Konsultasi

Sudah Tidak Cinta, Bolehkah Istri Meminta Cerai?

Wed 10 June 2015 - 06:58 | 6100 views
assalamualaikum ..

ustadz mau tanya: Apakah dengan alasan sudah tidak cinta lagi seorang istri boleh mengajukan talak atau khulu'? dan apakah bisa keingingannya itu ditolak oleh suaminya..?

dan apakah ada dampak hukum selanjutnya ketika suami menolak gugatan tersebut?

terimakasih

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka yang harus diketahui adalah hukum khulu’ itu sendiri, apakah ia sesuatu yang boleh mutlak tanpa sebab atau boleh dengan syarat?

Dalam hal ini memang ulama tidak satu suara, beberapa mengatakan bahwa khulu’ itu adalah hak wanita yang kalau si wanita ingin itu, maka ya boleh-boleh saja. Artinya tidak ada dosa yang ditanggung, atau juga kebaikan yang diraih, karena memang aslinya adalah mubah atau boleh. Beberapa ulama lain mengatakan memang khulu itu boleh, akan tetapi kebolehannya tidak mutlak dan harus dengan syarat.

Istri Boleh Khulu’

Ini adalah pendapat jumhur ulama 4 madzhab selain madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Karena pada dasarnya, seorang istri tidak mungkin mengajukan khulu’ kecuali memang ada sesuatu pada suaminya yang ia tidak sukai; baik itu dari segi muka yang kurang tampan atau bahkan tingkat ekonomi yang rendah. Yang kesemua itu dikhawatirkan membuatnya tidak maksimal dan tidak bisa menunaikan kewajiban sebagai istri. Dan itu adalah inti dari khulu’.

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

“jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya” (al-Baqarah 229)

Dalam shahih al-bukhari pun disebutkan demikian, yakni kisah khulu pertama yang terjadi dalam Islam. Diceritakan bahwa ada salah seorang istri sahabat, yakni Tsabit bin Qais yang datang ke nabi meminta untuk Tsabit menceraikannya dengan imbalan sebuah kebun. Dan beliau meminta itu tanpa alasan; bukan karena wajah, bukan juga karena masalah agama, hanya karena tidak cinta saja dan takut kalau akhirnya jadi istri yang khianat. Lalu Nabi s.a.w. berkata kepada Tsabit:

اقْبَل الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

“terima kebunnya, lalu ceriakanlah satu talak” (HR al-BUkhari)

Imam Nawawi dalam kitabnya al-majmu’ menjelaskan bahwa sekalipun wanita tidak ada kebencian atau tidak punya sebab untuk meminta cerai, ia boleh-boleh saja khulu’:

وإن لم تكره منه شيئا وتراضيا على الخلع من غير سبب جاز، لقوله عز وجل: فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا. ولانه رفع عقد بالتراضى جعل لدفع الضرر فجاز من غير ضرر

“kalaupun si wanita tidak ada yang membuatnya benci dari suaminya akan tetapi kedua sepakat untuk saling mengakhiri pernikaha, itu boleh. Karena dalam al-qur’an disebutkan: (al-Nisa’: 4) ‘kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya’. Dan khulu ini juga menghapuskan akad dengan keridhaan 2 pihak untuk menghindari mudharat maka boleh juga dilakukan walau tanpa mudharat.” (al-Majmu’ 3/17)

Khulu’ Hukumnya Haram

Ini adalah pendapat mazdhab Imam Ahmad bin Hanbal, dan uniknya keharaman khulu’ ini bisa terkena kepada 2 pihak, baik istri maupun suami. Keduanya bisa dikenakan dosa jika memang melakukan khulu itu dengan alasan yang tidak diizinkan oleh syariat menurut madzhab Hanbaliy.

a. Haram Bagi Istri

Keharaman akan didapatkan oleh pihak istri jika ia meminta cerai atau khulu tanpa alasan yang jelas, artinya keduanya hidup dalam keadaan yang baik-baik saja dan tidak ada alasan untuk meminta cera akan tetapi si istri justru meminta itu. Ini haram hukumnya dalam madzhab Imam Ahmad bin Hanbal berdasarkan hadits sahabat Tsauban.

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

Nabi s.a.w.: “siapa wanita yang meminta khulu’ tanpa ada alasan kepada suaminya, maka haram baginya bau surga.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah)

Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni menjelaskan bahwa seorang wanita yang meminta cerai itu berdosa, bukan karena hadits di atas, akan tetapi juga karena ia telah menjadikan dirinya dalam mudharat, karena lepas dari seorang yang baik. dan dengan khulu tersebut ia telah meghilangkan tujuan mulia nikah itu sendiri. (al-Mughni 8/177)

Akan tetapi, pada teknisnya ulama madzhab Hanabilah tidak satu suara. Justru beberapa ulama bahkan tidak bisa dikatakan sedikit bahwa mereka menganggap larangan dalam hadits itu tidak berbuah keharaman akan tetapi hanya sebuah kemakruhana saja, yang berarti boleh dilakukan hanya saja tidak dianjurkan dan tidak berbuah dosa. Begitu yang disebutkan oleh Imam al-Buhuti dalam kitabnya Kasysyaf al-Qina’ (5/212).

b. Haram Bagi Suami

Kalau tadi haram dari sisi istri, pada sisi lain, keharaman khulu ini juga bisa dikenakan kepada suami. Kapan?

Ketika suami berlaku zalim kepada istri dengan memukulnya, tidak memberikan nafkah atau biaya hidup yang layak dan cukup, baik pangan atau juga sandang dan papan. Kesempitan itu semua dilakukan suami karena memang agar istrinya tidak ridha dan meminta khulu’. Karena meminta khulu, maka si sitri harus memberikan ‘Iwadh (bayaran khulu’) kepada suami. Di sinilah suami terkena dosa, karena berlaku kasar biar dapat ‘Iwadh dan pergi.

وَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ

“janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya,” (al-NIsa’ 19)

Imam Nawawi, dalam al-Majmu’ menyebutkan bahwa kalau kejadiannya seperti yang di atas, maka apapun yang disyaratkan oleh suami tentang ‘Iwadh tersebut tidak terjadi. Artinya khulu’-nya sah akan tetapi suami sama sekali tidak mendapat apa-apa dari iwadh yang ia syaratkan tersebut. Karena itu syarat yang melanggar aturan syariah. (al-Majmu’ 3/17)

Haruskah Suami Menyetujui?

Jawaban atas pertanyaan subjudul ini adalah wajib. Kenapa wajib? Karena memang khulu’ itu hukum syariat yang punya rukun, yang mana tidak mungkin terjadi jika tidak terpenuhi rukunnya. Dan rukun yang disepakati oleh ulama dalam khulu, salah satunya adalah a-Mujib atau yang menerima Iwadh, yakni suaminya. Artinya tidak mungkin khulu terjadi tanpa ada persetujuan dari suami.

Bagaimana jika suami menolak?

Mengacu kepada rukun khulu’, jika memang suami menolak, khulu tidak akan terjadi. Maka untuk mensiasati itu, agar khulu itu benar-benar terjadi dan keingina si istri terlepas dari suami yang sudah tidak dinginkannya tersebut, maka mestinya si istri ajukan khulu kepada hakim, bukan ‘one woman show’ langsung kepad suami.

Walaupun sejatinya boleh saja, melakukan khulu’ tanpa hakim. artinya jika memang keduanya setuju, ya tidak perlu ada hakim di situ. Akan tetapi jika memang khawatir si suami menolak padahal sudah berbuat zalim dan si istri pun sudah tidak tahan dengan suami, maka ajukan itu ke hakim. tentu dengan alasan-alasan yang bisa membuat hakim memaksa suami untuk menerima, karena memang kelakuaanya yang sudah tidak bisa dikategorikan sebagai suami yang baik.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc