Konsultasi

Shalat Jenazah di Kuburan, Bolehkah?

Mon 18 May 2015 - 09:22 | 1027 views
asslamualaikum warohmatullah wabarokatuh
para asatidz rumahfiqih yang dirahmati Allah swt, saya pernah mendengar bahw Nabi s.a.w. pernah melakukan shalat jenazah di kuburan. apakah ini benar? ini pertanyaan pertama.

kedua, kalau memang benar dan shahih, lalu apakah hadits ini memang diamalkan, artinya dibolehkan kita mengikuti Nabi dan shalat jenazah di kuburan, atau bagaimana? karena sebagaimana banyak disebutkan di web rumahfiqih ini tidak semua hadits shahih bisa dilaksanakan, dan tidak semua hadits dhaif ditinggalkan.

ketiga, mohon disertakan pendapat masing-masing madzhab dari kitab-kitab mereka sebagai penguat artikel ini.

syukran.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau pertanyaannya apakah hadits itu ada, jawabannya ada dan statusnya pun shahih, pun diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab shahihnya. Akan tetapi walaupun memang ada haditsnya dan itu shahih, ulama 4 madzhab tidak bulat satu suara dalam mengamalkan hadits tersebut. Artinya tidak semua ulama sepakat untuk membolehkan shalat jenazah di kuburan.

Boleh Shalat Jenazah di Kuburan

Ini adalah pendapat jumhur ulama, diantaranya madzhab Imam Abu Hanifah, Madzhab al-Syafiiyah dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad (Imam Ahmad punya 2 riwayat berbeda). Yang dijadikan dalil oleh madzhab ini adalah hadits tukang sapu masjid tersebut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَنَّ رَجُلًا أَسْوَدَ أَوْ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَ يَقُمُّ الْمَسْجِدَ فَمَاتَ فَسَأَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ فَقَالُوا مَاتَ قَالَ أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي بِهِ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ أَوْ قَالَ قَبْرِهَا فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا

Dari Abu Huraira r.a.: “ada laki-laki atau wanita hitam yang menjadi tukang sapu di masjid, dan beliau meninggal. Lalu nabi s.a.w. bertanya tentangnya, dan para sahabat mengatakan tukang sapu itu sudah meninggal. Nabi s.a.w. pun bertanyan kenapa beliau tidak diberitahu, ‘tunjukkan aku kuburannya!’, beliau s.a.w. mendatangi kuburannya dan shalat di situ” (HR al-Bukhari)

Selain hadits tersebut, Imam Ibnu QUdamah dari kalangan madzhab al-Hanabilah menukil pernyataan Imam Ibnu al-Mundzri bahwa ada beberapa sabahat Nabi s.a.w. yang shalat atas jenazah Aisyah di kuburannya. dalam kitabnya (al-Mughni 2/369), beliau (Ibnu Qudamah) mengatakan:

قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ ذَكَرَ نَافِعٌ أَنَّهُ صُلِّيَ عَلَى عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَسْطَ قُبُورِ الْبَقِيعِ صَلَّى عَلَى عَائِشَةَ أَبُو هُرَيْرَةَ , وَحَضَرَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ وَفَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ

“Imam Ibnu al-Mundzir berkata: Nafi’ menceritakan bahwa ia menshalati Aisyah dan Ummu salamah di Baqi’, Abu hurairah shalat atas Aisyah di kuburan dan dihadiri oleh Ibnu Umar serta dilaksanakan juga oleh Umar bin Abdul Aziz.”

Makruh Shalat Jenzah di Kuburan

Ini adalah salah satu riwayat Imam Ahmad, bahwa beliau memakruhkan shalat jenazah di kuburan, apapun alasannya. Beliau berlasan karena memang kuburan itu termasuk tanah yang terlarang untuk dijadikan tempat shalat. Dalam hadits Nabi s.a.w. disebutkan:

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

Nabi s.a.w.: “Bumi itu seluruhnya adalah Masjid (tempat sujud) kecuali kuburan dan WC” (HR. Imam Ahmad)  

Sejatinya hadits itu punya indikasi keharaman, karena ada pengecuali dari sebuah kebolehan. Maksudnya begini, bahwa Nabi s.a.w. membolehkan menjadi bagian bumi manapun untuk dijadikan tempat shalat, akan tetapi dikecualikan kuburan dan kamar mandi. Jadi, kamar mandi dan kuburan termasuk bagian tanah yang terlarang untuk dijadikan tempat shalat.

Lalu kenaoa hanya dimakruhkan, kenaoa tidak langsugn diharamkan?

Tidak langsung diharamkan karena keharamannya dipalingkan, yakni levelnya diturunkan menajdi makruh saja karena memang ada riwayat yang nyata dan shahih bahwa Nabi s.a.w. melakukan shalat di tempat itu, yakni kuburan. ada larangan, akan tetapi Nabi melakukan, artinya larangan tersebut berbuah kemakruhan, bukan keharaman. (al-Mughni 2/369)

Haram Shalat Jenazah di Kuburan

Ini adalah pendapat madzhab Imam Malik, walaupun beberapa ulama dari kalangan madzhab ini menyelisih pandangan Imamnya. Imam Malik dalam al-Mudawwanah al-Kubra menyatakan bahwa memang betul hadits tersebut ada namun itu tidak diamalkan.

Lebih jauh lagi, madzhab ini berpandapat bahwa shalat jenazah itu hanya dilakukan dengan sekali proses, maksudnya tidak ada shalat jenazah susulan, bagi yang tidak sempat untuk menshalati. Karenanya dalam madzhab ini pun tidak ada yang namanya shalat ghaib. Berbeda dengna madzhab lain yang membolehkan jenazah utnuk dishalati lebih dari 1 rombongan shalat.

Pendapat Masing-Masing Madzhab

Madzhab al-Hanafiyah

وَلَوْ دُفِنَ الْمَيِّتُ قَبْلَ الصَّلاةِ أَوْ قَبْلَ الْغُسْلِ فَإِنَّهُ يُصَلَّى عَلَى قَبْرِهِ إلَى ثَلاثَةِ أَيَّامٍ , وَالصَّحِيحُ أَنَّ هَذَا لَيْسَ بِتَقْدِيرٍ لازِمٍ بَلْ يُصَلَّى عَلَيْهِ مَا لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ تَمَزَّقَ (الفتاوى الهندية 1/165)

“jika mayit sudah dikebumikan akan tetapi belum dishalatkan, maka mayit itu dishalatkan di kuburnya sampai 3 hari. Dan benar (dalam pandangan madzhab) bahwa tidak ada waktu yang pasti, akan tetapi dishalatkan mayit tersebut sampai –sekiranya- mayit itu rusak.” (al-Fatawa al-Hindiyah 1/165)

Madzhab al-Malikiyah

لا تُعَادُ الصَّلاةُ وَلا يُصَلِّي عَلَيْهَا بَعْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ , قَالَ فَقُلْنَا لِمَالِكٍ : وَالْحَدِيثُ الَّذِي جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ عليه السلام صَلَّى عَلَيْهَا وَهِيَ فِي قَبْرِهَا ؟ قَالَ قَالَ مَالِكٌ : قَدْ جَاءَ هَذَا الْحَدِيثُ وَلَيْسَ عَلَيْهِ الْعَمَلُ .  (المدونة الكبرى 1/181)

“SHalat jenazah tidak boleh diulang (kedua kali), tidak boleh ada menshalatinya lagi jika sudah dishalatkan. Kemudian kami berkata kepada Imam Malik: ‘bagaimana dengan hadits Nabi s.a.w. shalat di kuburan wanita (tukang sapu masjid)?’, Imam Malik menjawab: ‘hadits ini memang ada tapi tidak diamalkan’.” (al-Mudawwanah al-Kubra 1/181)

Madzhab al-Syafiiyah

وَيَسْقُطُ الْفَرْضُ بِالصَّلاةِ عَلَى الْقَبْرِ عَلَى الصَّحِيحِ , وَإِلَى مَتَى يُصَلَّى عَلَيْهِ ؟ فِيهِ أَوْجُهٌ . أَحَدُهَا أَبَدًا , فَعَلَى هَذَا تَجُوزُ الصَّلاةُ عَلَى قُبُورِ الصَّحَابَةِ فَمَنْ بَعْدَهُمْ إلَى الْيَوْمِ . قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ : وَقَدْ اتَّفَقَ الأَصْحَابُ عَلَى تَضْعِيفِ هَذَا الْوَجْهِ . ثَانِيهَا إلَى ثَلاثَةِ أَيَّامٍ دُونَ مَا بَعْدَهَا (مغنى المحتاج 1/364)

“dan shalat jenazah di kuburan itu menggugurkan kewajiban menshalati jenazah menurut pendapat yang shahih (dalam madzhab), akan tetapi sampai kapan ia boleh dishalatkan? Dalam hal ini ada beberapa pandangan; pertama selamanya. Dengan pendapat ini, maka dibolehkan kita shalat jenazah para sahabat dan generasi setelahnya di kuburan mereka sampai saat ini. dan dijelaskan dalam al-majmu; bahwa pandangan ini lemah. Pandangan kedua: shalat jenazah di kuburan waktunya sampai 3 hari dan tidak boleh lebih dari itu.” (Mughni al-Muhtaj 1/364)

Madzhab al-Hanabilah

فَأَمَّا الصَّلاةُ عَلَى الْجِنَازَةِ فِي الْمَقْبَرَةِ فَعَنْ أَحْمَدَ فِيهَا رِوَايَتَانِ . إحْدَاهُمَا : لا بَأْسَ بِهَا ; لأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى عَلَى قَبْرٍ وَهُوَ فِي الْمَقْبَرَةِ . قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ ذَكَرَ نَافِعٌ أَنَّهُ صُلِّيَ عَلَى عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَسْطَ قُبُورِ الْبَقِيعِ صَلَّى عَلَى عَائِشَةَ أَبُو هُرَيْرَةَ , وَحَضَرَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ وَفَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ . وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ : يُكْرَهُ ذَلِكَ (المغني 2/369)  

“adapun shalat jenazah di kuburan, Imam Ahmad punya 2 riwayat. Riwayat pertama; tidak mengapa (dibolehkan); karena Nabi s.a.w. pernah shalat jenazah di kuburan. dan imam Ibnu al-Mundzir mengatakan: Nafi’ menceritakan bahwa ia menshalati Aisyah dan Ummu salamah di Baqi’, Abu hurairah shalat atas Aisyah di kuburan dan dihadiri oleh Ibnu Umar serta dilaksanakan juga oleh Umar bin Abdul Aziz. Dan riwayat kedua: shalat jenazah di kuburan itu makruh.” (al-Mughni 2/369)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc