Konsultasi

Hukuman Yang Pantas Bagi Pecandu dan Pengedar Narkoba

Sat 4 April 2015 - 09:10 | 1640 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
ustadz, beberapa hari yang lalu ramai berita tentang narkoba dan juga hukuman eksekusi terhadap pengedarnya, BNN juga sudah melabelkan negara kita dengan label "darurat Narkoba", sejatinya yang jadi pertanyaan saya adalah, bagaimana sebenarnya hukuman Islam terkait narkoba ini, baik bagi pecandunya dan juga bagi pengedarnya. mohon penjelasan. wassalam

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Narkoba dalam bahasa Arab disebut dengan istilah al-Mukhaddirat [المخدرات], yang bila ditelisik dari sisi bahasa, kata al-Mukhaddirat mempunyai akar kata dari 3 huruf; yaitu Kha, dal, dan ra’ [خ د ر]. 3 huruf ini secara persatuannya mengandung beberapa arti sebagaimana disebutkan oleh para ahli bahasa. Di antara arti tersebut ialah;

1.   Al-Satru wa al-Taghthiyah, dalam bahasa Indonesia berarti menutup.

2.   Al-Dzulm al-Syadid yang berarti kegelapan yang sangat.

3.   Al-Kasal wa al-futur, ini berarti kemalasan yang parah.

Dari tiga arti bahsa ini, jika kita sandingkan dan kita banding dengan Narkoba itu sendiri berserta para pecandunya, itu menghasilkan ikatan dan keterkaitan makna yang sangat kuat sekali. Narkoba dan obat-obat terlarang itu ketika dikonsumsi pastilah ia akan membuat akal dan otaknya tertutup sehingga ia menjadi mabuk. Bukan hanya mabuk, orang yang mengkomsumsi narkoba pun membuat hatinya menjadi gelap karena tertutup oleh Obat tersebut. Dan sudah barang tentu, efek yang dihasilkan kepad atumbuh ialah membuatnya menjadi lemas dan malas untuk melakukan sesuatu karena candunya tersebut.

Adapun dari segi istilah Fiqih, kata al-Mukhaddirat tersebu tidak mempunyai perbedaan makna dari maknanya secara bahasa. Artinya definisi al-Mukhaddirat secara bahasa sama seperti definisinya secara istilah ilmu fiqih. Imam al-Qarafi dari kalangan madzhab al-Malikiyah mengatakandalam kitabnya al-Furuq, “ialah sesuatu yang menghilangkan akal dan perasaan disfungsi panca indra tanpa ada kesadaran dan kesenangan”.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami juga mendefisikan makna serupa tentang al-Mukhaddirat ini. beliau mengatakan; “mukhadirat adalah segala sesuatu yang menyebabkan hilangnya akal dan disfungsi panca idra serta menghilangkan kesadaran diri.”

Dengan demikian, makna al-Mukhaddirat­ atau Narkoba itu sama seperti makan KHamr yang dikatakan oleh jumhur ulama dari kalangan 4 madzhab. Kedua definisi tersebut bertemu dalam poin memabukkan, menghilangkan akal dan kesadaran, dan itu adalah inti dari khamr, yaitu menghilangkan akal dan kesadaran diri.

Jumhur ulama, selain madzhab Imam Abu Hanifah memberikan definisi khamar yaitu: segala sesuatu yang memabukkan baik sedikit maupun banyak. Pemberian definisi ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW :

Dari Ibni Umar RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Segala yang memabukkan itu adalah khamar dan semua jenis khamar itu haram." (HR. Muslim dan Ad-Daruquthuny).

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda,

Segala yang memabukkan adalah khamar dan segala yang memabukkan hukumnya haram". (HR. Ahmad dan Ashhabussunan).

Dengan demikian sudah tidak diragukan lagi bahwa Narkoba adalah termasuk dalam kategori khamr yang memang jelas keharamannya. Dan karena memang itu adalah khamr, hukuman penikmat Narkoba dalam syariah pun sama seperti hukuman peminum khamr.

Dalil-dalil pengharaman Narkoba

Khamr telah diharamkan oleh Allah swt lebih dari 14 abad yang lalu, dan itu terekam jelas dalam beberapa ayat di Al-Qur’an dan juga terucap dari lisan Nabi Muhammad saw. Diantara dalil-dalil tersebut ialah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ - إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, judi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan kejitermasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dengan khamar dan judi serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu dari pekerjaan itu. (QS. Al-Maidah :90- 91)

Ini adalah ayat yang jelas sekali melarang orang muslim untuk mengkonsusi segala sesuatu yang memabukkan seperti Khamr dan Narkoba yang akhirnya bisa membuat merekalalai akan mengingat kepada Allah swt dan tidak melaksanakan perintah-perintah-Nya.

“dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah 195)

Ayat ini juga secara eksplisit dan tegas sekali mengharamkan segala sesuatu yang menghancurkan tubuh manusia serta jiwanya, dan burang sesuatu yang asing lagi bahwa Narkoba serta obat-obatan terlarang tersebut mempunyai dampak buruk bagi kesehatan serta mental penikmatnya. Dan bukan rahasia lagi, banyak orang yang akhirnya tewas, meninggal dunia karena Narkoba. Karena itu sudah jelas keharaman khamr atau Narkoba ini.

Adapun beberapa dalil dari hadits Nabi saw tentang keharaman khamr juga sangat melipmpah dan banyak sekali, diantaranya ialah; "Segala yang memabukkan itu adalah khamar dan semua jenis khamar itu haram." (HR. Muslim)

Imam Ahmad dalam Musnadnya pernah meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah yang mengatakan; “Bahwasanya Rasul saw melarang segala sesuatu yang memabukkan dan merusak”.

Beberapa dalil di atas adalah bukti yang jelas tentang keharaman khamr yang telah termaktub dalam al-Quran dan disampaikan dalam hadits-hadits Nabi saw. Bahkan keharamannya sudah mencapai derajat Ijma’ atau konsesus, dimana tidak ada seorang pun dari ulama Islam yang mengatakan berbeda.

Hukuman Bagi Pengguna dan Pengedar Narkoba

a.   Bahaya Narkoba

Para ulama syariah menyimpulkan bahwa syariah yang Allah saw turunkan melalui al-Quran dan juga Nabi-Nya Muhammad saw itu kesemuanya mengarah bahwa syariah Islam ini menjaga 5 penting dalam kehidupan manusia, yakni Agama, Akal, Jiwa, Harta, dan Kehormatan/Keturunan.

Maka dalam hukum syariah, Allah swt menyiapkan hukuman-hukuman Hadd berat bagi mereka yang melanggar atau mencederai kelima hal yang terjaga oleh syariah ini;

Alah swt menghukumi mereka yang menghina agama dengan hukuman mati, seperti penebar bid’ah, dukun, serta orang-orang yang mengaku Nabi palsu setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Allah swt juga menghukumi mati bagi mereka yang membunuh saudara muslim lainnya. Ini bukti bahwa Islam menjaga jiwa untuk tidak tersakiti. Allah swt juga menghukumi potong tangan bagi mereka yang kmencuri harta saudaranya, karena Islam juga menjaga Harta umatnya. Allah swt menghukumi Rajam (ditimpuk sampai mati) serta cambuk seratus kali bagi mereka yang melakukan perzinahan, sebagai bukti syariah menjaga kehormatan. Dan tentu saja syariah ini menghukumi dengan hukuman berat bagi mereka yang mencederai akal dengan menutupnya melauli cara mengkonsumsi obat-obat terlarang atau juga Narkoba.

Bahkan, kalau kita telisik lebih dalam, nyatanya, Narkoba, Narkotika, Khamr, obat-obat terlarang bukan hanya mencederai akal saja. Akan tetapi ia menyerang segala aspek penting kehidupan manusia yang memang sangat dijaga rapih oleh syariah, yakni Agama, akal, harta, jiwa dan kehormatan.

Dalam buku yang dikeluarkan oleh BNN (Badan Narkotika Nasional), disebutkan bahwa dampak yang ditimbulkan oleh Narkoba ialah berupa ganguan kesehatan fisik yang meliputi kerusakan organ vital, termasuk otak jantung, paru-paru, hati, ginjal dan reproduksi. Selain itu, Narkoba juga menimbulkan keracunan pada badan penikmat itu sendiri denagn berbagai tanda dan gejalanya, seperti kejang, gemetar, jantung berdebar dan bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Bukan rahasia lagi, bahwa Narkoba adalah salah satu factor yang menimbukan efek negative pada ekonomi dan kemampuan finansial seseorang. Seperti biaya ekonomi yang tinggi unutk membeli narkoba yang harganya sangat mahal dan kebutuhannya terus menerus serta makin tinggi biaya pengobatan, perawatan serta pemulihan. Itu bukti bahwa Narokoba bukan hanya menyerang akal dan otak, akan tetapi finansial dan ekonomi seseorang pun diserang habis.

Tidak sampai di situ saja, narkoba pun menyerang berbagai aspek sosial kemasyarakatan. Seperti timbulnya gangguan ketenangan, ketertiban dan keamanan dalam keluarga akibat ulah si pelaku. Serta menimbulkan gangguan sosial serta pergaulan di antara penduduk sekitar. Bila sudah berkeluarga, akan lebih banyak lagi kerusakan yang ditimbulkan oleh si pelaku tersebut. Seperti hancurnya hubungan dengan pasangan yan tentu berdampak negative terhadap anak keturunan karena meninggalkan beban buruk yang harus dipikul oleh anak yang tidak berdosa tersebut.

Jadi memang jelas sekali kerusakan yang dihasilkan oleh Narkoba ini, bukan hanya masalah akal yang menjadi tertutup serta mabuk, tapi justru itu berdampak ke semua aspek kehidupan sosial bernegara. Dari mulai masalah ekonomi, sosial serta ketahanan Negara.

b.   Hukuman Bagi Pecandu

Karena memang dampak yang dihasilkan besar, tentu hukuman yang didapat pun tidaklah hukuman yang kecil, karena bagaimanapun pekerjaan haruslah mendapat ganjaran yang setimpal. Karena itu sejak 14 abad tahun lalu, Syariah ini telah mewanti-wanti agar umat ini menghindarkan diri mereka dari buruknya barang haram tersebut.

Menurut jumhur ulama, orang yang ketahuan minum khamar wajib dihukum. Dan hukuman atas peminum khamar ini adalah hukum hudud, sehingga tidak boloeh diganti dengan cara yang lain, mengingat hukum hudud itu segala ketentuannya datang langsung dari Allah SWT.

Dalam hal ini ketentuan dari Allah untuk orang yang minum khamar, mabuk atau tidak mabuk adalah dicambuk, sebagaimana sabda Rasulullah SAW

مَنْ شَرِبَ الخَمْرَ فَاجْلِدُوهُ

Orang yang minum khamar maka cambuklah (HR. Muttafaqun 'alaih) 

Jumhur Ulama sepakat bahwa peminum khamar yang memenuhi syarat untuk dihukum, maka bentuk hukumannya adalah dicambuk sebanyak 80 kali.

Pendapat mereka didasarkan kepada perkataan Sayyidina Ali ra.,

إِذَا شَرِبَ سَكَرَ وَإِذَا سَكَرَ هَذَى وَإِذَا هَذَى اِفْتَرَى وَحَدُّ المُفْتَرِي ثَمَانُونَ

"Bila seseroang minum khamar maka akan mabuk. Bila mabuk maka meracau. Bila meracau maka tidak ingat. Dan hukumannya adalah 80 kali cambuk. (HR. Ad-Daruquthuni, Malik).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ali ra. berkata,

جَلَّدَ رَسُوْلُ اللهِ  أَرْبَعِيْنَ وَأَبُو بَكْر أَرْبَعِيْنَ وَعُمَرَ ثَمَانِيْنَ وَكُلٌ سُنّةٌ وَهَذَا أَحَبُّ إِلَيَّ

"Rasulullah SAW mencambuk peminum khamar sebanyak 40 kali. Abu bakar juga 40 kali. Sedangkan Utsman 80 kali. Kesemuanya adalah sunnah. Tapi yang ini (80 kali) lebih aku sukai". (HR. Muslim).

Sedangkan Imam Asy-Syafi`i ra. berpendapat bahwa hukumannya adalah cambuk sebanyak 40 kali.

كَانَ النَّبِيُّ يَضْرِبُ فيِ الخَمْرِ بِالجَرِيْدِ وَالنِّعَالِ أَرْبَعِيْنَ

Dari Anas ra. berkata bahwa Rasulullah SAW mencambuk kasus minum khamar dengan pelepah dan sandal sebanyak 40 kali". HR. Bukhari, Muslim, Tirmizy, Abu Daud).

Jumhur ulama tidak membedakan antara orang yang mabuk dengan orang yang minum khamar tanpa mabuk, keduanya tetap wajib dikenakan hukuman.

Abu Hanifah membedakan antara hukuman buat peminum khamar dengan hukuman buat orang yang sengaja mabuk. Karena dalam pandangan beliau, keduanya adalah hal yang berbeda. Mengingat ada orang yang minum khamar tapi tidak mabuk, dan orang ini tetap harus dihukum. Sebaliknya, bukan ada orang yang mabuk walau pun tidak minum khamar, dan orang ini juga wajib dihukum.

C. Hukuman Mati Bagi Pengedar

Dalam hadits disebutkan:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ r فيِ الخَمْرَةِ عَشْرَةً : عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَشاَرِبَهَا وَحَامِلَهَا وَالمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ وَسَاقِيْهَا وَباَئِعِهَا وَآكِلَ ثَمَنِهَا وَالمُشْتَرِي لَهَا وَالمُشْتَراةَ لَهُ

Rasulullah Saw dalam masalah khamar melaknat 10 pihak : yang memerasnya, yang minta diperaskan, yang meminumnya, yang membawanya, yang minta dibawakan, yang minta diberi minum khamar, yang menjualnya, yang mengambil keuntungan dari penjualannya, yang membelinya dan yang dibelikan. (HR. Tirmizy)

ياَ أَهْلَ المَدِيْنَة إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتعَالىَ قَدْ أَنْزَلَ تحَرِيمَ الخَمْرِ فَمَنْ كَتَبَ هَذِهِ الآيَة وَعِنْدَهُ شَيْءٌ مِنْهَا فَلاَ يَشْرَبْهَا وَلاَ يَبْيعَهَا فَسَكِّبُوهَا فيَ طُرُقِ المَدِيْنَةِ

Wahai penduduk Madinah, sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala telah menurunkan pengharaman khamar. Maka siapa yang menulis ayat ini dan masih memilikinya janganlah meminumnya dan jangan pula menjualnya. Buang saja di jalan-jalan kota Madinah.” (HR. Muslim)

إِنَّ الَّذِي حُرِّمَ شُرْبُهَا حُرِّمَ بَيْعُهَا

Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah SAW bersabda, “Sesunggunya minuman yang diharamkan untuk meminumnya, diharamkan juga menjualnya.” (HR. Ahmad, Muslim, An-Nasai)

Hadits-hadits di atas kesemua mengindikasikan secara nyata dan jelas akan keharaman meperjual belikan khamr, dan tentu saja Narkoba karena sebagaimana kita singgung di atas bahwa Narkoba mengambil hukum Khamr karena mempunya kesamaan dala banyak hal. Akan tetapi menjadi pertanyaan, kalau peminumn dan penikmatnya jelas disebutkan hukumannya yaitu cambuk, lalu bagaimana pedagangnya dan pengedarnya?

Keharamannya jelas, tapi apa hukumannya?

Islam sebagai agama yang menyelaraskan kepentingan duniawi dan ukhrawi, tentu tidak pernah akan membiarkan fenomena yang melanda kalangan penerus bangsa yang menjadi korban akibat ulah para pengedar dan Bandar narkoba.

Memang tidak disebutkan hukuman bagi pengedar dalam hadits-hadts Nabi dan juga ayat dalam al-Qur’an, akan tetapi itu tidak bisa menjadi dalih untuk meninggalkan para pengedar berkeliaran begitu saja. Dalam konteks ini, pengedar Narkoba justru punya peran yang sangat vital dalam upayanya merusak generasi bangsa, karena itu para ulama kontemporer saat ini berfatwa dan berpendapat bahwa pengedar Narkoba hukumnya dalah dieksekusi, atau hukuman mati. Hal ini karena mereka termasuk golongan yang merusak di atas bumi dan menyebarkan kemuhdharatan dalam agama dan dimesi kehidupan masyarakat. Ini yang disebutkan oleh Allah swt dalam firman-Nya;

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,” (QS. al-Maidah; 33)

Mengutip fatwa yang dikemukakan oleh DR. Yusuf al-Qaradhawi dalam kitabnya Fatawa Mu’ashirah, beliau mengatakan bahwa hukuman mati untuk pengedar Narkoba jauh lebih layak dibanding mereka yang mendapat hukuman mati karena membunuh. Karena orang yang membunuh, ia hanya membunuh 1 orang saja, sedangkan pengedar Narkoba, ia bukan hanya membunuh satu orang akan tetapi membunuh generasi satu bangsa. Maka jelas sdan wajar saja kalau para ulama Islam menghukumi para pengdar Narkoba itu dengan hukuman mati, melihat banyaknya efek negative dan besarnya keburukan yang dihasilkan olehnya sebagaimana kita singgu di atas.

Dan inilah yang disebut dengan hukuman. Sejatinya –sebagaimana disebutkan oleh Dr. Abdul Qadir Awdah dalam al-Tasyri’ al-Jina’i- hukuman bagi sebuah pelanggaran haruslah memenuhi kriteria-kriteria hukuman, yang mana hukuman tersebut haruslam setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan. Dan hukuman tersebut harus juga membuat efek jera, bukan hanya kepada si pelaku akan tetapi kepada mereka yang memang melakukan keburukan yang sama utnuk berhenti.

Dan hukuman mati bagi pengedar layaknya pantas dan memenuhi kriteria hukuman itu sendiri. Hukuman mati setimpal dengan keburukan yang dihasilkan oleh si pengedar tersebut yang mana memang ia mengedarkan kematian bagi generasi bangsa. Kemudian hukuman mati juga memberika efek jera yang sangat dalam. Jika pengedar dihukum mati, tentu itu akan membuat para pengedar lainnya berfikir 100 kali untuk mengedarkan obat-obat terlarang tersebut. Karena dia takut tertangkap dan akhirnya dihukum mati. Begitu juga mereka yang baru ingin jadi pengedar, karena melihat hukuman yang sangat keras tersebut, pastilah ia akan menghentikan ‘cita-citanya’ untuk jadi seorang pengedar.

Jika ini dilakukan secara konsisten, tentu Indonesia Negara yang kita cintai ini akan terjaga dari bahayanya Narkoba. Dan tidak lagi menjadi surga bagi para pengedar Narkoba tersebut. Karena memang sudah bukan rahasia lagi, bahwa banyaknya pengedarana Narkoba di Negara kita tercinta ini, salah satu indikasi kuatnya ialah tidak ada hukuman yang berat yang bisa ditimpakan kepada pengedar.

Hukuman Mati dan Teknis Pelaksanaannya

Para ulama sepakat bahwa tempat yang digunakan sebagai lokasi pelaksanaan hukum hadd adalah tempat yang terbuka dan bisa dihadiri langsung oleh khalayak ramai. Dalilnya adalah firman Allah SWT :

وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan hendaklah sebagian dari orang-orang beriman menyaksikan hukuman atas keduanya. (QS. An-Nuur : 2)

Dan para ulama sepakat menegaskan bahwa meski ayat ini terkait dengan hukuman atas pelaku zina, namun penyelenggaraan hukuman di muka umum juga berlaku untuk semua jenis hukuman atas berbagai pelanggaran dalam had, termasuk dalam hal hukuman mati utnuk pengedar Narkoba yang kita bicarakan saat ini.

Sebab tujuannya justru untuk edukasi kepada khalayak ramai, bahwa siapa saja yang telah terbukti dengan kekuatan hukum yang tetap melakukan kesalahan dengan disengaja, sadar dan tidak di bawah paksaan siapa pun, maka dia harus dihukum di muka umum. Dan ini juga agar tujuan hukuman itu tercapai, yaitu sebaga efek jera bagi mereka yang juga sama melakukan kejahatan yang sama tetapi belum tertangkap atau juga bagi mereka yang ingin melakukan keburukan yang sama agar mengurungkan niatnya.

Namun para ulama sepakat mengharamkan bila pelaksaaan eksekusi itu dilakukan di dalam masjid. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ إِقَامَةِ الْحَدِّ فِي الْمَسَاجِدِ

Dari Amru ibnu Al-Ash radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW melarang pelaksanaan hukum hudud di dalam masjid (HR. Ibnu Majah)

لاَ تُقَامُ الْحُدُودُ فِي الْمَسَاجِدِ

Dari Ibnu Al-Abbas radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Janganlah hukum hudud dilaksanakan di dalam masjid”. (HR. Tirmizy dan Ibnu Majah)

Yang dimaksud dengan masjid disini adalah ruang ibadah atau ruang shalat. Mengingat masjid itu tempat suci yang tidak boleh dikotori oleh najis. Padahal hukuman itu banyak yang beresiko menumpahkan darah, seperti hukum qishash, potong tangan, cambuk atau rajam.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc