Haruskah Nikah Dengan Perawan?

Wed 23 September 2015 16:10 | 0
Zuria Ulfi

Berbagai tema menarik terkait pernikahan tak akan pernah habis dibahas dalam satu pertemuan majelis. Diantara sebab yang melatarinya adalah karena menikah merupakan gabungan ibadah vertikal –dengan Allah Swt, sekaligus hubungan mu’amalah (horizontal) antara sesama manusia. Bahkan peristiwa pernikahan dalam al-qur’an dikatakan sebagai sebuah mitsaqon ghalizha –ikatan perjanjian yang agung.

Selain itu menikah juga bagian dari sunnah Rasulullah Saw yang agung. Sampai – sampai Beliau Saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bersabda :

لكني أنا أصلي وأنام وأصوم وأفطر وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس مني متفق عليه

Akan tetapi aku shalat dan juga tidur, aku berpuasa dan berbuka, dan aku juga menikah, maka siapa saja yang tidak menyukai sunnahku dia bukanlah termasuk umatku”

Maka Rasulullah tidak hanya memerintahkan para sahabat untuk menikah, namun juga mengajarkan banyak hal terkait masalah pernikahan. Dan kriteria memilih pasangan merupakan salah satu bagian dari pengajaran Rasulullah Saw. Diantaranya adalah anjuran untuk menikah dengan gadis yang belum pernah menikah –perawan.

فهلا جارية تلاعبها وتلاعبك

Mengapa kamu tidak menikah dengan seorang wanita perawan, yang kamu dapat bermain-main dengannya.

Dalam riwayat lain dikatakan agar kalian dapat saling bercanda.

Hadits diatas adalah kisah dari salah seorang sahabat nabi yang menikah dengan seorang janda. Kemudian Rasulullah Saw bersabda seperti hadits diatas, agar kalian dapat saling bermain dan bercanda.

Namun bukanlah sebuah aib tatkala seorang laki-laki lebih memilih menikah dengan seorang janda karena sudah jelas kesuburannya atau dengan alasan sosial ingin membantunya. Sebagaimana Rasulullah Saw juga menikah dengan bunda Khadijah yang kita ketahui adalah seorang janda.

Lantas apakah menjadi sebuah keharusan untuk menikah dengan seorang yang masih berstatus “perawan” dari pada menikahi seorang janda? Ulasan menarik dari para ulama bisa dilihat disini.

 

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

ونكاح البكر أحسن

Dan Menikahi Wanita perawan lebih baik.

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 3 hal. 8 | Achad

Khalil bin Ishaq Al-Mishri (w. 776 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

ندب لمحتاج ذي أهبة نكاح بكر

Disunnahkan bagi laki-laki yang sudah punya kemampuan untuk menikahi wanita yang masih perawan..

Khalil bin Ishaq Al-Mishri, Mukhtashar Khalil, jilid 1 hal. 96 | Nisa

Ad-Dardir (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Asy-Syarhu Ash-Shaghir sebagai berikut :

و ندب نكاح بكر لأنها أقرب لحسن العشرة

Dan disunnahkan menikahi wanita yang masih perawan karena dia akan lebih mendekatkan pada kebahagiaan.

Ad-Dardir , Asy-Syarhu Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 341 | Nisa

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

البكر أي نكاحها (أولى) من نكاح الثيب

Menikahi perawan lebih utama dari pada menikahi seorang janda.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 108 | Zuria

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

ويستحب لمن أراد التزوج أن يختار ذات الدين ويختار البكر

Menikahi wanita karena agamanya dan keperawananya adalah sunah..

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 26 | Siska

syariat islam telah menjelaskan tentang beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menikahi seorang perempuan, dalam hal ini madzhab Hanbali berpandangan bahwa semua kriteria yang disebutkan hadist diatas adalah sunah.

Imam empat madzhab dalam permasalahan ini menganjurkan untuk menikahi perawan dengan alasan yang sudah dipaparkan diatas. Bahkan ulama Madzhab Maliki menjadikannya sebagai sebuah sunnah untuk dilakukan. Sementara ulama dalam Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi'i lebih menganjurkan menikah dengan perawan dari pada janda. Wallahu a'lam.

Baca Lainnya :

Kapankah Ibu Mertua Menjadi Mahram Bagi Menantu, Sejak Akad Atau Setelah Jima'?
Siti Sarah Fauzia | 12 May 2015, 05:24 | published
Bolehkah Menikahkan Orang Gila?
Zuria Ulfi | 21 November 2015, 17:04 | approved
Makna Nikah Hakiki : Akad atau Jima?
Achadiah | 21 September 2015, 15:01 | published
Bolehkah Nikah Dengan Meminta Syarat Tertentu?
Ipung Multiningsih | 10 September 2015, 09:29 | draft
Berbagai Kondisi Yang Mewajibkan Nikah
Siska | 24 September 2015, 04:00 | published
Haruskah Akad Dengan Bahasa Arab?
Siti Maryam | 17 September 2015, 11:06 | published
Haruskah Nikah Dengan Perawan?
Zuria Ulfi | 23 September 2015, 16:10 | published
Apakah Keridhaan Kedua Belah Pihak Menjadi Syarat Sahnya Akad?
Nur Azizah Pulungan | 15 October 2015, 06:00 | draft
Wajibkah Suami Menjima' Istrinya ?
Achadiah | 7 October 2015, 01:59 | published
Wajibkah Mengumumkan Pernikahan?
Siska | 8 October 2015, 23:16 | published
Nasab Anak Zina
Nur Azizah Pulungan | 10 October 2015, 16:48 | draft
Nasab Anak dari Hubungan Syubhat
Fatimah Khairun Nisa | 10 October 2015, 16:49 | draft
Wajibkah Seorang Istri Mengkhidmah Suaminya?
Ipung Multiningsih | 10 October 2015, 16:52 | draft
Kadar Nafkah Suami untuk Istri Menurut 4 Mazhab
Siti Maryam | 10 October 2015, 16:53 | draft
Pengaruh Khalwah Dalam Ketetapan Nasab
Zuria Ulfi | 29 October 2015, 01:16 | published
Siapa yang berhak menikahkan anak dibawah umur?
Fatimah Khairun Nisa | 7 November 2015, 06:03 | approved
Hukum menikahkan orang gila
Nur Azizah Pulungan | 7 November 2015, 14:13 | approved