Kapankah Ibu Mertua Menjadi Mahram Bagi Menantu, Sejak Akad Atau Setelah Jima'?

Tue 12 May 2015 05:24 | 0
Siti Sarah Fauzia

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

حُرْمَةُ الْمُصَاهَرَةِ، وَحُجَّتُنَا فِي ذَلِكَ قَوْله تَعَالَى {وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ} [النساء: 22]، وَقَدْ بَيَّنَّا أَنَّ النِّكَاحَ لِلْوَطْءِ حَقِيقَةً

Hujjah atau dalil dari mahramnya keluarga sebab pernikahan termaktub dalam firman Allah ta’ala dalam surat An-Nisa ayat 23 yang artinya : “Dan janganlah kalian menikahi siapa-siapa yang telah dinikahi oleh bapak-bapak kalian.

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 4 hal. 205 | Achad

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

فأما أم الزوجة فإن الرجل إذا عقد النكاح على إمرأة حرمت عليه كل أم لها حقيقة أو مجازا من جهة النسب أو من جهة الرضاع سواء دخل بها أو لم يدخل

Adapun ibu mertua, bahwa apabila seorang laki-laki melakukan akad pernikahan dengan seorang perempuan, maka menjadi mahramlah seluruh ibu-ibu dari wanita tersebut (kandung maupun bukan) dari sisi keturunan ataupun dari sisi persusuan (radha’ah), baik telah melakukan jima’ maupun belum.

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 217 | Sarah

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

أَنَّهُ يَثْبُتُ بِهِ تَحْرِيمُ الْمُصَاهَرَةِ، فَإِذَا زَنَى بِامْرَأَةٍ حَرُمَتْ عَلَى أَبِيهِ وَابْنِهِ، وَحَرُمَتْ عَلَيْهِ أُمُّهَا وَابْنَتُهَا، كَمَا لَوْ وَطِئَهَا بِشُبْهَةٍ أَوْ حَلَالًا وَلَوْ وَطِئَ أُمَّ امْرَأَتِهِ أَوْ بِنْتَهَا حَرُمَتْ عَلَيْهِ

Bahwa diharamkannya keluarga sebab akad pernikahan apabila seorang wanita berzina maka diharamkan baginya bapak dan anaknya (laki-laki yang dizinahi) dan diharamkan bagi laki-laki ibu dan anak perempuannya (wanita yang dizinahi) waupun istrinya telah digauli secara halalpun.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 117 | Siska

Ya begitulah

Baca Lainnya :

Kapankah Ibu Mertua Menjadi Mahram Bagi Menantu, Sejak Akad Atau Setelah Jima'?
Siti Sarah Fauzia | 12 May 2015, 05:24 | published
Bolehkah Menikahkan Orang Gila?
Zuria Ulfi | 21 November 2015, 17:04 | approved
Makna Nikah Hakiki : Akad atau Jima?
Achadiah | 21 September 2015, 15:01 | published
Bolehkah Nikah Dengan Meminta Syarat Tertentu?
Ipung Multiningsih | 10 September 2015, 09:29 | draft
Berbagai Kondisi Yang Mewajibkan Nikah
Siska | 24 September 2015, 04:00 | published
Haruskah Akad Dengan Bahasa Arab?
Siti Maryam | 17 September 2015, 11:06 | published
Haruskah Nikah Dengan Perawan?
Zuria Ulfi | 23 September 2015, 16:10 | published
Apakah Keridhaan Kedua Belah Pihak Menjadi Syarat Sahnya Akad?
Nur Azizah Pulungan | 15 October 2015, 06:00 | draft
Wajibkah Suami Menjima' Istrinya ?
Achadiah | 7 October 2015, 01:59 | published
Wajibkah Mengumumkan Pernikahan?
Siska | 8 October 2015, 23:16 | published
Nasab Anak Zina
Nur Azizah Pulungan | 10 October 2015, 16:48 | draft
Nasab Anak dari Hubungan Syubhat
Fatimah Khairun Nisa | 10 October 2015, 16:49 | draft
Wajibkah Seorang Istri Mengkhidmah Suaminya?
Ipung Multiningsih | 10 October 2015, 16:52 | draft
Kadar Nafkah Suami untuk Istri Menurut 4 Mazhab
Siti Maryam | 10 October 2015, 16:53 | draft
Pengaruh Khalwah Dalam Ketetapan Nasab
Zuria Ulfi | 29 October 2015, 01:16 | published
Siapa yang berhak menikahkan anak dibawah umur?
Fatimah Khairun Nisa | 7 November 2015, 06:03 | approved
Hukum menikahkan orang gila
Nur Azizah Pulungan | 7 November 2015, 14:13 | approved