|


 

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

ولم يذكر المصنف في أي وقت يدفع لها النفقة؛ لأنه يختلف باختلاف الناس قالوا يعتبر في الفرض الأصلح والأيسر ففي المحترف يوما بيوم أي عليه أن يدفع نفقة يوم بيوم؛ لأنه قد لا يقدر على تحصيل نفقة شهر مثلا دفعة، وهذا بناء على أن يعطيها معجلا ويعطيها كل يوم عند المساء عن اليوم الذي يلي ذلك المساء لتتمكن من الصرف في حاجتها في ذلك اليوم وإن كان تاجرا يفرض عليه نفقة شهر بشهر

Penulis tidak menyebutkan tentang waktu pemberian nafkah, karena hal itu berbeda pada tiap individu. Mereka mengatakan kewajiban yang mu’tabar adalah yang paling mudah bagi mereka. Seorang pengrajin maka dia memberi nafkah secara harian karena dia tidak bisa menghasilkan nafkah secara bulanan secara langsung. Ini dikarenakan kewajiban memberi nafkah istri adalah mu’ajjal (secara langsung tanpa menunda) maka ia memberikannya pada sore hari untuk kebutuhan mereka sampai datang sore berikutnya. Dan untuk seorang pedagang mereka diwajibkan memberi nafkah secara bulanan.

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 4 hal. 191 | Nisa

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

(قوله أي كل مدة تناسبه إلخ) قالوا: يعتبر في الفرض الأصلح، والأيسر ففي المحترف يوما بيوم؛ لأنه قد لا يقدر على تحصيل نفقة شهر دفعة، وهذا بناء على أنه يعطيها معجلا، ويعطيها كل يوم عند المساء عن اليوم الذي يلي ذلك المساء لتتمكن من الصرف في حاجتها في ذلك اليوم، وإن كان تاجرا فنفقة شهر بشهر،

Mereka mengatakan yang mu’tabar pada setiap individu adalah yang paling mudah bagi mereka. Seorang pengrajin maka dia memberi nafkah secara harian karena dia tidak bisa menghasilkan nafkah secara bulanan secara langsung. Ini dikarenakan kewajiban memberi nafkah istri adalah mu’ajjal (secara langsung tanpa menunda) maka ia memberikannya pada sore hari untuk kebutuhan mereka sampai datang sore berikutnya. Dan untuk seorang pedagang mereka diwajibkan memberi nafkah secara bulanan.

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 3 hal. 581 | Nisa

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

وقدرت بحاله من يوم أو جمعة أو شهر أو سنة يعني أن نفقة الزوجة تكون على الزوج على قدر حاله من يوم لكون رزقه مياومة كأرباب الصنائع أو جمعة كأرباب الصنائع بقرى مصر أو شهر كأرباب المدارس وبعض الجند أو سنة كأرباب الرزق

Dan nafkah istri disesuaikan dengan kondisi suami baik itu harian atau tiap hari jum’at atau bulanan atau tahunan. Yang berarti nafkah istri yang wajib diberikan suami itu disesuaikan dengan kondisi suami baik itu harian bagi suami yang mendapatkan gaji harian seperti buruh, atau tiap jum’at seperti buruh di Mesir, atau bulanan seperti guru-guru dan tentara, atau tahunan seperti pemilik tanah yang menyewakan tanahnya..

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 4 hal. 189 | Nisa

Muhammad 'Illisy (w. 1299 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

(وقدرت) بضم فكسر مثقلا نفقة الزوجة من حيث الزمان (ب) حسب (حاله) أي الزوج في الاكتساب (من يوم) إن كان من الصناع ونحوهم الذين يقبضون أجرة عملهم كل يوم (أو جمعة) إن كان من الصناع الذين يقبضون أجرة عملهم كل جمعة (أو شهر) كأرباب الوظائف والجند الذين يقبضون مرتباتهم كل شهر (أو سنة) كأرباب الرزق والبساتين الذين يقبضون مرتباتهم كل سنة.

Dan nafkah istri berdasarkan waktu pemberiannya disesuaikan dengan keadaan suami, yaitu suami yang mendapatkan gaji harian seperti buruh bangunan atau yang sejenisnya maka waktu pemberian nafkahnya setiap hari, atau buruh yang gajinya diberikan tiap hari jum’at maka waktu pemberian nafkahnya tiap jum’at, atau pegawai dan tentara yang mendapatkan gaji secara bulanan maka ia memberikan nafkahnya tiap bulan, atau pemilik tanah dan kebun yang mendapatkan gajinya secara tahunan maka ia memberikan nafkah istrinya setiap tahun..

Muhammad 'Illisy, Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil, jilid 4 hal. 396 | Nisa

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

فصل: ويجب أن يدفع إليها نفقة كل يوم إذا طلعت الشمس لأنه أول وقت الحاجة ويجب أن يدفع إليها الكسوة في كل ستة أشهر لأن العرف في الكسوة أن تبدل في هذه المدة

Suami wajib memberi nafkah istrinya setiap hari saat matahari terbit, karena itu adalah awal waktu kebutuhan manusia. Dan suami wajib memberi nafkah pakaian setiap enam bulan sekali karena berdasarkan urf, sebab pakaian itu layaknya diganti setelah 6 bulan ..

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 153 | Nisa

Al-Imam Al-Haramain (w. 478 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab sebagai berikut :

وقد ذكرنا أن نفقة كل يوم تجب من صُبحه

Telah kami sebutkan bahwa nafkah yang wajib diberikan setiap hari pada pagi hari..

Al-Imam Al-Haramain, Nihayatul Mathlab Fii Diroyatil Madzhab, jilid 15 hal. 479 | Nisa

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

ويجب أن يدفع إليها نفقة كل يوم إذا طلعت الشمس، لانه أول وقت الحاجة، ويجب أن يدفع إليها الكسوة في كل ستة أشهر لان العرف في الكسوة أن تبدل في هذه المدة

Suami wajib memberi nafkah istrinya setiap hari saat matahari terbit, karena itu adalah awal waktu kebutuhan manusia. Dan suami wajib memberi nafkah pakaian setiap enam bulan sekali karena berdasarkan urf, pakaian akan rusak dalam rentang waktu ini maka harus diganti..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 18 hal. 262 | Nisa

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

وعليه دفع نفقتها إليها كل يوم إذا طلعت الشمس؛ لأنه أول وقت الحاجة. فإن اتفقا على تعجيلها، أو تأخيرها، أو تسليفها النفقة لشهر، أو عام، أو أكثر، جاز

Suami wajib memberikan nafkah istrinya setiap hari saat terbit matahari, karena itu adalah awal waktu kebutuhan manusia. Namun jika keduanya sepakat akan menyegerakan atau mengakhirkan nafkah untuk sebulan atau setahun atau lebih, maka dibolehkan..

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 234 | Nisa

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

فصل: ويجب عليه دفع نفقتها إليها في صدر نهار كل يوم إذا طلعت الشمس، لأنه أول وقت الحاجة، فإن اتفقا على تأخيرها جاز؛ لأن الحق لها، فإذا رضيت بتأخيره جاز، كالدين. وإن اتفقا على تعجيل نفقة عام أو شهر، أو أقل من ذلك أو أكثر، أو تأخيره، جاز؛ لأن الحق لهما، لا يخرج عنهما، فجاز من تعجيله وتأخيره ما اتفقا عليه، كالدين

Suami wajib memberikan nafkah istrinya setiap hari saat terbit matahari, karena itu adalah awal waktu kebutuhan manusia. Namun jika keduanya sepakat akan mengakhirkannya, maka dibolehkan. Karena itu menjadi hak istrinya, maka jika istri ridho dengan diakhirkannya nafkah, maka boleh saja, seperti halnya hutang. Dan jika keduanya sepakat Karena yang benar dalam madzhab ini adalah tidak keluar dari ketentuan keduanya, maka dibolehkan juga jika keduanya sama-sama ridho, sebagaimana hutang. Dan jika keduanya sepakat akan menyegerakan atau mengakhirkan nafkah untuk setahun atau sebulan atau kurang dari itu atau lebih dari itu, maka dibolehkan. .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 8 hal. 202 | Nisa

Al-Buhuti (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Syarh Muntaha Al-Iradat sebagai berikut :

والواجب دفع قوت لا بدله ولا حب ويكون أول نهار كل يوم ويجوز ما اتفقا عليه من تعجيل وتأخير

Yang wajib dalam hal memberi nafkah kepada istri adalah pada permulaan siang setiap harinya. dan jika keduanya sepakat akan menyegerakan atau mengakhirkannya maka boleh saja..

Al-Buhuti, Syarh Muntaha Al-Iradat, jilid 4 hal. 445 | Nisa

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: وإنما تجب لها النفقة مياومة، لأنه هو رزقها، فإن تعدى من أجل ذلك وأخر عنها الغداء، أو العشاء أدب على ذلك

Suami wajib memberika nafkah kepada istrinya secara harian, karena itu merupakan rizki bagi istri. Maka jika menyelisihi hal itu dan mengakhirkan dari memberi makan siang atau malam suami harus di tegur..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 251 | Nisa

Baca Lainnya :