Dalam Poligami, Wajibkah Mengundi Giliran Ketika Suami Ingin Bepergian ?

Thu 12 November 2015 05:56 | 1
Zuria Ulfi

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

وإن سافر الرجل مع إحدى امرأتيه لحج أو غيره فلما قدم طالبته الثانية أن يقيم عندها مثل المدة التي كان فيها مع الأخرى في السفر لم يكن لها ذلك ولم يحتسب عليه بأيام سفره مع التي كانت معه ولكنه يستقبل العدل بينهن، والكلام هنا في فصلين: أحدهما: أن له أن يسافر بأيتهما من غير إقراع بينهما

Apabila seorang suami melakukan safar dengan salah satu istrinya dalam rangka ibadah haji atau urusan lainnya, maka ketika istri yang lain meminta sang suami untuk tinggal bersamanya -sebagaimana hari-hari safarnya dengan istrinya tersebut-, maka dalam kasus ini istri tidak boleh meminta hal tersebut kepada suaminya, dan hari-hari safar suami tersebut tidak termasuk dalam pembagian hari diantara istri-istrinya. Kesimpulan dalam kasus ini adalah bahwa suami boleh memilih diantara istri-istrinya untuk melakukan safar tanpa harus mengundi diantara mereka.

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 219 | Zuria

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

ويسافر بما شاء منهن، والقرعة أحب

Maka bagi suami melakukan safar dengan istri yang ia senangi, namun lebih dianjurkan dengan mengundi diantara mereka.

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 3 hal. 236 | Zuria

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

ولا قسم في السفر دفعا للحرج فله السفر بمن شاء منهن والقرعة أحب تطييبا لقلوبهن

Dan tidak ada pembagian giliran saat safar karena dikhawatirkan akan menimbulkan masalah. Dan bagi suami melakukan safar dengan istri yang ia kehendaki, tetapi dengan mengundi giliran lebih dianjurkan.

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 0 hal. 201 | Zuria

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

إذا سافر لحج أو غزو أو حاجة سافر بأيتهن ساء بغير قرعة إن كان غير ضرر ولا ميل فإن كانت القرعة ففي الغزو لما في مسلم كان - صلى الله عليه وسلم - إذا أراد يخرج في سفر أقرع بين نسائه فأيتهن خرج سهمها خرج بها معه وكان - صلى الله عليه وسلم - إنما يسافر للحج ولأن حقهن يسقط بالسفر فله أن يسافر ويتركهن

Jika suami safar karena ada keperluan atau haji atau peperangan, maka ia boleh safar dengan istri yang ia kehendaki tanpa diundi selama tidak menimbulkan madharat ataupun kecenderungan hati , jika ingin mengundi maka hal tersebut dilakukan saat berperang. Sebagaiman hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim bahwa rasulullah saw jika hendak keluar untuk berperang ia mengundi istri-istrinya, siapapun yang namanya keluar maka ia berhak pergi bersama beliau. Dalilnya bahwa Rasulullah tidak melakukan safar kecuali haji, selain itu hak gilir istri gugur ketika suami safar maka ia boleh safar dan meninggalkan mereka semua..

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 4 hal. 464 | Maryam

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

(ش) يعني أن الرجل إذا كان له زوجتان فأكثر وأراد أن يسافر لتجارة أو غيرها فإنه يختار من نسائه من يأخذها معه في سفره من غير قرعة لأن المصلحة قد تكون في إقامة إحداهن إما لثقل جسمها أو لكثرة عائلتها أو لغير ذلك وكل ذلك من غير ميل ولا ضرر ا

Seorang suami jika mempunya dua istri atau lebih, dan hendak safar untuk perdagangan atau lainnya, ia memilih diantara istri-istrinya tanpa diundi, karena terkadang terdapat maslahat jika ada istri yang tetap menetap dirumah, karena alasan tertentu seperti badannya yang berat, atau ia mempunyai banyak keluarga,dll dengan syarat tanpa adanya madharat dan kecenderungan hati..

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 4 hal. 7 | Maryam

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

… (إلا) إذا أراد السفر (في قربة) أي لعبادة كحج وغزو (فيقرع) بينهما أو بينهن، فمن خرج سهمها أخذها معه أي وهذا هو اختيار ابن القاسم من أقوال أربعة، وهي الاختيار مطلقا، القرعة مطلقا، القرعة في الحج والغزو فقط، القرعة في الغزو فقط

Kecuali safar yang bernilai qurbah/ibadah seperti haji dan perang, maka suami mengundi giliran antara istri-istrinya, siapapun yang keluar namanya ia berhak pergi bersamanya. Ini adalah pendapat yang diambil ibnu Qasim dar 4 pendapat: membolehkan secara mutlak, mengundi secara mutlak, mengundi dalam haji dan perang, dan mengundi dalam perang saja..

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 511 | Maryam

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

إذا حضر سفر المرء وله نسوة فأراد إخراج واحدة للتخفيف من مؤنة الجميع والاستغناء بها فحقهن في الخروج معه سواء فيقرع بينهن فأيتهن خرج سهمها للخروج خرج بها

Apabila suami mengadakan safar, sedang ia memiliki beberapa istri, dan ia berkehendak untuk mengajak salah satu istrinya dengan sebab meringankan biaya perjalanan dan ia merasa cukup dengan satu istri, karena hak semua istri adalah sama, maka suami hendakanya mengundi diantara mereka, siapakah yang keluar namanya ialah yang berhak safar bersama suaminya..

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 5 hal. 119 | Achad

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

إذا أراد المسافرة ببعض زوجاته، أقرع بينهن، فيسافر بمن خرجت قرعتها

Jika suami menginginkan safar bersama beberapa istrinya, hendaknya ia mengundi diantara mereka, siapakah nama yang keluar maka ialah yang akan menemani safar suaminya..

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 362 | Achad

Abul Khatab Al-Kalwadzani (w. 510 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

وإذا أرادَ أنْ يُسَافِرَ بإحْداهُنَّ لَمْ يَجُزْ إلاّ بالقُرْعَةِ. فإنْ سَافرَ بِها بِغَيرِ قُرْعَةٍ أثِمَ وقضى لِلْبَواقِي، وإنْ سَافَرَ بِها بالقُرْعَةِ لم يقضِ

Dan jika suami ingin bepergian dengan salah satu dari istri-istrinya maka dia tidak boleh pergi dengannya keculai setelah diundi. Dan jika dia pergi tanpa mengundi terlebih dahulu maka dia telah berdosa. Dan jika ia pergi setelah mengundi maka ia tidak perlu mengqadha..

Abul Khatab Al-Kalwadzani , Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad, jilid 0 hal. 412 | Nisa

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

مسألة؛ قال: (وإذا أراد سفرا، فلا يخرج معه منهن إلا بقرعة، فإذا قدم ابتدأ القسم بينهن) وجملته أن الزوج إذا أراد سفرا، فأحب حمل نسائه معه كلهن، أو تركهن كلهن، لم يحتج إلى قرعة؛ لأن القرعة لتعيين المخصوصة منهن بالسفر، وهاهنا قد سوى، وإن أراد السفر ببعضهن لم يجز له أن يسافر بها إلا بقرعة.

Jika suami ingin bepergian maka tidaklah ia boleh pergi dengan salah satu dari mereka kecuali setelah mengundinya. Kesimpulannya, jika suami ingin pergi dan ingin mengajak semua istrinya, atau tidak mengajak satupun dari mereka, maka dia tidak perlu mengundi, karena qur’ah itu ada jika suami ingin mengajak salah satu dari mereka dan mereka dalam posisi yang sama.Dan jika dia ingin pergi dengan salah satu dari istrinya maka tidak boleh pergi kecuali setelah mengundi mereka..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 313 | Nisa

Abu Ishaq Burhanudin (w. 884 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mubdi' Syarhul Muqni sebagai berikut :

(وَلَيْسَ لَهُ الْبَدَاءَةُ بِإِحْدَاهُنَّ وَلَا السَّفَرُ بِهَا إِلَّا بِقُرْعَةٍ) ؛ لِأَنَّ الْبَدَاءَةَ بِهَا تَفْضِيلٌ لَهَا، وَالتَّسْوِيَةُ وَاجِبَةٌ؛ لِأَنَّهُنَّ مُتَسَاوِيَاتٍ فِي الْحَقِّ وَلَا يُمْكِنُ الْجَمْعُ بَيْنَهُنَّ، فَوَجَبَ الْمَصِيرُ إِلَى الْقُرْعَةِ؛ «لِأَنَّهُ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – كَانَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ، فَمَنْ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dan suami tidak boleh memilih salah satu dari istrinya ataupun bepergian dengan salah satu dari mereka kecuali setelah mengundinya. Karena jika ia memilih salah satu dari mereka, itu berarti ia lebih mengutamakannya dari yang lain sedangkan yang wajib adalah menyamakan kesemuanya. Karena mereka mempunyai hak yang sama dan tidak memungkinkan untuk mengumpulkan mereka, maka yang harus dilakukan adalah mengundinya. Karena nabi SAW jika ingin bepergian dengan salah satu istrinya beliau mengundinya, dan siapa yang keluar gilirannya, maka beliau pergi dengannya. Muttafaqun alaih. .

Abu Ishaq Burhanudin, Al-Mubdi' Syarhul Muqni, jilid 6 hal. 255 | Nisa

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

(وليس له) أي الزوج إذا أراد الشروع في القسم (البداءة بإحداهن) إلا بقرعة أو رضاهن، لأن البداءة بها تفضيل لها، والتسوية واجبة، ولأنهن متساويات في الحق ولا يمكن الجمع بينهن فوجب المصير إلى القرعة إن لم يرضين (ولا) أي وليس للزوج (السفر بها) أي بإحداهن (أو بأكثر من واحدة) منهن (إلا بقرعة أو رضاهن ورضاه)

Dan suami tidak boleh memilih salah satu dari istrinya ataupun bepergian dengan salah satu dari mereka kecuali setelah mengundinya. Karena jika ia memilih salah satu dari mereka, itu berarti ia lebih mengutamakannya dari yang lain sedangkan yang wajib adalah menyamakan kesemuanya. Karena mereka mempuyai hak yang sama dan tidak memungkinkan untuk mengumpulkan mereka, maka yang harus dilakukan adalah mengundinya jika mereka tidak ridho dengan pilihan suaminya atau jika mereka ridho maka tidak perlu diundi..

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 5 hal. 199 | Nisa

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

ولا يجوز له أن يخص امرأة من نسائه بأن تسافر معه إلا بقرعة

Dan suami tidak boleh mengkhususkan salah satu dari istrinya saat akan bepergian kecuali setelah mengundinya..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 212 | Nisa

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

فإن قيل: إن له أن لا يسافر بواحدة منهن؟ قلنا: نعم، وهو عدل بينهن في المنع، فليس بذلك مائلا إلى إحداهن. وأما إذا سافر بغير قرعة بواحدة منهن، فقد مال إليها، وهذا ظلم لا يحل -.

Apakah tidak boleh jika suami akan beergian dengan salah satu dari istrinya? Jawaban kami: iya, karena itu bentuk adil untuk mereka, dan hal itu menunjukka bahwa dia tidak condong pada salah satu dari mereka. Dan adapun jika ia pergi dengan tanpa mengundi salah satu dari mereka, maka ia telah condong pada salah satu mereka dan ini adalah bentuk dzalim dan tidak dibolehkan. .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 217 | Nisa

Baca Lainnya :

Dalam Poligami, Wajibkah Mengundi Giliran Ketika Suami Ingin Bepergian ?
Zuria Ulfi | 12 November 2015, 05:56 | published
أثر سفر المرأة على القسم
Zuria Ulfi | 31 October 2015, 06:31 | draft