Bolehkah Wanita Haidh Melafadzkan Al-Quran?

Sat 14 November 2015 20:19 | 0
Ipung Multiningsih

Al-Quran merupakan ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam melalui perantara jibril. Ayat-Ayat Al-Quran sungguh agung kedudukannya dalam islam. Maka dari itu bagi yang hendak membaca al-qur’an dianjurkan untuk menjaga adab-adabnya, termasuk adab membaca Al-Quran adalah bersuci. Membaca Al-Quran merupakan amal shaleh dan kebaikan yang berpahala, karena setiap huruf nya mengandung 10 kebaikan. Dan begitupun yang mendengarkan bacaan Al-Quran, maka rahmat Allah baginya. Namun ada beberapa keadaan dimana kita justru dilarang untuk membaca Al-Quran, kenapa? karena sebab-sebab syar’i tentunya. Salah satunya adalah saat wanita sedang mengalami haid. Telah kita ketahui bahwa keadaan nya yang sedang haid tersebut adalah keadaan tidak suci. Namun ulama berbeda pendapat tentang hukum wanita haid yang membaca al-Quran serta melafadzkannya. Ada yang mengatakan boleh, dikarenakan lamanya masa haid. Dan ada pula yang mengatakan tidak boleh, karena Rasul bersabda : لقوله - عليه الصلاة والسلام - «لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن» "Tidaklah wanita haid dan orang yang junub membaca Quran." Berikut penjelasan pendapat ulama madzhab mengenai hukum membaca Al-qur’an bagi wanita haid:

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

وَلَيْسَ لِلْحَائِضِ مَسُّ الْمُصْحَفِ وَلَا دُخُولُ الْمَسْجِدِ وَلَا قِرَاءَةُ آيَةٍ تَامَّةٍ مِنْ الْقُرْآنِ،

"Tidaklah seseorang yang haid boleh memegang mushaf, dan tidak pula masuk masjid, serta tidak diperbolehkan membaca satu ayat Al-Qur’an dengan sempurna"..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 3 hal. 195 | Achad

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

(وَأَمَّا) حُكْمُ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ فَمَنْعُ جَوَازِ الصَّلَاةِ، وَالصَّوْمِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَمَسِّ الْمُصْحَفِ إلَّا بِغِلَافٍ، وَدُخُولِ الْمَسْجِدِ، وَالطَّوَافِ بِالْبَيْتِ

"Adapun hukum wanita haid dan nifas maka tidak diperbolehkan shalat, puasa, membaca al-Qur’an, memegang mushaf tanpa sampul, masuk masjid, dan thawaf di baitullah".

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 44 | Achad

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

(وليس للحائض والجنب والنفساء قراءة القرآن) لقوله - عليه الصلاة والسلام - «لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن»

"Dan tidaklah wanita haid, junub, dan nifas membaca al-Qur’an. Dikarenakan sabda Rasulullah: "Tidak boleh seorang yang haid dan junub membaca al-Qur’an".

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 258 | Isna

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

قال - رحمه الله - (وقراءة القرآن) أي يمنع الحيض قراءة القرآن، وكذا الجنابة

"Seseorang yang haid dilarang membaca al-qur’an begitu juga dengan junub".

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 57 | Isna

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

أكثر العلماء على أن الحائض والجنب لا يقرءان شيئا من القرآن

"Mayoritas ulama berpendapat bahwa wanita haid dan seorang yang junub tidaklah diperbolehkan membaca apapun dari ayat al-Qur’an"..

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 172 | Ipung

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

وأما جواز القراءة فلما يروى عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت تقرأ القرآن وهي حائض والظاهر اطلاعه عليه السلام وأما المنع فقياسا على الجنب والفرق للأول من وجهين أن الجنابة مكتسبة وزمانها لا يطول بخلاف الحيض

"Adapun yang membolehkan wanita haid membaca Al-Qur’an adalah riwayat dari Aisyah Radhiyallahu anha, bahwasannya Aisyah pernah membaca Al-Qur’an dalam keadaan haid, dan itu dengan sepengetahuan Rasulullah. Adapun larangan Membaca Al-qur’an ini diqiyaskan kepada hukumnya orang junub. Dan perbedaan dari keduanya ada 2 segi yaitu: kalau junub terjadi karena kehendak yang melakukan, beda dengan wanita haid. Dan masa junub tidaklah selama masa haid".

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 379 | Fatimah

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

في مذاهب العلماء في قراءة الحائض القرآن قد ذكرنا أنّ مذهبنا المشهور تحريمها ولا ينسى غالبا في هذا القدر ولأنّ خوف النّسيان ينتفي بإمرار القرآن على القلب ...

"Pendapat para ulama mengenai hukum wanita haid membaca al-Qur’an adalah haram.....Masa haid yang berangsung beberapa hari biasanya tidak sampai bisa membuat orang lupa pada hafalannya. Dan jika tetap khawatir lupa pada hafalannya, maka cukuplah ia menghafal/muraja'ah di dalam hatinya.".

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 356 | Sarah

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

(لم يحلّ وطؤها) ولا غيره من التّمتّع المحرّم والقراءة ومسّ المصحف ونحوها

Dan tidak di halalkan seorang wanita untuk digauli pada saat haid, begitu juga percumbuan yang diharamkan, serta melafadzkan Al-Quran serta menyentuhnya.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 102 | Nisa

Dan tidak di perbolehkan bagi wanita haid membaca Alqur’an diluar shalat. Maksudnya adalah, jika ia sudah waktunya bersuci dan tidak mendapati air untuk mandi besar, maka baginya boleh ber tayammum lalu shalat, dan di dalam shalatnya ia boleh membaca ayat-ayat al-qur’an. Dan tidak di perbolehkan ketika diluar shalat. Namun jika ia takut akan lupa hafalan qur’annya , maka diperbolehkan membacanya di dalam hati Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

إمَّا في الصّلاة فجائزة مطلقا

"Melafadzkan Al-Quran pada saat menunaikan shalat itu boleh baginya".

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 1 hal. 408 | Maryam

Dalil diatas menjelaskan bahwa jika seorang wanita haid sudah tidak keluar lagi darahnya, namun tidak menemukan air sama sekali untuk bersuci, boleh baginya bertayammum sekedar untuk bisa melaksanakan shalat. (Walaupun nanti ketika ia menemukan air, wajib baginya mandi janabah). Dalam keadaan shalat itu, ia boleh melafadzkan al-Quran. Namun tidak demikian jika diluar shalat. Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

(. أمّا في الصّلاة فجائزة مطلقا، وقيل تباح لها القراءة مطلقا خوف النّسيان بخلاف الجنب لقصر زمن الجنابة، وقيل تحرم الزّيادة على الفاتحة في الصّلاة كالجنب الفاقد للطّهورين

"Bagi wanita haid, boleh membaca al-Quran dalam shalat. Dan ada yang berpendapat: diperbolehkan bagi wanita haid membaca Al-qur’an karena takut akan lupa hafalannya, karena masa haid lebih lama di banding dengan junub. Dan ada juga yang berpendapat : diharamkan wanita haid membaca lebih dari al-Fatihah dalam shalat." .

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 290 | Maryam

Sebagaimana keterangan dalam pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami, jika wanita haid tidak menemukan air untuk bersuci, lalu ia bertayammum dan shalat, maka baginya boleh membaca ayat al-qur’an dalam shalatnya Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ولنا: ما روي عن علي، - رضي الله عنه - «أن النبي - صلى الله عليه وسلم - لم يكن يحجبه، أو قال: يحجزه، عن قراءة القرآن شيء، ليس الجنابة.» رواه أبو داود، والنسائي، والترمذي، وقال: حديث حسن صحيح. وعن ابن عمر، «أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن.» رواه أبو داود، والترمذي

Pendapat kami yaitu hadist yang di riwayatkan oleh bin Umar: Bahwasannya Nabi bersabda: Wanita haid dan orang junub berhalangan untuk membaca Al-qur’an. (HR Abu Daud, An-Nasa'i dan At-Tirmidzi). Hadits Hasan Shahih. Dan Dari Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda: "Wanita haid dan junub tidak boleh membaca apapun dari al-Quran." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 106 | Siska

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وقراءة القرآن والسّجود فيه ومسّ المصحف وذكر اللّه تعالى جائز، كلّ ذلك بوضوء وبغير وضوء وللجنب والحائض. برهان ذلك أنّ قراءة القرآن والسّجود فيه ومسّ المصحف وذكر اللّه تعالى أفعال خير مندوب إليها مأجور فاعلها، فمن ادّعى المنع فيها في بعض الأحوال كلّف أن يأتي بالبرهان.

"Dan membaca Al-Qur'an, sujud, menyentuh mushaf, dzikir, itu semua boleh (bagi wanita haid). Semua itu boleh dilakukan dengan atau tanpa wudhu', Dan boleh dilakukan oleh wanita haid maupun orang junub. Alasannya adalah bahwa membaca al-Quran, sujud, menyentuh mushaf dan dzikir adalah perbuatan yang baik, hukumnya sunnah, dan berpahala bagi yang melakukannya. Barang siapa yang melarang wanita haid untuk melakukan itu semua, maka harus disertai alasan".

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 94 | Zuria

salah satu tokoh mazhab Azh-Zhahiriyah memiliki pendapat yang sangat berbeda dengan pendapat mayoritas ulama yang telah dipaparkan sebelumnya. Ibnu hazm perpendapat bahwa wanita haid boleh membaca Al-Qur’an secara mutlak. Karena menurut beliau membaca al-Qur’an adalah perbuatan baik dan berpahala, dan bagi siapa yang berkeyakinan bahwa membacanya dalam keadaan tidak suci tidak diperbolehkan maka harus berdasar atas dalil. Dan Adapun ayat al-Qur’an yang merupakan dalil larangan wanita haid membaca AL-qur’an yang berbunyi : {لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ} [الواقعة: 79] "Tidaklah menyentuhnya (al-Quran) kecuali orang-orang yang suci" (QS. Al-Waqi'ah : 79) Menurut ibnu Hazm QS. Al-Waqiah : 79 di atas ini adalah khabar (berita), dan bukan larangan.

Inilah pendapat para ulama Fiqh, di mana mayoritas dari mereka melarang wanita haid membaca al-Qur’an atau melafadzkannya karena berdasarkan hadist Rasulullah ” Tidaklah boleh wanita haid dan seorang yang junub membaca al-Quran ataupun membawanya”.

Baca Lainnya :

Bolehkah Wanita Haid Menyentuh Mushaf?
Achadiah | 2 May 2015, 02:04 | published
Bolehkah Wanita Haidh Masuk dan Berdiam di dalam Masjid?
Isnawati | 9 September 2015, 10:51 | draft
Batasan Minimal dan Maksimal Usia Haidh
Fatimah Khairun Nisa | 9 September 2015, 11:08 | published
Batasan Durasi Minimal dan Maksimal Masa Haidh
Siti Sarah Fauzia | 5 May 2015, 08:05 | published
Darah Keluar Sebelum Melahirkan, Haidh atau Istihadhah?
Miratun Nisa | 6 May 2015, 19:30 | published
Darah Keluar Melewati Maksimal Nifas. Haid Atau Istihadhah?
Siti Maryam | 6 May 2015, 01:00 | published
Darah Keluar Karena Keguguran, Nifas atau Bukan?
Siska | 7 May 2015, 07:12 | published
Hukum Tawaf Dalam Keadaan Haidh
Nur Azizah Pulungan | 8 September 2015, 12:00 | draft
Jima Ketika Darah Haidh Sudah Berhenti Tapi Belum Mandi Janabah
Qathrin Izzah Fithri | 10 September 2015, 06:11 | draft
Warna Kekuningan & Keruh, Darah Haid Atau Bukan?
Siti Maryam | 13 May 2015, 04:25 | published
Bolehkah Wanita Haidh Melafadzkan Al-Quran?
Ipung Multiningsih | 14 November 2015, 20:19 | published