|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

ولا يجبر المعسر على نفقة أحد، إلا على نفقة الزوجة والولد الصغير.......فأما نفقة الأقارب استحقاقها بطريق الصلة فتكون على الموسرين دون المعسرين

Tidak ada paksaan bagi seorang yang tidak mampu untuk menafkahi orang lain, kecuali nafkah atas istri dan anaknya yang masih kecil........adapun nafkah bagi keluarga terdekat merupakan hak hubungan kedekatan bagi mereka yang mempu dan tidak wajib bagi mereka yang tidak mampu..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 224 | Zuria

An-Nafarawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani sebagai berikut :

والصواب كما يؤخذ من كلام الأجهوري تقديم نفقة الأولاد على نفقة الأبوين عند العجز عنهما؛ لأن نفقة الأولاد بالأصالة ونفقة الأبوين بالعروض، كما تقدم نفقة الأم على نفقة الأب، ونفقة الصغير على نفقة الكبير، ونفقة الأنثى على نفقة الذكر، وكذا تقدم نفقة الزوجة على نفقة الأبوين أو الأولاد؛ لأن نفقة الزوجات في مقابلة عوض بخلاف نفقة الأقارب، وأما نفقة نفسه فتقدم ولو على نفقة الزوجة لسقوط الوجوب عنه لغيره حينئذ

Pendapat yang benar sebagaimana yang dikatakan al ajhuri: mendahulukan nafkah kepada anak-anak sebelum orang tua ketika ia tidak dapat menafkahi keduanya (orangtua), karena memberi nafkah kepada anak-anak adalah karena ada unsur keturunan, sedangkan kepada orang tua adalah sebagai bentuk persembahan dari anak, sebagaimana didahulukannya nafkah atas ibu dibanding ayah, yang kecil dibanding yang sudah besar, anak perempuan dbanding anak laki-laki, didahuluka istri sebelum kedua orang tua atau anak-anak, karena nafkah atas istri sebagai bentuk I’wadh (timbal balik) dibanding nafkah atas kerabat-kerabatnya, dan menfkahi dirisendiri didahulukan sebelum istrinya, karena tidak ada orang lain yang mempunyai kewajiban untuk menafkahinya..

An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, jilid 2 hal. 70 | Maryam

An-Nafarawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani sebagai berikut :

ولا يلزم الرجل النفقة إلا على زوجته كانت غنية أو فقيرة. وعلى أبويه الفقيرين. وعلى صغار ولده

Dan seorang laki-laki tidak wajib memberi nafkah kecuali kepada istrinya baik istrinya kaya maupun miskin, dan kepada orangtuanya yang faqir dan kepada anak-anaknya yang masih kecil. .

An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, jilid 2 hal. 67 | Maryam

Al-'Adhwi (w. 1189 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Al-'Adhwi 'ala Kifayati Ath-Thalib Ar-Rabbani sebagai berikut :

وقضية الإجراء على النفقة تقديم الأم على الأب، والأنثى على الذكر، والصغير على الكبير

Cara pemberian nafkah adalah mendahulukan nafkah terhadap ibu dibanding ayah, dan perempuan dibanding laki-laki, dan yang kecil dibanding yang sudah besar. .

Al-'Adhwi, Hasyiyatu Al-'Adhwi 'ala Kifayati Ath-Thalib Ar-Rabbani, jilid 2 hal. 136 | Maryam

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

ثم يبدأ بعد نفسه بزوجته، لأن نفقة زوجته مقدمة على نفقة أقاربه، فكذا فطرة نفسه مقدمة على فطرة أقاربه، ثم يبدأ بعد زوجته بأولاده الصغار الفقراء وهم مقدمون على الأب

Setelah kebutuhannya terpenuhi hendaknya seorang suami mencukupi kebutuhan istrinya, karena menafkahi istri adalah lebih uatama dari menafkahi para kerabatnya,sebagaimana kebutuhannya pribadi yang lebih diutamakan dari para kerabatnya, dan yang berhak mendapatkan nafkah setelah istri adalah anak-anaknya yang masih kecil, dan mereka lebih diutamakan dari Ayah kandungnya..

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 3 hal. 374 | Achad

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

فإذا اجتمع على الشخص الواحد محتاجون ممن تلزمه نفقتهم، نظر؛ إن وفى ماله أو كسبه بنفقتهم، فعليه نفقةالجميع، قريبهم وبعيدهم، وإن لم يفضل عن كفاية نفسه إلا نفقة واحد، قدم نفقة الزوجة على نفقة الأقارب

Apabila berkumpul orang yang membutuhkan dari orang-orang yang wajib di nafkahi, maka dilihat terlebih dahulu, jika cukup hartanya atau penghasilannya untuk menafkahi mereka semua maka ia wajib menafkahi mereka semuanya yang dekat maupun yang jauh, dan apabila kemampuannya hanya untuk menafkahi satu orang, maka diutamakan menafkahi istri dibanding kerabat-kerabatnya..

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 9 hal. 93 | Achad

Abdul Qodir Asy-Syaibani (w. 1135 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Nail Al-Marib bi Syarhi Dalil Ath-Tholib sebagai berikut :

(ومن قدر على الكسب) وكان بحيثُ إذا اكتسب فَضَلَ عن كسبه فضلٌ للمواساة (أُجبر) على التكسّب (لنفقةِ من تجبُ عليه من قريبٍ وزوجةٍ) لا امرأة على نكاح (1). (ومن لم يجد ما يكفي الجميع) أي جميع من تجبُ نفقته عليه لو كان موسراً بجميعها (بَدَأ بنفسه) لحديث "ابدأ بنفسك" (2) (فزوجتِهِ) لأن نفقة الزوجةِ تجب على سبيل المعاوَضَةِ، فقدِّمت على مجرّد المواساة، ولذلك تجب مع اليسار والإِعسار، بخلاف نفقة القريب. (فرقيقِهِ) بعد زوجته لأنها تجب مع اليسار والإِعسار فقُدّمت على مجرد المواساة. (فولدهِ) لوجوب نفقته بالنصّ. (فأبيه) لانفرادهِ بالولاية على ولده، واستحقاقِ الأخذ من ماله، وإضافةِ النبي - صلى الله عليه وسلم - الولدَ ومالَهُ لأبيه، بقوله: "أنت ومالَك لأبيك" (3). (فأمِّه) لما لها من فضيلةِ الحملِ والرضاع والتربية (4).

Dan suami yang punya kemampuan untuk bekerja dan hasil kerjanya itu lebih dari yang dibutuhkan maka di harus menafkahi keluarganya dan istrinya secara keseluruhan. Dan jika dia tidak bisa mencukupi kesemuanya maka dia harus mendahulukan dirinya, sebagaimana hadis nabi:”mulailah dari dirimua”, lalu istrinya karena nafkah istri wajib sebagai bentuk timbal balik, oleh karena itu ia didahulukan baik saat suami mampu ataupun tidak berbeda dengan nafkah keluarga. Kemudian budaknya, setelah istrinya karena nafkah nafkah budaknya itu wajib atasnya baik dalam keadaan mampu atau tidak mampu. lalu anaknya karena menafkahinya telah ada dalam nash, lalu bapaknya karena dia yang paling berhak dalam hal perwalian, dan dia berhak atas harta anaknya, sebagaimana hadits nabi SAW:"dan harta anak adalah milik bapaknya: Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu", lalu ibunya karena dia yang telah mengandungnya, menyusuinya dan mendidiknya..

Abdul Qodir Asy-Syaibani, Nail Al-Marib bi Syarhi Dalil Ath-Tholib, jilid 2 hal. 300 | Nisa

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

كل هؤلاء يسوى بينهم في إيجاب النفقة عليهم، ولا يقدم منهم أحد على أحد – قل ما بيده بعد موته أو كثر – لكن يتواسون فيه.

Dan nafkah mereka semua itu sama, tidak ada yang lebih didahulukan baik harta yang dia punya banyak ataupun sedikit, mereka tetap sama..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 266 | Nisa

Baca Lainnya :