Konsultasi

Meninggalkan Jumatan Berkali-Kali Karena Pekerjaan, Bagaimana Hukumnya?

Thu 14 May 2015 - 04:54 | 1873 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
ustadz yang saya hormati, saya punya teman dekat yang bekerja menjadi security di sekolah nashrani yang jam kerjanya lumayan panjang. mungkin kalau hari lain selain jumat tidak masalah karena memang bisa mengerjakan shalat di pos satpam tersebut. Akan tetapi kalau hari jumat, pemilik sekolah sama sekali tidak mengizinkan teman saya ini dan kawan-kawan security yang juga muslim untuk shalat jumat. maka ia sering sekali meninggalkan jumat, dan menggantinya dengn zuhur saja. ini yang sering sekali dicurhatkan olehnya kepada saya. sayapun akhirnya menjadi terenyuh. saya hanya bisa sarankan untuk meninggalkan pekerjaan itu, tapi memang sulit, karena pekerjaan untuk teman saya yang hanay berijazah SMA ini sulit sekali.

bagaimana hukumnya stadz meninggalkan jumat berkali-kali karena pekerjaan. adakah ulama yang membolehkannya? saya khawatir sekali karena saya pernah dengar bahwa yang meninggalkan shalat 3 kali berturut-turut itu dihukumi sebagai kafir.

mohon penjelasannya dan pencerahannya ustadz. syukran

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Shalat jumat adalah shalat yang kewajibannya bagi seorang muslim termasuk dalam “Ma’lum minad-din bi al-Dharurah”, artinya shalat jumat ini sesuatu yang tidak mungkin tidak diketahui, karenanya orang yang mengingkari kewajibannya jumat, ulama menghukuminya sebagai orang yang sudah keluar dari Islam.

Selain sebagai kewajiban, shalat jumat juga termasuk dalam syiar agama, karena itu dianjurkan untuk dilakukan dalam keadaan dan jumlah yang besar. Akan tetapi kewajiban jumat ini tidak terkena kepada beberapa orang, mereka adalah:

1.   Musafir

2.   Wanita

3.   Orang sakit

4.   Budak

5.   Anak kecil

Ini didasarkan kepada hadits Nabi s.a.w.:

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً: مَمْلُوكٌ, وَاِمْرَأَةٌ, وَصَبِيٌّ, وَمَرِيضٌ - رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Dari Thariq bin Syihab, Rasul s.a.w. bersabda: “shalat jumat itu wajib hukumnya bagi seluruh muslim secara berjamaah kecuali 4 orang; budak, wanita, anak kecil, orang sakit.” (HR. Abu Daud)

لَيْسَ عَلَى مُسَافِرٍ جُمُعَةٌ - رَوَاهُ اَلطَّبَرَانِيُّ

Dari Ibnu Umar r.a., Nabi s.a.w.: “tidak ada kewajiban jumat bagi musafir”. (HR Thabrani)

Artinya jika 5 sifat itu tidak ada pada diri seorang muslim, maka tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan jumat. Siapapun dia, jika memang ia bukan anak kecil, bukan budak, bukan wanita, statusnya juga bukan musafir dan tidak dalam keadaan sakit, maka wajib hukumnya datang menghadiri jumat dan shalat jumat.

Boleh Meninggalkan Jumat dengan Udzur

Akan tetapi memang, pada kondisi tertentu, terkadang ada di antara kita yang tidak terdapat dalam dirinya 5 sifat itu akan tetapi tetap tidak bisa menghadiri shalat jumat, sebagaimana kondisi yang ditanyakan ini. berkali-kali bahkan meninggalkannya. Maka perlu kita lihat hadits Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Ja’d al-Dhamriy:

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ طَبَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى قَلْبِهِ

“siapa yang meninggalkan jumat 3 kali dengan tahawun (sengaja) tanpa uzdur, Allah akan mengunci hatinya.” (HR Ahmad dan al-Nasa’i)

Artinya syariat ini membolehkan bagi orang muslim yang tidak termasuk dalam 5 sifat di atas untuk meninggalkan jumat, asalkan dengan adanya udzur, yang tentunya syar’i. nah kemudian pembahasannya sekarang adalah apa yang dimaksud dengan udzur dalam hadits ini yang membuat orang muslim boleh meninggalkan shalat jumat?

Apa Udzur Yang Membolehkan Tidak Menghadiri Jumat?

Imam Ibnu Abdil-Barr, salah satu ulama besar dari kalangan al-Malikiyah menerangkan makna udzur ini dalam kitabnya al-Tamhid lima fi al-Muwatha’ mina al-Ma’aniy wa al-Asaniid (16/243):

وَأَمَّا قَوْلُهُ فِي الْحَدِيثِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَالْعُذْرُ يَتَّسِعُ الْقَوْلُ فِيهِ وَجُمْلَتُهُ كُلُّ مَانِعٍ حَائِلٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ مِمَّا يَتَأَذَّى بِهِ أَوْ يَخَافُ عُدْوَانُهُ أَوْ يُبْطِلُ بِذَلِكَ فَرْضًا لَا بَدَلَ مِنْهُ فَمِنْ ذَلِكَ السُّلْطَانُ الْجَائِرُ يَظْلِمُ وَالْمَطَرُ الْوَابِلُ الْمُتَّصِلُ وَالْمَرَضُ الْحَابِسُ وَمَا كان مثل ذلك

“sedangkan yang disebutkan dalam hadits ‘… tanpa udzur …’, udzur itu maknanya bisa luas, akan tetapi secara umum adalah setiap sesuatu yang menghalanginya untuk menghadiri jumat yang mana penghalang itu bisa menimbulkan kesengsaraan, atau karena ketakutan akan serangan musuh, atau juga sesuatu yang mana ada kewajiban lain yang tidak ada gantinya, seperti penguasa zalim, hujan deras, sakit keras, dan sejenisnya.”

