Kapan Seharusnya Walimah Diadakan?

Thu 19 November 2015 08:36 | 0
Isnawati

Kapan seharusnya walimah pernikahan itu dianjurkan, apakah bersamaan dengan akad, atau setelah akad dan telah terjadinya hubungan suami istri? dalam hal ini ulama berbeda pendapat tentang waktu dianjurkannya, namun secara keseluruhan mereka menganjurkan untuk diadakan setelah terjadinya hubungan suami istri, karena Nabi saw mengadakan walimatul pernikahan beliau dengan shofiyah setelah terjadinya hubungan suami istri diantara keduanya. Sedangkan jika diadakan bersamaan dengan akad atau terjadinya hubungan suami maka mereka berbeda pendapat tentang dianjurkan atau kesunnahannya. Berikut ulasan para ulama:

 

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

وفي الجواهر يجعلها بعد البناء قال اللخمي هي قبله وبعده واسع فقد أولم - صلى الله عليه وسلم - على صفية بعد البناء

Dalam kitab Al- Jawahir : Pelaksanaan walimah sebaiknya diadakan setelah terjadinya hubungan suami istri. Al-Lakhami mengatakan: Waktu pelaksaan walimah itu luas, boleh diadakan sebelum atau sesudah terjadinya hubungan suami istri, sebagaimana rasulullah yang mengadakan walimah pernikahannya dengan Shofiyah setelah terjadinya hubungan suami istri..

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 4 hal. 451 | Isna

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

(المسألة الثالثة) في الوليمة وهي مأمور بها ومحلها بعد البناء

Mengadakan walimah itu diperintahkan, dan waktunya setelah terjadinya hubungan suami istri. .

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 130 | Isna

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

ووقتها بعد البناء كما عبر به ابن الحاجب وما ذكره من كونها بعد البناء هو المشهور وهو قول مالك أرى أن يولم بعد البناء

(قوله لم تكن وليمة شرعا) أي لكونها وقعت قبل وقتها (قوله فإن فعلت قبل أجزأت) أي لأن غاية ما فيه إنها فعلت في غير وقتها المستحب وعلى هذا فقول المصنف ووقتها بعد البناء المراد وقتها الذي يستحب فعلها فيه

Waktu pelaksanaan walimah itu setelah terjadinya hubungan suami istri, sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajib, inilah pendapat yang masyhur dan inilah pendapat imam Malik: Menurut pendapat saya, pelaksanaan walimah itu setelah terjadinya hubungan suami istri.

walimah tidak diperintahkan jika sebelum waktu yang di sunnahkan, dan menurut penulis, waktu yang disunnahkan adalah setelah terjadinya hubungan suami dan istri. .

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 2 hal. 337 | Isna

Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj sebagai berikut :

والأفضل فعلها عقب الدخول ... ولا تفوت بطلاق ولا موت ولا بطول الزمن

(Waktu mengadakan walimah) yang paling utama adalah setelah jima' ... tidak ditunda hingga talak, kematian, atau waktu yang begitu lama. .

Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 7 hal. 424 | Qathrin

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

والأفضل فعلها بعد الدخول؛ لأنه - صلى الله عليه وسلم - لم يولم على نسائه إلا بعد الدخول

(Waktu mengadakan walimah) yang paling utama adalah setelah jima'; karena Nabi -shallallahu 'alahi wa sallam- tidak mengadakan walimah bagi para istrinya kecuali setelah jima'. .

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 4 hal. 404 | Qathrin

Al-Malibari (w. 987 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Mu'in sebagai berikut :

ووقتها الأفضل بعد الدخول للاتباع وقبله بعد العقد يحصل بها أصل السنة

Waktu mengadakan (walimah) yang paling utama adalah setelah jima' sebagaimana dilakukan Nabi, dan setelah akad sebelum jima' masih termasuk sunnah .

Al-Malibari, Fathul Mu'in, jilid 1 hal. 490 | Qathrin

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

إحداهما: تستحب الوليمة بالعقد. قاله ابن الجوزي. واقتصر عليه في الفروع ...

وقال الشيخ تقي الدين - رحمه الله -: تستحب بالدخول.

قلت: الأولى أن يقال: وقت الاستحباب موسع من عقد النكاح إلى انتهاء أيام العرس. لصحة الأخبار في هذا وكمال السرور بعد الدخول، لكن قد جرت العادة فعل ذلك قبل الدخول بيسير.

... Waktu walimah mustahab dilaksanakan bersamaan dengan waktu akad. Yang mengatakannya adalah ibnu jauzy, dan mencukupkannya di kitab "Al-Furu'"...

Dan Syeikh Taqiyyuddin berkata: Waktu walimah mustahab dengan terjadinya hubungan suami istri.

Dan saya penulis berkata (Al-Mardawy): yang utama dikatakan: waktu mustahab luas, yaitu dari akad nikah sampai akhir hari-hari pernikahan. Karena kesahihan hadist dalam bab ini, dan kesempurnaan nya sebuah kebahagiaan setelah melakukan hubungan suami istri, namun biasanya walimah diadakan tidak lama sebelum melakukan hubungan suami istri..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 8 hal. 317 | Ipung

Al-Buhuti (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Syarh Muntaha Al-Iradat sebagai berikut :

(، وتسن الوليمة بعقد نكاح) ; لأنه صلى الله عليه وسلم فعلها، وأمر بها فقال لعبد الرحمن بن عوف حين قال له: تزوجت " أولم " ولو بشاة،...

وقوله بعقد قاله ابن الجوزي، وقدمه في تجريد العناية، وقال الشيخ تقي الدين: تستحب بالدخول. وفي الإنصاف قلت: الأولى أن يقال: وقت الاستحباب موسع من عقد النكاح إلى انتهاء العرس لصحة الأخبار في هذا وهذا، وكمال السرور بعد الدخول لكن قد جرت العادة بفعل ذلك قبل الدخول بيسير. اه

( Dan disunnahkan mengadakan walimah bersamaan akad nikah) karena Rasulullah melakukan hal itu, dan memerintahkan hal tersebut, dan Rasul berkata kepada Abdurrahman bin Auf: engkau telah menikah, maka adakanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa walimah diadakan bersamaan dengan akad, adalah perkataan ibnu jauzy yang mengatakan bahwa waktu walimah mustahab bersamaan dengan waktu akad, dan mencukupkannya di kitab "Al-Furu'" dan telah menyebutkan sebelumnya di "Al-'Inayah"

Dan Syeikh Taqiyyuddin berkata: Waktu walimah mustahab dengan terjadinya hubungan suami istri.

Dan saya penulis berkata (Al-Mardawy)dalam kitab Al-Inshaf: yang utama dikatakan: waktu mustahab untuk mengadakan walimah adalah luas, yaitu dari akad nikah sampai akhir hari-hari pernikahan. Karena kesahihan hadist dalam bab ini, dan kesempurnaan nya sebuah kebahagiaan setelah melakukan hubungan suami istri, namun biasanya walimah diadakan tidak lama sebelum melakukan hubungan suami istri.

Al-Buhuti, Syarh Muntaha Al-Iradat, jilid 3 hal. 32 | Ipung

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

وقال ابن الجوزي: بالعقد واقتصر عليه في الفروع والمبدع وقدمه في تجريد العناية قال في الإنصاف: الأولى أن يقال: وقت الاستحباب موسع من عقد النكاح إلى انتهاء أيام العرس لصحة الأخبار في هذا وهذا، وكمال السرور بعد الدخول. (وجرت العادة) بجعل الوليمة (قبله) أي قبل الدخول (بيسير و)

Ibnu Jauzy berkata: Waktu walimah yang mustahab adalah bersamaan dengan waktu akad, dan mencukupkannya di kitab "Al-Furu'" dan "Al-Mubdi'" dan telah disebutkan dalam kitab "tajrid Al-'Inayah".

Dan penulis Al-Inshaf berkata (Al-Mardawy): yang utama dikatakan: waktu mustahab luas, yaitu dari akad nikah sampai akhir hari-hari pernikahan. Karena kesahihan hadist dalam bab ini, dan kesempurnaan nya sebuah kebahagiaan setelah melakukan hubungan suami istri, namun (biasanya) walimah diadakan beberapa saat tidak lama(sebelum) melakukan hubungan suami istri .

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 5 hal. 165 | Ipung

Wallahu'alam bis shawab.

Baca Lainnya :

Kapan Seharusnya Walimah Diadakan?
Isnawati | 19 November 2015, 08:36 | published
Hukum Menghadiri Undangan Walimah
Fatimah Khairun Nisa | 16 November 2015, 06:00 | published
Hukum Mengadakan Walimah
Ipung Multiningsih | 15 November 2015, 05:28 | published
Menghadiri Walimah dalam Keadaan Berpuasa, Haruskah Membatalkan Puasanya?
Qathrin Izzah Fithri | 17 November 2015, 06:29 | published