Berbagai Kondisi Yang Mewajibkan Nikah

Thu 24 September 2015 04:00 | 0
Siska

Dalam keadaan kondisi apapun islam sangat betul memperhatikan kemaslahatan umatnya, termasuk dalam pernikahan. semua hukum-hukum pernikahan dan kondisi yang mewajibkan seseorang untuk menikah telah dibahas tuntas dan jelas dalam syariatnya. sebagaimana firman Allah SWT: وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21]. Pernikahan adalah suatu peristiwa yang fitrah dan sarana paling agung dalam memelihara kontinuitas keturunan dan memperkuat hubungan antarsesama manusia yang menjadi sebab terjaminnya ketenangan, cinta dan kasih sayang. Jadi, kondisi apa sajakah diwajibkannya seseorang untuk menikah? Dalam hal ini jumhur ulama sepakat bahwa Nikah menjadi wajib hukumnya bagi mereka yang dikhawatirkan akan jatuh pada perzinahan.

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

لا خلاف أن النكاح فرض حالة التوقان حتى أن من تاقت نفسه إلى النساء بحيث لا يمكنه الصبر عنهن وهو قادر على المهر والنفقة ولم يتزوج يأثم

Tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwasannya nikah menjadi wajib hukumnya bagi seseorang yang sudah sangat besar syahwatnya, dimana ia sangat menginginkan seorang wanita dan ia tidak mampu bersabar karenannya, sedangkan ia sudah mampu dalam memberikan mahar dan nafkah, maka ia akan berdosa apabila tidak menikah..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 228 | Achad

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

ويكون واجبا عند التوقان فإن تيقن الزنا إلا به فرض نهاية وهذا إن ملك المهر والنفقة، وإلا فلا إثم بتركه

Nikah menjadi wajib hukumnya bagi seseorang yang sudah sangat besar syahwatnya, dimana ia dikhawatirkan akan jatuh dalam perzinaan dan menikah adalah jalan satu-satunya, dan disyaratkan juga kesiapan seseorang dalam memberikan mahar dan nafkah. Jika sebaliknya maka tidaklah berdosa apabila ia tidak menikah.

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 3 hal. 6 | Achad

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

وقد يجب في حق القادر ويخشى على نفسه الزنا

Terkadang menikah hukumnya menjadi wajib bagi orang yang telah mampu dan takut terjerumus ke dalam zina.

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 165 | Nisa

Kamaluddin Muhammad bin Musa bin Isa (w. 808 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya An-Najmu Al-Wahhaj fi Syarhil Minhaj sebagai berikut :

محتاج إلى النكاح لغلبة شهوته لا لخدمته، فإن ذلك يجب بلا خلاف

Wajib bagi seseorang untuk menikah disebabkan gejolak syahwat yang membuncah dalam dirinya dan bukan karena keinginannya untuk dilayani .

Kamaluddin Muhammad bin Musa bin Isa, An-Najmu Al-Wahhaj fi Syarhil Minhaj, jilid 7 hal. 269 | Zuria

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

من يخاف على نفسه الوقوع في محظور إن ترك النكاح، فهذا يجب عليه النكاح في قول عامة الفقهاء

Siapa yang takut terjatuh dalam perbuatan terlarang bila tidak menikah, maka dia wajib nikah menurut para fuqoha ..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 4 | Siska

Az-Zarkasyi (w. 772 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Syarah Az-Zarkasyi ala Mukhtashar Al-Khiraqi sebagai berikut :

النكاح على الطريقة المشهورة تارة يجب، كما إذا خاف الزنا بتركه

Pembagian nikah menurut sistematika para ulama kadang-kadang hukumnya wajib, misalnya ketika dia takut zina karena tidak menikah..

Az-Zarkasyi, Syarah Az-Zarkasyi ala Mukhtashar Al-Khiraqi, jilid 5 hal. 6 | Siska

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

من خاف العنت فالنكاح في حق هذا: واجب

Orang yang takut terjerumus dalam zina, maka wajib baginya nikah..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 9 | Siska

Dari pemaparan fuqaha diatas, dapat kita lihat bahwa kondisi diwajibkannya seseorang untuk segera menkah yaitu ketika syahwatnya telah bergejolak dan tidak ada lagi satu-satunyan jalan yang menahan ia dari perbuatan zina kecuali dengan adanya jalan pernikahan.

Baca Lainnya :

Kapankah Ibu Mertua Menjadi Mahram Bagi Menantu, Sejak Akad Atau Setelah Jima'?
Siti Sarah Fauzia | 12 May 2015, 05:24 | published
Bolehkah Menikahkan Orang Gila?
Zuria Ulfi | 21 November 2015, 17:04 | approved
Makna Nikah Hakiki : Akad atau Jima?
Achadiah | 21 September 2015, 15:01 | published
Bolehkah Nikah Dengan Meminta Syarat Tertentu?
Ipung Multiningsih | 10 September 2015, 09:29 | draft
Berbagai Kondisi Yang Mewajibkan Nikah
Siska | 24 September 2015, 04:00 | published
Haruskah Akad Dengan Bahasa Arab?
Siti Maryam | 17 September 2015, 11:06 | published
Haruskah Nikah Dengan Perawan?
Zuria Ulfi | 23 September 2015, 16:10 | published
Apakah Keridhaan Kedua Belah Pihak Menjadi Syarat Sahnya Akad?
Nur Azizah Pulungan | 15 October 2015, 06:00 | draft
Wajibkah Suami Menjima' Istrinya ?
Achadiah | 7 October 2015, 01:59 | published
Wajibkah Mengumumkan Pernikahan?
Siska | 8 October 2015, 23:16 | published
Nasab Anak Zina
Nur Azizah Pulungan | 10 October 2015, 16:48 | draft
Nasab Anak dari Hubungan Syubhat
Fatimah Khairun Nisa | 10 October 2015, 16:49 | draft
Wajibkah Seorang Istri Mengkhidmah Suaminya?
Ipung Multiningsih | 10 October 2015, 16:52 | draft
Kadar Nafkah Suami untuk Istri Menurut 4 Mazhab
Siti Maryam | 10 October 2015, 16:53 | draft
Pengaruh Khalwah Dalam Ketetapan Nasab
Zuria Ulfi | 29 October 2015, 01:16 | published
Siapa yang berhak menikahkan anak dibawah umur?
Fatimah Khairun Nisa | 7 November 2015, 06:03 | approved
Hukum menikahkan orang gila
Nur Azizah Pulungan | 7 November 2015, 14:13 | approved