Menghadiri Walimah dalam Keadaan Berpuasa, Haruskah Membatalkan Puasanya?

Tue 17 November 2015 06:29 | 0
Qathrin Izzah Fithri

Walimah adalah acara syukuran yang sering kali dikaitkan dengan pernikahan. Tujuan utamanya adalah undangan menyantap hidangan yang disediakan oleh pemilik hajat sebagai tanda syukur dan memohon do'a dari para hadirin. Tak jarang momen walimah juga menjadi wadah untuk menyambung tali silaturahmi. Maka dalam acara seperti ini aka sangat ganjil jika yang hadir adalah orang yang dalam keadaan berpuasa.

Lalu bagaimanakah solusinya?

 

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

فإن كان صائما أجاب ودعا وإن لم يكن صائما أكل ودعا وإن لم يأكل أثم وجفا كما في الاختيار

Dan apabila ia dalam keadaan berpuasa ia tetap harus datang dan mendoakan , dan apabila ia tidak berpuasa ia boleh makan dan mendoakan, dan apabila ia tidak makan maka ia berdosa seperti halnya dalam kitab “Al-Ikhtiyar Li ta’lilil Mukhtar”.

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 2 hal. 550 | Azizah

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

وفي الاختيار: وليمة العرس سنّة قديمة إن لم يجبها أثم لقوله - صلّى اللّه عليه وسلّم - «من لم يجب الدّعوة فقد عصى اللّه ورسوله، فإن كان صائما أجاب ودعا، وإن لم يكن صائما أكل ودعا، وإن لم يأكل ولم يجب أثم وجفا» لأنّه استهزاء بالمضيف وقال - عليه الصّلاة والسّلام - «لو دعيت إلى كراع لأجبت» اهـ. ومقتضاه أنّها سنّة مؤكّدة، بخلاف غيرها وصرّح شرّاح الهداية بأنّها قريبة من الواجب.

Dan dalam kitab ‘Al-Ikhtiyar’ : Hukum dari mengadakan walimatul ‘urs adalah sunnah yang sudah ada sejak lama, dan jika dia diundang tapi tidak memenuhinya maka dia berdosa karena sabda Rasulullah SAW : (Barangsiapa yang tidak memenuhi undangan maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jika dia dalam keadaan berpuasa maka dia wajib memenuhi undangan dan mendo’akan, dan apabila dia tidak dalam keadaan berpuasa maka dia boleh makan dan mendo’akan, dan apabila dia tidak makan dan tidak memenuhi undangan maka dia berdosa) karena hal ini termasuk penghinaan terhadap orang yang mengundang. Rasulullah SAW bersabda : (Dan apabila saya diundang makan-makan, maka sungguh saya akan datang) selesai. Hadits ini menyimpulkan bahwa hukum mendatanginya sunnah muakkadah, lain halnya dengan undangan selain pernikahan, sedangkan yang mensyarah kitab Al Hidayah menjelaskan bahwa hukumnya mendekati kepada wajib..

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 6 hal. 347 | Fatimah

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

وهو في الأكل بالخيار ويحضر الصائم فيدعو

Untuk urusan makan, para undangan boleh memilih untuk makan atau tidak. Jika orang yang berpuasa hadir, maka dia hendaknya mendoakan...

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 131 | Isna

Penulis berkesimpulan, Bahwa madzhab ini tidak mewajibkan bagi orang yang berpuasa untuk berbuka, cukup baginya menghadiri acara walimah dan mendoakan. Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

قوله: [وإن كان المدعو صائما] : محل وجوب إجابة الصائم ما لم يبين له وقت الدعوة أنه صائم، وكان وقت الاجتماع والانصراف قبل الغروب وإلا فلا تجب إجابته

قوله: [وإن لمفطر فلا يجب] : أي على الراجح لرواية محمد أنه يجيب، وإن لم يأكل، ولقول الرسالة وأنت في الكل بالخيار

Kewajiban bagi yang berpuasa menghadiri acara walimah adalah selama dia belum menjelaskan waktu diundang bahwa dia sedang berpuasa, dan acara tersebut dilaksanakan sebelum terbenamnya matahari. Kalau tidak demikian, tidak wajib dia memenuhinya.

Menurut pendapat yang kuat sebagaimana yang diriwayatkan Muhammad, bahwa wajib bagi yang berbuka (tidak berpuasa) memenuhi undangan, meskipun tidak makan, seperti yang dikatakan dalam kitab Ar-Risalah : Kamu boleh memilih untuk makan atau tidak.

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 500 | Isna

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

(قال الشافعي - رحمه الله تعالى -) : وإن كان المدعو صائما أجاب الدعوة وبارك وانصرف ولم نحتم عليه أن يأكل وأحب إلي أن لو فعل وأفطر إن كان صومه غير واجب إلا أن يأذن قبل وبعد له رب الوليمة.

Imam Syafi'i -rahimahullah- berkata : Jika yang diundang (walimah) sedang berpuasa, datanglah dan berikan doa barakah kemduian pulang. Kami tidak mengharuskan berbuka, akan tetapi menurut saya lebih baik berbuka jika puasanya bukan puasa wajib, kecuali dia telah meminta izin sebelumnya atau sesudahnya kepada yang mengundang. .

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 6 hal. 196 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وان دعى وهو صائم لم تسقط عنه الاجابة ...، ولان القصد التكثير والتبرك بحضوره، وذلك يحصل مع الصوم

فإن كان الصوم فرضا لم يفطر ... وان كان تطوعا فالمستحب أن يفطر، لانه يدخل السرور على من دعاه، وان لم يفطر جاز لانه قربة فلم يلزمه تركها ...

Jika seseorang diundang dan dia sedang berpuasa, maka kewajibannya untuk hadir belum gugur ..., dan karena tujuannya adalah berkumpul dan meminta doa barakah dari kehadirannya, dan tujuan itu tetap bisa terpenuhi meskipun dia berpuasa.

Jika puasanya adalah puasa wajib tidak perlu berbuka ... dan jika puasanya adalah sunnah maka sebaiknya berbuka karena akan memberi kebahagiaan bagi yang mengundang. Kalaupun tidak ingin berbuka boleh-boleh saja karena merupakan ibadah, maka tidak wajib ditinggalkan....

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 16 hal. 404 | Qathrin

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

(فإن كان) الصوم (نفلا فإفطاره للمجاورة) يعني لجبر خاطر الداعي (أفضل) من إمساكه ولو آخر النهار ... (ويحرم) على الصائم (الإفطار من) صوم (فرض ولو توسع وقته) كنذر مطلق وقضاء ما فات من رمضان

(Jika) sedang berpuasa (sunnah maka disarankan berbuka) yakni untuk menghargai yang mengundang (dan ini lebih utama) daripada tetap berpuasa meskipun sudah menjelang sore ... (dan tidak boleh berbuka) bagi yang berpuasa (wajib meskipun waktunya longgar) seperti nadzar mutlak dan qadha ramdhan. .

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 226 | Qathrin

Abul Khatab Al-Kalwadzani (w. 510 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

وإذا حضر، فإن كان صائما صوما واجبا دعا وانصرف ولم يفطر، وإن كان متطوعا أو كان في تركه للأكل كسر قلب الداعي حضر واستحب له الإفطار

Dan apabila menghadiri undangan sedangkan ia sedang berpuasa wajib, maka ia berdo'a untuk kedua mempelai lalu pergi dan tidak membatalkan puasanya.

Namun apabila ia berpuasa sunnah, atau jika ia tidak makan akan menyakiti hari tuan rumah, maka disunnahkan baginya untuk membatalkan puasa dan makan..

Abul Khatab Al-Kalwadzani , Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad, jilid 0 hal. 410 | Ipung

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

وإذا دعي الصائم، لم تسقط الإجابة، فإذا حضر وكان الصوم واجبا، لم يفطر. وإن كان تطوعا، استحب له الفطر

Apabila seorang yang berpuasa diundang untuk menghadiri walimah, maka tetap wajib menghadirinya.

Apabila ia hadir dan ia berpuasa wajib, maka tidak membatalkan puasanya. Dan apabila ia berpuasa sunnah maka disunnahkan baginya untuk membatalkan puasanya (dan makan).

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 79 | Ipung

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: وفرض على كل من دعي إلى وليمة أو طعام أن يجيب - إلا من عذر - فإن كان مفطرا ففرض عليه أن يأكل، فإن كان صائما فليدع الله لهم،

Permasalahan : dan siapa saja yang diundang untuk acara walimah atau makan maka hukumnya fardhu untuk memenuhi undangan tersebut kecuali ada halangan tertentu, apabila ia tidak berpuasa maka hukumnya fardhu untuk makan , dan apabila ia berpuasa maka cukup baginnya mendoakan mereka..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 23 | Azizah

Sebagaimana yang telah kita baca, bisa disimpulkan bahwa :

1. Ulama mazhab Al-Hanafiyyah dan Al-Malikiyah berpendapat bahwa orang yang mendapat undangan tetap harus datang meski dia sedang berpuasa. Dan dua mazhab ini tidak mengharuskan berbuka puasa, dia bisa datang ke acara walimah lalu mendoakan pemilik hajat, kemudian pulang.

2. Para ulama mazhab Asy-Syafi'iyyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa orang yang berpuasa dianjurkan untuk berbuka jika hendak menghadiri walimah, jika puasanya adalah puasa sunnah. Namun jika puasanya adalah puasa wajib maka tidak perlu berbuka.

Alasan para ulama yang tidak mengharuskan berbuka adalah karena tujuan dari walimah masih bisa tercapai meski tanpa berbuka yakni dengan datang dan mendo'akan barakah bagi pemilik hajat. Sedangkan alasan yang menganjurkan berbuka adalah untuk menghargai pemilik hajat yang telah menyediakan makanan. Namun jika puasanya adalah puasa wajib maka tidak perlu berbuka karena puasa tersebut statusnya wajib sedangkan makan di acara walimah statusnya mubah. Wallahu a'lam

Baca Lainnya :

Kapan Seharusnya Walimah Diadakan?
Isnawati | 19 November 2015, 08:36 | published
Hukum Menghadiri Undangan Walimah
Fatimah Khairun Nisa | 16 November 2015, 06:00 | published
Hukum Mengadakan Walimah
Ipung Multiningsih | 15 November 2015, 05:28 | published
Menghadiri Walimah dalam Keadaan Berpuasa, Haruskah Membatalkan Puasanya?
Qathrin Izzah Fithri | 17 November 2015, 06:29 | published