Hukum Mengumandangkan Adzan Untuk Shalat Fardhu

Mon 21 September 2015 09:25 | 0
Muhammad Syarif Hidayatullah

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فَصْلٌ وَاجِبَاتُ الصَّلَاة. أَمَّا الَّذِي قَبْلَ الصَّلَاةِ فَاثْنَانِ: الْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ. إنَّ أَهْلَ بَلْدَةٍ لَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى تَرْكِ الْأَذَانِ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَيْهِ، وَلَوْ تَرَكَهُ وَاحِدٌ ضَرَبْتُهُ وَحَبَسْتُهُ، وَإِنَّمَا يُقَاتَلُ وَيُضْرَبُ

Adapun syarat wajib sebelum shalat ada 2 macam, yaitu adzan dan iqomat. Jika penduduk suatu negeri semuanya meninggalkan adzan, maka pasti kami akan membunuhnya. Dan jika seseorang saja yang meninggalkannya maka aku pasti memukul dan mengurungnya..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 146 | Ajib

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

الْأَذَانُ سُنَّةٌ هُوَ قَوْلُ عَامَّةِ الْفُقَهَاءِ وَكَذَا الْإِقَامَةُ. وَقَالَ بَعْضُ مَشَايِخِنَا وَاجِبٌ

Adzan hukumnya sunah menurut mayoritas ulama fiqih, begitupun iqomat. Tapi menurut pendapat guru-guru kita hukumnya adalah wajib.

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 240 | Aqil

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

قَالَ رَحِمَهُ اللَّه: الْأَذَانُ وَهُوَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ عِنْدَ عَامَّةِ الْمَشَايِخِ

Adzan hukumnya Sunnah muakkadah menurut mayoritas ulama..

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 90 | Aqil

Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

الأذان سنة عند أكثر الفقهاء للصلوات الخمس والجمعة

Hukum adzan dalam shalat yang 5 waktu dan jum’at adaah sunah menurut mayoritas ulama fiqih.

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 2 hal. 77 | Ajib

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

سُنَّ الْأَذَانُ لِلصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَالْجُمُعَةِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ قَوِيَّةٌ قَرِيبَةٌ مِنْ الْوَاجِبِ

Adzan disunahkan untuk shalat 5 waktu, sedangkan untuk shalat jum’at hukumnya Sunnah muakkadah yang mendekati hukum wajib.

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 269 | Aqil

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

(سُنَّ) سُنَّةً مُؤَكَّدَةً هُوَ الصَّحِيحُ وَقَالَ بَعْضُ مَشَايِخِنَا: وَاجِبٌ

Hukum adzan adalah Sunnah muakkadah dan hal itu adalah shohih. Tapi sebagian guru kami mengatakan bahwa hukum adzan adalah wajib..

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 75 | Aqil

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

وَالظَّاهِرُ أَنَّ أَهْلَ كُلِّ مَحَلَّةٍ سَمِعُوا الْأَذَانَ وَلَوْ مِنْ مَحَلَّةٍ أُخْرَى يَسْقُطُ عَنْهُمْ لَا إنْ لَمْ يَسْمَعُوا

Jelasnya, bahwa penduduk satu daerah yang telah mendengar adzan (gugur kewajiban adzan bagi yang lainnya). Lain halnya jika penduduk daerah lain yang tidak mendengar adzan (waib bagi mereka untuk adzan).

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 1 hal. 384 | Ajib

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

الأذان سنة مؤكدة وليس بفريضة وهو على أهل المصر. ولا أذان إلا للمكتوبات

Hukum adzan adalah Sunnah muakkadah, bukan fardhu. Hal itu berlaku bagi penduduk suatu kota. Dan tidak ada kewajiban adzan kecuali dalam shalat fardhu.

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 196 | Amrozi

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

السُّنَّةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ الْأَذَانُ لَهَا سنة فِي مَسَاجِد الْجَمَاعَات

Sunah yang ke 14 adalah adzan. Adzan disunahkan (untuk dikumandangkan) di masjid jami’.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 219 | Ajib

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

سُنَّ الْأَذَانِ لِجَمَاعَةٍ طَلَبَتْ غَيْرَهَا

Adzan disunahkan bagi sekelompok orang untuk mengajak yang lainnya (shalat di masjid).

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 1 hal. 421 | Amrozi

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

الأذان والإقامة مشروعان للصلوات الخمس بالنصوص الصحيحة والإجماع ولا يشرع الأذان ولا الإقامة لغير الخمس بلا خلاف

Adzan dan iqomat disyariatkan hanya dalam sholat 5 waktu berdasarkan keterangan nash-nash yang shohih dan ijma’. Adapun dalam selain shalat yang 5 waktu, maka keduanya tidaklah disyariatkan.

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 77 | Syarif

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

الْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ سُنَّتَانِ عَلَى الْكِفَايَةِ فِي الْمَكْتُوبَاتِ الْخَمْسِ فَقَطْ

Adzan dan iqomat hukumnya sunah bagi sebagian orang/fardhu kifayah (untuk dikumandangkan) hanya dalam shalat yang 5 waktu saja.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 125 | Imam

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

يستحب الأذان والإقامة على الكفاية فيحصلان بفعل البعض كابتداء السلام وإنما يسنان للمكتوبة

Adzan dan iqomat hukumnya mustahab bagi sebagian orang, maka sudah cukup walaupun hanya dilakukan oleh sebagian diantara mereka seperti halnya memulai salam. Dan keduanya disunahkan hanya dalam shalat fardhu..

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 77 | Amrozi

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

فَقَالَ الْمُصَنِّفُ كُلٌّ مِنْهُمَا (سُنَّةٌ) وَهُمَا سُنَّةٌ عَلَى الْكِفَايَةِ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ

Al-Khatib Asy-Syirbini Berkata: adzan dan iqomat hukumnya adalah sunah, keduanya dianggap cukup apabila sudah ada orang yang melakukannya sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Majmu’.

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 317 | Syarif

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ومن صلى بلا أذان ولا إقامة، كرهنا له ذلك، ولا يعيد، لأن النبي كانت صلواته بأذان وإقامة، والأئمة بعده. ومن أوجب الأذان من أصحابنا فإنما أوجبه على أهل المصر

Dan barangsiapa yang melakukan shalat tanpa adzan dan iqomat, maka kami membencinya, akan tetapi shalatnya tidak perlu diulangi. Adapun ulama dari madzhab kita yang mewajibkan adzan, maka sesungguhnya kewajiban itu bagi orang yang tinggal di kota..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 302 | Faisal

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Majmu' Fatawa sebagai berikut :

الصَّحِيحُ أَنْ الْأَذَانَ فَرْضٌ عَلَى الْكِفَايَةِ

Yang shohih bahwa sesungguhnya hukum mengumandangkan adzan adalah fardu kifayah..

Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa, jilid 22 hal. 64 | Syarif

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

قَالَ الْمُصَنِّفُ: وَالْأَفْضَلُ لِكُلِّ مُصَلٍّ أَنْ يُؤَذِّنَ وَيُقِيمَ، إلَّا أَنْ يَكُونَ يُصَلِّي قَضَاءً أَوْ فِي غَيْرِ وَقْتِ الْأَذَانِ. أَنَّهُمَا فَرْضُ كِفَايَةٍ فِي الْقُرَى وَالْأَمْصَارِ وَغَيْرِهِمَا.

Al-Mardawi berkata: adalah lebih utama apabila orang yang hendak shalat untuk mengawalinya dengan adzan dan iqomat. Kecuali jika shalatnya adalah shalat qodho (diluar waktu adzan). Sesengguhnya adzan dan iqomat hukumnya fardu kifayah. baik di desa, kota atau di tempat lainnya.

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 1 hal. 406 | Imam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

لَا تُجْزِئُ صَلَاةُ فَرِيضَةٍ فِي جَمَاعَةٍ - اثْنَيْنِ فَصَاعِدًا - إلَّا بِأَذَانٍ وَإِقَامَةٍ

Tidak boleh melakukan shalat fardhu secara berjamaah (dua orang bahkan lebih) kecuali disertai adzan dan iqomat.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal. 163 | Faisal

Baca Lainnya :

Hukum Mengumandangkan Adzan Untuk Shalat Fardhu
Muhammad Syarif Hidayatullah | 21 September 2015, 09:25 | published
Adzan Shubuh, Sekali Atau Dua Kali?
Imamuddin Mukhtar | 22 September 2015, 14:00 | draft
Hukum Mengadzani Bayi Yang Baru Lahir
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 23 September 2015, 14:00 | draft
Hukum Adzan Untuk Selain Shalat
Muhamad Amrozi | 24 September 2015, 14:00 | draft
Hukum Adzan Bagi Perempuan
Muhammad Aqil Haidar | 25 September 2015, 12:56 | published
Hukum Mengumandangkan Adzan Saat Menguburkan Jenazah
Faisal Reza Amaradja | 26 September 2015, 13:00 | draft