Konsultasi

Hadits Doa Buka Puasa Palsu, Bolehkah Diamalkan?

Thu 18 June 2015 - 05:30 | 3808 views

Assalamualaikum warohmatullah ustadz.

Ini saya banyak dapet broadcast di gadget dari kawan-kawan tentang doa buka puasa yang sering dipakai oleh orang kita kebanyakan, yakni doa “allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ‘ala rizqika afthartu …”.

Di broadcast itu dikatakan bahwa itu tidak ada asalnya, dibilang juga bahwa itu hadits palsu yang dibuat-buat. Pokoknya itu ngga ada haditsnya. Karena ngga ada haditsnya maka kita ngga boleh ngamalin itu. Malah berdosa karena berdoa dengan doa yang bukan dari nabi.

Saya mikirnya, kalo begitu selama ini, orang kita Indonesia berdosa semua dong. Orang tua orang tua kita semuanya berdosa.

1. Sebenernya, apakah memang doa yang kita biasakan itu tidak ada haditsnya?

2. Kalo bener ngga ada haditsnya, boleh ngga kita berdoa dengan itu? Maksudnya apakah harus berdoa dengan hadits yang shahih?

Kalo harus, saya bingung. Lah nasib kita yang Indonesia nih gimana? Kalo berdoa harus dengan hadits yang shahih, gimana ya kita ini, karena banyak doa yang kita bikin sendiri.

Syukran ustadz. Mudah2an dijawab segera.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau yang ditanyakan, benarkah hadits "Allahumma Laka Shumtu" itu hadits lemah dan Dhoif, jawabannya : YA! tapi kalau dikatakan palsu, nanti dulu. harus mengerti bedanya palu (maudhu') dan lemah (dhaif). maka ada baiknya kita teliti dulu statusnya haditsnya lalu kemudian kita bahas bagaimana mengamalkan hadits ini kalau memang lemah apalagi palsu. jadi ada 2 hal yang kita bahas dalam forum ini:

1.   Teliti Hadits. Apakah benar dhoif atau malah palsu (maudhu')?

2.   Apakah boleh berdoa dengan redaksi hadits yang dhoif?

Teliti Hadits

Setidaknya ada 3 kitab hadits yang punya riwayat ini; yaitu:

1.   Sunan Abu Daud (سنن أبي داود), nomor hadits: 2346

2.   Al-Maraasil li-Abi Daud (المراسيل لأبي داود), jil. 1 hal. 124 no. 99

3.   Sunan al-Daroquthni (سنن الدار قطني), jil. 2 hal. 185 No. 2

4.   Al-Mu’jam al-Kabir (المعجم الكبير) karya Imam al-Thabrani, no. 12720

Dari ketiga imam yang disebutkan tadi, jalur hadits ini bermasalah; Karena didapati ada beberapa perawi hadits yang cacat dan punya kelemahan.

Versi Imam Abu Daud

Kita lihat dulu, dari sisi mana para ulama merumuskan bahwa hadits ini ialah hadits dhoif. Hadits ini diriwayatkan oleh banyak ulama dalam kitab-kitab mereka, tapi bukan dalam kitab-kitab hadits seperti kitab Shohih Bukhori atau kitab Sunan dari imam hadits yang 4 (Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasa'i, Tirmidzi).

Hadits dengan lafadz

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَي رِزْقِكَ أفْطَرْتُ

Ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam kitabnya Sunan Abi Daud No. 2011 dan di "al-Marosil" [المراسل] juz 1 hal 124 yaitu kumpulan hadits-hadits mursal karena memang derajat hadits ini mursal [مرسل].

Hadits mursal ialah –menurut ahli hadits- ialah hadits yg sanadnya terpotong di bagian sahabat, jadi seharusnya setelah Tabi'in (yang hidup setelah masa Sahabat) itu ada sahabat yg menghubungkannya dengan Nabi, tapi hadits mursal itu terhenti pada Tabi'in dan langsung ke Nabi. Berarti ada sanad yg putus yaitu di bagian sahabat. Ini namanya hadits mursal.

Akan tetapi kebanyakan fuqaha’ (ahli fiqih) menilai bahwa hadits Mursal itu tidak hanya terkhusus pada bagian sahabat saja. Di tingkatan manapun ada sanad yang terputus, kebanyakan fuqaha’ menghukumi itu sebagai mursal, walaupun penamaan ini tidak disepakati.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu daud denagn redaksi lengkapnya seperti ini:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، عَنْ هُشَيْمٍ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ»

“dari Musaddad dari hasyim dari hushoin dari Muadz bin zuhroh, bahwasanya telah sampai kepada beliau bahwa Nabi s.a.w. jika berbuka puasa, beliau s.a.w. mengucapkan: allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu’.”

