|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

وإذا ارتد المسلم بانت منه امرأته مسلمة كانت أو كتابية دخل بها أو لم يدخل بها

Apabila suami muslim kemudian ia murtad, maka jatuh talak bagi istrinya, muslim ataupun kitabiyah, setelah atau sebelum jima'.

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 49 | Zuria

Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

قال: وإذا ارتد أحد الزوجين عن الإسلام- والعياذ بالله تعالى - وقعت الفرقة بينهما بغير طلاق سواء دخل بها، أو لم يدخل، وهذا عند أبي حنيفة، وأبي يوسف، وقال محمد: إن كانت الردة من الزوج فهي فرقة بطلاق وإن كانت منها فهو كما قالا.

Menurut Imam Abu Hanifah dan Abu Yusuf, jika salah satu diantara suami-istri murtad, maka mereka harus dipisahkan tapi perpisahannya tidak disebut talak, baik setelah terjadinya dukhul ataupun sebelum dukhul (jima'). Dan menurut Muhammad, jika suami yang murtad maka status perpisahan mereka disebut talak, namun bila yang murtad adalah istri maka tidak disebut talak .

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 5 hal. 247 | Zuria

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

وارتداد أحد الزوجين أي تبدل اعتقاد الإسلام بالكفر حقيقة على أحدهما كما إذا تمجس، أو تنصر .... (فسخ) أي رفع لفقد النكاح حتى لا ينتقص به عدد الطلاق سواء كانت موطوءة، أو غيرها عند الشيخين.

Pendapat dua syaikh dalam mazhab hanafi (Abu Yusuf dan Muhammad Hasan);jika salah satu diantara suami-istri murtad yaitu memeluk agama majusi atau nasrani,.....maka pernikahan mereka difasakh, yaitu membatalkan adanya pernikahan sehingga tidak mengurangi jumlah talak, sesudah ataupun sebelum jima'..

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 372 | Zuria

Al-Imam Malik (w. 179 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mudawwanah Al-Kubra sebagai berikut :

قلت: أرأيت إذا ارتد أيجعله مالك طلاقا أم لا؟ قال: قال مالك: إذا ارتد الزوج كانت طلقة بائنة، لا يكون للزوج رجعة إن أسلم في عدتها.

Saya bertanya: Bagaimana pendapatmu, jika suami murtad apakah imam malik menjadikannya talak atau bukan? Ia menjawab: Imam malik berpendapat bahwa jika suami murtad maka terjadilah talak bain, suami tidak boleh rujuk walaupun ia masuk islam pada masa idah istri. .

Al-Imam Malik, Al-Mudawwanah Al-Kubra, jilid 2 hal. 226 | Maryam

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

(الفرع الأول) إن ارتد أحد الزوجين انقطعت العصمة بفسخ

Jika salah seorang dari suami istri murtad maka terputuslah ikatan pernikahan mereka dengan fasakh. .

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 0 hal. 132 | Maryam

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

يعني أن أحد الزوجين إذا ارتد فإن الفرقة تقع بينهما بطلقة بائنة على مذهب المدونة لا رجعية خلافا للمخزومي وثمرة الخلاف عدم رجعتها إن تاب في العدة على الأول لا الثاني

Bahwasanya jika salah seorang dari suami istri murtad maka mereka dipisahkan dengan talak bain menurut madzhab al mudawanah, bukan talak raj’i berbeda dengan pendapat al makhzumi. Dan konsekuensi dari perbedaan pendapat ini adalah tidak adanya rujuk jika suami bertaubat dalam masa idah istri menurut pandangan madzhab pertama, namun hal ini tidak berlaku dimadzhab yang kedua..

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 229 | Maryam

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

وإذا ارتد أحد الزوجين ولم يدخل بالمرأة فقد بانت منه والبينونة فسخ بلا طلاق

Apabila suami atau istri murtad sebelum dukhul maka telah terjadi fasakh bukan thalak..

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 6 hal. 173 | Achad

Yahya Al-Imrani (w. 558 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafiiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bayan fii Mazhab Imam Asy-Syafi'i sebagai berikut :

إذا ارتد أحد الزوجين، فإن كان قبل الدخول انفسخ نكاحهما.........وإن ارتد أحدهما بعد الدخول وقف النكاح على انقضاء عدة الزوجة، فإن رجع المرتد منهما إلى الإسلام قبل انقضاء عدتها فهما على النكاح. وإن انقضت عدتها قبل أن يسلم المرتد منهما بانت منه بردة المرتد منهما

Apabila Suami atau istri murtad sebelum dukhul, maka pernikahan mereka dihukumi fasakh, tetapi apabila terjadinya setelah dukhul, maka status pernikahan mereka digantung sampai selesainya masa iddah, apabila ia kembali masuk islam sebelum selesainya masa iddah, maka status mereka masih dalam pernikahan, tetapi apabila selesai masa iddahnya sedangkan ia masih dalam keadaan murtad, maka statusnya adalah thalaq. .

Yahya Al-Imrani, Al-Bayan fii Mazhab Imam Asy-Syafi'i, jilid 9 hal. 53 | Achad

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

وإذا ارتد الزوجان، أو أحدهما قبل الدخول انفسخ النكاح، لاختلاف دينهما، أو كون المرأة بحال لا يحل نكاحها. وإن كان بعده ففيه روايتان: إحداهما: تتعجل الفرقة. والثانية: تقف على انقضاء العدة. فإن اجتمعا على الإسلام قبل انقضائها فهما على النكاح. وإن لم يجتمعا وقعت الفرقة من حين الردة

Jika pasangan suami-istri murtad atau salah satu dari keduanya sebelum dukhul maka pernikahan mereka difasakh karena agama keduanya berbeda, atau keadaan perempuan tersebut tidak halal untuk dinikahi, namun jika sudah dukhul maka terdapat dua riwayat: 1. mereka segera dipisahkan 2. Ditunda hingga selesai masa idah istri. Jika keduanya masuk islam sebelum selesai idah maka mereka tetap dalam ikatan pernikahan mereka. Namun jika tidak maka mereka dipisahkan dari semenjak murtad. .

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 54 | Nisa

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

[مسألة ما يقع به فسخ النكاح بعد صحته] ثالثها - أن يرتد هو دونها. ورابعها - أن ترتد هي دونه. وخامسها - أن يرتدا معا. ففي كل هذه الوجوه ينفسخ نكاحهما

Masalah tentang terjadinya fasakh pasca sahnya akad nikah 3. Jika hanya suami yang murtad, sedangkan istri tidak. 4. Jika Istri murtad, sedangkan suami tidak. 5. Jika keduanya murtad. Semua bentuk diatas memfasakh pernikahan mereka. .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 330 | Nisa

Baca Lainnya :