|


 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

أما على قول محمد ; فلأنَه أقيم به قربة إذا توضأ لأداء الصلاة لأن الماء إنما يصير مستعملا بقصد التقرب عنده وقد ثبت بالأَحاديث أَن الْوضوء سبب لإزالة الآثام عن المتوضئ للصلاة , فينتقل ذلك إلى الماء. وأما على قول زفر ; فلأنه قام به معنى مانع من جواز الصلاة وهو الحدث ; لأن الماء عنده إنما يصير مستعملا بإزالة الحدث فقد ذكر في ظاهر الرواية أنه لا يجوز التوضؤ به ولم يذكر أنه طاهر أم نجس ؟ وروى محمد عن أبي حنيفة أنه طاهر غير طهور… وروى أبو يوسف والحسن بن زياد عنه أنه نجس…. وقال زفر إن كان المستعمل متوضأ ( متوضئا ) فالماء المستعمل طاهر وطهور وإن كان محدثا فهو طاهر غير طهور

Pendapat Imam Muhammad Bin Hasan (w 189 H) mengenai air musta’mal adalah : air yang digunakan untuk kegiatan qurbah (ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala) seperti berwudhu untuk menunaikan sholat. Sesungguhnya air akan menjadi musta’mal dikarenakan niat dan tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hadits-hadits Nabi Shallahu a’laihi wasallam telah menguatkan hal ini dan menyatakan bahwa berwudhu untuk menunaikan sholat bisa menyebabkan hilangnya dosa-dosa seorang yang berwudhu. Dosa-dosa tersebut berpindah ke air yang dipakai untuk berwudhu. Pendapat dari Imam Zufar (w 158 H) mengenai air musta’mal adalah : air yang digunakan untuk menghilangkan sesuatu yang mencegah seseorang untuk menunaikan sholat yaitu hadats dalam artian air akan dikatakan sebagai air musta’mal jika air tersebut telah digunakan untuk menghilangkan hadats. Telah disebutkan dalam zhahir riwayat bahwasannya air musta’mal tidak boleh dipakai berwudhu namun tidak disebutkan apakah dia suci ataukah najis. Muhammad bin Hasan (w 189 H) meriwayatkan pendapat Imam abu hanifah yang menyatakan bahwa air musta’mal itu suci namun tidak mensucikan… Qadhi Abu Yusuf (w 181 H) dan Al Hasan bin Ziyad Juga meriwayatkan darinya (Imam Abu Hanifah) bahwasannya air musta’mal itu najis… Imam Zufar (w 158 H) berkata : jika air bekas dipakai berwudhu oleh seorang yang masih mempunyai wudhu sebelumnya, maka air musta’mal itu dihukumi suci dan mensucikan. Namun jika air bekas dipakai oleh seorang yang berhadats maka air tersebut dihukumi suci tapi tidak bisa mensucikan.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 66 | Ajib

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

قال أبو حنيفة وأبو يوسف : إذا أزيل به حدث أو تقرب به.. ومتى يصير مستعملا الصحيح أنه كما زايل العضو

Air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk menghilangkan hadats atau untuk kegiatan qurbah. Kapankah air (muthlak) menjadi air musta’mal ? (pendapat) yang shahih adalah jika air tersebut telah terpisah dari anggota tubuh.

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 89 | Amrozi

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

والماء المستعمل طاهر إذا كانت أعضاء المتوضئ به طاهرة إلا أن مالكا وجماعة من الفقهاء الجلة كانوا يكرهون الوضوء به وقال مالك [رحمه الله] لا خير فيه ولا أحب لأحد أن يتوضأ به فإن فعل وصلى لم أر عليه إعادة الصلاة

Air musta’mal itu suci jika bagian tubuh orang yang berwudhu dalam keadaan suci ketika menggunakan air (muthlak) tersebut. Namun Imam Malik (w 179 H) dan semua ahli fiqih memakruhkan menggunakan air musta’mal untuk berwudhu. Imam Malik (w 179 H) berkata : air musta’mal tidaklah baik (untuk digunakan bersuci) dan aku tidak menyukai jika seseorang berwudhu dengan menggunakannya, namun jika seseorang berwudhu dengan menggunakannya, aku tidak melihat adanya kewajiban baginya untuk mengulang shalat.

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 0 hal. 18 | Aqil

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

القسم الثالث الماء الذي لا يطهر ولا ينجس وهو ما تغير أحد أوصافه بطاهر غير لازم له…. فرعان : الأول الماء المستعمل في الحدث إذا لم يكن على الأعضاء نجاسة ولا وسخ قال مالك رحمه الله في الكتاب لا يتوضأ بماء توضئ به مرة قال ابن القاسم إن لم يجد غيره توضأ

Bagian ketiga : air yang tidak mensucikan dan juga tidak najis yaitu air yang berubah salah satu sifat-sifatnya dengan tercampur oleh sesuatu yang suci…. Air yang tidak bisa mensucikan dan tidak najis ada 2 yang pertama : air yang digunakan untuk menghilangkan hadats jika tidak ada najis ataupun kotoran yang menempel di anggota tubuh (yang dibasuh). Imam Malik (w 179 H) berpendapat bahwa tidak boleh berwudhu dengan air yang sudah dipakai berwudhu sebelumnya. Namum Ibnu Qosim (w 191 H) berkata : jika tidak menemukan air selain air musta’mal maka tidak mengapa berwudhu dengannya.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 174 | Syarif

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

أن الماء إذا استعمل في رفع حدث أو في إزالة حكم خبث

Sesungguhnya air musta’mal adalah yang sudah digunakan untuk mengangkat hadats atau menghilangkan khabats (najis).

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 1 hal. 41 | Imam

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

الماء المستعمل ضربان : مستعمل في طهارة الحدث، ومستعمل في طهارة النجس. فأما المستعمل في طهارة الحدث فينظر فيه، فإن استعمل في رفع حدث فهو طاهر لأنه ماء طاهر لاقى محلاً طاهراً فكان طاهراً، كما لو غسل به ثوب طاهر. وهل تجوز به الطهارة أم لا ؟ فيه طريقان: من أصحابنا من قال: فيه قولان المنصوص أنه لا يجوز لأنه زال عنه إطلاق اسم الماء فصار كما لو تغير بالزعفران، وروي عنه أنه قال: يجوز الوضوء به لأنه استعمال لم يغير صفة الماء فلم يمنع الوضوء به كما لو غسل به ثوب طاهر. ومن أصحابنا من لم يثبت هذه الرواية

Air musta’mal ada 2 jenis : Air yang digunakan untuk bersuci dari hadats dan air yang dipakai untuk mensucikan najis. Air musta’mal yang bekas digunakan untuk bersuci dari hadats maka perlu diteliti dulu, jika air tersebut bekas digunakan untuk menghilangkan hadats maka air itu suci, dikarenakan air tersebut bertemu dengan tempat yang suci. Sebagaimana jika memakainya untuk mencuci baju yang suci (tidak ada najis). Namun apakah lantas air tersebut bisa dipakai untuk bersuci? Dalam hal ini ada 2 cara. Ashab kami (Syafi’iyah) berkata : di dalam permasalahan ini ada 2 pendapat yang telah dinashkan. Pendapat yang pertama yaitu tidak boleh menggunakan air musta’mal untuk bersuci dikarenakan telah hilang kemuthlakan dalam penamaannya (tidak disebut lagi sebagai air muthlak) sama halnya dengan air muthlak yang bercampur dengan minyak za’faran (suci namun tidak mensucikan). Pendapat yang kedua yang diriwayatkan juga oleh ashab kami adalah boleh berwudhu dengan air musta’mal dikarenakan perubahannya tidak mengubah sifat air tersebut, maka tidak mengapa berwudhu dengannya sebagaimana air yang dipakai untuk menyuci baju. Namun riwayat ini tidak dipakai oleh para Ash-hab kami.

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 8 | Faisal

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

و الماء القليل ( المستعمل في فرض الطهارة ) عن حدث كالغسلة الأولى فيه ( قيل : ونفلها ) كالغسلة الثانية والثالثة , والغسل المسنون والوضوء المجدد طاهر (غير طهور في الجديد)…. والأصح أن المستعمل في نفل الطهارة على الجديد طهور لانتفاء العلة

Air musta’mal adalah air yang sedikit dan telah digunakan untuk (kegiatan) yang wajib dalam bersuci dari hadats seperti basuhan yang pertama, namun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa air yang digunakan untuk basuhan yang ke 2 dan ke 3, mandi yang disunahkan serta tajdidul (memperbaharui) wudhu dianggap sebagai air suci namun tidak bisa mensucikan menurut qaul jadid. Namun menurut pendapat qaul jadid yang paling shahih adalah air musta’mal itu suci mensucikan jika air (muthlak) tersebut telah digunakan untuk kegiatan yang sunah dalam bersuci. Hal itu dikarenakan sudah hilangnya ilat atau sebab (yang membuatnya dinyatakan sebagai air musta’mal.

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 23 | Syarif

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

فأن استعمل في رفع الحدث فهو طاهر لأن النبي صلى الله عليه وسلم : [ صب على جابر من وضوئه ] رواه البخاري ولأنه لم يصبه نجاسة فكان طاهرا كالذي تبرد به وهل تزول طهوريته به ؟فيه روايتان :أشهرهما : زوالها لأنه زال عنه إطلاق اسم الماء أشبه المتغير بالزعفران. والثانية : لا تزول لأنه استعمال لم يغير الماء أشبه التبرد به وإن استعمل في طهارة مستحبة كالتجديد وغسل الجمعة والغسلة الثانية والثالثة فهو باق على إطلاقه لأنه لم يرفع حدثا ولم يزل نجسا . وعنه أنه غير مطهر لأنه مستعمل في طهارة شرعية أشبه المستعمل في رفع الحدث

Jika air sudah digunakan untuk mengangkat hadats maka air tersebut masih suci namun tidak mensucikan dikarenakan Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam pernah menuangkan bekas wudhu kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu (H.R Bukhari). Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin menuangkan air jika air tersebut najis. Maka dari itulah air tersebut dianggap suci dan bisa digunakan untuk mendinginkan (badan ataupun yang lainnya). namun apakah air itu masih bisa digunakan untuk bersuci? Disini ada 2 riwayat dan yang paling masyhur adalah tidak bisa dipakai untuk bersuci dikarenakan sudah tidak bisa dinamai dengan air mutlak sebagaimana air yang berubah dikarenakan bercampur dengan minyak za’faran. Riwayat kedua mengatakan : air musta’mal masih bisa dipakai bersuci, dikarenakan hanya dipakai untuk sesuatu yang tidak merubahnya seperti dipakai untuk mendinginkan (badan). Dan jika dipakai untuk kegiatan bersuci yang dianggap sunah seperti memperbaharui wudhu, mandi jumat, basuhan yang ke 2 dan ke 3 kalinya (dalam berwudhu) maka air itu tetap dianggap sebagai air mutlak. Dikarenakan dia tidak dipakai untuk mensucikan hadats ataupun menghilangkan najis. Dan juga ada pendapat dari Imam Ahmad yang menyatakan bahwa air tersebut tidak bisa mensucikan dikarenakan telah digunakan dalam bersuci yang telah disyariatkan sehingga memiliki keserupaan dalam mengangkat hadats.

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 1 hal. 21 | Aqil

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

والوضوء بالماء المستعمل جائز وكذلك الغسل به للجنابة وسواء وجد ماء آخر غيره أو لم يوجد وهو الماء الذي توضأ به بعينه لفريضة أو نافلة أو اغتسل به بعينه لجنابة أو غيرها وسواء كان المتوضىء به رجلا أو امرأة

Berwudhu dengan air musta’mal dibolehkan begitupula dengan mandi junub. Baik ditemukan ada air selainnya (air muthlak) ataupun tidak ditemukan. Air musta’mal adalah air yang sudah digunakan untuk berwudhu baik itu untuk digunakan untuk fardhu wudhu ataupun sunah wudhu begitupula jika telah digunakan untuk mandi janabah. Sama saja jika yang berwudhu itu laki-laki ataupun perempuan.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 183 | Faisal

Baca Lainnya :