Hadits ini menjadi mursal karena Muadz bin Zuhroh itu ialah seorang tabi'i bukan sahabat. Seorang tabi'i tidak bisa meriwayatkan hadits langsung dari Nabi s.a.w. karena masanya juga jauh dan tidak mungkin bertemu, harus ada yg menghubungkan antara Nabi s.a.w. dan Tabi'in yaitu sahabat.

Dalam sanad hadits ini sahabat tidak disebutkan, artinya tidak ada. Berarti hadits ini mursal. Nah hadits mursal itu termasuk hadits dhoif yg tdk bisa dikatakan sebagai hadits shahih. Itu versi Abu Daud.

Versi Imam al-Daroquthni dan Imam al-Thabrani

Hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Daroquthni dalam kitab sunannya juz 2 hal 185 no. 26 ini tersambung sampai sahabat Ibnu Abbas ra. Hanya redaksinya sedikit berbeda dengan yang riwayat Abu Daud. Jadi seperti ini redaksinya:

حدثنا إسحاق بن محمد بن الفضل الزيات ثنا يوسف بن موسى ثنا عبد الملك بن هارون بن عنترة عن أبيه عن جده عن بن عباس قال : كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا أفطر قال اللّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَي رِزْقِكَ أفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْع العلِيْم

“dari Ishaq bin Muhammad bin Fadhl al-Zayyat, dari Yusuf bin Musa dari Abdul Malik bin Harun, dari ‘Antarah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu Abbas, beliau berkata: ‘nabi s.a.w. jika berbuka mengucapkan: ‘allahumma laka shumna wa ‘ala rizqika aftharnaa fataqabbal minna innaka anta al-Sami’ al-‘Aliim”

Dengan jalur sanad yang sama berujung kepada sahabat Ibnu Abbas, juga diriwayatkan oleh Imam Ath-Thobroni dalam kitabnya Al-Mu'jam Al-Kabir [المعجم الكبير] no. 12720. Redaksinya sama dgn yg riwayat al-Daroquthni hanya saja redaksi berbeda. Seperti ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا يُوسُفُ بْنُ قَيْسٍ الْبَغْدَادِيُّ، ثنا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ هَارُونَ بْنِ عَنْتَرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَفْطَرَ قَالَ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيم

“Dari Muhammad bin Abdullah al-Hadhrami, dari Yusuf bin Qais al-Baghdadi, dari abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu Abbas … “

Nah dalam urutan sanad hadits yang diriwayatkan oleh Daroquthni dan Thobroni ini ada perawi yang bernama Abdul Malik bin Harun. Abdul malik ini, dia dan ayahnya termasuk dalam golongan lemah menurut Daroquthni sendiri.

Imam Ibnu al-Mulaqqin dalam kitabnya Al-Badru Al-Munir fi Takhrijil-Ahadits wal-Atsar (5/711) mengutip tajrih dari Imam Yahya bin Ma'in yang mengatakan bahwa Abdul Malik bin Harun ini ialah seorang pembohong. Beliau juga mengutip pernyataan Imam Ibnu Hibban yang mengatakan kalau orang ini ialah pembuat hadits palsu.

Nah karena Abdul Malik bin yahya inilah hadits ini menjadi dhoif dan tidk bisa dijadikan hujjah!

Boleh Ngga Mengamalkan Haditsnya?

Ok. Sampai sini kita sepakat bahwa hadits itu Dhoif, tapi apakah kita tidak boleh berdoa dengan redaksi hadits yang derajatnya lemah. Apakah kita berdosa?

Nyatanya, para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdoa dengan menggunakan lafadz hadits yang derajat keshahihannya masih menjadi perdebatan. Sebagian mengatakan tidak boleh berdoa kecuali hanya dengan lafadz doa dari hadits yang sudah dipastikan keshahihannya. Namun sebagian yang lain mengatakan tidak mengapa bila berdoa dengan lafadz dari riwayat yang kurang atau tidak shahih.

Bahkan dalam lafadz doa secara umum, pada dasarnya malah dibolehkan berdoa dengan lafadz yang digubah sendiri. Contohnya ialah doa qunut yang biasa kita baca baik itu ketika sholat Subuh atau juga sholat Witir. Ulama bersepakat bahwa boleh seorang imam atau seorang sholat membaca doa hasil karangan sendiri. Artinya tidak terpaku pada nash yang ada. Boleh manambahkannya hingga panjang. Tapi tetap yang lebih baik itu sesuai dengan nash yang ada dari Nabi saw. (Al-Azkar An-Nawawi, Bab Doa Qunut hal 60)

Harus Arab dan Shahih?

Kalau berdoa harus dengan redaksi dari hadits yang benar-benar shohih, tentu ini adalah sesuatu yang membuat beragama menjadi ribet dan jelas ini menyusahkan umat dalam beragama. Bagaimana dengan nasib kawan-kawan yang tidak fasih bahkan tidak bisa berbahasa Arab? karena semua hadits berbahasa Arab. Tetapi berdoa saja dan mengharap dari Allah agar Allah mengabulkan doa kita. Karena aslinya doa itu sesuatu yg bisa kita katakan apa saja di dalamnya, hanya saja kalau itu bukan dari hadits kita tidak boleh meyakini kalau ini hadits atau sunnah.

Kalau kita cermati arti dari doa "Allahumma Laka shumtu..." itu, nyatanya tidak ada yang salah dengan doa tersebut. Tidak ada juga kata-kata yang malah mengandung pelanggaran syariat atau menyelisih syariat yang ada.

"Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka puasa"

Doa ini adalah bentuk penyerahan seorang hamba kepada Rabb-nya akan ibadah yang ia lakukan, lalu pasrah akan ketentuan-Nnya. Dan dalam redaksi ini juga sorang hamba memberikan pengakuan bahwa mereka berbuka puasa itu tidak lain dan tidak bukan kecuali itu karena rizki yang Allah berikan kepadanya. Apa ini salah? Lalu apa masalahnya?

Tidak Boleh Meyakini Ini Sebuah Hadits

Sebenarnya tidak masalah kita membaca doa dengan lafadz hadits yg dhoif atau juga lafadz buatan sendiri asalkan kita tidak meyakini bahwa ini dari hadits yg shohih dan tidak meyakini kalau ini sunnah. Yang terpenting itu ialah kita tidak meyakini sama sekali bahwa ini adalah sebuah hadits shohih. Berdoa ya berdoa saja. Tanpa harus meyakini ini sebuah hadits yang shohih.

Kenapa tidak boleh meyakini bahwa ini hadits?

Sama sekali tidak boleh. Karena kalau kita meyakini ini sebuah hadits dari Nabi saw, padahal ini adalah hadits bermasalah, itu sama saja kita beranggapan bahwa Nabi mengatakan itu, kan padahal tidak! Itu namanya kita sudah berbohong dengan nama Nabi Muhammad saw. Dan itu sangat dilarang. Termasuk dosa besar. Karena dalam hadits ada ancaman bahwa yang berbohong dengan nama Nabi saw ialah neraka. Nau'udzu billah.

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا ، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

"siapa yang berbohong atasku, maka ia telah mengambil posisinya di neraka" (Muttafaq 'Alyh)

Dan mengatakan bahwa sebuah hadits itu dari Nabi padahal sejatinya itu bukan hadits adalah salah satu gambaran pembohongan atas Nabi saw.

Mengamalkan Hadits Dhaif

Imam al-Nawawi menyebutkan dalam kitabnya al-Azkar (hal. 8):

قَالَ الْعُلَمَاءُ مِنَ المُحَدّثِينَ وَالْفُقَهَاءُ وَغَيْرُهُمْ: يَجُوْزُ وَيُسْتَحَبُّ الْعَمَلَ فِي الْفَضَائِلِ وَالتَّرْغِيْبِ وَالتَّرْهِيْبِ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ مَا لَمْ يَكُنْ مَوْضُوْعاً

“para ulama dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqih mengatakan: boleh dan disukai mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhail a’mal, targhib (memotivasi) serta tarhiib (memberikan peringatan) selama haditsnya tidak maudhu’ (palsu)”.

Dan ulama jumhur pun membolehkan mengamalkan hadits dhaif –selain yang disebutkan Imam Nawawi- selama memang ada hadits shahih yang menaunginya walaupun secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, yang dikutip oleh sheikh Shafiyurrahman al-Mubarakafuri dalam kitabnya Mir’atul-Mashabiih syarh Misykatil-Mashaabiih (1/396) tentang mengamalkan hadits dhaif.

Dalam Kitabnya Taisiir Mustholah Al-Hadits, DR. Mahmud Thohhan (pakar hadits) menjelaskan bahwa ulama punya rumus dalam mengamalkan hadits dhoif. Beliau-beliau membolehkan amal dengan hadits dhoif dalam fadhoil a'mal dan memberikan 3 syarat:

1.   Kelemahannya tidak terlalu lemah. Artinya cacat hadits itu tidak terlalu parah. Tidak sampai derajat maudhu' (palsu).

2.   Sudah ada hadits dengan makna yg sama atau berindikasi mafhum yg sama dangan hadits dhoif itu. Tapi hadits itu shohih atau hasan yg memang bisa diterima.

3.   Ketika mengamalkan hadits dhoif tidak boleh meyakini bahwa itu hadits shohih yg bisa dterima. Artinya dalam mengamalkannya diperlukan kehati-hatian.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc