Konsultasi

Yang Berhak Jadi Imam Shalat

Wed 13 May 2015 - 06:43 | 1999 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
ustadz, terkait masalah shalat berjamaah, sejatinya bagaimana ketentuan syariat tentang siapa yang lebih berhak untuk menajdi imam shalat berjamaah. karena dalam beberapa artikel yang saya baca itu beragam bahwa yang berhak menjadi imam shalat itu adalah yang baik tauhidnya. saya bingung ukuran baik tauhidnya itu bagaimana?
ada juga yang menulis bahwa yang berhak menjadi imam shalat itu yang hafidz qur'an, itulah yang berhak. pendapat ini juga buat saja kurang sreg, karena walaupun ia hafal quran semuanya, akan tetapi ia belum tentu mengerti hukum shalat itu sendiri. jadi mohon penjelasannya tentang siapa yang lebih berhak menjadi imam shalat menurut ulama fiqih 4 madzhab. syukran. jazakumullah

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pemilik Wilayah Berhak Jadi Imam dari Siapapun

Seluruh ulama 4 madzhab sepakat jika dalam satu tempat itu ada pemilik wilayah atau pemimpinnya, baik tingkat tertinggi atau pun tingkat terendah, maka pemimpin itulah yang berhak untuk menjadi imam shalat walaupun di daerah tersebut ada orang yang lebih faqih atau lebih fasih atau yang biasa disebut dengan istilah Aqra’. Maka yang berhak setelahnya ialah orang yang dipilih oleh pemimpin tersebut; entah memang diminta untuk dipilih atau ditugasi dan sejenisnya, pada intinya ia mempunya ‘lisesnsi’ dari sang pemimpin.

Tentu dengan syarat bahwa pemimpin tersebut terpenuhi syarat sahnya shalat; karena siapapun yang sah shalatnya, maka dia juga sah menjadi imam bagi orang di belakangnya.

Dan yang termasuk orang yang punya wilayah, di mana itu menjadi sifat yang sah untuk menjadi imam shalat adalah tuan rumah, jika memang kita berkunjung ke rumah seseorang. Juga Imam ratib, atau imam rutin dalam masjid tertentu. ini adalah pendapat yang disepakati oleh ulama 4 madzhab, berdasarkan hadits Nabi s.a.w. ketika beliau menjelaskan qualifikasi-qualifikasi yang dibutuhkan oleh seorang Imam shalat,:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِنًّا وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُل الرَّجُل فِي سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

Dari ‘Uqbah bin Amr r.a., Rasul s.a.w.: “Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah orang yang lebih aqra' pada kitabullah. Bila peringkat mereka sama dalam masalah qiraat, maka yang lebih paham dengan sunnah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih dahulu berangkat hijrah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih banyak usianya. Namun janganlah seorang menjadi imam buat orang lain di wilayah kekuasaan orang lain itu, jangan duduk di rumahnya kecuali dengan izinnya”. (HR. Muslim)

Di ujung hadits, Nabi s.a.w., menegaskan bahwa syarat-syarat di atas menjadi tidak dilirik jika kita berada dalam wilayah yang memang ada pemiliknya atau pemimpinnya, maka dia itulah yang layak menjadi Imam Shalat. Tentu berbeda hukumnya jika kemudian sang pemilik wilayah memberikan izin kepada salah seorang tamunya.[1]  

Tidak Ada Pemilik Wilayah

Yang di atas itu adalah ketentuan syariah jika memang kondisinya ada pemilik wilayah di tempat tersebut. Akan tetapi jika berada pada kondisi yang memang pemilik wilayah tidak ada; seperti untuk menentukan imam tetap masjid, atau juga memilih imam shalat dalam perjalanan, serta memilih imam shalat bagi satu komunitas di Negara minoritas, atau sejenisnya.

Sejatinya yang menjadi patokan untuk menentukan siapa yang lebih berhak menjadi imam shalat adalah hadits sahabat ‘Uqbah bin ‘Amr yang secara tekstual, urutannya menjadi seperti ini:

1.   Aqra’ (lebih fasih)

2.   Afqah (Lebih faham fiqih shalat)

3.   Lebih dahulu hijrah

4.   Lebih tua usia

Jadi, kalau memang ada beberapa kandidat, maka inilah yang menjad ukurannya. Dalam hadits yang lebih didahulukan adalah yang Aqra’, atau yang lebih fasih dan baik bacaan qur’annya, dan biasanya mereka tentu lebih banyak hafalannya dibanding yang lain. Tapi nyatanya, ulama berbeda pendapat dalam hal ini, tidak semua menjalannya hadits secara tekstual.

Lebih Faham Fiqih Shalat

Jumhur ulama, yaitu mazhab Al-Hanafiyah,  Al-Malikiyah dan Al-syafi'iyyah lebih mendahulukan orang yang afqah, yaitu lebih mengerti ilmu fiqih, khususnya fiqih shalat untuk menjadi imam shalat berjamaah, dari pada orang lebih yang fasih dalam bacaan ayat Al-Quran.[2]

Beberapa dalil yang digunakan jumhur ulama adalah:

Pertama. Rasulullah s.a.w. ketika berhalangan dari ikut shalat berjamaah pada detik-detik menjelang wafatnya, beliau meminta Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu yang lapasitasnya lebih faqih dalam urusan agama, dibandingkan shahabat yang lain untuk menggantikannya menjadi imam shalat berjamaah.

Padahal saat itu ada banyak shahabat beliau yang bacaannya jauh lebih fasih, seperti Ubay bin Ka'ab radhiyallahuanhu. Bahkan Rasulullah SAW mengakui bahwa Ubay bin Kaab adalah orang yang paling fasih bacaan Al-Quran-nya.

أَقْرَؤُكُمْ أُبَيٌّ

Orang yang paling fasih bacaannya diantara kalian adalah Ubay. (HR. Tirmizy)

Namun beliau SAW tidak meminta Ubay bin Kaab yang menggantikan posisi dirinya sebagai imam shalat berjamaah di masjid Nabawi saat itu. Justru beliau meminta Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu, yang nota bene adalah orang yang paling paham ilmu agama dan syariah Islam.

Kedua. Yang banyak diungkapkan oleh para ulama madzhab yang mendahulukan orang afqah dibanding aqra’ adalah kebutuhan shalat akan ilmu fiqih shalat itu sendiri. Kebutuhan jauh lebih banyak dibanding kebutuhan bacaan yang hanya pada saat membaca ayat al-Quran. Sedangkan ilmu atau fiqih shalat itu sendiri, dibutuhkan di seluruh bagian shalat, tidak hanya sebagian saja.

Ketiga. Ulama dalam pendapat ini menfasirkan bahwa yang dimaksud Aqra’ –kalau ingin mengikuti jalur tekstual hadits- adalah orang yang memang faham fiqih juga; karena memang sahabat yang disebut aqra’ adalah mereka yang faham sekali ayat-ayat qur’an. Karena mereka tidak hanya belajar baca, belajar menghafal, akan tetapi kebiasaan para sahabat adalah yang aqra’ itu pasti juga yang afqah.

Imam al-Ramliy dari al-Syafi’iyyah mengatakan:

وَأَمَّا خَبَرُ { أَحَقُّهُمْ بِالإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ } فَمَحْمُولٌ عَلَى عُرِفَهُمْ الْغَالِبِ أَنَّ الأَقْرَأَ أَفْقَهُ ; لِكَوْنِهِمْ يَضُمُّونَ لِلْحِفْظِ مَعْرِفَةَ فِقْهِ الآيَةِ وَعُلُومِهَا

”maksud hadits ’yang berhak jadi imam adalah yang aqra’’ itu diartikan bahwa yang aqra menurut kebiasaan dan pengetahuan sahabat yang lazim adalah aqra itu maksudnya afqah. Karena memang mereka para sahabat selain menghafal mereka juga mempelajari isi dan kandungan hukum dari ayat-ayat yang mereka pelajari”. (nihayah al-Muhtaj 2/175)

Lebih Fasih Bacaannya

Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang yang lebih berhak untuk menjadi imam dalam shalat jamaah adalah orang yang lebih fasih bacaannya. Mazhab ini menomor-satukan masalah kefasihan bacaan Al-Quran ketimbang keluasan dan kedalaman ilmu fiqih.[3]

Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :

إِذَا كَانُوا ثَلاَثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِالإْمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ

Bila ada tiga orang, maka salah satu dari mereka menjadi imam. Dan orang yang lebih berhak menjadi imam adalah yang lebih aqra' di antara mereka. (HR. Muslim dan Ahmad)

Sedangkan peristiwa di mana Nabi s.a.w. mendahulukan sayyidina Abu bakr r.a. utnuk menjadi Imam padahal di antara para sahabat ada yang lebih fasih bacaan qur’annya, dijawab oleh Imam Ahmad, sebagaimana direkam oleh Imam al-Buhuti dalam Kasysyaf al-Qina’ (1/147):

فَأَجَابَ أَحْمَدُ عَنْهُ بِأَنَّهُ إنَّمَا قَدَّمَهُ عَلَى مَنْ هُوَ أَقْرَأُ لِتَفْهَمَ الصَّحَابَةُ مِنْ تَقْدِيمِهِ فِي الإِمَامَةِ الصُّغْرَى اسْتِحْقَاقَهُ لِلإِمَامَةِ الْكُبْرَى وَتَقْدِيمَهُ فِيهَا عَلَى غَيْرِهِ

”Imam Ahmad menjawab, bahwa Abu Bakr didahulukan menjadi Imam shugra (imam shalat) itu memberi pemahaman kepada para sahabat bahwa dialah yang berhak nantinya menggantikan Nabi untuk imamah kubra (pemimpin muslim) di antara yang lainnya”.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc



[1] Fathul Qadir jilid 1/303. Jawahir al-Iklil 1/83, Nihayatul Muhtaj jilid 2/175, Al-Mughni 2/206

[2] Fathul Qadir jilid 1/303. Jawahir al-Iklil 1/83, Nihayatul Muhtaj jilid 2/175

[3] Kasysyaf Al-Qinaa' jilid 1 hal. 471