Konsultasi

Merutinkan Dhuha Terlarang Karena Nabi Tidak Melakukannya, Benarkah?

Wed 22 April 2015 - 08:31 | 1450 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
ustadz mohon penjelasannya tentang hukum shalat dhuha, maksud saya adalah hukum merutinkannya?
saya alhamdulillah termasuk yang rajin melaksanakan dhuha setiap hari, disamping karena itu sunnah, juga banyak ustadz-ustadz yang saya temui menganjurkan sekali melakukan dhuha itu, dan lebih penting, setiap memulai kerja dengan didahului dhuha, hati rasanya tenang, dan kerja pun lebih ringan, tidak gundah.
akan tetapi belakangan saya menjadi risau, karena mendapat beberapa pesan dari kawan bahwa merutinkan dhuha itu termasuk perbuatan yang tidak dikerjakan oleh Nabi s.a.w., bahkan beberapa mereka mengatakan bid'ah.

mereka berbicara demikian karena memang ada haditsnya:

عَنْ عَائِشَةَ  tقَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ r يُصَلِّي سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ

Dari Aisyah ra berkata,"Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW shalat Dhuha. (Muttafaqun 'alaihi)

رَوَى أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ قَال : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى حَتَّى نَقُول : لاَ يَدَعُهَا ، وَيَدَعُهَا حَتَّى نَقُول : لاَ يُصَلِّيهَا

Dari Abu said al-Khudriy r.a., Nabi s.a.w. shalat dhuha sampai-sampai kami mengatakan beliau tidak pernah meninggalkannya. Tapi Beliau juga meninggalkannya sampai-sampai kami mengatakan beliau tidak pernah melakukannya. (HR Tirmidzi)

bagaimana penjelasan tentang ini ustadz? apa ulama madzhab fiqih memang menghukumi demikian? syukran, mohon penjelasannya.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang pertama perlu diketahui adalah bahwa ulama 4 madzhab sepakat bahwa shalat dhuha itu hukumnya sunnah.

رَوَى أَبُو ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال : يُصْبِحُ عَلَى كُل سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ : فَكُل تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُل تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ : وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَيُجْزِئُ عَنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Dari Abu Dzar r.a. dari Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Setiap pagi di setiap sendi-sendi tulang muslim itu ada sedekahnya, setiap Tahmid itu sedekah, setiap tahlil juga sedekah, Amar makrug juga sedekah, Nahyu munkar juga sedekah, dan itu semua cukup hanya dengan 2 rakaat dhuha”. (HR Muslim)

Bahkan madzhab al-Syafi’iyyah dan jua al-Malikiyah menempatkan shalat dhuha di level yang lebih tinggi, yakni sunnah muakkadah.

Madzhab al-Malikiyah

و تَأَكَّدَ ( الضُّحَى ) وَأَقَلُّهُ رَكْعَتَانِ وَأَوْسَطُهُ سِتٌّ وَأَكْثَرُهُ ثَمَانِيَةٌ وَكُرِهَ مَا زَادَ عَلَيْهَا

dan shalat dhuha kesunahannya muakkad, rakaat minimalnya 2, 6 rakaat idealnya, dan 8 rakaat maksimal, jika melebihi 8 rakaat itu dimakruhkan” (Hasyiyah al-Dusuqi 1/313)

Madzhab al-Syafi’iyyah

فَقَالَ أَصْحَابُنَا : صَلاةُ الضُّحَى سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَقَلُّهَا رَكْعَتَانِ وَأَكْثَرُهَا ثَمَانِ رَكَعَاتٍ

“sahabat kami (ulama-ulaa al-Syafi’iyyah) mengatakan shalat dhuha hukumnya sunnah muakkadah, minimalnya 2 rakaat dan maksimalnya 8 rakaat”. (Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ 4/36)

Merutinkan Dhuha

Ini yang menjadi perselisihan para ulama madzhab yang salah satu sebabnya adalah hadits riwayat Syaikhan (Bukhari & Muslim) dari sayyidah ‘Aisyah r.a. itu. Yang akhirnya membuat ulama menjadi 2 kelompok pendapat dalam hal ini.

Jumhur = Merutinkan Dhuha Mustahabb

Ini adalah pendapat jumhur ulama madzhab dari kalangan al-Hanafiyah, al-Malikiyah dan juga al-Syafiiyah. 3 madzhab tertua ini sepakat bahwa dhuha itu sunnah, dan merutinkannya adalah sebuah kebaikan dan itu juga sunnah, atau dalam beberapa literasi dikatakan dengan istilah mustahabb (disukai / recommended).

Tentunya dengan dalil:

1. Wasiat Khusus dari Nabi s.a.w.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ - قَال : أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ لَسْتُ بِتَارِكِهِنَّ : أَنْ لاَ أَنَامَ إِلاَّ عَلَى وِتْرٍ ، وَأَنْ لاَ أَدَعَ رَكْعَتَيِ الضُّحَى فَإِنَّهَا صَلاَةُ الأَْوَّابِينَ

Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata,"Aku telah diwasiatkan oleh Nabi SAW untuk tidak meninggalkan tiga  perkara : Tidak tidur kecuali setelah Shalat Witir, tidak meninggalkan dua rakaat Shalat Dhuha karena itu adalah shalat awwabin, dan tidak meninggalkan puasa tiga hari dalam sebulan. (HR. Al-Bukhari)

Dalam hadits ini, gambling dinyatakan bahwa Nabi s.a.w. mewasiatkan kepada sahabat Abu Hurairah, dan itu juga tentu untuk umat Islam semua untuk tidak meninggalkan shalat dhuha. Itu berarti bahwa anjuran untuk merutinkan dhuha.

2. Amal Yang Paling Disukai Adalah Yang Rutin

Secara umum memang, dalam hadits Nabi s.a.w. secara zahir menyatakan bahwa pekerjaan yang Allah s.w.t. cintai adalah pekerjaan kebaikan yang mudawamah alias istiqamah atau rutin walaupun kuantitasnya sedikit.

أَحَبُّ الْعَمَل إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَل

Dari Aisyah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: Sebaik-baik amalan adalah yang rutin walaupun sedikit. (HR Muslim)

Shalat dhuha adalah kebaikan, akan menjadi baik nilainya dan dengan hadits ini, serta disukai oleh Allah s.w.t. jika pekerjaan yang baik itu jika dirutinkan walaupun jumlah yang dikerjakan sedikit.

3. Fadhilah Khusus Bagi Yang Merutinkan Dhuha

Ini juga menjadi salah satu pertimbangan jumhur dalam hal kesunahan merutinkan dhuha, yakni adanya janji dari Allah s.w.t. bagi muslim yang merutinkan dhuha dengan pintu khusus di surga.

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَال لَهُ الضُّحَى فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ نَادَى مُنَادٍ : أَيْنَ الَّذِينَ كَانُون يُدِيمُونَ صَلاَةَ الضُّحَى ؟ هَذَا بَابُكُمْ فَادْخُلُوهُ بِرَحْمَةِ اللَّهِ

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w: “di dalam surga nanti ada pintu yang bernama pintu dhuha, nanti di hari kiamat ada yang memanggil: ‘siapa yang merutinkan dhuha? Masuklah ke sini, ini pintu kalian’”. (HR Thabrani)

مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةِ الضُّحَى غُفِرَ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْل زَبَدِ الْبَحْرِ

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: “Siapa yang merutinkan Dhuha, dosa-dosanya akan diampuni walaupun banyaknya seperti buih di lautan”. (HR Tirmidzi)

2 hadits ini dan juga beberapa hadits lain yang menunjukkan fadhilah khusus dhuha, memang statusnya diperdebatkan oleh ulama hadits yang mayoritasnya menghukumi ini sebagai hadits yang dhaif. Akan tetapi jumhur ulama tetap mengamalkan hadits ini sebagai Fadhail A’mal, selain itu juga dengan dukungan dalil-dalil sebelumnya yang sudah disebutkan di atas.

Al-Hanabilah: Tidak Dianjurkan Merutinkan Dhuha

Walaupun tidak semua ulama al-Hanabilah menyepakati pendapat ini, akan tetapi secara resmi, madzhab ini berpendapat bahwa tidak dianjurkan merutinkan dhuha. Ditegaskan oleh Imam al-Mardawi.

الصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ : أَنَّهُ لا يُسْتَحَبُّ الْمُدَاوَمَةُ عَلَى فِعْلِهَا , بَلْ تُفْعَلُ غِبًّا نَصَّ عَلَيْهِ فِي رِوَايَةِ الْمَرُّوذِيِّ , وَعَلَيْهِ جُمْهُورُ الأَصْحَابِ

“pendapat yang shahih dari madzhab ini (Hanbali) adalah tidak diajurkan / tidak disukai merutinkan dhuha, akan tetapi cukup dikerjakan ghibban (random: kadang dikerakan, kadang ditinggalkan), ini sesuai nash (Imam Ahmad) yang diriwayatkan oleh al-Maruzi dan ini adalah pendapat mayoritas ulama kami”. (al-Inshaf 2/191)

Dalil-dalil yang digunakan:

1. Nabi s.a.w. Tidak Merutinkan

Ibadahnya orang muslim itu harus dirsandar kepada apa yang diriwayatkan dari Nabi s.a.w., dan beliau s.a.w. tidak pernah merutinkan shalat dhuhanya. Bahkan dalam riwayat Aisyah, Nabi s.a.w. justru tidak melakukan dhuha.