ومنح الْعُذْرِ أَيْضًا أَنْ تَكُونَ عِنْدَهُ جِنَازَةٌ لَا يَقُومُ بِهَا غَيْرُهُ وَإِنْ تَرَكَهَا ضَاعَتْ وَفَسَدَتْ وَقَدْ رُوِّينَا هَذَا فِي الْجِنَازَةِ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ وَيَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ وَالْأَوْزَاعِيِّ وَاللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ وَعَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ رَجُلٍ كَانَ مَعَ الْإِمَامِ وَهُوَ يَخْطُبُ فِي الْجُمُعَةِ فَبَلَغَهُ أَنَّ أَبَاهُ أَخَذَهُ الْمَوْتُ فَرَخَّصَ لَهُ أَنْ يَذْهَبَ إِلَيْهِ وَيَتْرُكَ الْإِمَامَ فِي الْخُطْبَة

“dan juga yang dikatakan sebagai udzur itu adanya jenazah yang tidak ada seorang pun yang mengurusinya kecuali dia, maka ia boleh meninggalkan jumat. Diriwayatkan dari yahya bin sa’id al-Anshariy dan yahya bin katsir dan juga al-Auza’iy serta Laits bin Sa’d, dari Atha bin Abu Rabbah bahwasanya ia pernah ditanya tentang seseorang yang berada pada Jemaah jumat dan imam sedang berkhutbah lalu ia mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal, maka beliau (Atha bin Abu Rabbah) memberikannya keringanan untuk meninggalkan jumat dan mengurusi jenazah ayahnya.”

Dari penjelasannya ini maka bisa disimpulkan bahwa sesuatu yang bisa dijadikan udzur sebagai kebolehan meninggalkan jumat adalah pekerjaan yang mengandung maslahat umum yang besar dan tidak boleh ditinggalkan walau barang sekejap. Yang mana jika ditinggalkan akan menimbulkan mudharat yang besar dan tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Ini juga yang disebutkan oleh Sheikh Salim Fahd Bahaman, dosen Fiqih Muqaran dari universitas Imam Muhammad bin Su’ud dalam website resminya: fikihguide [.] com ketika menjelaskan udzur meninggalkan jumat, beliau mengatakan bahwa yang termasuk dalam kategori ini adalah:

1.   Dokter jaga yang sedang menangani pasien gawat darurat.

2.   Petugas keamanan yang menjaga harta kaum muslim dari kemungkinan-kemungkinan nyata tindakan criminal.

3.   Petugas atau karyawan di pabrik atau juga perusahaan produksi yang perlu pengawasan detik perdetik.

Kemudian juga yang termasuk udzur kebolehan meninggalkan jumat disebutkan oleh Imam al-Mardawi, salah seorang ulama dari kalangan al-Hanabilah dalam kitabnya al-Inshaf (2/301):

فَائِدَةٌ: وَمِمَّا يُعْذَرُ بِهِ فِي تَرْكِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ: خَوْفُ الضَّرَرِ فِي مَعِيشَةٍ يَحْتَاجُهَا، أَوْ مَالٍ اُسْتُؤْجِرَ عَلَى حِفْظِه

“Faidah: dan yang termasuk udzur di mana dibolehkan meninggalkan jumat dan shalat berjamaah adalah: takut akan kehilangan mata pencarian yang ia butuhkan, atau juga udzur menjaga harta yang dititipkan kepadanya.”

Artinya kalau memang ada seseorang yang tidak punya mata pencarian kecuali pekerjaan yang menghalanginya untuk jumat tersebut, ia boleh meninggalkan jumat, tentu dengan syarat bahwa itu adalah pekerjaan satu-satunya yang kalau ditinggalkan, ia bisa menimbulkan bahaya, bukan hanya bagi dirinya tapi juga keluarganya yang menjadi tanggungan nafkahnya.

Mandahulukan Taqwa

Akan tetapi, seorang muslim memang mestinya memperhatikan dengan baik dan sangat baik bagaimana hubungannya dengan tuhannya. Walaupun memang dibolehkan dalam kondisi ia tidak punya mata pencarian selain itu untuk meninggalkan jumat. Akan tetapi ia tidak bisa berleha-leha serta menggampangkan terus menerus dan tidak juga berusaha untuk mencari pekerjaan lain yang membuatnya bisa mempunya hubungan baik dengan Allah s.w.t., tentu dikhawatirkan yang seperti ini tergolong dalam kategori tahuwunan, atau meremehkan syariat agama. Tentu dosanya sangat besar.

Dan semsetinya seorang muslim harus faham dan mengerti dengan sesadar-sadarnya bahwa ketaqwaannya kepada Allah s.w.t., justru itulah jalan kesejahteraan. Dan Allah s.w.t. sudah menjanjikan bagi umatnya siapa yang menjalankan ketaqwaan dengan optimal, pastilah Allah s.w.t, akan berikan ia jalan keluar dari setiap urusannya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (al-Thalaq 2-3)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc