Konsultasi

Niat 2 Rakaat Tapi Shalat 4 Rakaat, Sah atau Tidak Shalatnya?

Wed 24 June 2015 - 04:50 | 2223 views

assalamualaikum ustadz Ahmad,

begini, masalah yang sering kali terjadi di shalat tarawih dan witir di bulan Ramadhan adalah perbedaan antara niat rakaat dan shalat itu sendiri. Kasusnya ada beberapa masjid yang memang tidak mempunyai bilal dan si Imam juga tidak bilang berapa rakaat shalat witir atau tarawih yang ia akan laksanakan. Mungkin bagi mereka penduduk setempat tidak masalah, karena sudah terbiasa. Tapi ada di antara makmum itu orang-orang baru atau orang yang sedang singgah di masjid. Karena tidak tahu, ia berniat shalat tarawih sebagaimana biasa yang ia lakukan.; ia berniat 2 rakaat ternyata imam shalat 4 rakaat.

Begitu juga dalam shalat witir, biasanya ia shalat dengan format 2 rakaat + 1 Rakaat. Akan tetapi setelah berniat 2 rakaat, ternyata imam malah meneruskan shalatnya sampai rakaat ketiga dan tidak salam di rakaat kedua. Ini sering terjadi. lalu bagaimana nasib shalatnya makmum? yang nyata2 niat rakaatnya berbeda dengan rakaat yang ia lakukan? mohon penjelasannya ustadz. syukran wassalamualaikum.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kasusnya bersumbu pada masalah boleh atau tidak seseorang merubah niatnya ketika shalat dengan menambah atau mengurangi jumlah rokaat yang sudah diniatkan di awal shalat? Ketika takbiratul-ihram berniat shalat 2 rakaat, tapi di tengah shalat malah nambah jadi 4 rakaat misalnya. Atau dari awal berniat 4 rakaat, tapi di tengah shalat malah dipangkas jadi 2 rakaat. Bolehkah seperti itu?

Kalau itu shalat fardhu yang 5 waktu, semua ulama sepakat tidak membolehkannya. Karena yang namanya shalat fardhu, jumlah rakaatnya sudah paten dan tak mungkin berubah atau berganti-ganti.

Jadi yang memungkinkan adanya perubahan niat dengan tambah atau mengurangi rakaat itu ada pada shalat sunnah, seperti tarawih atau witir (yang kita bicarakan) dan juga sunnah mutlak.

Shalat sunnah mutlak ialah shalat sunnah yang dikerjakan tanpa ditentukan dan tanpa ada sebabnya. Berbeda dengan shalat sunnah non-mutlak yang sudah ditentukan jenisnya dan sebabnya. Seperti qabliyah, jenisnya qabliyah dan sebabnya karena adanya shalatnya fardhu.

Boleh di Shalat Sunnah Mutlak

Kalau itu shalat sunnah mutlak, ulama membolehkan dengan syarat merubah niat sebelum menambah rakaat atau menguranginya. Karena memang tidak ada ketentuan rakaat maksimal dalam shalat sunnah mutlak, baik sunnah mutlak di malam atau siang hari.

Dalam kitabnya al-Majmu’ (4/50), Imam al-Nawawi (676 H) menjelaskan:

ثم إذا نوى عددا فله أن يزيد وله أن ينقص فمن أحرم بركعتين أو ركعة فله جعلها عشرا ومائة ومن أحرم بعشر أو مائة أو ركعتين فله جعلها ركعة ونحو ذلك قال اصحابنا وإنما يجوز الزيادة والنقص بشرط تغيير النية قبل الزيادة والنقص فان زاد أو نقص بلا تغيير النية عمدا بطلت صلاته بلا خلاف.

“kemudian jika salah seorang berniat shalat beberapa rakaat, boleh baginya untuk menambah atau mengurangi rakaatnya tersebut. Seperti orang yang bertakbiratul-ihram dengan 2 rakaat atau 1 rakaat, boleh baginya menjadikannya 10 dan (bahkan) 100 rakaat. Dan jika bertakbiratul-ihram dengan 10 rakaat atau 100 rakaat atau 2 rakaat, boleh baginya menjadikan itu 1 rakaat atau semisalnya.

Para sahabat kami (ulama al-syafi’iyyah) berkata, bolehnya mengurangi dan menambahkan rakaat shalat (sunnah mutlak) dengan syarat ia merubah niatnya sebelum menambah atau mengurangi. Kalau ia menambah atau mengurangi tanpa merubah niat terlebih dahulu, batal shalatnya. Dan ini pendapat yang tidak ada perbedaan di dalamnya.”

