|


 

Hasan Asy-Syarbilali (w. 1069 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Nurul Idhah wa Najatul Arwah sebagai berikut :

و كره للإمام تطويل الصلاة

Imam dimakruhkan memperlama shalat.

Hasan Asy-Syarbilali , Nurul Idhah wa Najatul Arwah, jilid 1 hal. 66 | Taslima

Al-Hashkafi (w. 1088 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor sebagai berikut :

وكره تحريما إطالة ركوع أو قراءة لادراك الجائي

“memperlama rukuk atau bacaan dengan maksud agar makmum mendapatinya hukumnya makruh yang mendekati haram”..

Al-Hashkafi, Ad-Durr Al-Mukhtar Syarh Tanwirul Abshor, jilid 1 hal. 68 | Nimah

Muhammad 'Illisy (w. 1299 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

تطويل الركوع والسجود مندوب

memperlama ruku dan sujud hukumnya sunnah.

Muhammad 'Illisy, Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil, jilid 1 hal. 471 | Taslima

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

فَهَلْ يَنْتَظِرُهُ لِيُدْرِكَ الرُّكُوعَ؟…….قُلْنَا: لَا يَنْتَظِرُ فَانْتَظَرَ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ عَلَى الْمَذْهَبِ

“Menurut kami: Imam tidak boleh menunggu, maka apabila menunggu tidak membatalkan shalat menurut madzhab”..

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 1 hal. 343 | Neng

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin sebagai berikut :

وَيُكْرَهُ التَّطْوِيلُ لِيَلْحَقَ آخَرُونَ

“Dimakruhkan memperpanjang (Rukuk) karena kedatangan makmum lain”. .

An-Nawawi, Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin, jilid 1 hal. 232 | Neng

Baca Lainnya :