Apakah calon suami harus “rasyid”?

Sat 14 November 2015 23:23 | 0
Qathrin Izzah Fithri

Sebagian ulama mengatakan bahwa rasyid adalah syarat bagi calon suami. Apa itu rasyid?

Rasyid adalah seseorang yang mempunyai hak untuk menggunakan hartanya. Inilah alasan mengapa sebagian ulama menjadikan rasyid sebagai syarat dalam pernikahan. Karena pernikahan banyak terkait dengan harta seperti membayar mahar, memberi nafkah, dan lain-lain. Jika suami tidak memiliki sifat rasyid, dikhawatirkan kelak menghambat laju rumah tangga.

Di dalam pembahasan ini ulama juga banyak menggunakan istilah safih. Safih adalah kebalikan dari Rasyid, yakni tidak berhak menggunakan harta baik karena dia boros, bangkrut, dll.

Ada juga yang menggunakan istilah mahjur 'alaih. Dan mahjur 'alaih ini lebih luas dari safih. Yang termasuk dalam kategori mahjur 'laih ada tiga yakni anak kecil, orang gila, dan safih.

Untuk lebih jelasnya kita baca langsung pendapat para ulama di bawah ini.

 

Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani (w. 189 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hujjah Ala Ahli al-Madinah sebagai berikut :

باب نكاح السفيه - محمد قال قال ابو حنيفة رضي الله عنه اذا تزوج الفاسق السفيه والمولى عليه هذا يكون معتوها امرأة بصداق مثلها فهو جائز ولا ينبغي ان ينقض النكاح

Bab nikah safih ( yang tidak boleh mengelola/menggunakan harta mereka sendiri) Muhammad berkata: Imam Abu Hanifah radiyallahu anhu berkata: apabila seseorang yang yang fasiq lagi safih menikahi seorang perempuan dengan mahar mitsl, maka pernikahan itu boleh dilakukan dan tidak harus di batalkan, walaupun wali nikahnya juga seorang yang safih..

Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani, Al-Hujjah Ala Ahli al-Madinah, jilid 3 hal. 436 | Ipung

Ma'tuh : orang yang kurang akalnya.

Maka pernikahan seorang yang safih adalah sah. Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

وذكر خواهر زاده في "مبسوطه " من جملة الخصال الأربع النكاح، والطلاق، فقال: لا يجوز طلاق الصبي العاقل، ويجوز طلاق السفيه، وكذا يجوز نكاح السفيه ولا يجوز نكاح الصبي العاقل،

Dan khawahir menambahkan dalam mabsuthnya dari 4 sifat dalam pernikahan dan thalaq, tidak sah thalaq nya anak kecil yang berakal, dan sah thalaqnya orang yang safih, sebagaimana sahnya pernikahan orang yang safih, dan tidak sah pernikahan anak kecil yang berakal. .

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 11 hal. 98 | Ipung

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

(ويصح تزوجه) أي تزوج السفيه ملابسا (بمهر المثل) وإنما صح نكاحه

sah pernikahan seorang yang safih dengan membayar (mahar mitsl),hukum pernikahannya sah .

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 2 hal. 440 | Ipung

Madzhab Hanafi tidak mensyaratkan suami harus rasyid, karena mereka berpendapat bahwasannya sah pernikahan seorang yang safih.

Dan Rasyid adalah: bermakna tidak safih Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

وأما الزوجان فيعتبر فيهما سبعة أوصاف: (الوصف الرابع) الرشد فإن تزوج السفيه بغير إذن وليه أمضاه إن كان سدادا وإلا رده فإن رده قبل البناء فلا صداق وبعده ربع دينار

Tujuh sifat yang diharuskan bagi pasangan suami istri

Sifat yang keempat adalah rusyd, Jika seseorang yang kurang akalnya menikah tanpa seijin walinya, maka pernikahannya boleh tetap dilangsungkan jika sesuai. Namun, jika tidak sesuai maka wali menolaknya, jika penolakannya itu sebelum terjadi hubungan suami istri, maka tidak perlu ada mahar, dan jika setelah terjadi hubungan tersebut dia harus membayar seperempat dinar..

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 132 | Isna

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

وعقد السفيه ذو الرأي بإذن وليه (ش) أي وعقد السفيه له ولغيره على وليته إذا كان له رأي بإذن وليه، فإن لم يكن له ولي وهو ذو رأي جاز إنكاحه اتفاقا وانظر لو عقد ذو الرأي بغير إذن وليه والظاهر أنه ينظر وليه. وأما ضعيف الرأي فيفسخ والمراد بالرأي العقل والدين وهذان لا ينافيان السفه.

