Konsultasi

Memakai Cincin di Jari Apa Yang Sesuai Sunnah?

Thu 9 April 2015 - 06:03 | 7660 views
Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
terkait penjelasan tentang hukum memakai cincin yang ada di web ini ( http://www.kampussyariah.com/x.php?id=20&=cincin-besi-haram-karena-perhiasan-ahli-neraka-benarkah.htm ), pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah jari mana yang sesuai sunnah Nabi dalam memakai cincin? karena saya mendengar ada beberapa orang yang mengatakan bahwa memakai cincin itu haram di jari tengah dan jari telunjuk. Mohon penjelasannya. Syukran

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ulama sepakat jika cincin itu dipakai oleh wanita, bahwa tidak ada tempat khusus atau tempat terlarang bagi mereka. karena sejatinya cincin adalah bagian dari perhiasan yang dibolehkan bagi wanita, di mana pun mereka memakainya, itu sah-sah saja. Akan tetapi, ulama berselisih jika cincin itu dipakai oleh kaum laki, di jari manakah cincin itu boleh dipakai dan di jari manakah itu terlarang. Bahkan ulama dalam satu madzhab pun berselisih tentang ini.

Perbedaan itu muncul karena memang riwayat yang ada dan datang dari Nabi s.a.w. menyebutkan bahwa Nabi memakai cincin di kedua tangan; kanan dan kirinya.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ خَاتَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِصْبَعِهِ الْيُسْرَى

Dari sahabat Anas r.a., beliau berkata: “Sepertinya aku melihat putihnya cincin Nabi s.a.w. di salah satu jari tangan kirinya”. (an-Nasa’i)

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَلْبَسُ خَاتَمَهُ فِي يَمِينِهِ

“Dari sahabat Ali bin Abi Thalib r.a., Nabi s.a.w. memakai cincin di tangan kanannya”. (Hr. An-Nasa’i)

Perlu disadari secara seksama bahwa karena memang riwayat cincin Nabi s.a.w. itu ada di tangan kiri dan ada juga di tangan kanan, dan keduanya sama-sama dalam derajat yang shahih. Para ulama hanya mencari mana yang afdhal. Mereka tidak pada posisi mengharamkan sisi yang tidak mereka dukung, hanya memberikan mana yang manduub dan lebih utama dengan didukung dalil-dalil yang mereka temukan.

Tangan Kiri

Madzhab al-Hanafiyah, al-Malikiyah, al-Hanabilah dan sebagian ulama al-Syafiiyyah menetapkan bahwa afdhalnya memakai cincin itu di tangan kiri. Dikatakan afdhal dalam arti bahwa memakai cincin di tangan kiri sifatnya manduub (recommended), dalam arti bahwa memakai cincin di tangan kanan itu bukan terlarang, hanya saja khilaful-Aula (menyelisih yang utama).

Ini yang dijelaskan oleh Imam Ibn ‘Abdin dari kalangan al-Hanafiyah dalam kitabnya Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar (6/361). Juga oleh Imam al-‘Adwi dari kalangan al-Malikiyah dalam Hasyiyah-nya (Hasyiyah al-‘Adwi ‘ala Kifayah al-Thalib al-Rabbaniy 2/450). Juga Imam al-Buhuty dari al-hanabilah dalam Kasysyaf al-Qina’ (2/236)

Imam al-Nawawi dalam Majmu’-nya (4/426) menguatkan bahwa sahabat Ibnu Umar dalam riwayat Imam Abu Daud yang shahih, beliau r.a. memakai cincin di tangan kirinya. Dan sebagaimana diketahui bahwa sahabat Ibnu Umar adalah sahabat yang sangat ketat dalam mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi s.a.w.

Jari Kelingking

Setelah sepakat cincin itu afdhalnya di tangan kiri, dan makruh di tangan kanan, kelompok ulama ini kemudian juga bersepakat bahwa yang afhdal dari tangan kiri untuk dilingkari cincin itu adalah jari kelingkingnya, bukan yang lain. Ini didasarkan kepada larangan Nabi s.a.w. kepada Ali r.a.;

قَالَ عَلِيٌّ: «نَهَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ»، قَالَ: «فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا»

Dari Ali r.a., beliau berkata: “Rasul s.a.w. melarangku untuk memakai cincin di kedua jari ini!”. kemudian beliau memberi isyarat ke jari tengan dan jari setelahnya”. (HR. Muslim)

Yang dilarang oleh Nabi s.a.w. untuk dipakaikan cincin itu jari tengah dan jari setelahnya. Nah jari setelah itu kemudian diperselisihkan, apakah yang dimaksud sayyidina Ali r.a. jari setelahnya itu jari manis atau jari telunjuk; karena memang kedua-duanya sama-sama berada setelah jari tengah. Kemudian ini dijelaskan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dari sahabat Abu Burdah:

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقُولُ نَهَانِي نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَاتَمِ فِي السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Dari Abu Burdah r.a.: “Aku mendengar Ali r.a.berkata bahwa Nabi s.a.w. melarang aku memakai cincin di jari telunjuk dan jari tengah”. (HR. An-Nasa’i)

kelompok ini memilih bahwa yang afdhal itu di jari kelingking. Selain karena ada larangan di hadits tersebut –walaupun bukan haram-, juga karena beberapa alasan, di antaranya: karena kelingking adalah jari yang paling pojok, dan tidak sibuk, berbeda dengan jari-jari yang lain. Karena itu di pojok membuat cincin tetap terlihat baik, karena buat apa berhias, kalau cincin itu ditempatkan pada jari yang sibuk.

yang perlu diingat bahwa larangan dalam hadits ini, ulama  tidak menghukumi itu berbuah keharaman, akan tetapi hanya sebatas kemakruhan saja. Tidak diharamkan karena memang konteks hadits ini bukan dalam masalah ibadah melainkan masalah yang sifatnya keduniaan. (Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar 6/361, Hasyiyah al-‘Adwi ‘ala Kifayah al-Thalib al-Rabbaniy 2/450, Kasysyaf al-Qina’ 2/236)

Tangan Kanan

Ini adalah pendapat yang masyhur dari madzhab al-Syafi’iyyah dari 2 pendapat yang ada. Yakni afdhalnya cincin itu dipakai di tangan kanan, mengingat bahwa Nabi s.a.w. dulu pernah memakai cincin di tangan kanan, dan itu tsabit (riwayatnya benar). Ini juga pendapat madzhab al-Zaidiyah, dan juga riwayat dari sayyidina Ali r.a.. (Fiqh al-Imam Ali r.a. 1/458)

Selain ini yang dilakukan oleh sayyidina Ali r.a., Imam Nawawi dalam Majmu’-nya (4/426) menguatkan pendapat ini dengan riwayat sahabat lain yang juga memakai cincin di tangan kanan, yakni sahabat Ibnu Abbas r.a.. Beliau juga menambahkan bahwa yang namanya cincin itu adalah penghias, dan sebaik-baik penghias adanya di kanan.

Dan jari yang afdhal adalah jari kelingking. Alasan pemilihannya sebagai yang afhdal sama seperti yang dijelasnkan di atas. Dalam al-Majmu’, Imam Nawawi menjelaskan:

يَجُوزُ للرجل لبس خاتم الفضة في خنصره بمينه وَإِنْ شَاءَ فِي خِنْصَرِ يَسَارِهِ كِلَاهُمَا صَحَّ فِعْلُهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّ الصَّحِيحَ الْمَشْهُورَ أَنَّهُ فِي الْيَمِينِ أَفْضَلُ لِأَنَّهُ زِينَةٌ وَالْيَمِينُ أَشْرَفُ وَقَالَ صَاحِبُ الْإِبَانَةِ فِي الْيَسَارِ أَفْضَلُ لِأَنَّ الْيَمِينَ صَارَ شِعَارَ الرَّوَافِضِ فَرُبَّمَا نُسِبَ إلَيْهِمْ هَذَا كَلَامُهُ وَتَابَعَهُ عَلَيْهِ صَاحِبَا التَّتِمَّةِ وَالْبَيَانِ وَالصَّحِيحُ الْأَوَّلُ وَلَيْسَ هُوَ فِي مُعْظَمِ الْبُلْدَانِ شِعَارًا لَهُمْ وَلَوْ كَانَ شِعَارًا لَمَا تُرِكَتْ الْيَمِينُ وَكَيْفَ تُتْرَكُ السُّنَنُ لِكَوْنِ طَائِفَةٍ مُبْتَدِعَةٍ تَفْعَلُهَا

“dibolehkan bagi kaum laki memakai cincin perak di kelingking kanannya, dan jika ia mau boleh juga di kelingking kirinya, kedua-duanya benar dari Nabi s.a.w., akan tetapi yang shahih dan masyhur (dalam madzhab kami) kanan afdhal, karena cinci adalah perhiasan dan kanan lebih mulia (dari kiri). Pengarang kitab Ibanah (Abu al-Qasim al-Furani) mengatakan kiri lebih afdhal karena (memakai cincin) di kanan sudah menjadi cirinya orang rafidhah, mungkin perkataan itu dinisbatkan kepadanya dan akhirnya diikuti oleh pengarang kitab al-Tatimmah (al-Mutawaaly) dan pengarang kitab al-Bayan (al-‘Umrani). Tapi yang shahih (dalam madzhab kami) adalah yang pertama (tangan kanan afdhal) dan pakai cincin di kanan bukan ciri orang rafidhah di seluruh negeri. Kalaupun itu ciri mereka, tangan kanan tidak mungkin ditinggalkan begitu saja. Bagaimana bisa kesunahan (pakai cincin di kanan) ditinggalkan hanya karena ada kaum mubtadi’ah (pelaku bid’ah) melakukannya”. (al-Majmu’ 4/462)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc