|


 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وَأَمَّا الثَّالِثُ وَهُوَ بَيَانُ حُكْمِ صَيْرُورَةِ هَذِهِ النَّفَقَةِ دَيْنًا فِي ذِمَّةِ الزَّوْجِ فَنَقُولُ إذَا فَرَضَ الْقَاضِي لَهَا نَفَقَةً كُلَّ شَهْرٍ أَوْ تَرَاضَيَا عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ مَنَعَهَا الزَّوْجُ قَبْلَ ذَلِكَ أَشْهُرًا غَائِبًا كَانَ أَوْ حَاضِرًا فَلَهَا أَنْ تُطَالِبَهُ بِنَفَقَةِ مَا مَضَى ; لأَنَّهَا صَارَتْ دَيْنًا بِالْفَرْضِ أَوْ التَّرَاضِي ; صَارَتْ فِي اسْتِحْقَاقِ الْمُطَالَبَةِ بِهَا كَسَائِرِ الدُّيُونِ

ketiga tetang hukum shairurah, bahwa hukum nafaqah menjadi hutang dalam tanggungan suami, maka jika qadhi menetapkan untuk isteri nafaqah setiap bulannya atau berdasarkan kesepakatan dari keduanya kemudian suami tidak menunaikannya selama beberapa bulan baik hadir atau pun menghilang, dalam hal ini isteri boleh menuntut hak nafaqah yang belum ditunaikan suami. Karena hukum nafaqah menjadi hutang baik karena ketetapan sendiri atau atas keridhaan keduanya. diperbolehkannya menuntut hak nafaqah sama seperti dalam hukum hutang..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 4 hal. 29 | Siska

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

إذا سافر الزوج قبل الدخول فطلبت زوجته النفقة فلها ذلك على ما رجحه ابن رشد ونصه، قال في رسم سلعة سماها من سماع ابن القاسم، وسئل عن الرجل يسافر عن امرأته ولم يدخل فيقيم الأشهر فتطلب النفقة، قال أرى له أن ينفق عليها من ماله ويلزم ذلك ابن رشد

Jika suami pergi sebelum terjadi dukhul dan isterinya meminta nafaqah darinya, maka bagi isteri nafaqah, seperti yang telah ditarjihkan oleh Ibnu Rusydi dalam Rasmu Sil'ah dijuluki oleh Sima' ibnu Qasim, ditanya tentang suami yang pergi dari isterinya dan belum terjadi dukhul dan ia menetap selama beberapa bulan maka isteri boleh meminta nafaqah darinya, aku berpendapat suami harus menafkahi isteri dan ini yang dikatan oleh Ibnu Rusyd..

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 4 hal. 182 | Siska

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَإِذَا نَكَحَهَا ثُمَّ غَابَ عَنْهَا فَسَأَلَتْ النَّفَقَةَ فَإِنْ كَانَتْ خَلَّتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَغَابَ وَلَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهَا فَعَلَيْهِ النَّفَقَةُ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ قَدْ خَلَّتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهَا وَلَا مَنَعَتْهُ فَهِيَ غَيْرُ مُخَلِّيَةٍ حَتَّى تُخَلِّي وَلَا نَفَقَةَ عَلَيْهِ

Imam Syafi’I berkata: Jika suami menikahi istri kemudian suami menghilang, dan istri meminta nafaqah. maka jika telah terjadi khalwat diantara suami dan istri kemudian suami menghilang dan belum terjadi dukhul maka bagi istri nafaqah, akan tetapi jika belum terjadi khalwat diantara keduanya dan tidak ….maka tidak ada nafaqah bagi istri..

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 5 hal. 95 | Siska

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

(فالنفقة واجبة عليه في غيبته)))

Wajibnya nafaqah bagi suami yang menghilang.

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 5 hal. 471 | Siska

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وقد ذكرنا قول عمر في وجوب النفقة على الغائب مدة مغيبه وإن طلق

Telah kita sebutkan perkataan Umar mengenai wajibnya nafaqah bagi suami yang menghilang selama masa menghilangnya walaupun suami menthalaqnya.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 255 | Siska

Baca Lainnya :