Konsultasi

Susuan Yang Menjadikan 'Mahram'

Fri 17 April 2015 - 06:19 | 944 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
 pak Ustadz, saya adalah wanita yang punya komonitas bersama teman wanita lain terhadap kekurangan asi yang banyak terjadi kepada teman-teman kecil kita di luar sana, akhirnya kami membuat komunitas yang menyalurkan ASI dari ibu yang kelebihan kepada anak atau ibu yang memang kekurangan. Yang saya tanyakan:

1. Kami memberikan ASI dalam bentuk botolan, karena sebelumnya sudah diperah dengan alat khusus. Apakah menyusu dengan botol, artinya tidak langsung isap ke dada ibu itu juga membuat mahram? Karena ada yang bilang yang menjadikan mahram itu adalah yan isap langsung.

2. Berapa kali susuan yang membuat mahram? serta kapan dan bagaimana susuan itu disebut satu kali. Maksudnya patokan kalau susuan itu sudah disebut satu kali susuan.

mohon penjelasannya, pak. wassalam

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ya. Memang ulama berbeda pendapat dalam hal ini, apakah ke-mahrom-an itu terjadi hanya dengan meminum asi langsung dari si ibu atau bisa dengan asi yang sudah diperah? Ada yang mengatakan "Ya. Jadi mahrom". Ada juga yang mengatakan "Tidak! Mahrom hanya terjadi ketika si bayi menyusu langsung".

[1] Mahrom Hanya Terjadi Dengan Menyusui Langsung

Ulama dalam kelompok ini (madzhab al-Zohiriyah) berpendapat bahwa susu yang sudah diperah itu tidak disebut menyusui, jadi tidak terjadi ke-mahrom-an dalam hal itu, ini adalah pendapatnya madzhab Zohiri, dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Dengan dalil:

Rodho' [رضاع] (menyusui) secara bahasa Arab berarti:

اِلْتِقَامُ الثَّدْيِ وَامْتِصَاصِ اللَّبَنِ

"menempelnya mulut bayi dengan dada dan menghisap susu dari situ"

Jadi jika seorang bayi menyusu dengan asi yang sudah diperah dan dibotolkan artinya dia tidak menyusu secara langsung dari dada si ibu, maka itu tidak dinamakan Rodho', karena bukan Rodho' ya tidak terjadi ke-mahrom-an dalam hal ini. Karena memang ke-mahrom-an terjadi hanya terjadi dengan Rodho', dan asi yang sudah dibotolkan tidak bisa dikatakan Rodho'.

Selain secara bahasa, bahwa menyusui itu ialah bukan hanya menyalurkan asi kepada si bayi. Tapi dengan menyusui langsung juga terjadi proses transfer rasa sayang dan cinta dari si ibu kepada si bayi, nah proses pertalian emosional ini jugalah yang menyebabkan terjadinya ka-mahrom-an. Dan itu tidak terjadi pada penyusuan dengan asi yang sudah dalam botol.

[2] Ke-Mahrom­-An Terjadi Dengan Menyusui Langsung Atau Tidak Langsung

Ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama dari 4 madzhab Fiqih. Menyusui baik yang langsung atau pun dengan system perah dan botol itu sama saja hukumnya, sama-sama menjadi si bayi dan si ibu mnejadi mahrom. Dengan dalil:

Bahwa yang menjadi patokan itu bukan bagaimana cara menyusui, tapi yang menjadi Patoka itu ialah susu ibu itu sendiri yang telah masuk kedalam tubuh si bayi dan menyatu dengan darah dan daging.

Dalam riwayat Abu Daud dari hadits Ibnu Mas'ud disebutkan Nabi saw bersabda:

لَا رَضَاعَ إِلَّا مَا أَنْشَزَ اَلْعَظْمَ, وَأَنْبَتَ اَللَّحْمَ

"tidak dikatakan menyusui kecuali yang menjadikan tulang dan menumbuhkan daging" (HR. Abu Daud)

Di sini jelas bahwa yang disebut dengan Rodho' itu ialah penyusuan yang menjadikan daging dan tulang, dan itu terjadi pula pada bayi yang menyusu dengan botol dari asi yang sudah diperah, bukan hanya yang menyusu langsung. Jadi memang tidak mesti langsung.  

Kemudian juga ada hadits yang mengatakan bahwa: "Sesungguhnya Rodhoah (penyusuan) itu ialah yang menghilangkan kelaparan (si bayi)" (Muttafaq 'Alayh).

Artinya memang dalam hal ini tidak dilihat apakah susu itu dihisap langsung atau tidak. Selama asi itu memang menjadi makanan pengeyang (makanan pokok) bagi bayi, dan itu kemudian menjadi daging dan tulang, maka ke-mahrm-an berlaku disitu. Dan dengan hadits ini juga yang menjadikan Jumhur ulama berpendapat bahwa penyusuan yang menjadikan mahram itu adalah yang kurang dari 2 tahun. Karena anak kurang dari 2 tahun memang menjadikan susuan ibunya itu sebagai makanan pokok atau pengeyang, berbeda dengan orang dewasa yang menyusu bukan untuk makanan pokok.  

“Mana Yang Kuat?”

Saya tidak mengatakan mana yang kuat mana yang lemah. Tapi saya lebih condong kepada pendapat Jumhur. Selain karena itu suara mayoritas (Majority Voice), pendapat ini juga lebih hati-hati dan tidak menggampangkan.

Toh dulu, pada zaman Nabi juga terjadi peristiwa Salim, seorang Budak Abu Khuzaifah, yang disusui oleh istirnya Abu Khuzaifah dengan susu yang sudah diperah dan kemudian Nabi menyatakan bahwa mereka telah menjadi mahrom.

kemahraman Terjadi Setelah 5 Kali Susuan

Ini pendapat Jumhur bahwa penyusuan yang menyebabkan mahrom itu jika susuannya mencapai 5 kali susuan, berdasarkan hadits 'Aisyah ra. Bahwa diawal masa-masa kenabian, penyusuan yang menyebabkan ka-mahrom-an ialah 10 kali dan kemudian di-Naskh (dihapus) mnejadi 5 kali susuan. Dan ini yang berlaku sampai Rasulullah saw wafat. (HR Muslim)           

Ukuran Satu Kali Susuan

Imam Shon'any dalam kitab Subulus-Salam, menjelaskan ini. Beliau mengatakan bahwa yang disebut satu kali susuan itu ialah:

"ketika si bayi menyusu (langsung atau tidak langsung) kemudian ia meninggalkan susuannya tersebut tanpa paksaan (bukan dilepaskan oleh si ibu) tapi dia melepaskan isapannya tersebut dengan sendirinya. Tapi jika ia melapaskan isapan karean ingin bernapas atau sekedar istirahat atau hal lain (seperti nguap dan ngulet), kemudian kembali lagi menghisap dalam jarak waktu yang dekat. Maka berhentinya itu tadi tidak terhitung sebagai satu kali susuan, tapi susuan yang belum beres."(Subulus-Salam. Jil. 3 Hal. 1117)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc