Konsultasi

Shalat 'AutoPilot', Apakah Dibenarkan?

Thu 11 June 2015 - 07:18 | 1371 views
Assalamualaikum

Ustadz saya mau tanya, karena kita sering sholat sehari-semalam, sholat fardhu ditambah sunnah, 

1. Kadang sewaktu sholat kita sering misalnya baca alfatihah ko ujug2 udah ayat terakhir lagi "waladh-dhollin", karena kita sudah sering sholat bibir kita bergerak sendiri membaca bacaan sholat walaupun pikran kita kemana-mana. Bagaimana ustadz kalau sholat seperti itu, bibir kita membaca bacaan sholat tapi pikiran kita entah kemana? Sahkah? atau mesti ngulang bacaan dari awal?

2. Kalau kita sholat jamaah juga bagaimana ustadz, kadang badan kita secara otomatis bergerak ikut imam, padahal pikiran kita lagi dimana gitu?

Syukron

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Shalat yang dicontohkan dalam pertanyaan itu bisa kita sebut sebagai shalat ‘Autopilot’, yakni kata yang lebih modern untuk shalat yang tidak khusyu’. Dikatakan demikian karena sama layaknya mesin yang bisa berjalan secara otomatis tanpa kendali. Artinya shalat yang dilakukan tersebut kosong hati dan kekhusyu’an. Hati tidak mengikuti dan hadir dalam shalat tersebut, akhirnya yang dikerjakan pun menjadi gerakan-gerakan biasa.

Itulah inti khusyu, bahwa seorang muslim dengan sadar dan hati yang hadir meyakini bahwa ketika sudah memulai takbiratul-ihram, itu berarti hubungan dengan Allah s.w.t. sudah terkoneksi langsung. Karenanya sungguh tidak elok, berkomunikasi dengan sang maha Agung, tapi justru hati dan pikiran sibuk denga perkara lain. Itu bukti kalau memang shalatnya tidak khusyu’.

Lalu yang jadi pertanyaan adalah apakah khusyu’ itu menjadi rukun atau syarat sah sehingga jika ditinggal, shalatnya menjadi tidak sah? Atau justru khusyu’ itu hanya sebuah kesunahan yang memang dianjurkan untuk dilakukan akan tetapi tidak mempengaruhi sah tidaknya shalat?

Khusyu’ Bukan Kewajiban Shalat

Jumhur ulama dari madzhab yang 4 semua sepakat bahwa khusyu’ bukanlah rukun shalat bukan juga syarat sah shalat yang mana jika ditinggalkan tidak berpengaruh kepada shalat. Khusyu’ hanya sebagai mukammilat (penyempurna) shalat yang memang dianjurkan akan tetapi tidak diharuskan ada. Ini adalah pendapat yang 4 madzhab fiqih.

“sungguh beruntung orang mukmin; yakni orang yang khusyu dalam shalatnya.” (Q.S. al-Mu’minun 1-2)

“tidaklah seorang muslim berwudhu dengna wudhu yang baik, kemudian ia shalat 2 rakaat menghadap kepada Allah dengan hatinya dan wajahnya, kecuali ia mendapatkan surga”. (HR. Muslim)

Ayat dan hadits di atas mengandung arti bahwa orang yang melakukan shalat dengan menghadirkan hati, yakni khusyu punya nilai tambah yang lebih dibanding mereka yang tidak menghadirkan hati. Akan tetapi tidak ada ancaman atau indikasi batalnya shalat bagi mereka yang tidak menghadirkan hati. Artinya memang khusyu’ itu adalah bukan syarat yang harus dipenuhi.

Selain itu, ulama fiqih dalam kitab-kitabnya ketika menjelaskan tentang khusyu bahwa itu bukan syarat atau juga rukun shalat, mengutip riwayat Imam al-Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi s.a.w. melihat ada orang yang shalat sambil memeainkan jenggotnya, kemudian beliau s.a.w. mengatakan:

لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ

“seandainya hati orang ini khusyu’, pastilah anggota tubuhnya juga khusyu’.”

