Konsultasi

Mengulang Jemaah Shalat dalam Satu Masjid, Bolehkah?

Wed 6 May 2015 - 15:18 | 1096 views

Assalamualaikum warohmatullah,

Ustadz Ahmad yang saya hormati, pertanyaan saya ini mungkin bukan pertanyaan yang baru, tapi ini pertanyaan yang sudah biasa ditanyakan oleh banyak orang muslim, yakni perihal shalat Jemaah yang terulang. Maksudnya mendirikan Jemaah baru setelah Jemaah yang pertama bersama Imam pertama. Itu bagaimana hukumnya, apakah boleh atau justru terlarang? Kalau boleh, apa dalilnya? Dan kalau terlarang, kenapa dilarang, padahal syariah ini sangat menganjurkan berjamaah?

Saya banyak baca di beberapa portal Islam, tapi sayangnya hanya menampilkan satu pendapat dan terkesan memaksakan. Saya ingin tahu bagaimana para madzhab fiqih memandang ini. mudah2an di web ini dijelaskan secara detil dari masing-masing madzhab sehingga ada perbandingan.

Terimakasih sebelumnya ustadz, syukran.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah ini termasuk ke dalam kelompok masalah yang tidak disepakati hukumnya dari kalangan 4 madzhab fiqih yang muktamad. Mayoritas ulama madzhab dari al-hanafiyah, al-Malikiyah dan al-Syafi’iyyah mengatakan itu adalah sebuah kemakruhan, artinya menyelisih yang afdhal.

Namun madzhab Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan berbeda, bahwa tidak ada masalah mengulang jamaah dalam satu masjid atau mendirikan jamaah bari setelah Jemaah pertama itu tidak terlarang sama sekali, atau pun makruh, tidak.

1. Makruh Mendirikan Jamaah Kedua dan Setelahnya

Ini adalah pendapat jumhur ulama madzhab dari kalangan al-hanafiyah, al-Malikiyah, dan al-Syafi’iyyah. Makruh hukumnya mendirikan Jemaah kedua dan setelahnya dalam satu masjid. Pendapat ini didasarkan kepada hadits Nabi Muhammad s.a.w. yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Bakrah r.a., yang mana hadits ini direkam oleh Imam al-Thabrani dalam kitab hadits-nya al-Mu’jam al-wasith:

رَوَى أَبُو بَكْرَةَ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَل مِنْ نَوَاحِي الْمَدِينَةِ يُرِيدُ الصَّلاَةَ ، فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا فَمَال إِلَى مَنْزِلِهِ فَجَمَعَ أَهْلَهُ فَصَلَّى بِهِمْ

Sahabat abu Bakrah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad s.a.w., ketika kembali dari salah satu tempat di madinah dan menuju masjid untuk melaksanakan shalat, beliau mendapati para sahabat sudah melaksanakan shalat, ahirnya beliau pulang ke rumahnya dan shalat bersama keluarga. (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Wasith no. 4601)

Ini bukti yang nyata, kalau saja boleh mendirikan Jemaah setelah Jemaah pertama dalam satu masjid, pastilah Nabi s.a.w. masuk masjid dan melakukan shalat, padahal Nabi s.a.w. sangat hapal keutamaan shalat Jemaah. Akan tetapi nabi tidak melakukan itu, dan pulang shalat bersama keluarganya.

Imam al-Kasani (al-Hanafiyah) dalam kitabnya bada’i al-Shana’i (1/153) meriwayatkan sebuah atsar dari sahabat Anas bin Malik untuk menguatka pendapat jumhur ini:

رُوِيَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانُوا إذَا فَاتَتْهُمْ الْجَمَاعَةُ صَلَّوْا فِي الْمَسْجِدِ فُرَادَى

“diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa para sahabat rasulullah s.a.w., ridhwanullah ‘alaihim, jika mereka ketinggalan Jemaah (di masjid), mereka shalat sendiri-sendiri.”

Kriteria Yang Dimakruhkan

Pada umumnya, 3 madzhab yang memakruhkan mendirikan Jemaah kedua dan setelah dalam satu masjid tidak memutlakkan hukum makruh tersebut kepada semua masjid, akan tetapi kemakruhan tersebut terkena kepada masjid-masjid tertentu saja. Yakni masjid yang memang punya kriteria beberapa hal, di antaranya:

1.   Ada Imam tetap,

2.   Ada Jemaah tetap, artinya masjid itu berada di pemukiman,

Ini yang diungkapkan oleh para ulama madzhab-madzhab yang mekruhkan tersebut. Yakni mendirikan Jemaah di masjid pemukiman yang memang ada Imam tetapnya, dan juga punya Jemaah tetap, itu yang dimakruhkan. Kalau tidak dengan 2 kriteria tersebut, kemakruhannya tidak ada. Imam Nawawi dalam al-Majmu’ (4/222) menyebutkan:

فِي مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِي إقَامَةِ الْجَمَاعَةِ فِي مَسْجِدٍ أُقِيمَتْ فِيهِ جَمَاعَةٌ قَبْلَهَا: أَمَّا إذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ إمَامٌ رَاتِبٌ فَلَا كَرَاهَةَ فِي الْجَمَاعَةِ الثَّانِيَةِ وَالثَّالِثَةِ وَأَكْثَرَ بِالْإِجْمَاعِ: وَأَمَّا إذَا كَانَ لَهُ إمَامٌ رَاتِبٌ وَلَيْسَ الْمَسْجِدُ مَطْرُوقًا فَمَذْهَبُنَا كَرَاهَةُ الْجَمَاعَةِ الثَّانِيَةِ بِغَيْرِ إذْنِه

“dalam hal mendirikan Jemaah lagi padahal sebelumnya sudah ada Jemaah, madzhab-madzhab ulama punya penjelasan; kalau masjid itu tidak punya imam tetap, maka tidak dimakruhkan bagi Jemaah kedua, ketiga dan seterusnya menurut Ijma’. Sedangkan jika masjid itu punya imam tetap, dan masjid itu tidak berada di pinggir jalan, madzhab kami menghukumi itu makruh”.   

Artinya kalau itu masjid adalah masjid di pinggir jalan yang tidak punya imam tetap dan Jemaah tetap, karena memang keberadaannya di situ sebagai tempat ibadah bagi para musafir yang dalam perjalanan atau orang yang sedang lewat, itu menjadi tidak dimakruhkan mendirikan shalat Jemaah berulang-ulang di dalamnya. (Bada’i al-Shana’i 1/153, Hasyiya al-Dusuqi 1/332, al-Majmu’ 4/222)

Hikmah = Mengurangi Jumlah Jemaah Shalat

Para ulama membuat kriteria seperti itu, karena memang hikmah dimakruhkannya Jemaah kedua setelah Jemaah pertama adalah larangan mengurangi jamaah atau membelah persatuan Jemaah yang ada. Sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Kasani (Bada’i al-Shana’i 1/153):

لِأَنَّ التَّكْرَارَ يُؤَدِّي إلَى تَقْلِيلِ الْجَمَاعَةِ؛ لِأَنَّ النَّاسَ إذَا عَلِمُوا أَنَّهُمْ تَفُوتُهُمْ الْجَمَاعَةُ فَيَسْتَعْجِلُونَ فَتَكْثُرُ الْجَمَاعَةُ، وَإِذَا عَلِمُوا أَنَّهَا لَا تَفُوتُهُمْ يَتَأَخَّرُونَ فَتَقِلُّ الْجَمَاعَةُ، وَتَقْلِيلُ الْجَمَاعَةِ مَكْرُوهٌ، بِخِلَافِ الْمَسَاجِدِ الَّتِي عَلَى قَوَارِعِ الطُّرُقِ؛ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ لَهَا أَهْلٌ مَعْرُوفُونَ

“Karena dalam pengulangan Jemaah, akan ada pengurangan Jemaah shalat. Karena kalau orang tahu ia akan tertinggal jamaah, ia akan bersegera ke masjid untuk ikut Jemaah. Akan tetapi jika mereka tahu bakalan ada Jemaah kedua, mereka akhirnya menunda-nunda datang ke masjid lebih awal karena tahu tidak akan ketinggalan Jemaah, di situ ada pengurangan Jemaah. Dan mengurangi Jemaah adalah perbuatan yang dibenci. Berbeda dengan masjid yang ada di pinggir jalan, sebab di situ tidak ada Jemaah tetapnya.”

Ini bisa disimpulkan bahwa Jemaah yang bisa mengurangi jumlah Jemaah pertama adalah Jemaah yang besar dan Jemaah yang besar itu tidak mungkin terjadi kecuali jika dipimpin oleh orang atau tokoh yang dihormati. Artinya jika Jemaah kedua atau seterusnya itu tidak dalam jumlah yang besar dan dipimpin oleh orang yang tidak berpengaruh dalam masyarakat tersebut, maka tidak ada kemakruhan.  

Gambarannya seperti ini; dalam lingkungan masyarakat biasanya tokoh agama tidak hanya satu, bisa dua bahkan lebih akan tetapi mereka shalat di masjid yang sama. Beberapa masyarakat punya kecondongan mengikuti tokoh agama yang satu tapi tidak ke yang lain. Kemakruhan berjamaah itu terjadi jika para masyarakat enggan untuk datang ke masjid lebih awal karena imamnya ustadz fulan A yang kurang disukai. Mereka lebih memilih berjamaah dengan ustadz fulan B yang biasanya datang ke masjid terlambat. Maka Jemaah ustadz Fulan B itulah yang dimakruhkan karena jelas mengurangi jumlah Jemaah yang pertama.

Ini mengacu kepada hadits sahabat Abu Bakrah r.a. yang mengatakan bahwa Nabi s.a.w. menolak shalat di masjid, akan tetapi memilih di rumah ketika tahu bahwa Jemaah sudah selesai. Itu karena memang Nabi s.a.w. adalah seorang Nabi yang menjadi rujukan utama dalam hal agama, kalau Nabi s.a.w. shalat di dalamnya, pastilah akan diikuti oleh para sahabat yang lain. Maka untuk menghindari fitnah ini, Rasul s.a.w. memilih pulang ke rumah.  

Artinya kemakruhan tersebut terikat dengan poin, jika Jemaah yang kedua itu berjumlah besar dan jumlah besar itu biasanya dikarenakan adanya tokoh yang memmpin. Imam Badruddin al-‘Ainiy dari kalangan al-Hanafiyah mengutip pernyataan Abu Yusuf (murid/sahabat Abu Hanifah) dalam kitabnya al-Binayah Syarhu al-Hidayah (2/325):

وعن أبي يوسف: إنما يكره تكرار الجماعة لقوم كثير، أما إذا صلى واحد بواحد أو باثنين فلا بأس به مطلقا إذا صلى في غير مقام الإمام.

“dari Abu Yusuf: kemakruhan mengulang Jemaah adalah jika Jemaah itu banyak. Adapun jika Jemaah itu hanya satu imam dan satu makmum atau 2 makmum, itu tidak apa secara mutlak, jika shalatnya bukan di tempat imam”

Makruh dan Tetap Dapat Pahala Berjamaah

Walaupun memang status Jemaah kedua itu makruh, artinya menyelisih yang utama, akan tetapi mereka semua tetap mendapatkan fadhilah shalat berjamaah, yang dikatakan bahwa itu lebih baik dari shalah sendiri 25 atau 27 kali lipat. Imam al-Dusuqi dari kalangan al-Malikiyah mengatakan:

وَكَرَاهَةُ الْجَمْعِ قَبْلَ الرَّاتِبِ وَبَعْدَهُ لَا يُنَافِي حُصُولَ فَضْلِ الْجَمَاعَةِ لِمَنْ جَمَعَ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

“kemakruhan berjamaah sebelum atau sesudah Imam tetap (ratib) tidak membuat mereka terhalang untuk mendapatkan pahala/fadhilah berjamaah”. (Hasyiyah al-Dusuqi 1/332)

2. Boleh Mendirikan Jemaah Kedua

Ini adalah pendapat resmi madzhab Imam Ahmad bin Hanbal atau madzhab Hanbali, bahwa mendirikan Jemaah lagi setelah Jemaah dengan Imam tetap (ratib), adalah sesuatu yang tidak dimakruhkan, artinya boleh-boleh saja. Walaupun itu di masjid kampung atau pemukiman dan ada imam tetapnya. Imam al-Buhuti mengatakan dalam kitabnya Kasysyaf al-Qina’ (1/458):

(وَلَا تُكْرَهُ إعَادَةُ الْجَمَاعَةِ) أَيْ إذَا صَلَّى إمَامُ الْحَيِّ ثُمَّ حَضَرَ جَمَاعَةٌ أُخْرَى، اُسْتُحِبَّ لَهُمْ أَنْ يُصَلُّوا جَمَاعَةً هَذَا قَوْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ لِعُمُومِ قَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «تَفْضُلُ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ عَلَى صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً»

“Tidak dimakruhkan mengulang Jemaah shalat, tegasnya jika imam kampung shalat kemudian ada Jemaah lain yang datang, disunnahkan bagi mereka untuk berjamaah dengan (imam itu), ini adalah pendapat sahabat Ibnu Mas’ud, berdasarkan hadits Nabi s.a.w.: ‘shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendiri sebanyak 27 derajat’.”

Selain hadits yang disebutkan, pendapat ini juga didukung oleh hadits dari Abu Sa’id r.a.,:

جَاءَ رَجُلٌ وَقَدْ صَلَّى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال : مَنْ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا ؟ فَقَامَ رَجُلٌ فَصَلَّى مَعَهُ

“seorang sahabat datang dan Nabi berserta sahabat lainnya sudah melaksanakan shalat, kemudian beliau s.a.w. berkata: ‘Siapa yang ingin bersedekah kepada orang ini?’, kemudian salah seorang sahabat berdiri dan shalat berdua dengannya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Akan tetapi dalam madzhab ini juga dijelaskan bahwa memang emngulang jamaah itu tidak makruh, artinya boleh-boleh saja. Tapi itu menjadi makruh jika dikerjakan di 2 masjid suci; Masjidil-Haram, Masjid Nabawi, sebagaiman disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Iqna’ (1/160):

ولا تكره إعادة الجماعة في غير مسجدي مكة والمدينة فقط وفيهما تكره إلا لعذر

“Tidak dimakruhkan mengulang jamaah shalat di selain 2 masjid; Masjidil-Haram dan Masjid Nabawi, di dua masjid itu dimakruhkan kecuali jika dilakukan karena ada udzur”.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc