|


 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

أن الزوجين الكافرين إذا أسلم أحدهما في دار الإسلام، فإن كانا كتابيين، فأسلم الزوج، فالنكاح بحاله؛ لأن الكتابية محل لنكاح المسلم ابتداء، فكذا بقاء، وإن أسلمت المرأة لا تقع الفرقة بنفس الإسلام عندنا، ولكن يعرض الإسلام على زوجها، فإن أسلم بقيا على النكاح، وإن أبى الإسلام، فرق القاضي بينهما

Apabila suami istri kafir atau ahli kitab dan mereka berada dalam negara islam kemudian si suami masuk islam, maka status pernikahan keduanya tetap sah karena dalam islam boleh menikahi wanita kitabiyah. Namun bila istri yang lebih dulu memeluk islam, maka dalam madzhab kami tidak langsung terjadi perpisahan, tetapi suami ditawarkan lebih dulu untuk masuk islam. Jika ia menerima dan masuk islam, maka pernikahan mereka tetap seperti sebelumnya, namun jika suami menola maka hakim memisahkan keduanya.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 336 | Zuria

Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

وإذا أسلمت المرأة وزوجها كافر عرض القاضي عليه الإسلام، فإن أسلم فهي امرأته، وإن أبى فرق بينهما، وكان ذلك طلاقا عند أبي حنيفة ومحمد

Apabila seorang wanita masuk islam namun suaminya masih kafir, maka hakim menawarkan kepada suami untuk masuk islam. Jika suami menerima dan masuk agama islam, maka wanita tersebut tetap istrinya. Tetapi bila suami menolak, maka hakim memisahkan keduanya. Dalam kasus ini, menurut Imam Abu Hanifah dan Muhammad termasuk kedalam kategori talak .

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 5 hal. 239 | Zuria

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

فإن سبق الزوج إلى الإسلام أقر على الكتابية ويقر على غيرها إذا أسلمت بأثره وإن سبقت هي فإن كان قبل الدخول وقعت الفرقة وإن كان بعده ثم أسلم في العدة ثبت وإلا بانت

Jika suami masuk islam terlebih dahulu maka status istrinya yang masih ahlul kitab (yahudi/nasrani) ataupun bukan ahlul kitab masih diakui selama istri tersebut segera masuk islam setelah keislaman suami. Jika istri masuk islam sebelum suami jika mereka belum dukhul pasangan tersebut langsung dipisahkan (dengan fasakh), namun jika mereka sudah melakukan dukhul kemudian suami masuk islam dalam masa idahnya istri maka status pernikahan mereka diakui, namun jika suami tidak masuk islam di masa idahnya istri maka istri tertalak darinya talak bain.

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 0 hal. 132 | Maryam

Yang dimaksud dukhul adalah suami dan istrinya pernah tinggal didalam tempat tertutup dari pandangan manusia yang lain Al-Mawaq (w. 897 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taju wa Al-Iklil sebagai berikut :

(أو أسلمت ثم أسلم في عدتها) فيها: إن أسلمت بعد البناء وزوجها كافر لم يعرض عليه إسلام إن أسلم في عدتها فهو على عصمته وإلا بانت منه.

(Jika istri masuk islam kemudian suaminya masuk islam masih dalam masa idahnya): Didalam masa pernikahan, jika istri masuk islam sedangkan suaminya kafir ia tidak perlu ditawari masuk islam. jika ia masuk islam dalam masa idah istrinya, maka statusnya masih menjadi suami dari perempuan tersebut, namun jika suami tidak, maka istri tertalak darinya talak bain..

Al-Mawaq, At-Taju wa Al-Iklil, jilid 5 hal. 136 | Maryam

An-Nafarawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani sebagai berikut :

فإن أسلمت هي كان أحق بها إن أسلم في العدة وإن أسلم هو وكانت كتابية ثبت عليها فإن كانت مجوسية فأسلمت بعده مكانها كانا زوجين وإن تأخر ذلك فقد بانت منه.

Apabila istri masuk islam sebelum suaminya, kemudian ia menjalani masa idah, maka suami lebih berhak atasnya apabila ia masuk islam dimasa idah istrinya.Dan jika suami masuk islam terlebih dahulu sedangkan istrinya dari ahlul kitab maka pernikahan mereka tetap sah. Namun jika istrinya majusi kemudian ia segera masuk islam setelah suaminya ia tetap menjadi istrinya, tapi jika istri yang majusi tersebut mengakhirkan keislamannya, maka ia tertalak darinya talak bain.

An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, jilid 2 hal. 25 | Maryam

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

إذا كان الزوجان مشركين وثنيين أو مجوسيين عربيين أو أعجميين من غير بني إسرائيل ودانا دين اليهود والنصارى أو أي دين دانا من الشرك إذا لم يكونا من بني إسرائيل أو يدينان دين اليهود والنصارى فأسلم أحد الزوجين قبل الآخر وقد دخل الزوج بالمرأة فلا يحل للزوج الوطء والنكاح موقوف على العدة فإن أسلم المتخلف عن الإسلام منهما قبل انقضاء العدة فالنكاح ثابت وإن لم يسلم حتى تنقضي العدة فالعصمة منقطعة بينهما وانقطاعها فسخ بلا طلاق

Apabila suami istri musyrik, penyembah berhala, atau majusi baik orang arab ataupun ‘ajami dari selain bani Israil, beragama yahudi atupun Nashrani, atau beragama apapun selain islam yang apabila pihak suami ataupun istri salah satunya masuk islam, dan telah terjadi dukhul antara keduanya, maka tidak halal bagi suaminya untuk menjima’nya,dan status pernikahan mereka "mauquf" selama masa iddah. tetapi apabila pihak suami atau istri yang tadinya kafir kemudian masuk islam sebelum habisnya masa iddah, maka pernikahan mereka tetap sah, tetapi apabila sampai habisnya masa iddah suami tidak masuk islam maka berlaku hukum fasakh bukan thalak..

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 5 hal. 48 | Achad

Mauquf yaitu hukum pernikahannya ditunda selama durasi masa iddah. Al-Imam Al-Haramain (w. 478 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab sebagai berikut :

إذا أسلمت الكافرة، وتخلّف زوجها؛ فلا شك أنها لا تُقر في حِبالة الكافر، ولكن إن كانت غير مدخول بها، انقطع النكاح بنفس إسلامها وتخلّفه، ثم إسلام الزوج بعد إسلامها لا يردها إلى النكاح.

Apabila istri yang kafir telah masuk islam, sedangkan suaminya masih kafir, maka tidak diragukan lagi bahwa istri sudah tidak dalam ikatan suaminya, tetapi apabila belum terjadi dukhul diantara keduanya, terputuslah hubungan pernikahan mereka sebab keislaman istri dan status suami yang masih kafir, lantas apabila suatu hari suaminya masuk islam, maka hal tersebut tidak dapat mengembalikan status pernikahan mereka. .

Al-Imam Al-Haramain, Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab, jilid 12 hal. 280 | Achad

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

فصل: وإذا اسلم الزوجان معاً فهما على نكاحهما، سواء أسلما قبل الدخول أو بعده؛ لأن ذلك إجماع، ولأنه لم يوجد بينهما اختلاف دين يقتضي الفرقة. وإن سبق أحدهما صاحبه وكان المسلم زوج كتابية، فالنكاح بحاله؛ لأنه يحل له ابتداء نكاحها. وإن أسلمت المرأة قبله، أو أسلم أحد الزوجين الوثنيين، أو المجوسيين قبل الدخول، بانت منه امرأته، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ} [الممتحنة: 10] .

Jika suami istri masuk islam bersama-sama maka mereka tetap dalam pernikahannya, dan ini adalah ijma'. Karena dalam hal itu tidak ada perbedaan agama yang menjadikan putusnya pernikahan. Tapi jika salah satunya masuk islam lebih dulu, seperti jika suami muslim sedangkan istrinya kitabiyyah, maka pernikahannya masih sah. Karena laki-laki muslim memang boleh menikahi perempuan kitabiyyah. Namun jika istri yang masuk islam terlebih dahulu sebelum terjadinya dukhul maka statusnya seperti talak bain. Sebagaimana firman Allah:”mereka (istri-istrimu) tidak halal bagi kamu, begitu pula mereka (suami-suami) tidak halal bagi mereka..

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 50 | Nisa

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

الفصل الرابع: أنه إذا كان إسلام أحدهما بعد الدخول، ففيه عن أحمد روايتان؛ إحداهما، يقف على انقضاء العدة، فإن أسلم الآخر قبل انقضائها، فهما على النكاح، وإن لم يسلم حتى انقضت العدة، وقعت الفرقة منذ اختلف الدينان، فلا يحتاج إلى استئناف العدة، وهذا قول الزهري، والليث، والحسن بن صالح، والأوزاعي، والشافعي، وإسحاق. ونحوه عن مجاهد، وعبد الله بن عمر، ومحمد بن الحسن. والرواية الثانية، تتعجل الفرقة. وهو اختيار الخلال وصاحبه، وقول الحسن، وطاوس، وعكرمة، وقتادة، والحكم.

Jika salah satu dari suami istri masuk islam setelah terjadi dukhul, maka ada dua riwayat dari Imama Ahmadni. Yang pertama: ditunda sampai masa iddahnya selesai. Dan jika islamnya itu sebelum habis masa iddah maka keduanya tetap dalam pernikahannya, namun jika suami tidak ikut masuk islam sampai masa iddahnya selesai maka keduanya harus dipisahkan sejak keduanya berbeda agama, ini adalah pendapat Az-Zuhri, Laits, Hasan bin Shalih, Auza’I, Syafii, Mujahid, Abdullah bin Umar dan Muhammad bin Hasan. dan riwayat yang kedua adalah langsung dipisahkan tanpa menunggu selesainya iddah. Ini adalah pendapat Khallal, Al-Hasan, Thawus, Ikrimah, Qatadah, dan Hakim..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 153 | Nisa

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

قَوْلُهُ (وَإِنْ أَسْلَمَتْ الْكِتَابِيَّةُ، أَوْ أَحَدُ الزَّوْجَيْنِ غَيْرَ الْكِتَابِيَّيْنِ قَبْلَ الدُّخُولِ: انْفَسَخَ النِّكَاحُ) بِلَا نِزَاعٍ.

Jika seorang istri yang kitabiyyah masuk islam, atau salah satu pihak selain ahli kitab masuk islam sebelum dukhul, maka keduanya harus fasakh..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 210 | Nisa

Baca Lainnya :