Sudah Niat Puasa Besoknya Safar, Bolehkah Berbuka?

Thu 28 May 2015 09:36 | 0
Muhammad Syarif Hidayatullah

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

وَلَنَا مَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ - ﷺ - أَنَّهُ قَالَ فِي الْمُسَافِرِ يَتَرَخَّصُ بِالْفِطْرِ، وَإِنْ صَامَ فَهُوَ أَفْضَلُ لَهُ، وَبَدَأَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِالصَّوْمِ حَتَّى شَكَا النَّاسُ إلَيْهِ ثُمَّ أَفْطَرَ. فَذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الصَّوْمَ أَفْضَلُ ثُمَّ الْفِطْرُ رُخْصَةٌ

Menurut kita, seperti yang telah diriwayatkan bahwa rosululloh saw. berkata: bagi musafir ada keringanan untuk berbuka, dan jika ia (lebih memilih) shoum, maka itu lebih utama baginya. Rosululloh saw. memulai dengan shoum sampai ketika kaum muslimin mengeluhkannya (kesulitan shoum karena safar), barulah kemudian mereka berbuka. Hal itu menunjukan bahwa shoum lebih utama dan berbuka adalah rukhshoh (keringanan)..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 3 hal. 92 | Ajib

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وَالسَّفَرَ مِنْ الْأَعْذَارِ الْمُرَخِّصَةِ لِلْإِفْطَارِ تَيْسِيرًا وَتَخْفِيفًا عَلَى أَرْبَابِهَا وَتَوْسِيعًا عَلَيْهِمْ. وَلَنَا مَا رُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - ﷺ - صَامَ فِي السَّفَرِ وَرُوِيَ أَنَّهُ أَفْطَرَ

Safar merupakan salah satu udzur yang membolehkan untuk berbuka sebagai kemudahan, keringanan, dan keleluasaan bagi mereka. Menurut kita, seperti yang telah diriwayatkan bahwasanya rosululloh shoum dalam keadaan safar dan diriwayatkan juga bahwa ia berbuka. .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 95 | Amrozi

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

وَلَنَا أَنَّ رَمَضَانَ أَفْضَلُ الْوَقْتَيْنِ وَالصَّوْمُ فِي أَفْضَلِ وَقْتَيْ الصَّوْمِ أَفْضَلُ مِنْهُ فِي غَيْرِهِ.

Menurut kita, bahwasanya Ramadhan adalah waktu yang paling utama, dan shoum di waktu tersebut lebih utama dibanding di waktu lainnya..

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 2 hal. 351 | Ajib

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

والمسافر مخير في الصوم أو الفطر فإن صام في السفر أجزأه والصوم عندنا أفضل فيه من الفطر لمن قدر عليه ولا يفطر المسافر حتى ينهض مسافرا .ومن أصبح صائما ثم خرج مسافرا فلا يفطر فإن أفطر وذلك في رمضان فعليه القضاء

.

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 337 | Imam

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

والمسافر مخير في الصوم أو الفطر فإن صام في السفر أجزأه والصوم عندنا أفضل فيه من الفطر لمن قدر عليه ولا يفطر المسافر حتى ينهض مسافرا .ومن أصبح صائما ثم خرج مسافرا فلا يفطر فإن أفطر وذلك في رمضان فعليه القضاء

Musafir memiliki pilihan antara shoum atau berbuka, shoum dalam safar hukumnya boleh. Dan menurut pendapat kita, hal itu lebih utama daripada berbuka, tentunya jika orang tersebut mampu untuk shoum. Seorang musafir tidak boleh berbuka dulu sebelum memulai safarnya. Barang siapa yang paginya dalam keadaan shoum kemudian melakukan safar maka (lebih baik) jangan berbuka, apabila ia berbuka dan hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan, maka wajib baginya mengqodho. .

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 337 | Imam

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

فان صام المسافر ثم اراد أن يفطر فله أن يفطر لان العذر قائم فجاز له أن يفطر

Jika seorang musafir berpuasa kemudian hendak berbuka, maka ia boleh berbuka karena ada udzur..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 6 hal. 260 | Syarif

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

وَلَوْ أَصْبَحَ الْمَرِيضُ وَالْمُسَافِرُ صَائِمَيْنِ بِأَنْ نَوَيَا لَيْلًا ثُمَّ أَرَادَا الْفِطْرَ جَازَ بِلَا كَرَاهَةٍ لِوُجُودِ سَبَبِ التَّرَخُّصِ.وَهُنَا يَتْرُكُ الصَّوْمَ بِبَدَلٍ هُوَ الْقَضَاء

Jika orang yang sakit dan orang yang safar melakukan shoum, yaitu dengan meniatkan shoum pada malamnya, kemudian ia ingin berbuka, maka hukum berbuka tersebut adalah mubah (dibolehkan) dan tanpa dimakruhkan karena terdapat sebab yaitu rukhshoh (keringanan). Ia meninggalkan puasa dan menggantinya dengan cara mengqodho..

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 3 hal. 431 | Aqil

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وإذا سافر ما يقصر فيه الصلاة، فلا يفطر حتى يترك البيوت وراء ظهره بدلالة الكتاب والسنة والإجماع

Jika seorang musafir melakukan safar yang membolehkannya mengqoshor shalat, maka ia tidak boleh berbuka sampai meninggalkan rumahnya. Dengan dalilnya yaitu Al-Qur’an, sunah dan ijma. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 14 | Imam

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Majmu' Fatawa sebagai berikut :

وَالْأَظْهَرُ أَنَّهُ يَجُوزُ لَهُ الْقَصْرُ وَالْفِطْرُ فِي يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ

Yang lebih tepat, bahwa dengan alasan safar, maka ia dibolehkan untuk mengqoshor dan berbuka pada bulan Ramadhan.

Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa, jilid 24 hal. 16 | Syarif

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وَلَا قَضَاءَ إلَّا عَلَى خَمْسَةٍ فَقَطْ: وَهُمْ الْحَائِضُ، وَالنُّفَسَاءُ فَإِنَّهُمَا يَقْضِيَانِ أَيَّامَ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ، لَا خِلَافَ فِي ذَلِكَ مِنْ أَحَدٍ، وَالْمَرِيضُ، وَالْمُسَافِرُ سَفَرًا تُقْصَرُ فِيهِ الصَّلَاةُ. وَقَوْلُ الظَّاهِرِيَّةِ إنَّهُ لَا يَجُوزُ الصَّوْمُ لِهَذَا الْحَدِيثِ

Tidak ada kewajiban mengqodho shoum kecuali bagi 5 golongan saja yaitu: orang haidh, dan nifas, wajib bagi keduanya untuk mengqodho atas hari-hari puasanya selama haidh dan nifas, tidak ada satu orang pun yang menyelisihi akan kewajiban qodho tersebut. Juga orang sakit dan musafir yang membolehkannya mengqoshor shalat. Dan pendapat madzhab dzohiriyah, sesungguhnya tidak boleh shoum (bagi musafir) dengan dalil ini (Al-Baqoroh ayat 185).

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 4 hal. 313 | Faisal

Baca Lainnya :

Penetapan Ramadhan, Haruskah Ikut Negara Lain?
Muhammad Aqil Haidar | 27 April 2015, 09:35 | published
Bolehkah niat shoum Ramadhan hanya sekali saja?
Muhammad Syarif Hidayatullah | 29 April 2015, 09:35 | published
Hukum Berpuasa Di Hari Syak?
Imamuddin Mukhtar | 20 May 2015, 09:35 | published
Sudah Niat Puasa Besoknya Safar, Bolehkah Berbuka?
Muhammad Syarif Hidayatullah | 28 May 2015, 09:36 | published
Waktu Memulai Niat Puasa
Tajun Nashr, Lc | 10 September 2015, 09:36 | draft
Berpuasa Ataukah Membatalkannya Yang Lebih Utama Bagi Seorang Musafir Di Bulan Ramadhan
Faisal Reza Amaradja | 16 May 2015, 22:08 | published
Penetapan Awal Ramadhan, Dengan Hisab ataukah Rukyat?
Faisal Reza Amaradja | 22 May 2015, 00:28 | published