Beliau justru hanya berkata bahwa hati orang yang shalat itu lalai, tidak memrintahkannya mengulang. Karena kalau shalatnya tidak sah, pastilah Nabi s.a.w. memerintah ia mengulang shalatnya.

Akan tetapi riwayat ini kemudian dilemahkan oleh banyak ulama hadits. Imam Ibn Syaibah dan juga Imam Abdurrazaq dalam Mushannaf-nya serta Imam al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra mengatakan bahwa itu bukan dari Nabi s.a.w., akan tetapi dari Said bin al-Musayyib (Faqih kalangan Tabi’in). sedangkan Imam al-Suyuthi mengatakan itu benar dari Nabi dalam kitabnya Jam’ul-Jawami’ .

Mengometari hadits ini, Imam al-Munawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir (5/319) mengatakan:

هذا الحديث يفيد عدم اشتراط الخشوع لصحة الصلاة لأنه لم يأمره بالإعادة بل نبه على أن التلبس به من مكملات الصلاة فيكون مندوبا وقد حكى النووي الإجماع على عدم وجوبه

“hadits ini menunjukkan bahwa khusyu itu bukan syarat sah shalat, karena Nabi s.a.w. tidak menyuruhnya mengulang shalat. Akan tetapi memberi peringatan bahwa khusyu itu bagian dari penyempurna shalat, maka itu sangat dianjurkan sekali. Dan Imam Nawawi telah menceritakan bahwa Ijma’ (konsesus) ulama bahwa khusyu bukanlah kewajiban dari shalat.”

Khusyu’ Kewajiban Shalat

Akan tetapi memang beberapa ulama dari masing-masing madzhab ada yang mengatakan bahwa khusyu’ dalam shalat itu merupakan kewajiban yang harus dikerjakan. Hanya saja mereka juga kemudian berselisih apakah khusyu harus pada semua gerakan shalat seja raakaat pertama sampai akhir, atau hanya sebagian gerakan saja?

Imam Ibnu Abdin dari kalangan al-hanafiyah dalam kitabnya radd al-muhtarr (1/417) menjelaskan beberapa pendapat dari kalangan ulama al-hanafiyah yang salah satunya menyebutkan bahwa khusyu itu harus dilakukan ketika takbiratul-ihram, setelahnya boleh khusyu tidak ikut serta. Akan tetapi kalaupun tidak, dia tidak diharuskan mengulang shalat karena khusyu adalah kewajiban yang dimaafkan bagi siapa yang meninggalkannya.

Begitu juga Imam al-Nafrawi dari kalangan al-Malikiyah dalam kitabnya al-Fawakih al-Diwaniy (1/123) menyebutkan beberapa pendapat yang salah satunya adalah kewajiban khusyu dan kehadiran hati hanya pasa satu bagian dari sekian banyak rukun shalat, yakni pada takbiratul-ihram saja. Akan tetapi tetap sah shalatnya kalaupun itu ditinggalkan, hanya saja sangat disayangkan sekali.

Tetap Sah Walau Tidak Khusyu’

Artikel ini hanya untuk mnejawab pertanyaan bahwa khusyu’ itu bukanlah rukun atau syarat sha shalat yang jika ditinggalkan shalatya tidak sah. Ini secara fiqih. Akan tetapi sama sekali tidak ada maksud untuk mengkampanyekan shalat tanpa kehadiran hati di dalamnya. Tentu ditinjau dari sisi fiqih, shalatnya sah. Akan tetapi sungguh sangat disayangkan shalatnya hanya jadi gerakan ritual biasa yang tidak bernilai karena tidak hadirnya hati.

Dari sisi lain, sungguh sangat tidak layak jika seorang hamba menghadap tuhannya yang telah banyak memberi anugerah dengan hati dan pikiran yang tidak terfokus kepada sang Maha Agung. Bisa berarti ini pengingkaran kepada banyak kenikmatan yang sudah diberikan. Dan sungguh merugi, melakukan hubungan langsung, tapi justru tidak terhubung kepada Allah s.w.t.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc