Bisakah Air Musyammasy Digunakan Untuk Bersuci?

Wed 15 April 2015 04:01 | 0
Muhammad Syarif Hidayatullah

 

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

وَتُكْرَهُ الطَّهَارَةُ بِالْمَاءِ الْمُشَمَّسِ

Dan thoharoh (bersuci) dengan air musyammas hukumnya adalah makruh.

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 19 | Ajib

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

فَيُورِثُ الْبَرَصَ وَلَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ لِصَفَائِهِمَا

Karena bisa menyebabkan penyakit kulit. Akan tetapi hal itu tidak terdapat pada emas dan perak karena bersihnya emas perak.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 170 | Amrozi

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

لرَّاجِحُ مِنْ حَيْثُ الدَّلِيلِ أَنَّهُ لَا يُكْرَهُ مُطْلَقًا

Dari segi dalil yang rojih (benar) bahwasanya thoharoh (bersuci) dengan air musyammas hukumnya adalah tidak makruh secara mutlak.

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 1 hal. 10 | Imam

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

وَكُرِهَ شَرْعًا تَنْزِيهًا اسْتِعْمَالُ مُتَشَمِّسٍ فِي الْبَدَنِ بِمُنْطَبِعٍ أَيْ مُطْرَقٍ مِنْ غَيْرِ النَّقْدَيْنِ كَالْحَدِيدِ فِي قُطْرٍ حَارٍّ كَمَكَّةَ مَا لَمْ يَبْرُدْ

(فَلَوْ اسْتَعْمَلَهُ فِي غَيْرِ الْبَدَنِ) كَالثَّوْبِ (أَوْ) فِي (مَأْكُولٍ غَيْرِ مَائِعٍ لَمْ يُكْرَهْ)

Menggunakan air musyammas pada anggota tubuh hukumnya makruh tanzih menurut syara’. Yaitu jika terdapat pada wajan selain emas dan perak di daerah yang beriklim panas seperti mekkah. Selama belum menjadi dingin iklimnya (maka makruh dalam penggunaannya).

Akan tetapi ada pengecualian bahwa tidak makruh jika digunakan pada selain anggota badan. Maka jika digunakan pada selain anggota badan seperti pakaian atau tempat makanan, hukumnya tidak makruh.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 8 | Aqil

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

الْمُشَمَّسُ وَلَوْ مُغَطًّى لَكِنْ كَرَاهَةُ الْمَكْشُوفِ أَشَدُّ

Air musyammas walaupun dalam wajan tertutup (hukumnya tetap makruh). Terlebih apabila wajan tersebut dalam keadaan terbuka (hukumnya lebih makruh lagi).

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 74 | Tajun

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ولا تكره الطهارة بالماء المشمس.والحديث غير ثابت، يرويه، خالد بن إسماعيل، وهو متروك الحديث، وعمرو بن محمد الأعسم. وحكي عن أهل الطب أنهم لا يعرفون لذلك تأثيرا في الضرر

Bersuci dengan air musyammas hukumnya tidak makruh. Adapun terkait hadits (yang menyatakan bahwa ‘aisyah hendak menggunakan air musyammas) menurut beliau haditsnya tidak tsabit karena ada kholid bin ‘ismail, dan itu juga berarti haditsnya matruk (tertinggal) karena diantara perowinya ada ‘amr bin muhammad al-a’sam. Dan disebutkan dari ahli kedokteran (pada masa itu) bahwasanya mereka tidak mengetahui adanya pengaruh dari air musyammas yang dapat membahyakan..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 14 | Imam

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

أَوْ سُخِّنَ بِالشَّمْسِ صَرَّحَ بِعَدَمِ الْكَرَاهَةِ مُطْلَقًا

Atau dipanaskan dengan sinar matahari. Jelas bahwa hukumnya tidak makruh secara mutlak.

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 1 hal. 24 | Syarif

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وَالْوُضُوءُ لِلصَّلَاةِ وَالْغُسْلُ لِلْفُرُوضِ جَائِزٌ بِمَاءِ الْبَحْرِ وَبِالْمَاءِ الْمُسَخَّنِ وَالْمُشَمَّسِ

Wudhu untuk melaksanakan shalat dan mandi wajib boleh menggunakan air laut, air yang dipanaskan, dan air yang terkena sinar matahari.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 210 | Ajib

Baca Lainnya :

Bisakah Air Musyammasy Digunakan Untuk Bersuci?
Muhammad Syarif Hidayatullah | 15 April 2015, 04:01 | published
Pengertian Air Musta'mal dan Hukum Bersuci Dengannya
Faisal Reza Amaradja | 30 May 2015, 13:48 | published
Air Yang Tercampur Dengan Benda Suci, Bisakah Mensucikan?
Imamuddin Mukhtar | 15 October 2015, 13:49 | draft
Kesucian Air Tercampur Benda Najis
Muhamad Amrozi | 11 September 2015, 13:49 | draft
Bolehkah Menggunakan Air Zamzam Untuk Bersuci?
Muhammad Aqil Haidar | 11 September 2015, 13:50 | draft
Bisakah Es Yang Belum Mencair Digunakan Untuk Wudhu?
Tajun Nashr, Lc | 11 September 2015, 13:51 | published
Hukum Air Musakhon Binnar, Syadidussukhunah, binnajasah
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 26 October 2015, 18:25 | draft
Hukum Air Yang Bercampur Dengan Najis
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 2 November 2015, 18:26 | draft
Cara Mensucikan Air Yang Najis
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 9 November 2015, 18:27 | draft
Cara Mensucikan Air Sumur Yang Terkena Najis
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 17 November 2015, 18:28 | draft
Hukum Menyiram Tanaman Dengan Cairan Yang Najis
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 23 November 2015, 18:29 | draft
Hukum Bertayamum Dengan Selain Tanah
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 30 November 2015, 18:30 | draft
Cara Mensucikan Najis Anjing
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 7 December 2015, 18:32 | draft
Cara menyucikan pakaian dan badan dari mani
Muhammad Syarif Hidayatullah | 1 November 2015, 07:22 | draft