu saja, khawatir malah ada aturan yang dilanggar. Alih-alih menegakkan hukum agama, eh malah melanggar hukum agama itu sendiri. Maka dari itu, Imam Ibn Taimiyyah secara gamblang dalam kitabnya al-Istiqamah pada Bab al-Amru bil-Ma’ruf wa al-Nahyu ‘anil-Munkar menjelaskan syarat mutlak seorang yang akan menjadi penggiat makruf serta penghalang kemunkaran. Beliau mengatakan:

فَلَا بُد من هَذِه الثَّلَاثَة الْعلم والرفق وَالصَّبْر الْعلم قبل الْأَمر وَالنَّهْي والرفق مَعَه وَالصَّبْر بعده وان كَانَ كل من الثَّلَاثَة لَا بُد ان يكون مستصحبا فِي هَذِه الاحوال

“harus ada 3 hal ini; ilmu, santun, dan sabar, (dalam amar ma’ruf dan nahyu munkar). Ilmu sebelum amar ma’ruf nahyi munkar, santun ketika melaksanakan itu, dan sabar setelah melakukan itu. Walapun sejatinya ketiganya harus selalu berdampingan.” (al-Istiqamah 2/233)

Syarat Amar Ma’ruf Nahyu Munkar

Ini adalah 3 syarat utama dalam melaksanakan tugas amru bil-Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil-Munkar; Ilmu, santun, sabar.

Nah dengan ilmu itulah seseoang akhirnya akan tahu, mana itu kemunkaran yang memang harus dilawan dan diperangi dengan segenap kekuatan. Akan tetapi ada sesuatu yang memang sifat atau status bahwa itu kemunkaran masih diperdebatkan. Dan itu adalah ranahnya fiqih, yakni masalah ijtihadiyah, yang mana ada ulama atau madzhab mengatakan itu halal akan tetapi ada ulama lain yang justru berfatwa bahwa itu adalah sesuatu yang haram. Ini yang harus diperhatikan.

Dalam masalah ini, ada kaidah fiqih yang mana ulama memegang itu demi tidak terjadi perkara saling menyalahkan satu sama lain. Yaitu:

لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ

“Tidak boleh menginkari perkara yang (keharamannya) masih diperdebatkan, tapi (harus) menginkari perkara yang (keharamannya) sudah disepakati” (Al-Asybah wa Al-Nazhoir li Al-Suyuthi 158)

Ini dijelaskan secara gamblang oleh Imam Al-Suyuthi dalam kitabnya yang memang ditulis untuk membahas kaidah-kaidah fiqih, Al-Asybah wa Al-Nazhoir, bahwa kita tidak bisa seenaknya menyalahkan orang lain yang melakukan sebuah perkara yang haramnya masih diperdebatkan. Mungkin saja, ia berpegang dengan pendapat yang tidak mengharamkan itu, berbeda dengan apa yang kita pegang.

Akan tetapi jika keharaman sesuatu itu sudah disepakati, seperti haramnya zina, mencuri, korupsi, riba, meninggalkan sholat, dan sejenisnya, maka tidak ada kata kompromi lagi. Kalau dia sudah disepakati haram, sudah tidak ada lagi toleransi untuk mereka yang mau melakukannya. Di sini ulama fiqih sangat memperhatikan keberlangsungan hidup harmonis antar sesama, dengan tidak menyalahkan siapa yang berbeda dengan apa yang kita yakini, selama memang apa yang diyakininya itu bersandar kepada pendapat ulama lain yang juga muktamad.

Dengan mengetahui ini, seharusnya seorang da’i tahu mana yang harus diributkan dan dierdebatkan dengan dalam, yakni pada masalah-masalah yang memang keharamannya sudah disepakati. Dan itulah kemunkaran. Kita sudah tidak bisa tutup mata lagi, bahwa sadar atau tidak sadar, kita sangat tahu bahwa perpecahan dan gesekan yang banyak terjadi di kalangan masyarakat adalah karena masing-masing pihak selalu menyalahkan pihak lain yang memang berbeda dalam beberap hal furu’iyyah yang sejatinya tidak perlu diributkan sama sekali.

