|


 

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

وَلَنَا أَنَّ الْقَلِيلَ لَا يُمْكِنُ التَّحَرُّزُ عَنْهُ فَيُجْعَلُ عَفْوًا، وَقَدَّرْنَاهُ بِقَدْرِ الدِّرْهَمِ أَخْذًا عَنْ مَوْضِعِ الِاسْتِنْجَاءِ.

Menurut kita, sesungguhnya najis yang sedikit dan tidak mungkin menjaga diri darinya maka hal itu di ma’fu, dan kita membatasi ukurannya sebesar koin 1 dirham dari tempat istinja. .

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 202 | Ajib

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

وَلَنَا أَنَّ الْقَلِيلَ مَعْفُوٌّ إجْمَاعًا فَقَدَّرْنَاهُ بِالدِّرْهَمِ

Menurut kita, sesungguhnya najis yang sedikit di ma’fu berdasarkan ijma’, maka kita menetapkan ukurannya yaitu sebesar koin 1 dirham. .

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 73 | Aqil

Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

عين الخارج ليست بنجسة، وما عليها قليل وهو الناقض في السبيلين معفو عنه في غيرهما

Dzat yang keluar dari luka bukan termasuk najis, dan apa yang berada diatas najis (jika) sedikit, biasanya apa yang ada di dua lubang (qubul dan dubur) membatalkan, tapi bisa di ma’fu pada selain keduanya..

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 1 hal. 306 | Aqil

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

فَإِنَّ قَلِيلَهَا مَعْفُوٌّ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وَعِنْدَنَا قَدْرُ الدِّرْهَمِ

Maka sesungguhnya sedikitnya najis bisa di ma’fu menurut Imam As-Syafi’i, dan menurut kita (termasuk ma’fu) jika hanya seukuran koin 1 dirham.

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 58 | Amrozi

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

(وَعَفَا) الشَّارِعُ (عَنْ قَدْرِ دِرْهَمٍ) وَإِنْ كُرِهَ تَحْرِيمًا، فَيَجِبُ غَسْلُهُ، وَمَا دُونَهُ تَنْزِيهًا فَيُسَنُّ، وَفَوْقَهُ مُبْطِلٌ فَيُفْرَضُ،(وَهُوَ مِثْقَالٌ) عِشْرُونَ قِيرَاطًا

Syari’at menoleransi najis yang seukuran koin 1 dirham walaupun hukum aslinya makruh tahrim yang wajib membasuhnya. Dan (najis yang dibawah ukuran koin 1 dirham) hukum aslinya makruh tanzih yang mana disunahkan membasuhnya. Dan jika di atas (ukuran) tersebut maka bisa membatalkan shalat. Ukuran 1 koin dirham itu sama dengan 1 mitsqol (20 karat)..

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 1 hal. 316 | Ajib

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

الدَّمُ عَلَى ثَوْبِ الْقَصَّابِ وَمَا لَا يَنْقُضُ الْوُضُوءَ مِنْ بَلَّةِ الْجُرْحِ أَوْ الْقَيْءِ مَعْفُوٌّ عَنْهُ وَإِنْ كَثُرَ

Darah yang terdapat pada baju seorang penjagal dan perkara yang tidak membatalkan wudhu dari luka atau muntah yang basah maka hal itu di ma’fu walaupun banyak. .

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 1 hal. 324 | Amrozi

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

فلا يضر لون الدم إذا ذهب عينه وبقي أثره ويسير الدم معفو عنه إذا كان كدم البراغيث ونحوه.

Maka tidak memadharatkan warna darah jika sudah hilang dzatnya dan hanya tersisa bekasnya, begitupun darah yang sedikit bisa di ma’fu seperti darah serangga atau semisalnya..

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 161 | Amrozi

Ibnu Rusyd Al-Hafid (w. 595 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid sebagai berikut :

الْمَسْأَلَةُ السَّادِسَةُ: اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي قَلِيلِ النَّجَاسَاتِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْوَالٍ: فَقَوْمٌ رَأَوْا قَلِيلَهَا وَكَثِيرَهَا سَوَاءً، وَمِمَّنْ قَالَ بِهَذَا الْقَوْلِ الشَّافِعِيُّ. وَقَوْمٌ رَأَوْا أَنَّ قَلِيلَ النَّجَاسَاتِ مَعْفُوٌّ عَنْهُ، وَحَدُّوهُ بِقَدْرِ الدِّرْهَمِ الْبَغْلِيِّ، وَمِمَّنْ قَالَ بِهَذَا الْقَوْلِ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَالَ فَرِيقٌ ثَالِثٌ: قَلِيلُ النَّجَاسَاتِ وَكَثِيرُهَا سَوَاءٌ إِلَّا الدَّمَ عَلَى مَا تَقَدَّمَ، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ

Permasalahan ke 6: Terkait hukum najis yang sedikit orang-orang terbagi menjadi 3 pandangan: 1) Kelompok pertama memandang bahwa sedikit atau banyaknya najis hukumnya sama, ini adalah pendapatnya Imam As-Syafi’i. 2) Kelompok kedua memandang bahwa najis yang sedikit hukumnya di ma’fu, ukurannya sebesar 1 koin dirham baghli, ini adalah pendapatnya Imam Abu Hanifah. 3) Kelompok ketiga memandang bahwa sedikit atau banyaknya najis hukumnya sama kecuali darah sebagaimana yang sudah dibahas sebelumnya. Ini adalah pendapatnya Imam Malik. .

Ibnu Rusyd Al-Hafid, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, jilid 1 hal. 88 | Aqil

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

فُهِمَ مِنْ كَلَامِ الْمُصَنِّفِ أَنَّ يَسِيرَ مَا عَدَا هَذِهِ الثَّلَاثَةَ مِنْ النَّجَاسَاتِ وَكَثِيرَهُ سَوَاءٌ

Dapat dipahami dari perkataan pengarang kitab bahwasanya sedikit atau banyaknya najis, selain dari yang 3 golongan ini (darah, muntah dan nanah) adalah sama hukumnya (di ma’fu)..

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 1 hal. 148 | Imam

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

مما تعم به البلوى الدم الباقي على اللحم وعظامه وقل من تعرض له من أصحابنا فقد ذكره أبو إسحق الثعلبي المفسر من أصحابنا ونقل عن جماعة كثيرة من التابعين أنه لا بأس به ودليله المشقة في الاحتراز منه

Diantara perkara yang menyangkut kehidupan orang banyak adalah darah yang masih terdapat pada daging dan tulangnya. Hanya sedikit orang yang menentang hal tersebut, maka sungguh Abu Ishaq As-Tsa’labi (dari kelompok kita) bersama sekelompok tabiin menyatakan bahwa hal tersebut tidak apa-apa, dalilnya adalah sulitnya menjaga diri/berlepas diri dari hal itu..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 557 | Syarif

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

الْقِسْمُ الثَّانِي: النَّجَاسَةُ الْوَاقِعَةُ فِي مَظِنَّةِ الْعَفْوِ، وَهُوَ أَضْرُبٌ. الْأَوَّلُ: الْأَثَرُ الْبَاقِي عَلَى مَحَلِّ الِاسْتِنْجَاءِ بَعْدَ الْحَجَرِ، يُعْفَى عَنْهُ مَعَ نَجَاسَتِهِ. الضَّرْبُ الثَّانِي: طِينُ الشَّوَارِعِ. وَالنَّجِسُ يُعْفَى قَلِيلُهُ دُونَ كَثِيرِهِ. وَالْقَلِيلُ: مَا يُتَعَذَّرُ الِاحْتِرَازُ مِنْهُ، وَالرُّجُوعُ فِيهِ إِلَى الْعَادَةِ، الضَّرْبُ الثَّالِثُ: دَمُ الْبَرَاغِيثِ، يُعْفَى عَنْ قَلِيلِهِ فِي الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ،

Bagian ke dua menerangkan tentang najis yang di ma’fu yaitu sebagai berikut: 1) Bekas dari apa yang tersisa di tempat istinja setelah menghalanginya, maka hal itu di maafkan walaupun masih ada najisnya. 2) Tanah di jalanan, najisnya di ma’fu jika hanya sedikit tapi tidak di ma’fu jika banyak. Ukuran sedikit disini maksudnya apa yang dirasa sulit untuk berlepas diri darinya dan mengembalikan pada asalnya. 3) Darah serangga, maka di ma’fu jika hanya sedikit yang terdapat pada pakaian dan badan. .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 1 hal. 279 | Imam

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

والكبد والطحال و من النجاسات الدم وإن تحلب من كبد أو نحو سمك أو بقي على نحو العظام لكنه معفو عنه

Hati, limpa dan najis-najis lain seperti darah yang walaupun dikeluarkan dari hati, ikan atau selainnya seperti tulang, semua hal tersebut di ma’fu. .

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 53 | Faisal

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

أن ما يعفى عن يسيره في الثوب، كالدم ونحوه، حكم الماء المتنجس به حكمه في العفو عن يسيره

Sesungguhnya najis yang dimaafkan karena hanya sedikit yang terdapat pada pakaian seperti darah dan sejenisnya. Hukum air yang terkena najis adalah sama hukumya yaitu di ma’fu jika hanya sedikit..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 24 | Syarif

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

وَلَا يُعْفَى عَنْ يَسِيرٍ مِنْ النَّجَاسَاتِ إلَّا الدَّمَ، وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُ مِنْ الْقَيْحِ وَالصَّدِيدِ

Najis yang sedikit tidak di ma’fu kecuali darah dan apa yang semisalnya seperti muntah dan nanah. .

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 1 hal. 325 | Imam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

والبول كله من كل حيوان إنسان أو غير إنسان، مما يؤكل لحمه أو لا يؤكل لحمه نحو ما ذكرنا كذلك، أو من طائر يؤكل لحمه أو لا يؤكل لحمه، فكل ذلك حرام أكله وشربه إلا لضرورة تداو أو إكراه أو جوع أو عطش فقط وفرض اجتنابه في الطهارة والصلاة إلا ما لا يمكن التحفظ منه إلا بحرج فهو معفو عنه كونيم الذباب ونجو البراغيث

Semua jenis air kencing mulai yang bersumber dari manusia ataupun hewan, dari yang bisa dimakan dagingnya ataupun tidak, atau dari jenis burung yang bisa dimakan dagingnya ataupun tidak. Maka semua itu diharamkan memakannya kecuali dalam keadaan darurat (obat) atau dipaksa atau kelaparan atau kehausan. Maka wajib menjauhinya dalam bersuci dan shalat kecuali apa yang tidak mungkin menjaga diri darinya kecuali karena kesulitan maka hal itu di ma’fu seperti kotoran lalat dan serangga..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 169 | Faisal

Baca Lainnya :