Wajibkah Ayah Muslim Menafkahi Anaknya yang Non Muslim?

Sun 15 November 2015 07:26 | 0
Ipung Multiningsih

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

(قال:) ولا يجبر المسلم على نفقة الكفار من قرابته ولا الكفار على نفقة المسلمين من قرابتهم؛ لأن هذا الاستحقاق بعلة ولاية الوراثة شرعا وبسبب اختلاف الدين ينعدم التوارث، إلا الوالدين والولد والزوجة

Seorang muslim tidak dipaksa untuk menafkahi keluarganya yang kafir, dan orang kafir tidak diwajibkan menafkahi keluargatnya yang muslim, Karena sesuai hak waris syar’I mereka tidak mendapatkan hak waris disebabkan perbedaaan agama. Kecuali orang tua, anak, istri, mereka tetap wajib mendapatkan nafkah. .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 226 | Ipung

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

واعتبار الولاية والإرث في هذه النفقة غير سديد؛ لأنها تجب مع اختلاف الدين

Kewalian dan hak waris dalam hal nafkah tidak menjadi penghalang, karena nafkah itu hukumnya wajib meskipun berbeda agama.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 4 hal. 33 | Ipung

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

...فأما في قرابة الولاد فاتحاد الدين فيهما ليس بشرط فيجب على المسلم نفقة آبائه وأمهاته من أهل الذمة ويجب على الذمي نفقة أولاده الصغار الذين أعطي لهم حكم الإسلام بإسلام أمهم ونفقة أولاده الكبار المسلمين الذين هم من أهل استحقاق النفقة... والثاني: أن وجوب النفقة في قرابة الولاد بحق الولادة لما ذكرنا أن الولادة توجب الجزئية والبعضية بين الوالد والولد وذا لا يختلف باختلاف الدين..

ولو كان للمسلم ابنان أحدهما مسلم والآخر ذمي فنفقته عليهما على السواء لما ذكرنا أن نفقة الولادة لا تختلف باختلاف الدين.

Adapun dalam hal kekerabatan anak , memiliki agama yang sama bukanlah syarat wajib nafkah. Maka wajib bagi muslim untuk menafkahi bapaknya dan ibu-ibunya yang dari ahli dzimmah, dan wajib dari seorang kafir ahli dzimmy memberi nafkah kepada anak-anaknya yang masih kecil yang diberi status keislaman dengan keislaman ibunya, dan wajib juga menafkahi anak-anaknya yang sudah besar yang beragama islam dimana mereka termasuk berhak menerima nafkah.

Dan yang kedua adalah : wajibnya memberi nafkah jika ada sebab hubungan anak karena kelahiran itu mewajibkan juz'iyyah dan ba'dhiyyah antara ayah dan anak maka dari itu tidaklah berbeda walaupun berbeda agama.

Jika seorang muslim memiliki dua anak, satu muslim dan yang lain kafir dzimmy, maka sang ayah wajib menafkahi mereka berdua dengan adil, sebagaimana yang telah kita sebutkan bahwa nafkah anak tidak berbeda walaupun agama nya berbeda. .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 4 hal. 36 | Ipung

Istilah juz'iyyah dan ba'dhiyyah: anak adalah bagian dari ayah. Abul Ma'ali (w. 616 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhith Al-Burhani sebagai berikut :

واختلاف الدينين يمنع الوراثة فيمنع القضاء بالنفقة إلا الزوجة والوالدين والوالد.

Adapun perbedaan agama dapat mencegah adanya warisan dan dapat menghalangi seseorang dari nafkah, kecuali nafkah kepada isti, orang tua dan anak. .

Abul Ma'ali, Al-Muhith Al-Burhani, jilid 3 hal. 586 | Ipung

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

قال - رحمه الله - (ولا تجب مع اختلاف الدين إلا بالزوجية والولاد) أي لا تجب لأحد النفقة مع اختلاف الدين إلا بسبب الزوجية وبسبب قرابة الولاد

(dan tidak wajib memberi nafkah jika saling berbeda agama kecuali hubungan pernikahan dan hubungan darah antara ayah dan anak) yaitu: tidaklah wajib bagi seseorang memberi nafkah sedangkan mereka beda agama, kecuali jika ada sebab hubungan pernikahan dan hubungan darah antara ayah dan anak....

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 3 hal. 63 | Ipung

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

(قوله ولا تجب مع اختلاف الدين إلا بالزوجية والولاد) أما الزوجية فلما ذكرنا أنها واجبة لها بالعقد لاحتباسها بحق مقصود له، وهذا لا يتعلق باتحاد الملة، وأما غيرها فلأن الجزئية ثابتة وجزء المرء في معنى نفسه فكما لا تمتنع نفقة نفسه بكفره لا تمتنع نفقة جزئه إلا أنهم إذا كانوا حربيين لا تجب نفقتهم على المسلم وإن كانوا متساويين؛ لأنا نهينا عن البر في حق من يقاتلنا في الدين أطلق في الولاد فشمل الأبوين والأجداد والجدات والولد وولد الولد

(tidaklah wajib memberi nafkah jika ada perbedaan agama, kecuali jika ada hubungan pernikahan dan kekeluargaan) adapun hubungan pernikahan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa hukumnya wajib karena adanya akad yang menjadikan si istri berhak mendapatkan hak tersebut.

Adapun yang lainnya (kekeluargaan) karena adanya juz'iyyah yang tetap, dan jika seseorang adalah bagian dari seseorang itu berarti ia tidak bisa mencegah nafkah dari bagiannya, sebagaimana ia tidak bisa mencegah dirinya untuk menfkahi dirinya sendiri karena kekafiran , kecuali jika yang diberi nafkah adalah kafir harbi, maka tidak wajib seorang muslim memberi mereka nafkah walupun derajat mereka sama.Karena kita dilarang menolong mereka yang memerangi kita dalam hal agama. Dan yang termasuk yang wajib di beri nafkah karena hubungan kekeluargaan diantaranya: kedua orang tua, kakek, nenek, anak, cucu. .

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 4 hal. 225 | Ipung

Al-Mawaq (w. 897 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taju wa Al-Iklil sebagai berikut :

وينفق الكافر على المسلم، والمسلم على الكافر وهم في ذلك كالمسلمين لأنه حكم بين مسلم وكافر فيحكم بينهما بحكم الإسلام.

Non muslim wajib menafkahi muslim, dan orang muslim wajib menafkahi non muslim, mereka dalam masalah kewajiban nafkah ini seperti hukum yang ada sesama muslim, karena begitulah hukum bagi muslim dan non muslim> bagi keduanya diberlakukan hukum islam. .

Al-Mawaq, At-Taju wa Al-Iklil, jilid 5 hal. 585 | Isna

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

ولا يشترط المساواة في الدين بل ينفق المسلم على الكافر والكافر على المسلم، وتستمر النفقة في حق الأبوين للموت أو لحدوث مال، وفي الولد الذكر لبلوغه صحيحا، وفي الأنثى حتى تتزوج

Kesamaan agama tidak menjadi syarat, melainkan seorang muslim wajib menafkahi non muslim, dan non muslim juga menafkahi yang muslim. Kewajiban menafkahi kedua orang tua berlaku sampai mereka meninggal atau mengalami kesukaran pada harta, dan nafkah untuk anak laki-laki sampai dia baligh, dan untuk anak perempuan sampai dia menikah. .

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 4 hal. 211 | Isna

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

نفقة القرابة تجب مع اتفاق الدين ومع اختلافه، فإن كان أحدهما مسلما والآخر كافرا لم يمنع ذلك من وجوب النفقة، لانه حق يتعلق بالولادة فوجب مع اتفاق الدين واختلافه ... ولا تجب النفقة لغير الوالدين والمولودين من القرابة كالاخ وابن الاخ والعم وابن العم

Wajib menafkahi kerabat dekat baik terdapat kesamaan dalam hal agama maupun tidak. Jika salah satunya muslim dan yang lain kafir, hal ini tidak menghalangi kewajiban nafkah, karena merupakan hak yang berhubungan dengan ikatan orang tua dan anak maka tetap wajib menafkahi, baik agamanya sama ataupun berbeda... Dan tidak wajib menafkahi kerabat yang tidak memiliki hubungan orang tua - anak, seperti terhadap saudara laki-laki, keponakan, paman, dan sepupu... .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 18 hal. 297 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

تجب النفقة بقرابة البعضية، فتجب للولد على الوالد وبالعكس، وسواء فيه الأب والأم والأجداد والجدات وإن علوا، والبنون والبنات والأحفاد وإن نزلوا، الذكر والأنثى والوارث وغيره والمسلم والكافر من الطرفين

Nafkah itu wajib kepada kerabat 'Ba'dhiyyah'. Maka anak wajib menafkahi ayahnya begitupun sebaliknya, baik kepada ayah, ibu, para kakek dan nenek dan seterusnya, dan anak-anak laki-laki dan perempuan, para cucu, dan seterusnya, walaupun keturunannya laki-laki dan perempuan, ahli waris atau bukan, muslim atau kafir, dari kedua belah pihak. .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 9 hal. 83 | Qathrin

Al-Hishni (w. 829 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Kifayatul Akhyar sebagai berikut :

, النفقة ... ويوجبها ثلاثة أسباب ... وأما السبب الأول القرابة , فيوجب لكل منهم على الآخر لشمول البعضية والشفقة ... ولا فرق بين اتفاق الدين والاختلاف فيه

Nafkah... sebab yang mewajibkannya ada tiga ... yang pertama, Hubungan kekerabatan. Maka wajib masing-masing dari mereka menafkahi yang lain karena 'Ba'dhiyyah' dan kasih sayang yang sangat kuat ... dan tidak dibedakan antara yang seagama atau berbeda agama.. .

Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, jilid 1 hal. 437 | Qathrin

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

يلزمه نفقة الوالد وإن علا والولد وإن سفل وإن اختلف دينهما بشرط يسار المنفق

Wajib menafkahi ayah atau anak dan rantai nasab mereka baik ke atas maupun ke bawah meskipun berbeda agama dengan syarat 'kemapanan' yang menafkahi... .

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 265 | Qathrin

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

(يلزمه نفقة الوالد وإن علا والولد وإن سفل) . والأصل في الأول قوله تعالى: {وصاحبهما في الدنيا معروفا} [لقمان: 15] ... (وإن اختلف دينهما) فيجب على المسلم منهما نفقة الكافر المعصوم وعكسه لعموم الأدلة ولوجود الموجب وهو البعضية

(Wajib menafkahi orang tua dan anak dan rantai nasab mereka baik ke atas maupun ke bawah). Dalil asalnya adalah firman Allah : "Dan pergaulilah mereka (orang tua) di dunia dengan baik", (Luqman : 15) ... (Walau berbeda agama) maka wajib (bagi ayah atau anak) menafkahi orang kafir yang berada dalam tanggungannya jika salah satu dari mereka muslim, begitupun sebaliknya, berdasarkan keumuman dalil dan adanya penyebab yang mengharuskan yaitu 'Ba'dhiyyah'. (gitu?) .

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 5 hal. 183 | Qathrin

Ar-Ruhaibani (w. 1243 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Mathalib Ulin Nuha sebagai berikut :

والميراث والنفقة أمر متوهم، وذلك مجبور بحصول الميراث للمسلمين، وسقوط نفقة أقاربه الكفار

Masalah waris dan nafkah merupakan urusan yang tidak jelas, dalam hal ini orang muslim wajib dapat bagian dari harta warisan, dan gugurnya menafkahi kerabat yang kafir.

Ar-Ruhaibani, Mathalib Ulin Nuha, jilid 2 hal. 290 | Azizah

Baca Lainnya :

Syarat Bagi Istri Yang Berhak Mendapat Nafkah
Miratun Nisa | 31 October 2015, 00:58 | approved
Istri, Anak, Ayah dan Ibu, Siapakah Yang Lebih Utama Diberi Nafkah?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 00:51 | approved
Nafkah Untuk Istri, Haruskah Diberikan Setiap Bulan?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 01:18 | approved
Berapakah Kadar Makanan Yang Wajib Diberikan Sebagai Nafkah?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 01:43 | draft
Jika Suami Tidak Mampu Memberi Nafkah, Bolehkah Talak?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 01:33 | draft
Jika Suami Tidak Memberi Nafkah, Apakah Jadi Hutang?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 01:54 | draft
Wajibkah Anak Memberi Nafkah Pada Orang Tuanya Yang Kaya?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 02:04 | draft
Wajibkah Ayah Muslim Menafkahi Anaknya yang Non Muslim?
Ipung Multiningsih | 15 November 2015, 07:26 | published
Hukum Nafkah bagi isteri yang belum baligh
Siska | 10 November 2015, 17:07 | draft
Hukum nafkah bagi isteri karena suami yang menghilang sebelum dukhul
Siska | 10 November 2015, 17:16 | draft
Hukum nafkah bagi isteri karena suami yang menghilang setelah dukhul
Siska | 10 November 2015, 17:22 | draft
Apakah Seorang Ibu Berhak Mendapat Upah Dari Mengasuh Dan Menyusui Anaknya ?
Achadiah | 22 November 2015, 22:25 | published