Akad orang safih (tidak rusyd) yang memiliki ra’yi dengan ijin walinya, baik akad nikah untuk dirinya sendiri, ataupun akad untuk menikahkan orang yang dibawah perwaliannya kesemuanya harus seperjijinan walinya. Jika tidak memilki wali, sedang dia orang yang memilki ra’yi, maka dia boleh menikahkan menurut pendapat yang disepakati ulama, tapi kalau dia mempunyai wali, kemudian berakad tanpa seijinnya, maka dilihat bagaimana pendapat walinya, Karena menurut pendapat yang jelas walinya berhak memberi pendapat atau pandangan. Dan kalau dia orang yang lemah ra’yinya, maka akadnya harus difasakh. Maksud dari ra’yi disini adalah akal dan agamanya, kedua sifat ini tidak menghalangi kesafihannya. .

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 189 | Isna

Yahya Al-Imrani (w. 558 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafiiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bayan fii Mazhab Imam Asy-Syafi'i sebagai berikut :

[فرع: نكاح المحجور عليه]

ولا يصح نكاحه بغير إذن الولي؛ لأن النكاح يتضمن وجوب المال، فلم يصح بغير إذن الولي. وإن احتاج إلى النكاح.. فالولي بالخيار: إن شاء.. زوجه بنفسه، وتولى العقد، وإن شاء.. أذن له ليعقد بنفسه؛ لأنه عاقل مكلف، وإنما حجرنا عليه لحفظ ماله، بخلاف الصبي.

(Tentang Pernikahan 'Mahjur 'alaih)

Tidak sah pernikahan 'mahjur 'alaih' tanpa izin dari wali, karena pernikahan membutuhkan harta, maka tidak sah tanpa izin dari wali. Jika dia sangat ingin menikah, maka wali berhak memutuskan. Jika wali setuju, maka dia sendiri yang menikahkan, melakukan akad. Atau bisa juga wali mengizinkan 'mahjur 'alaih' untuk melakukan akad; karena dia berakal dan mukallaf. Sedangkan pembatasan haknya semata-mata untuk menjaga hartanya, dan ini tidak sama dengan 'shabi'. .

Yahya Al-Imrani, Al-Bayan fii Mazhab Imam Asy-Syafi'i, jilid 6 hal. 234 | Qathrin

Mahjur 'alaih adalah orang yang tidak memiliki hak penuh untuk menggunakan hartanya dan semua hal yang berkaitan dengan penggunaan harta harus dengan izin wali.

Shabi adalah istilah untuk anak yang baru dilahirkan hingga disapih. An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

فرع إذا طلب السفيه النكاح ... وجب على الولي إجابته. فإن امتنع فتزوج السفيه بنفسه، فقد أطلق الأصحاب في صحة النكاح وجهين. أصحهما عند المتولي: لا يصح. وقال الإمام والغزالي: إذا امتنع الولي، فليراجع السفيه السلطان كالمرأة المعضولة.

Jika seorang 'Safih' ingin menikah ... maka wali wajib mengabulkannya. Namun jika wali melarang, kemudian orang yang 'Safih' memutuskan menikah sendiri, para ulama dalam madzhab ini terbagi menjadi dua pendapat. Pendapat yang paling shahih : Tidak sah. Imam Syafi'i dan Imam Al-Ghazali berkata : JIka wali melarang, maka dikembalikan hak 'safih' kepada pemimpin sebagaimana wanita yang dinikahkan oleh wali 'adhl .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 100 | Qathrin

Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

(ولو نكح السفيه) السابق وهو المحجور عليه (بلا إذن) من وليه ... (فباطل) نكاحه لإلغاء عبارته فيفرق ...

(Jika seorang yang 'safih' menikah) yakni orang yang tidak punya hak untuk mengambil keputusan (tanpa izin) dari walinya ... (tidak sah) pernikahannya karena keputusannya tidak dianggap, maka mereka harus dipisahkan....

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 7 hal. 91 | Qathrin

Al-Qalyubi wa Umairah (w. 1069 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyata Al-Qalyubi wa Umairah sebagai berikut :

(ولو نكح السفيه بلا إذن فباطل) فيفرق بينهما (فإن وطئ لم يلزمه شيء) وإن لم تعلم الزوجة سفهه للتفريط بترك البحث عنه

وقيل) يلزمه (مهر مثل) لشبهة النكاح المسقطة للحد

(Jika seorang 'safih' menikah tanpa izin maka pernikahannya tidak sah) dan mereka harus dipisahkan. (Jika dia telah berjima' maka tidak ada kewajiban mahar baginya) jika istri tidak tahu bahwa suaminya 'safih' karena lalai tidak mencari tahu sebelumnya.

(pendapat lain) wajib atas suami membayar (mahar mitsl) karena terjadinya pernikahan syubhat yang menggugurkan 'had'.

.

Al-Qalyubi wa Umairah, Hasyiyata Al-Qalyubi wa Umairah, jilid 3 hal. 239 | Qathrin

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

[فصل في تصرفات المحجور عليه] فصل وإن أذن له في النكاح، صح منه؛ لأن حاجته تدعوه إلى ذلك. ... وقال القاضي: يصح من غير إذن الولي؛ لما ذكرنا.

Fasl tentang Hak 'Mahjur 'alaih'

Jika dia telah diizinkan untuk menikah, maka pernikahnnya sah, karena merupakan kebutuhannya.. Qadhi Ibnu Qudamah berkata : Sah meski tidak mendapat izin dari wali, dalam perkara yang telah disebutkan... .

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 2 hal. 113 | Fatimah

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

[فصل حكم نكاح المحجور عليه للسّفه] (5223) فصل: في المحجور عليه للسّفه والكلام في نكاحه في ثلاثة أحوال؛ أحدها، أنّ لوليّه تزويجه، إذا علم حاجته إلى النّكاح؛الحال الثّاني، أنّ للوليّ أن يأذن له في التّزويج في الحالة الّتي للوليّ تزويجه فيها، وهي حالة الحاجة؛ لأنّه من أهل النّكاح، فإنّه عاقل مكلّف، ولذلك يملك الطّلاق والخلع، فجاز أن يفوّض إليه ذلك، ثمّ هو مخيّر بين أن يعيّن له المرأة، أو يأذن له مطلقا. الحال الثّالث، إذا تزوّج بغير إذن. فقال أبو بكر: يصحّ النّكاح، أومأ إليه أحمد، قال القاضي: يعني إذا كان محتاجا، فإن عدمت الحاجة لم يجز؛ لأنّه إتلاف لماله في غير فائدة.

Fasal: Hukum nikah orang yang tidak mempunyai hak dalam mengelola harta karena kesafihannya

Orang yang tidak mempunyai hak dalam mengelola harta karena kesafihannya,dalam hal ini ada tiga pendapat:

Pertama: Walinya boleh menikahkannya, jika walinya mengetahui kebutuhannya untuk menikah.

Kedua: Wali berhak memberinya ijin untuk menikahkan dalam kondisi dimana wali boleh menikahkannya, yaitu jika dibutuhkan, karena dia mempunyai hak menikah, dia berakal dan mukallaf, serta memilki hak untuk menthalaq dan bisa dikhuluq, maka wali boleh melimpahkan itu kepada si safih, kemudian si safih diberi pilihan untuk dipilihkan atau memilih sendiri wanitanya secara mutlak.

Ketiga:Jika dia menikah tanpa ijin walinya, maka Abu Bakar mengatakan: sah nikahnya, sebagaimana yang diisyaratkan Ahmad. Qadhi(Ibnu Qudamah)mengatakan, jika dia membutuhkan sah nikahnya, kalau tidak membutuhkan maka tidak sah, karena hanya membuang-buang hartanya tanpa faidah. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 53 | Fatimah

Dari pemaparan para ulama di atas bisa disimpulkan bahwa :

1. Mayoritas para ulama mazhab Al-Hanafiyah, Asy-Syafi'iyah, Al-Malikiyah, dan Al-Hanabilah menganggap rasyid bukan syarat sah, maka boleh saja seorang safih menikah baik dinikahkan oleh walinya, atau menikah sendiri dengan izin dari wali.

2. Jika seorang safih menikah tanpa izin wali, maka hampir semua sepakat bahwa pernikahan tersebut sah, kecuali mazhab Asy-Syafi'iyyah. Mazhab inilah yang nampaknya yang paling menitik beratkan syarat rasyid dalam kriteria calon suami.

Wallahu a'lam.

Baca Lainnya :

Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Zina
Siti Sarah Fauzia | 12 September 2015, 13:18 | draft
Hukum Nikah Untuk Sementara
Fatimah Khairun Nisa | 12 September 2015, 13:19 | draft
Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina
Zuria Ulfi | 7 May 2015, 13:22 | published
Nikah Dengan Niat Talaq
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:19 | draft
Suami/istri Murtad, Fasakh atau Talaq?
Siti Maryam | 31 October 2015, 06:13 | draft
Hukum Menikah Dengan Wanita Ahli Kitab
Isnawati | 18 July 2015, 13:20 | published
Hukum Nikah Siri
Siti Maryam | 12 September 2015, 13:21 | published
Hukum Nikah Syighar
Isnawati | 10 October 2015, 13:21 | published
Nikah Muhallil
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:21 | draft
Jika seorang istri masuk islam, namun suaminya tidak, bagaimana status perkawinan mereka?
Siti Maryam | 31 October 2015, 06:09 | draft
Hukum menikah waktu ihram:
Isnawati | 31 October 2015, 06:25 | approved
Apakah calon suami harus “rasyid”?
Qathrin Izzah Fithri | 14 November 2015, 23:23 | published
Dinikahkan Oleh Bukan Walinya, Bagaimana Status Pernikahannya?
Isnawati | 31 October 2015, 06:26 | approved
Bolehkah Suami Mentalak Istri dan Langsung Menikahi Adiknya?
Isnawati | 31 October 2015, 06:54 | approved
Menikahi Wanita dalam Masa Iddah dan Menggaulinya, Bagaimana Hukumnya?
Ipung Multiningsih | 31 October 2015, 09:39 | approved