Sikap Ulama Terhadap Perbedaan

Maka untuk lebih menguatkan hal ini, kami kutip beberapa pernyataan ulama tentang bagaiman menyikapi perbedaan ini, yang seharusnya dan wajibnya tidak perlu diributkan terlalu lama, apalagi disalahkan salah satunya:

Imam Ibn al-‘Arabiy

فإن العالم لا ينضج حتى يترفع عن العصبية المذهبية

Sesungguhnya, seorang berilmu itu belum matang keilmuannya jika tidak meninggalkan fanatisme madzhab (Ibn al-’Arabiy dalam al-’Awashim min al-Qawashim, hal. 17)

Imam Sufyan al-Tsauri

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ الَّذِي قَدِ اخْتُلِفَ فِيهِ وَأَنْتَ تَرَى غَيْرَهُ فَلَا تَنْهَهُ

Sufyan al-Tsauri berkata: “jika kamu melihat orang lain mengamalkan sesuatu yang masih diperselisihkan hukumnya dan kamu berpendapat berbeda dengannya, maka jangan larang dia”. (al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Faqih wa al-Mutafaqqih 2/136)

Imam Ibnu Muflih al-Hanbali

وَقَدْ قَالَ أَحْمَدُ فِي رِوَايَةِ الْمَرُّوذِيِّ لَا يَنْبَغِي لِلْفَقِيهِ أَنْ يَحْمِلَ النَّاسَ عَلَى مَذْهَبِهِ. وَلَا يُشَدِّد

Imam Ahmad yang diriwayatkan oleh al-Marudzi berkata: “seorang ahli fiqih tidak pantas memaksa orang untuk mengikuti madzhabnya dan bersikap keras (bagi yang menyelisih)”. (Ibn al-Muflih dalam al-Adab al-Syar’iyyah 1/166)

Imam an-Nawawi

لَيْسَ لِلْمُفْتِي وَلَا لِلْقَاضِي أَنْ يَعْتَرِضَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُ إِذَا لَمْ يُخَالِفْ نَصًّا أَوْ اجماعا أوقياسا جَلِيًّا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Seorang mufti tidak pantas berseteru dengan orang yang menyelisih fatwanya, selama ia (yang berbeda) tidak menyelisih nash, atau ijma’ atau qiyas jaliy”. (Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 2/24)

Banyak Ilmu = Bijak Berdakwah

Seseorang yang maju ke medan dakwah, bukan hanya semangat yang dibawa, tapi juga ilmu yang cukup, agar dakwaahnya tidak asal sruduk dan tidak grasak-grusuk.

Maka wajar saja ada beberapa ulama yang mengatakan “man katsura ilmuhu, qalla inkaruhu” (siapa yang banyak ilmunya, ia sedikit menginkari). Maksudnya ialah orang yang punya banyak ilmu, ia sedikit untuk menginkari apa yang dilakukan oleh orang lain. Tidak asal marah ketika melihat –menurut pandangannya- ada yang keliru, dan juga tidak asal vonis bersalah. Tapi beliau teliti dulu. Persis apa yang dilakukan Imam Ibnu Taimiyah tadi.

Begitu juga, makin banyak seorang pendakwah pengetahunnya tentang syariah dan perbedaan fiqih serta pandangan-pandangan ulama dan madzhab dengan dalil-dalilnya, ia akan jauh lebih wise dalam dakwahnya. Ia tidak akan langsung memvonis salah atau sesat ketika melihat ada yang berbeda, karena ia tahu bahwa dalam satu masalah, bukan hanya ada satu pandangan, tapi ada juga pandangan lain dari ulama.

Dan sebaliknya, orang yang sedikit ilmunya, pasti banyak inkarnya. Maksudnya ia justru sering marah dan menginkari apa yang dilakukan oleh saudaranya itu hanya karena mereka melakukan ritual yang ia tidak lakukan. Bahkan tidak jarang –dengan beraninya- mereka memvonis orang lain sesat dan salah serta keliru. Padahal masalahnya adalah masalah yang masih dalam perdebatan ulama.

Jadi, agar dakwahnya tepat dan diterima, syarat mutlak –seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah- adalah Ilmu yang cukup. Makin banyak ilmu, makin banyak tahu, makin banyak tahu, jadi tidak mudah menuduh. Membuka cakrawal syariah serta tidak stag hanya pada satu pandangan.

فَإِنَّ الْقَصْدَ وَالْعَمَلَ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِعِلْمٍ كَانَ جَهْلًا وَضَلَالًا وَاتِّبَاعًا لِلْهَوَى

“sejatinya maksud/tujuan (yang baik) dan pekerjaan yang tidak dibarengi dengan ilmu, itu berarti kebodohan dan kesesatan serta hanya mengikuti hawa nafsu” (Imam Ibnu Taimiyah dalam al-Istiqamah 2/230)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc