|


 

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

وإذا كان الزوج عنينا أجله الحاكم سنة فإن وصل إليها فبها وإلا فرق بينهما إذا طلبت المرأة ذلك... فإذا امتنع ناب القاضي منابه ففرق بينهما ولا بد من طلبها لأن التفريق حقها " وتلك الفرقة تطليقة بائنة

Jika suami inin maka hakim menangguhkannya sampai satu tahun, jika dalam waktu satu tahun suami sembuh maka tidak masalah. Namun jika tidak, maka keduanya dipisahkan jika istri memintanya. Jika suami menolak untuk menceraikannya, maka hakim menggantikan posisi suami sebagai penjatuh thalak. hal ini harus dengan permintaan istri karena hal tersebut adalah hak istri. Pemisahan antar keduannya disebut talak bain..

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 2 hal. 273 | Maryam

Ibnu Hajib (w. 776 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taudhih fi Syarhil Mukhtashar Ibnul Hajib sebagai berikut :

وعن مالك ورجع إليه ابن القاسم: أن ما اختلف في إجازته وفسخه، ففسخه بطلاق كولاية العبد والمرأة، وكالشغار والمريض والمحرم وكالصداق الفاسدوما لم يختلف في فسخه ففسخه بغير طلاق، ولا يقع به طلاق.

Riwayat dari Imam Malik yang telah dirujuk oleh Ibnu Qasim: bahwa hukum-hukum yang diperselisihkan antara kebolehannya (melanjutkan ikatan prnikahan) dan jatuhnya fasakh maka fasakhnya adalah dengan talak seperti budak atau wanita yang menjadi wali nikah, nikah syighar, nikah orang yang sedang sakit, nikah orang yang sedang ihram, dll. Sedangkan hukum-hukum yang tidak diperselisihkan tentang jatuh fasakhnya, maka yang berlaku adalah fasakh, bukan talak..

Ibnu Hajib , At-Taudhih fi Syarhil Mukhtashar Ibnul Hajib, jilid 4 hal. 240 | Maryam

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

(الثالث) فسخ النكاح لعيب أحد الزوجين فسخ بطلاق قال في باب الخلع من إرخاء الستور من المدونة: وفراقها إياه من أجل الجنون والجذام فسخ بطلاق انتهى

Bentuk fasakh pernikahan yang disebabkan karena adanya aib adalah fasakh dengan talak. Dlm kitab mudaawwanah disebutkan: Dan istri yang meminta dipisahkan dari suaminya karena gila, judzam, maka difasakh dengan talak. Begitu pula suami yang yang memutuskan istrinya karena terdapat aib pada istri. .

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 447 | Maryam

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

تؤجل امرأة العنين سنة فإن أصابها وإلا خيرت في المقام معه أو فراقه... وإذا ارتفعت إلى السلطان فسألت فرقته أجله السلطان من يوم يرتفعان إليه سنة فإن أصابها مرة واحدة فهي امرأته وإن لم يصبها خيرها السلطان فإن شاءت فرقته فسخ نكاحها والفرقة فسخ بلا طلاق لأنه يجعل فسخ العقدة إليها دونه وإن شاءت المقام معه أقامت معه ثم لم يكن لها أن يخيرها بعد مقامها معه.

Permintaan cerai dari istri yang suaminya impoten, itu ditangguhkn sampai satu tahun. jika sembuh maka tidak masalah, jika tidak, maka istri mempunyai hak khiyar antara melanjutkan ikatan pernikahan atau berpisah dengan suaminya. Penghitungan setahun dimulai dari hari pertama ia mengajukan perceraian. Jika suami menggauli istrinya minimal sekali dalam masa itu maka ia masih menjadi istrinya, namun jika tidak maka hakim memberi pilihan kepada istrinyar, dan jika ia memilih untuk berpisah maka keduanya dipisahkan dengan fasakh, bukan talak, Karena pihak yang mengjukan cerai adalah istri, bukan suami. Namun jika istri memilih untuk melanjutkan pernikahan maka ia boleh tetap menjadi istriny dan jatuhlah hak khiyar istri..

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 5 hal. 42 | Maryam

Al-Muzani (w. 264 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mukhtashar sebagai berikut :

فإن شاءت فراقه فسخ نكاحها بغير طلاق

Jika istri menginginkan untuk berpisah dengan suaminya, maka pernikahan mereka difasakh bukan dengan talak..

Al-Muzani, Mukhtashar, jilid 8 hal. 279 | Maryam

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ولنا، أن هذا خيار ثبت لأجل العيب، فكان فسخا، كفسخ المشتري لأجل العيب.

Dan menurut kami, bahwa hak khiyar ini (antara melanjutkan ikatan pernikahan atau dipisahkan) terjadi kerena adanya aib, maka pernikahan tersebut difasakh sebagaimana fasakhnya akad seorang pembeli yang menemukan aib pada barang beliannya..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 201 | Maryam

Abu An-Naja (w. 968 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Iqna Fi Fiqhi Al-Imam Ahmad Bin Hanbal sebagai berikut :

ولا يصح فسخ في خيار العيب وخيار الشرط إلا بحكم حاكم فيفسخه الحاكم أو يرده إلى من له الخيار ويصح في غيبة زوج والأولى مع حضوره

Dan tidak sah fasakh dalam khiyar aib dan khiyar syarat kecuali dengan keputusan dari hakim, maka hakim lah yang memfasakh atau dikembalikan pada pihak yang mempunyai hak khiyar, dan fasakh tetap sah walaupun suami tidak ditempat, namun jika suami hadir lebih utama..

Abu An-Naja, Al-Iqna Fi Fiqhi Al-Imam Ahmad Bin Hanbal, jilid 3 hal. 201 | Maryam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

قال أبو محمد: فإن اشترطا السلامة في عقد النكاح فوجد عيبا - أي عيب كان - فهو نكاح مفسوخ مردود لا خيار له في إجازته، ولا صداق فيه، ولا ميراث، ولا نفقة - دخل أو لم يدخل

Abu Muhammad (ibn Hazm) berkata: Jika ketika akad nikah keduanya mensyaratkan tidak adanya aib, kemudian salah satunya menemukan aib pada pasangannya( aib apapun itu), maka pernikahan tersebut difasakh dan ditolak tidak ada pilihan untuk melanjutkan pernikahan tersebut, tidak mendapat mahar, tidak berhak mendapat warisan, dan tidak mendapat nafkah. Baik setelah dukhul maupun sebelumnya..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 289 | Maryam

Baca Lainnya :