عَنْ عَائِشَةَ  tقَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ r يُصَلِّي سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ

Dari Aisyah ra berkata,"Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW shalat Dhuha. (Muttafaqun 'alaihi)

رَوَى أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ قَال : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى حَتَّى نَقُول : لاَ يَدَعُهَا ، وَيَدَعُهَا حَتَّى نَقُول : لاَ يُصَلِّيهَا

Dari Abu said al-Khudriy r.a., Nabi s.a.w. shalat dhuha sampai-sampai kami mengatakan beliau tidak pernah meninggalkannya. Tapi Beliau juga meninggalkannya sampai-sampai kami mengatakan beliau tidak pernah melakukannya. (HR Tirmidzi)

Ini yang sangat jelas menggambarkan bagaimana Nabi s.a.w. melakukan dhuha, beliau tidak merutinkan, kadang melakukan, akan tetapi juga meninggalkan. Bahkan orang terdekat beliau meriwayatkan ketiadaan beliau s.a.w. melakukan dhuha. Jadi tidak ada anjuran untuk merutinkan dhuha.

2. Menyerupai Shalat Wajib

Ini alasan yang diungkapkan oleh Imam al-Buhuti dalam kitabnya Kasysyaf al-Qina’ (1/442):

وَلأَنَّ فِي الْمُدَاوَمَةِ عَلَيْهَا تَشْبِيهًا بِالْفَرَائِضِ  

“karena juga dalam merutinkan itu menyerupai yang wajib.”

Bila amal sunnah dilakukan secara rutin akan menimbulkan kemiripan dengan shalat wajib. Sehingga hal ini akan menyalahi hukum dasarnya.

Makna Hadits ‘Aisyah r.a.

 Terkait hadits sayyidah ‘Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa Nabi s.a.w. tidak melakukannya, ini kemudian dikomentari oleh beberapa ulama hadits dalam kitab-kitab yang menjelaskan tentang hadits ini. di antaranya adalah kitab Al-Diibaaj Syarhu Shahih Muslim bin al-hajjaj, Ini adalah kitab syarah (penjelasan) kitab Shahih Muslim karangan Imam Jalaludin al-Suyuthi, beliau menuliskan penjelasan yang mana penjelasan ini juga diambilnya dari kitab pendahulunya, Imam al-Nawawi dalam kitabnya  al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al-Hajaj (5/230):

لا يلزم من نفي رؤيتها نفي صلاته فلا ينافي ذلك أحاديث أنه صلاها وسببه أنه صلى الله عليه و سلم ما كان يكون عند عائشة في وقت الضحى إلا في نادر من الأوقات فإنه قد يكون مسافرا وقد يكون حاضرا ولكن في المسجد أو في موضع آخر وإن كان عند نسائه فإنما كان لها يوم من تسعة فصح قولها ما رأيته

“tidak melihatnya Aisyah r.a. Nabi s.a.w shalat dhuha tidak berarti bahwa Nabi s.a.w. tidak pernah melakukannya, itu bisa saja disebabkan bahwa beliau s.a.w. sedang tidak berada bersama Aisyah r.a. di waktu dhuha, kecuali di waktu-waktu yang jarang, atau bisa saja Nabi s.a.w. ketika itu sedang musafir, bisa juga Nabi s.a.w. melakukan shalatnya di Masjid sehingga tidak terlihat atau di tempat lain. Atau bisa saja beliau s.a.w. sedang di rumah istri-istri yang lain, kalau demikian berarti dari 9 hari Aisyah r.a. hanya punya jatah 1 hari saja. Jadi memang benar kalau Aisyah r.a. tidak melihat beliau s.a.w. shalat dhuha.” (al-Diibaaj 2/339)

Ini kemudian juga diperkuat bahwa Aisyah r.a. sendiri pernah meriwayatkan Nabi s.a.w. melakukan shalat dhuha:

عَنْ عَائِشَةَ t قَالَتْ:  كَانَ رَسُولُ اللَّهِ r يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ رَوَاهُ مُسْلِم ٌ

Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata,"Rasulullah SAW pernah shalat dhuha 4 rakaat dan beliau menambahkannya sesuai apa yang Allah kehendaki (HR. Muslim)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc