Dalam Menentukan Nasab Anak, Bolehkah Menyandarkan Pada Pendapat Qaffah

Sat 31 October 2015 06:13 | 0
Zuria Ulfi

Al-qiyafah merupakan satu metode yang digunakan oleh masyarakat arab dalam menentukan nasab seorang anak yang tidak diketahui kejelasan asal usulnya. Dahulu, metode ini juga pernah digunakan Rasulullah SAW dalam menentukan nasab Usamah bin Zaid, anak dari Zaid bin Haritsah.

Secara bahasa al-qiyafah dapat diartikan sebagai pelacakan jejak. Dalam masyarakat arab, al-qaffah merupakan istilah untuk menyebut salah satu kaum yang dapat mengidentifikasi seseorang berdasarkan ciri-ciri fisik yang dimilikinya. Metode al-qiyafah sangat membantu dalam menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara dua orang yang sama-sama mengakui seorang anak.

Lantas apakah perkataan al-qaffah (pelaku qiyafah) dapat dijadikan rujukan untuk menentukan nasab seseorang?

Ulama berbeda pendapat tentang ketentuan penetapan nasab dengan metode qiyafah. Jumhur ulama bersepakat bahwa pendapat al-qaffah dapat dijadikan rujukan untuk menentukan nasab seseorang. Berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan para ulama madzhab hanafi, yang mengatakan bahwa nasab anak tersebut dikembalikan kepada kedua orang yang berselisih.

Berikut pemaparan lengkap dari para ulama :

 

Al-Jashash (w. 370 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar ath-Thahawi li al-Jashash sebagai berikut :

مسألة: [تنازع مسلمين ابن جارية لهما، وإثبات بطلان قول القافة] قال أبو جعفر:وإن كانت بين مسلمين، فادعياه جميعا معا: جعل ابنهما، وجعلت الأمة أم ولد لهما

Masalah : Anak dari budak wanita yang dimiliki oleh dua orang muslim dan batalnya perkataan "qaffah". Menurut Abu Ja'far : Apabila seorang budak wanita dimiliki oleh dua laki-laki muslim, kemudian keduanya mengaku bahwa anak yang dilahirkan budak wanita tadi adalah anak mereka, maka anak tersebut adalah anak keduanya. Dan budak wanita tadi adalah ibu sang anak.

Al-Jashash, Syarh Mukhtashar ath-Thahawi li al-Jashash, jilid 8 hal. 221 | Zuria

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

قال: وإن كان عبد في يد رجل فأقام آخر البينة أنه عبده ولد في ملكه من أمته هذه ومن عبده هذا، وأقام آخر البينة على مثل ذلك فإنه يقضى بها بينهما نصفان لاستوائهما في الحجة على الولادة في الملك، ثم قال، ويكون الابن من الأمتين والعبدين جميعا …...وحجتنا في إبطال المصير إلى قول القائف

Apabila ada seorang budak berada dibawah kepemilikan seseorang, kemudian datanglah orang yang mengaku bahwa budak tersebut dilahirkan oleh budaknya, dan pada saat yang sama orang yang pertama tadi juga mengatakan hal yang serupa, maka ditetapkanlah kepemilikan anak tersebut atas mereka berdua, dan sang anak merupakan anak dari pasangan budak milik kedua orang yang berseteru diatas....dan pendapat dalam mazhab kami yaitu batalnya menyandarkan pendapat kepada qaffah..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 17 hal. 69 | Zuria

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

وإذا أصاب أمة رجلان فأتت بولد فألحقته القافة بأحدهما وقعت الحرمة بينه وبين الآخر قاله محمد …وفي الأمة تلحق القافة الولد بأحدهما تسقط أبوة الآخر

Jika seorang budak perempuan dijima’ oleh dua orang laki-laki kemudian ia melahirkan seorang anak dan al qaafah telah menentukan nasabnya kepada salah satu dari dua laki-laki tersebut maka terjadilah hurmah antara anak tersebut dan laki-laki yang lain (kedua). Ini adalah pendapat Muhammad...Dan dalam kasus budak perempuan yang dijima' oleh dua orang laki-laki kemudian jika al-qaafah menasabkan anak tersebut kepada salah satu dari mereka, maka gugurlah status ayah dari laki-laki kedua..

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 4 hal. 280 | Maryam

Al-Mawaq (w. 897 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taju wa Al-Iklil sebagai berikut :

وإذا ولدت زوجة رجل وأمة آخر واختلطا عينته القافة) أشهب من نزل على رجل له أم ولد حامل فولدت هي وولدت امرأة الضيف في ليلة صبيين فلم تعرف كل واحدة منهما ولدها دعي لهما القافة

(Jika seorang istri melahirkan dan budak perempuan juga melahirkan kemudian bayi mereka tercampur, maka ditentukan oleh al qaafah (orang yang dapat menentukan nasab sesuai ciri-ciri fisik)). Pendapat Asyhab, jika ada seseorang yang menginap dirumah laki-laki yang memiliki ibu dari budaknya, dan ibunya budak itu sedang hamil kemudian melahirkan, sedangkan istri dari tamu tadi juga melahirkan dimalam yang sama. Pada saat itu, kedua wanita tersebut tidak mengetahui (tidak dapat menentukan) anaknya maka dapat dipanggil al qaafah untuk mereka..

Al-Mawaq, At-Taju wa Al-Iklil, jilid 7 hal. 263 | Maryam

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

أن يمكن لحوقه بكل واحد منهما لولادته لأقل من أربع سنين من طلاق الأول ولأكثر من ستة أشهر من إصابة الثاني فيعرض على القافة ولا يعتبر تصادقهما عليه

Anak tersebut mungkin untuk dinasabkan kepada salah satu laki-laki yang menjima' ibunya, apabila kelahiranya kurang dari 4 tahun dari thalaq pertamanya. Tetapi, apabila lebih dari 6 bulan dari jima’nya dengan suami keduanya, maka selayaknya anak tersebut diperlihatkan kepada qafah, dan pengakuan kedua laki-laki tersebut tidak berlaku..

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 10 hal. 317 | Achad

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وان كانت له زوجة يلحقه ولدها ووطئها رجل بالشبهة وادعى الزوج أن الولد من الواطئ عرض معهما على الفافة

Apabila seorang suami memiliki istri yang anaknya dinasabkan kepadanya, sedangkan istrinya juga pernah dijima' laki-laki lain dalam hubungan yang syubhat, dan suaminya menganggap anak tersebut adalah keturunannya, maka selayaknya mereka menentukan nasab anaknya berdasarkan pendapat qafah..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 17 hal. 406 | Achad

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

فإن ادعى نسبه رجلان، ولأحدهما بينة، فهو ولده؛ لأن له حجة، فإن كان لهما بينتان، أو لا بينة لهما، عرض على القافة معهما،

Jika terdapat bayi yang diakui nasabnya oleh dua orang laki-laki dan salah satu dari keduanya mempunyai bukti maka bayi tersebut adalah anaknya. Karena ia mempunyai alasan. Jika kedauny mempunyai bukti atau keduanya tidak mempunyai bukti sama sekali, maka bayi tersebut dibawa ke qaafaah bersama dua laki-laki tersebut..

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 2 hal. 206 | Nisa

Wallahu a'lam bish showab