Siapakah wali yang harus mengqodho puasa mayit?

Thu 21 May 2015 09:46 | 0
Muhammad Syarif Hidayatullah

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

وَلَنَا حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا: لَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ. وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ الْإِطْعَامُ مِنْ ثُلُثِهِ إذَا أَوْصَى وَلَا يَلْزَمُهُمْ ذَلِكَ إذَا لَمْ يُوصِ عِنْدَنَا

Bagi kita, berdasarkan hadits ibnu umar Ra.: seseorang tidak bisa berpuasa sebagai wakil dari puasa seseorang lainnya (tidak bisa diwakili), tidak bisa pula seseorang melakukan shalat untuk mewakili shalat seseorang lainnya. Wajib bagi mereka untuk memberi makan dari sepertiga harta apabila telah berwasiat sebelumnya. Akan tetapi hal tersebut tidak wajib apabila sebelumnya tidak berwasiat..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 3 hal. 89 | Aqil

Ibnu Hajib (w. 776 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taudhih fi Syarhil Mukhtashar Ibnul Hajib sebagai berikut :

فلم يصمه حتى مات كان عليه الإطعام عند مالك. وهِيَ: مُدٌّ بِمُدِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Jika belum berpuasa sampai ajal datang, maka maka baginya harus memberi makan (orang miskin) menurut imam Malik Ra. yaitu 1 mud dengan takaran mud-nya nabi saw..

Ibnu Hajib , At-Taudhih fi Syarhil Mukhtashar Ibnul Hajib, jilid 2 hal. 426 | Ajib

Tajuddin Ad-Dimyati (w. 805 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya As-Syamil fi Fiqhi Imam Malik sebagai berikut :

كلما تعذر قضاء يوم أطعم مسكيناً

Setiap ada udzur dalam mengqodho 1 hari puasa, maka baginya harus memberi makan 1 orang miskin.

Tajuddin Ad-Dimyati, As-Syamil fi Fiqhi Imam Malik, jilid 1 hal. 200 | Amrozi

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

الصحيح ان الولي مطلق القرابة واحتمال الارث ليس ببعيد

Yang shohih bahwasanya wali adalah kerabat mutlak yang termasuk ahli waris, bukan orang yang jauh (dari kekerabatan).

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 6 hal. 368 | Syarif

Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

وَلَوْ صَامَ أَجْنَبِيٌّ عَلَى هَذَا بِإِذْنِ الْمَيِّتِ بِأَنْ يَكُونَ أَوْصَاهُ بِهِ أَوْ بِإِذْنِ الْوَلِيِّ وَلَوْ سَفِيهًا فِيمَا يَظْهَرُ؛ لِأَنَّهُ أَهْلٌ لِلْعِبَادَةِ صَحَّ وَلَوْ بِأُجْرَةٍ كَالْحَجِّ لَا إنْ صَامَ عَنْهُ مُسْتَقِلًّا فَلَا يُجْزِئُ فِي الْأَصَحِّ

Kalau orang lain (bukan kerabat) berpuasa atas izin mayit dengan cara mewasiatkannya untuk mengqodho puasa mayit, atau atas izin kerabatnya yang walaupun kerabat tersebut orangnya safih (lemah akal) akan tetapi ia termasuk ahli ibadah, maka sah puasanya meskipun orang lain tersebut di beri upah seperti halnya haji (untuk orang lain). Akan tetapi jika tanpa izin mayit atau kerabatnya maka puasanya tidak sah..

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 3 hal. 438 | Syarif

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

يَجُوزُ أَنْ يَصُومَ غَيْرُ الْوَلِيِّ بِإِذْنِهِ وَبِدُونِهِ يَصُومُ أَقْرَبُ النَّاسِ إلَيْهِ: ابْنُهُ أَوْ غَيْرُهُ

Orang lain boleh berpuasa (untuk mayit), baik dengan seizin wali mayit ataupun tanpa seizinnya. Hendaklah orang yang berpuasa untuk mayit adalah orang yang paling dekat dengannya, yaitu anaknya atau selainnya..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 3 hal. 336 | Imam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وَالْأَوْلِيَاءُ هُمْ ذَوُو الْمَحَارِمِ بِلَا شَكٍّ وَلَوْ صَامَهُ الْأَبْعَدُ مِنْ بَنِي عَمِّهِ أَجْزَأَ عَنْهُ، لِأَنَّهُ وَلِيُّهُ، فَإِنْ أَبَوْا مِنْ الصَّوْمِ فَهُمْ عُصَاةٌ لِلَّهِ تَعَالَى وَلَا شَيْءَ عَلَى الْمَيِّتِ مِنْ ذَلِكَ الصَّوْمِ

Dan wali itu adalah dzawil maharim (mahrom). Walaupun anak pamannya yang paling jauh (dalam silsilah), maka mengqodho puasa untuk mayit hukumnya boleh, karena dia termasuk walinya. Apabila kerabat-kerabat itu tidak ada yang mau berpuasa untuk mayit, maka mereka berdosa kepada Allah swt, dan tidak ada tanggungan puasa bagi mayit.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 4 hal. 247 | Faisal

Baca Lainnya :

Hukum Puasa Ramadhan Bagi Wanita Yang Hamil Dan Menyusui
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 30 April 2015, 09:43 | published
Tua Renta Tak Mampu Puasa, Apakah Wajib Bayar Fidyah?
Muhamad Amrozi | 28 April 2015, 06:43 | published
Ukuran memberi makan dalam kafarat jima`
Muhammad Syarif Hidayatullah | 5 May 2015, 09:44 | published
Apa yang Wajib bagi Orang yang Meninggal dan Memiliki Hutang Puasa?
Tajun Nashr, Lc | 10 September 2015, 09:44 | draft
Mengulangi Jima Siang Ramadhan, Berapa Banyak Kafaratnya?
Muhamad Amrozi | 8 May 2015, 05:45 | published
Jima' Siang Ramadhan, Yang Wajib Membayar Kafarat Hanya Suami?
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 7 May 2015, 09:45 | published
Belum Qadha Puasa Sampai Ramadhan Berikutnya. Bagaimana Hukumnya?
Muhammad Aqil Haidar | 9 May 2015, 09:45 | published
Siapakah wali yang harus mengqodho puasa mayit?
Muhammad Syarif Hidayatullah | 21 May 2015, 09:46 | published
Hukum Makan dan Minum Dengan Sengaja Di Bulan Puasa, Apakah Wajib Kafarat ?
Faisal Reza Amaradja | 25 April 2015, 22:07 | published
Ukuran Memberi Makan Dalam Kafarah dan Bolehkah Menggantinya Dengan Uang ?
Faisal Reza Amaradja | 2 May 2015, 23:04 | published
Apa Saja Kafarah Membatalkan Puasa Dengan Sengaja Berjima di Bulan Ramadhan? Apakah Berurutan Atau Boleh Memilih Salah Satu?
Faisal Reza Amaradja | 6 May 2015, 20:55 | published