Apakah Berbekam Membatalkan Puasa ?

Mon 4 May 2015 09:38 | 0
Imamuddin Mukhtar

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

ولو احتجم لا يفطره عند عامة العلماء

Bila seseorang berbekam maka tidak membatalkan puasanya menurut kebanyakan ulama.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 107 | Ajib

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

ورواه البزار أيضا من حديث ابن عباس - رضي الله عنهما - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ثلاث لا يفطرن الصائم: القيء، والحجامة، والاحتلام . قال: وهذا من أحسنها إسنادا وأصحها

Al-Bazzar meriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tiga hal yang tidak membatalkan puasa : Muntah, bekam dan mimpi". Ini adalah hadits yang paling baik sanadnya dan yang paling shahih .

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 2 hal. 329 | Aqil

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

فإن أكل الصائم أو شرب أو جامع ناسيا أو احتلم أو أنزل بنظر أو ادهن أو احتجم أو اكتحل أو قبل أو دخل حلقه غبار أو ذباب وهو ذاكر لصومه أو أكل ما بين أسنانه أو قاء وعاد لم يفطر

Bila seseorang makan, minum dan jima' karena lupa, mimpi, keluar mani lantaran melihat, pakai minyak, berbekam, pakai celak mata, mencium, atau tenggorokanya kemasukan debu atau lalat, sementara dia tahu sedang puasa, atau makan sisa makanan di antara giginya, muntah yang ditelan lagi, semuanya itu tidak membatalkan puasa .

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 322 | Amrozi

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

ولا بأس بالحجامة للصائم إذا لم يخش الضعف عن تمام صومه

Tidak mengapa orang puasa itu berbekam, selama tidak khawatir melemahkan dari kesempurnaan puasanya .

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 352 | Ajib

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

السادس كره في الكتاب الحجامة فإن فعل وسلم فلا شيء عليه

Keenam : dimakruhkan dalam kitab untuk berbekam. Namun bila dilakukan dan selamat maka tidak membatalkan puasa.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 506 | Amrozi

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

قال الشافعي والأصحاب تجوز الحجامة للصائم ولا تفطره ولكن الأولى تركها هذا هو المنصوص وبه قطع الجمهور

Al-Imam Asy-Syafi'i dan para ulama mazhabnya berpendapat bahwa berbekam itu boleh dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa dan tidak membatalkannya. Namun yang lebih utama adalah meninggalkannya. Itulah yang menjadi nash resmi dan merupakan pendapat jumhur mazhab Asy-Syafi'iyah.

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 6 hal. 349 | Syarif

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

ولا يفطر بالفصد والحجامة لخبر البخاري أنه صلى الله عليه وسلم احتجم وهو صائم

Mengeluarkan darah dan bekam itu tidak membatalkan puasa. Dasarnya adalah hadits Bukhari bahwa Rasulullah SAW berbekam dalam keadaan puasa.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 416 | Imam

Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

يسن أن يحترز عن الحجامة

Disunnahkan untuk menjauhkan diri dari berbekam..

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 3 hal. 425 | Imam

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

الفصل الثاني أن الحجامة يفطر بها الحاجم والمحجوم

Pasal yang kedua : bahwa bekam itu membatalkan puasa, baik yang membekam atau yang dibekam.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 3 hal. 120 | Faisal

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

قَوْلُهُ أَوْ حَجَمَ أَوْ احْتَجَم فَسَدَ صَوْمُهُ. هَذَا الْمَذْهَبُ فِيهِمَا، وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الأَصْحَابِ وَنَصَّ عَلَيْهِ

Katanya : dan berbekam atau meminta dibekam membatalkan uasa. Itulah pendapat mazhab (Hambali) tentang orang yang berbekam dan minta dibekam. Pendapat ini juga merupakan pendapat para ulama mazhab dan menjadi nash dalam mazhab.

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 3 hal. 302 | Syarif

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: ولا ينقض الصوم حجامة

Masalah : Dan berbekam itu tidak membatalkan puasa..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 4 hal. 335 | Amrozi

Baca Lainnya :

Hukum Bersetubuh Pada Siang Hari Bulan Ramadhan Dalam Keadaan Lupa
Imamuddin Mukhtar | 1 May 2015, 09:37 | published
Apakah Berbekam Membatalkan Puasa ?
Imamuddin Mukhtar | 4 May 2015, 09:38 | published
Apakah Suntik Membatalkan Puasa?
Muhammad Aqil Haidar | 12 May 2015, 09:38 | published
Bersiwak Saat Puasa, Makruhkah?
Muhamad Amrozi | 14 May 2015, 03:38 | published
Berniat Membatalkan Puasa, Apakah Sudah Batal Puasanya?
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 15 May 2015, 09:39 | published
Berbuka Keliru Menyangka Sudah Maghrib Padahal Belum
Imamuddin Mukhtar | 13 May 2015, 09:39 | published
Wanita Haidh yang Suci di Siang Hari Ramadhan, Apakah Wajib Imsak?
Tajun Nashr, Lc | 10 September 2015, 09:40 | draft
Mencicipi Makanan Saat Puasa, Batalkah?
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 19 May 2015, 09:41 | published
Berciuman Hingga Keluar Mani Saat Puasa, Apakah membatalkan Puasa dan Mewajibkan Kafarat?
Muhamad Amrozi | 23 May 2015, 05:42 | published