|


 

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

(النفقة واجبة للزوجة على زوجها مسلمة كانت أو كافرة إذا سلمت نفسها إلى منزله فعليه نفقتها وكسوتها وسكناها)

Nafkah seorang istri -muslim atau kafir- menjadi kewajiban suaminya, jika sang istri menyerahkan dirinya dirumah suaminya maka wajib bagi suami untuk memberikan nafkah, pakaian dan tempat tinggal.

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 4 hal. 378 | Zuria

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

وأما أسباب وجوب هذه النفقة أي نفقة الزوجية، فقال أصحابنا بسبب وجوبها استحقاق الحبس الثابت بالنكاح للزوج عليها،

Adapun sebab wajibnya nafkah seorang istri, menurut pandangan ulama madzhab kami adalah karena adanya hak untuk memerintahkan istri tetap tinggal dirumah suaminya itu selama meraka berada dalam ikatan pernikahan.

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 4 hal. 188 | Zuria

An-Nafarawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani sebagai berikut :

والحاصل أن المدخول بها لها النفقة بشرط بلوغ الزوج ويسره، ولو كانت غير مطيقة للوطء لصغرها أو مرضها، وأما غير المدخول بها فإنما يجب لها النفقة إذا دعيت إلى الدخول مع إطاقتها وبلوغ الزوج، لا إن كانت غير مطيقة لصغرها أو مرضها... فتلخص أن نفقة المدخول بها تجب بشرطين: بلوغ الزوج، ويسره، وغير المدخول بها بأربع شروط: بلوغ الزوج، وإطاقتها، والدعوى للدخول، ويسر الزوج، ويفهم من الإطاقة عدم المانع من الوطء.

Jadi, bahwa seorang istri yang belum dukhul dengan suaminya ia berhak mendapat nafkah dengan syarat jika suaminya sudah baligh dan mampu, walaupun si istri tidak mampu dukhul karena ia masih kecil atau ia mempunyai penyakit. Namun jika ia belum dukhul maka ia tetap berhak mendapat nafkah jika suaminya mengajaknya dukhul sedang si istri mampu dan suami sudah baligh. Bukan karena ketidakmampuan istri yang disebabkan usianya masih kecil atau terdapat penyakit pada dirinya. Dapat disimpulkan bahwa seorang istri yang sudah dukhul berhak mendapat nafkah dengan dua syarat: Suami yang baligh dan mampu. Sedangkan istri yang belum dukhul berhak mendapat nafkah dengan empat syarat: suami yang baligh, kemampuan istri, ajakan suami untuk dukhul, dan suami mampu. Yang dimaksud dengan kemampuan disini adalah tidak adanya hal yang menghalangi istri untuk dijima’..

An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, jilid 2 hal. 23 | Maryam

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

إن كانت بكرا ولم تمتنع هي من الدخول عليه وجب عليه نفقتها كما تجب عليه إذا دخل بها

Seorang perawan berhak mendapatkan nafkah dari suaminya apabila tidak ada penghalang terjadinya dukhul, sebagaimana ia berhak mendapatkan nafkah setelah dukhul. .

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 5 hal. 96 | Achad

Abul Khatab Al-Kalwadzani (w. 510 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

تجب نفقة الزوجة على زوجها إذا بذلت تسليم نفسها إليه. وكانت ممن توطأ مثلها وسواء كان الزوج كبيرا يمكنه الوطء أو كان عبدا أو مجنونا أو صغيرا لا يمكنه الوطء

Seorang istri berhak mendapat nafkah dari suamiya jika ia sungguh-sungguh menyerahkan dirinya untuk suaminya, dan istri termasuk perempuan yang bisa dijima’ baik suaminya sudah dewasa dan bisa melakukan jima’, ataupun suami tersebut budak, atau gila, atau masih kecil dan tidak bisa melakukan jima’..

Abul Khatab Al-Kalwadzani , Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad, jilid 0 hal. 496 | Nisa

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: وينفق الرجل على امرأته من حين يعقد نكاحها دعي إلى البناء أو لم يدع – ولو أنها في المهد – ناشزا كانت أو غير ناشز، غنية كانت أو فقيرة، ذات أب كانت أو يتيمة، بكرا أو ثيبا، حرة كانت أو أمة – على قدر ماله -.

Dan seorang suami wajib menafkahi istri semenjak akad nikah terjadi, baik istrinya itu sudah diajak jima’ maupun belum (istri masih kecil)baik istrinya nusyuz maupun tidak, kaya maupun miskin, masih mempunyai ayah ataupun yatim, gadis maupun janda, merdeka maupun budak, sesuai kadar harta si suami..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 249 | Nisa

Baca Lainnya :