|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

إذا جهر فيما يخافت فيه فعليه السهو قل ذلك أو كثر

Apabila (seorang imam) mengeraskan bacaan yang yang seharusnya ia lirihkan maka wajib baginya sujud sahwi, (baik ia telah mengeraskanya) sedikit maupun banyak”. .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 2 hal. 113 | Nimah

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

فإن أمّ في الجهرية وجب الجهر اتفاقا

jika menjadi imam pada shalat jahriyah maka wajib jahr.

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 488 | Taslima

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

بطلت صلاته... إن رجع وإنما يستمرّ ويسجد قبل السلام في... ترك الجهر

shalat batal jika mengulang ketika meninggalkan jahr, maka harus diteruskan dan sujud sebelum salam.

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 1 hal. 392 | Taslima

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

كَانَتْ الصَّلاةُجَهْرِيَّةً , وَأَسَرَّ فِيهَا ( قَرَأَ ) الْمَأْمُومُ السُّورَةَ( فِي الأَصَحِّ ) إذْ لا مَعْنَى لِسُكُوتِهِ .

“Pada shalat jahr dan imam membaca dengan pelan, maka makmum membaca surat (yang shahih menurut kami) karena pelannya tidak dianggap”. .

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 162 | Neng

Baca Lainnya :