|


 

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

صحة النكاح السابع: لا يبطل عقد النكاح بالشروط الفاسدة، فلو قال أتزوجك على أن تعطيني عبدك فأجابته بالنكاح انعقد موجبا لمهر مثلها عليه ولا شيء له من العبد.

Sah nya nikah Tujuh : akad nikah tidak batal dengan syarat fasid, contoh : jika seorang lelaki berkata : saya menikahimu dengan syarat kamu memberikan budakmu kepadaku, maka nikahnya sah, dan wajib bagi si laki-laki memberi mahar mitslu (mahar yang sepadan). Sedangkan si suami tidak berhak atas budak yang diberikan oleh istri. (karena syaratnya fasid)..

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 3 hal. 198 | Fatimah

Nikah tetap sah walaupun syaratnya fasid, dan suami tidak berhak menerima apa yang telah disyaratkannya. Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Istidzkar sebagai berikut :

والله قد أباح نكاح أربع نسوة من الحرائر وما شاء مما ملكت أيمانكم وأباح له أن يخرج بامرأته حيث شاء وينتقل بها من حيث انتقل وكل شرط يخرج المباح باطل

Allah membolehkan seorang laki-laki menikahi empat orang wanita, dan siapa saja dari budak yang dia miliki. Dibolehkan pula bagi seorang suami keluar dengan istrinya yang dia kehendaki, begitu pun pindah dengan istri yang dia kehendaki. Maka setiap syarat yang melarang sesuatu yang dibolehkan adalah bathil (tidak sah)..

Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar, jilid 5 hal. 444 | Isna

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

وكل ما (وقع على شرط يناقض) المقصود من النكاح؛ (كأن) وقع على شرط أن (لا يقسم) بينها وبين ضرتها في المبيت. (أو) على شرط أن (يؤثر عليها) ضرتها بأن يجعل لضرتها جمعة أو أقل أو أكثر تستقل بها عنها. (أو) شرطت (أن نفقة) زوجها (المحجور) لصغره أو لرقه؛ أي شرطت عند تزويجها بمحجور عليه أن نفقتها تكون (على وليه) أبيه أو سيده، فإنه شرط مناقض لأن الأصل أن نفقة الزوجة على زوجها، فشرط خلافه مضر. (أو عليها) : أي شرط الزوج أن نفقته عليها فإنه شرط مخل، وكذا لو شرطت أن ينفق على ولدها أو على أبيها أو على أن أمرها بيدها متى أحبت...(وألغي) الشرط المناقض فلا يعمل به.

Setiap syarat yang menghalangi tercapainya tujuan pernikahan, seperti seorang istri yang mensyaratkan suaminya agar tidak membagi malamnya untuk madunya, atau mensyaratkan agar suaminya bersama madunya hanya boleh pada hari jum'at... ataupun mensyaratkan bahwa nafkah karena suami masih kecil atau budak, menjadi tanggung jawab wali, orang tua, atau pun tuannya suami, Ini adalah syarat yang bertentangan. karena dasarnya kewajiban menafkahi istri adalah kewajiban suami, maka syarat yang bertentangan ini merugikan. Begitu juga seorang suami yang mensyaratkan seorang istri yang bertanggung menafkahi dirinya, ini syarat yang rusak. Sama halnya dengan seorang Istri yang mensyaratkan suaminya wajib menafkahi anaknya, orang tuanya, atau menetapkan bahwa hak bercerai ada ditangannya, kapan saja dia mau. Maka syarat-syarat diatas semuanya tertolak, dan tidak harus dilakukan.

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 385 | Isna

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

قال الماوردي: اعلم أن الشرط في النكاح ضربان: جائز، ومحظور فأما الجائز: فما وافق حكم الشرع في مطلق العقد،مثل أن يشترط عليها أن له أن يتسرى عليها، أو يتزوج عليها، أو يسافر بها، أو أن يطلقها إذا شاء، أو أن تشترط هي عليه، أو يوفيها صداقها، أو أن ينفق عليها نفقة مثلها، أو يقسم لها مع نسائه بالسوية. فكل هذه الشروط جائزة، أما المحظور منها: فمردود، لقول النبي - صلى الله عليه وسلم -: " كل شرط ليس في كتاب الله فهو باطل ولو كان مائة شرط، شرط الله أحق وعقده أوثق ".

Mardawi berkata: bahwasanya syarat dalam pernikahan itu ada dua: -syarat yang diperbolehkan dan syarat yang tidak diperbolehkan syarat yang diperbolehkan itu apabila sesuai dengan syariat dalam akad, contohnya: suami mensyaratkan bahwa ia boleh menikah dengan wanita lain, ia juga mensyaratkan agar istrinya selalu ikut dengannya ketika safar, ia juga boleh mentalaqnya kapanpun, nafaqahnya istri di tanggung suami, suami harus memberikan maharnya, memberikan nafaqah yang sepadan kepada istri, memberikan bagian yang sama kepada istri-istri yang lain. seluruh syarat ini diperbolehkan. -syarat yang tidak diperbolehkan ini ditolak atau mardud, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: seluruh syarat yang tidak ada dalam kitabullah maka syarat ini bathil, walau dengan seribu syarat, syarat Allah itu lebih benar dan mengerjakannya itu akan menjadikan kita lebih dekat..

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 9 hal. 505 | Azizah

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Majmu' Fatawa sebagai berikut :

وسئل - رحمه الله -: عن رجل تزوج بامرأة فشرط عليه عند النكاح أنه لا يتزوج عليها ولا ينقلها من منزلها…. فأجاب: الحمد لله، نعم تصح هذه الشروط وما في معناها في: مذهب الإمام أحمد وغيره من الصحابة والتابعين وتابعيهم

Imam Ibnu Taimiyah ditanya tentang seorang laki-laki yang menikahi perempuan dengan syarat ia tidak dipoligami, juga tidak pindah rumah dari rumah orang tuanya. Kemudian Imam menjawab: Alhamdulillah, Syarat tersebut juga syarat-syarat semisalnya dianggap sah menurut madzhab Imam Ahmad, para sahabat, tabi’in dan Tabiut tabi’in..

Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa, jilid 32 hal. 164 | Maryam

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

الشروط المعتبرة في النكاح في هذا الباب محل ذكرها: صلب العقد…. وقال الشيخ تقي الدين - رحمه الله -: كذا لو اتفقا عليه قبل العقد، في ظاهر المذهب… قلت: وهو الصواب الذي لا شك فيه

Mensyaratkan sesuatu dalam pernikahan diperbolehkan ketika masih dalam akad. Syeikh Taqiyuddin berkata: Bahkan jika syarat tersebut disepakati kedua belah pihak sebelum akad nikah, maka syarat tersebut boleh. Menurutku: Dan pendapat itulah yang benar dan tidak diragukan lagi..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 154 | Maryam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

سألة: ولا يصحُّ نكاح على شرط أصلا، حاشا الصداق الموصُوف في الذمة أو المدفُوع، أو المُعين، وعلى أن لا يضُر بها في نفسها ومالها

Pada dasarnya mensyaratkan sesuatu dalam akad nikah adalah tidak sah. kecuali jika suami menyanggupi untuk memberinya mahar yang terhutang, ataupun mahar yang telah ditentukan, ataupun mensyaratkan agar suaminya tidak menncelakainya juga hartanya..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 123 | Maryam

Baca Lainnya :