Redaksi yang sama juga beliau tulis dalam kitabnya yang lain, yaitu Minhaj al-Thalibin (1/16) yang kemudian di-syarah oleh Imam al-Syirbini (977 H) (676 H) dalam Mughni al-Muhtaj (1/462) dan juga Imam al-Ramliy dalam Nihayah al-Muhtaj (1/130) yang menegaskan bahwa itu untuk shalat sunnah mutlak:

(وإذا نوى) قدرا في النفل المطلق (عددا) أو ركعة (فله أن يزيد) على ما نواه (و) أن (ينقص) عنه

“(Kalau ia berniat) shalat sunnat mutlak (sejumlah rakaat) atau 1 rakaat (boleh baginya untuk menambah) dari apa yang dia niatkan (dan mengurangi) rakaatnya tersebut”  

Tidak Boleh di Shalat Sunnah Biasa

Akan tetapi berbeda hukumnya jika itu adalah shalat sunnah biasa (bukan mutlak) seperti sunnah rawatib (qabliyah/ba’diya) atau juga tarawih serta witir. Di halaman yang sama Imam al-Syirbini dan Imam al-Ramliy menegaskan:

أَمَّا النَّفَلُ غَيْرُ الْمُطْلَقِ كَالْوِتْرِ فَلَيْسَ لَهُ الزِّيَادَةُ وَالنَّقْصُ فِيهِ عَمَّا نَوَاهُ

“sedangkan shalat sunnah non-mutlak seperti witir, maka tidak ada kebolehan untuknya menambah atau mengurangi dari apa yang sudah diniatkan (di awal).”

Lalu apa yang membedakan shalat sunnah mutlak dan tidak mutlak sehingga perubahan niat untuk penambahan dan pengurangan rakaat tidak sama hukumnya?

Imam Ibnu Hajar al-Haitami (974 H) dalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra (1/193) menjelaskan:

إنَّمَا هو في النَّفْلِ الْمُطْلَقِ وَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ غَيْرِهِ أَنَّ الشَّارِعَ لَمَّا لم يَجْعَلْ له عَدَدًا وَفَوَّضَهُ إلَى خِيرَةِ الْمُتَعَبِّدِ كان أَمْرُهُ أَخَفَّ من غَيْرِهِ فَجَازَ لِمَنْ نَوَى منه عَدَدًا أَنْ يَزِيدَ عليه وَأَنْ يُنْقِصَ عنه بِشَرْطِ تَعْيِينِ النِّيَّةِ قبل الزِّيَادَةِ وَالنَّقْصِ وَأَمَّا غَيْرُ النَّفْلِ الْمُطْلَقِ من الرَّوَاتِبِ وَغَيْرِهَا فَمَتَى نَوَى عَدَدًا منه لَا يَجُوزُ نَقْصُهُ وَلَا الزِّيَادَةُ عليه

“(perubahan niat jumlah rakaat) itu ada pada shalat sunnah mutlak. Yang membedakan antara shalat sunnah mutlak dan tidak mutlak, bahwa ketika pembuat syariat (Allah swt) tidak menentukan jumlah rakaatnya dan menyerahkan kepada pilihan hamba-Nya (dalam shalat sunnah mutlak), perkara ini jadi jauh lebih ringan ketimbang shalat sunnah non-mutlak yang jumlah rakaat itu sudah ditentukan.

Maka boleh bagi siapa yang sudah meniatkan jumlah rakaat dalam shalat sunnah mutlak untuk menambahnya atau menguranginya dengan syarat merubah niatnya (dalam shalat) terlebih dahulu sebelum melakukan penambahan atau pengurangan.

Sedangkan untuk shalat sunnah non-mutlak seperti sunnah rawatib, maka ketika berniat dengan jumlah rakaat tertentu, tidak boleh baginya untuk mengurangi atau menambahnya (di tengah-tengah shalat)”.  

Imam Punya Tanggung Jawab

Sejatinya, masalah seperti ini tidak mesti terjadi. Bagaimanapun sang imam dalah shalat berjamaah tidak hanya bertugas untuk menjadi komandan shalat yang memberi aba-aba kepada para makmum untuk mengikutinya. Sang Imam dalam shalat berjamaah punya tanggung jawab untuk membrikan informasi tentang shalat yang akan dilaksanakan kepada para makmum sekalian. Mestinya sebelum memulai takbiratul-ihram sang imam memberi tahu kepada para Jemaah tentang rakaat yang akan dilaksanakan, baik itu shalat witir atau tarawih.

Dengan kalimat yang singkat saja: “para Jemaah sekalian, shalat tarawih ini akan dilaksanakan dengan 2 rakaat sekali salam.” Atau: “… dengan 4 rakaat sekali salam!.” Begitu juga dengan witir: “baik, kita akan melaksanakan shalat witir dengan 3 rakaat sekaligus.” Tentu ini akan jauh lebih baik.

Toh mengucapkan informasi-informasi sebelum shalat itu tidak melanggar syariah. Ada maslahat dan kepentingan yang urgent untuk diambil, Apalagi ini hubungannya dengan sah atau tidaknya shalat makmum. Begitu juga informasi lain, seperti akan membaca surat yang di dalamnya ada ayat sajadah agar para makmum nantinya tidak kaget kalau tiba-tiba sang imam bertakbir dan langsung sujud.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc