Konsultasi

Shalat Zuhur Setelah Shalat Jumat

Fri 5 June 2015 - 08:43 | 1558 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
 
ustadz, Di beberapa masjid di daerah, dan di Jakarta, masih banyak saudara-saudara muslim yang kalau selesai shalat jumat, mereka shalat zuhur lagi, berjamaah bahkan. Kemudian ini yang mengundang banyak pernyataan dari saudara muslim lain yang memang hanya tahu bahwa sahalt jumat itu telah menggugurkan kewajiban shalat zuhur., termasuk saya.

sebenarnya, apakah memang dibenarkan melakukan shalat zuhur lagi setelah shalat jumat? bukankah jumat itu sudah menggugurkan kewajiban zuhur? mohon penjelasannya ustadz.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sudah menjadi kesepakatan ulama sejagad raya bahwa orang muslim yang sudah melakukan shalat jumat, gugur kewajiban zuhurnya. Karena itu, wajar saja jika banyak yang bertanya-tanya, mengapa sebagian orang melakukan zhalat zuhur lagi setelah jumatan. Bahkan tidak sedikit yang justru menyalahkan mereka.

Maka dari itu, agar tidak ada yang saling memandang aneh, atau bahkan menyalahkan satu sama lain, ada baiknya kita pelajari dan cari tahu kenapa mereka melakukan itu, bukan langsung menyalahkan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir mayoritas orang Indonesia, fiqih yang dipelajari sejak kecil iaalah fiqihnya madzhab Imam al-Syafi’i. karena itu, pakem-pakem madzhab ini sangat dilaksanakan secara loyal oleh kebanyakan orang. Termasuk dalam hal shalat jumat ini.

Syarat Sah Jumat Tidak Terpenuhi

Dalam madzhab Imam al-Syafi’i, selain disyaratkan 2 khutbah serta masuknya waktu zuhur agar shalat Jumat itu dikatakan sah, shalat jumat juga punya syarat sah lain yang tidak boleh tidak terpenuhi; yakni hanya ada satu jumat dalam satu kampung, dan harus dihadiri oleh 40 orang mukim atau lebih.

2 syarat ini yang sekarang banyak tidak terlaksana –menurut pemahaman sebagian saudara muslim- sehingga membuat shalat Jumat itu menjadi tidak sah. Mungkin saja dalam satu kampung itu ada yang melaksanakan jumat di tempat berbeda. Kalau sudah begitu, maka salah satu dari 2 jumatan itu dihukumi tidak sah. Khawatir jumatannya yang tidak sah, maka ia dan jemaahnya melaksanakan shalat Zuhur, karena kewajibannya belum gugur, toh jumatannya tidak sah.

Atau bisa saja dalam jumatan itu dihadiri oleh kurang dari 40 orang mukim. Yang hadir jumatan memang banyak, akan tetapi yang mukim hanya sekitar 20an orang atau kurang dari 40, sisanya adalah orang yang hanya singgah di situ saja, atau kebetulan sedang lewat masjid tersebut. Karena kurang dari 40 mukim, jumatannya tidak sah.

Tapi alasan mereka melakukan shalat zuhur setelah jumatan karena jamaah kurang dari 40 orang mukim, itu alasannya yang jarang sekali terjadi. Yang paling sering terjadi ialah alasan yang pertama, yakni ada jumatan lain dalam satu kampung. Ini yang sering kali terjadi yang membuat mereka melakukan shalat Zuhur setelah Jumatan.

Satu Kampung Hanya Ada Satu Jumat

Ini salah satu dalil yang dipakai oleh madzhab sanng Imam, bahwa ketika Nabi hidup di madinah dulu, setiap datang hari jumat, semua orang berbondong-bondong datang ke masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat jumat. Sayyidah A’isyah pernah berakata:

كَانَ النَّاسُ يَنْتَابُونَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ مَنَازِلِهِمْ وَالْعَوَالِيِّ

Dari A’isyah, beliau berkata: “manusia (muslim) ketika hari jumat berdoyong-doyong (ke masjid Nabawi untuk shlata jumat) dari rumah-rumah mereka dan ‘awali (pemukiman yang jaraknya sekitar 3 mil)” (HR. al-Bukhari)

Padahal ketika itu, jemaah shalat tidak hanya dilakukan di masjid Nabawi, tapi dilaksanakan juga di dusun-dusun sahabat lain. Yang menjadi Imam ialah para sahabat ‘Alim dan Faqih yang memang menjadi tokoh; seperti Mu’adz bin Jabal yang masyhur dengan cerita kaumnya yang marah karena beliau –pada suatu ketika- menjadi Imam namun dengan bacaan terlalu panjang. Atau juga Amr bin Salamah yang menjadi Imam ketika beliau masih sangat kecil sekali karena hanya beliau satu-satunya yang paling banyak hafalan Qur’an di antara para warga dusunnya ketika itu.

Tapi ketika hari jumat datang, semua orang dan para sahabat yang punya jemaah shalat sendiri di “langgar-langgar” mereka tidak asal “ujung-ujung” mengadakan shalat jumat seperti shalat 5 waktu lainnya, akan tetapi mereka berkumpul dan berjalan bersama ke masjid Nabawi untuk mengadakan shalat Jumat.

Penting juga untuk diketahui bahwa yang namanya shalat Jumat itu adalah bukan saja ritual ibadah mingguan, akan tetapi shalat jumat juga dinilai sebagai sebuah Syiar Islam yang harus dipublikasikan kepada khalayak agar mereka non-muslim melihat bagaimana besarnya Umat Islam dan eratnya persatuan mereka. Dengan difokuskannya shalat jumat di satu titik, alkhirnya jumalh jemaah menjadi besar karena semua terfokus ke titik tersebut, dengan begitu, jumlah yang besar ini memberikan efek yang sangat kuat dan menunjukkan bagaimana kuatnya Umat Islam dalam persatuan .

Kalau shalat jumat dilakukan berbilang; artinya dilaksanakan dalam beberapa tempat, tentu jumlah jemaah dalam setiap shalat jumat pun menjadi sedikit, karea terpecah ke beberapa titik sehingga, nilai persatuan dan eratnya ukhuwah menjadi –otomatis- berkurang. Pun nilai syiar-nya menjadi minim bahkan nihil karena tidak bisa “show” hanya dengan jumlah yang sedikit.

Imam al-Syibini menyebutkan salah satu alasan madzhab ini;

لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاءُ الرَّاشِدِينَ لَمْ يُقِيمُوا سِوَى جُمُعَةٍ وَاحِدَةٍ ، وَلِأَنَّ الِاقْتِصَارَ عَلَى وَاحِدَةٍ أَفْضَى إلَى الْمَقْصُودِ مِنْ إظْهَارِ شِعَارِ الِاجْتِمَاعِ وَاتِّفَاقِ الْكَلِمَةِ

“karena Nabi saw dan para khulafa rasyidin tidak pernah melaksanakan shalat jumat kecuali satu jemaah saja. Dan itu juga karena menyatukan jemaah pada satu jumat lebih nyata mencapai maksud jumat yang merupakan syiar dan persatuan umat” (Mughni al-Muhtaj 1/281)

Dihadiri 40 Orang Mukim

Ini adalah pendapat resmi madzhab al-Syafi’iyyah, bahwa shalat jumat itu sah kalau dihadiri oleh 40 orang mukim atau lebih. Tentu syarat ini tidak muncul begitu saja, pastilah ada alasannya kenapa madzhab ini menetapkan kalau jumat itu harus dihadiri oleh 40 orang mukim atau lebih. Di antara dalil yang dipakai adalah;

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بِالْمَدِينَةِ وَكَانُوا أَرْبَعِينَ رَجُلً

“Dari ibnu Mas’ud r.a., beliau berakata bahwa Nabi saw shalat Jumat di Madinah dan jumlah mereka ketika itu 40 orang.” (HR al-Baihaqi)

وَعَنْ جَابِرٍقَالَ: مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ فَصَاعِدًا جُمُعَةً

 “Dari Jabir r.a. beliau berkata; Sunnah (Syariat) agama ini bahwa 40 orang atau lebih ada kewajiban jumat”. (HR Daroquthni)

Dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj (1/632), Imam al-Syirbini mengatakan bahwa perhatian Rasul s.a.w terkait shalat jumat tidak seketat shalat lain, termasuk dalam masalah jumah Jemaah yang hadir dalam shalat jumat haruslah memenuhi syarat. Bahkan beliau mengutip pernyataan Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ yang mengatakan bahwa adanya syarat jumlah hadirin dalam shalat jumat adalah sesuatu yang disepakati oleh umat Islam.

Beliau menguatkan pandangan madzhabnya; “Seorang muslim wajib melaksanakan shalat sesuai tuntunan Nabi saw sebagaimana hadits (صلوا كما رأيتموني أصلي), dan tidak pernah shalat jumat itu dilaksanakan di masa beliau hidup dengan jumlah yang kurang dari 40 orang.”

Tanwirul-Qulub fi Mua’amalati ‘Allamil-Ghuyub

Ini adalah kitab karangan Sheikh Muhammad Amin al-Kurdiy (1332 H), kitab fiqih abad 14 hijrah yang menjadi rujukan banyak orang-orang al-Syafi’iyyah terkait masalah-masalah ‘ubudiyah, termasuk juga masalah shalat Zuhur setelah shalat Jumat ini.

Di dalam kitab ini, beliau membuat bab khusus perihal shalat Zuhur setelah shalat Jumat, yang beliau tulis dari halaman 218 sampai halaman 224. Di dalamnya beliau sertakan dalil, serta pandangan-pandangan ulama madzhab al-Syafi’iyyah yang menjadi penguat.

Beliau juga menguatkan bahwa pekerjaan ini (shalat zuhur setelah Jumat) adalah pekerjaan yang dilakukan oleh ulama-ulama madzhab al-Syafi’iyyah dan juga pendapat resmi mereka. beliau menyatakan bahwa shalat Zuhur setelah Jumatan itu adalah jalan Ihtiyath [احتياط] (kehati-hatian) yang diambil oleh ulama-ulama al-Syafi’iyyah melihat ada syarat jumat yang tidak terpenuhi.

Dan jalan Ihtiyath (kehati-hatian) bisa menjadi wajib, dan bisa juga menjadi sunnah. Artinya status shalat Zuhur yang dilaksanakan itu bisa jadi wajib, dan bisa juga jadi sunnah.

[1] Wajib Shalat Zuhur setelah Jumatan

Shalat Zuhur tersebut menjadi wajib dilaksanakan setelah jumat, kalau memang ada jumat lain dalam satu kampung tersebut. Dan diadakannya shalat jumat yang berbilang itu tanpa ada hajat atau kebutuhan yang mendesak. Seperti adanya masjid di kampung tu cukup untuk memuat seluruh penduduk kampung, tapi malah diadakan jumatan lagi yang berbeda di selain masjid tersebut. Maka ihtiyath dengan melakukan shalat zuhur setelah jumatan menjadi wajib.

[2] Sunnah Shalat Zuhur setelah Jumatan

Shalat Zuhur tersebut menjadi sunnah dilaksanakan. Kalau adanya jumat lain dalam satu kampung itu karena memang ada kebutuhan dan hajat. Seperti masjid yang tidak bisa mengakomodasi semua jumlah penduduk kampung, yang kalau dipaksanakan justru akan meluber ke jalanan dan menganggu orang banyak. Kalau memang ada hajat untuk membuat jumatan yang lebih dalam satu kampung, ihtiyath yang dilakukan itu statusnya sunnah.

Masalah Ijtihadiyah

Pada intinya ini adalah masalah yang diijtihadkan oleh ulama-ulama al-Syafi’iyyah, dan tidak dipegang oleh ulama madzhab lain. Artinya kemungkinan berbeda adalah sesuatu yang niscaya dan pasti terjadi.

Karena ini masalah ijtihadiyyah, maka, sebagaimana Sheikh Amin al-Kurdiy menutup pembahasannya terkait shalat zuhur seteah shalat jumat, bahwa tidak diperkenankan satu menyalahkan yang lainnya. Yang melaksanakan shalat Zuhur setelah jumatan tidak boleh menyalahkan yang tidak melakukannya. Dan yang tidak melakukannya pun tidak boleh merasa benar sendiri.   

Atau juga sebaliknya, yang melaksanakan shalat Zuhur tidak bisa merasa paling benar, dan yang tidak melaksanakan tidak perlu menyalahkan mereka yang shalat ZUhur setelah Jumatan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc