Batasan waktu mencicil mahar

Wed 18 November 2015 06:00 | 0
Nur Azizah Pulungan

Mahar merupakan hak seorang istri yang harus dibayarkan oleh suami setelah akad diucapkan. Para ulama sepakat bahwa mahar boleh dibayarkan dengan cara mencicil. Tata cara mencicil ini pun berbeda-beda. Sebagian ulama menentukan batas waktu mencicil dan sebagian yang lain tidak.

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

إذا كان مؤجلا بأن تزوجها على مهر آجل فإن لم يذكر الوقت لشيء من المهر أصلا بأن قال: تزوجتك على ألف مؤجلة، أو ذكر وقتا مجهولا جهالة متفاحشة بأن قال: تزوجتك على ألف إلى وقت الميسرة أو هبوب الرياح أو إلى أن تمطر السماء فكذلك؛ لأن التأجيل لم يصح لتفاحش الجهالة فلم يثبت الأجل ولو قال: نصفه معجل ونصفه مؤجل كما جرت العادة في ديارنا ولم يذكر الوقت للمؤجل اختلف المشايخ فيه قال بعضهم: لا يجوز الأجل ويجب حالا كما إذا قال: تزوجتك على ألف مؤجلة. وقال بعضهم: يجوز ويقع ذلك على وقت وقوع الفرقة بالطلاق أو الموت

Dan apabila mahar itu diakhirkan atau dicicil, yaitu menikahi istrinya dengan mahar yang akan di bayar dengan dicicil, dan belum di tentukan waktu tertentu untuk membayarnya, seperti halnya jika suami berkata: aku menikahimu dengan mahar sejumlah seribu dibayar dengan cicilan, atau waktunya ditentukan akan tetapi pada waktu yang masih belum jelas, seperti halnya suami berkata: aku menikahimu dengan mahar sejumlah seribu yang akan dibayar pada saat lapang atau ketika angin bertiup, atau ketika turun hujan dan lain sebagainya, mencicil itu tidak sah karena adanya suatu ketidak jelasan di dalamnya maka waktunya menjadi tidak tetap, dan apabila suami berkata: setengah dari mahar dibayar dengan segera dan yang setengahnya lagi akan dicicil, seperti kebiasaan yang terjadi dalam lingkungan kita dan batas waktu pencicilan belum ditentukan maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, sebagian berpendapat bahwa: mahar tidak boleh dibayar dengan cicilan,tapi harus dibayar tunai, seperti halnya jika suami berkata : aku menikahimu dengan mahar seribu dicicil. Dan sebagian yang lain berpendapat : mahar boleh dicicil apabila terjadinya perpisahan dengan thalaq atau ditinggal mati..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 288 | Azizah

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

فقد اختلفت الفتوى وفي معراج الدّراية إذا كان المهر مؤجّلا وهذا إذا كان الأجل معلوما فإن كان مجهولا فإن كانت جهالة متقاربة كالحصاد والدياس ونحو ذلك فهو كالمعلوم وإن كانت متفاحشة كإلى الميسرة أو إلى هبوب الريح أو إلى أن تمطر السماء فالأجل لا يثبت ويجب المهر حالا

Banyak fatwa yang berbeda tentang mengakhirkan mahar …. Dan apabila waktunya tidak diketahui, jika waktunya berdekatan seperti sampai masa panen, atau waktu mengolah hasil panen atau selain dari itu maka hal itu seperti halnya waktu yang telah diketahui Dan apabila waktu yang tidak diketahui itu ukurannya tidak pasti seperti diakhirkan dengan batas waktu sebentar, atau sampai angin berhembus, atau sampai langit hujan, maka waktu yang seperti ini tidak bisa digunakan dan wajib memberikan mahar disaat itu juga .

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 3 hal. 190 | Fatimah

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

قوله إلّا إذا جهل الأجل) إذا هنا ظرفيّة فهو استثناء من أعمّ الظّرف: أي كما شرطا في كلّ وقت إلّا في وقت جهل الأجل فافهم. قال في البحر: فإن كانت جهالة متقاربة كالحصّاد والدّياس ونحوه فهو كالمعلوم على الصّحيح كما في الظّهيريّة بخلاف البيع فإنّه لا يجوز بهذا الشّرط، وإن كانت متفاحشة كإلى الميسرة أو إلى هبوب الرّيح، أو إلى أن تمطر السّماء فالأجل لا يثبت ويجب المهر حالّا، وكذا في غاية البيان. اهـ.

(Perkataan Al Hashkafi : jika waktunya tidak diketahui) : ‘Idza’ disini bermakna menunjukkan keterangan waktu yang dikecualikan : maksudnya adalah : seperti halnya jika mereka mensyaratkan pada suatu waktu kapan saja kecuali jika waktunya tidak diketahui Dan beliau mengatakan dalam kitab Al Bahru : Apabila waktu yang tidak diketahui itu berdekatan seperti waktu panen, waktu memproses hasil panen dan yang semisalnya maka waktu tersebut seperti halnya waktu yang telah diketahui inilah pendapat yang shahih dalam madzhab, begitu pula dalam madzhab Adz Dzahiriyah, lain halnya dalam hal jual beli, dalam hal tersebut tidak diperbolehkan syarat ini. Dan apabila waktu yang tidak diketahui tidak tentu seperti hanya sebentar, atau sampai angin berhembus, atau sampai langit turun hujan maka waktu yang seperti ini tidak bisa digunakan dan wajib memberikan mahar secara tunai, begitu pula pendapat yang ada dalam kitab ‘Ghayatul Bayan’ .

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 3 hal. 144 | Fatimah

Al-Qairawani (w. 386 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya An-Nawadir wa Az-Ziyadat ’Ala Ma Fil Mudawanah Min Ghairiha Minal Ummahat sebagai berikut :

ومن كتاب ابن المواز: وكره مالك الصداق بعضه معجل وبعضه إلى ست سنين. وقال ابن القاسم: لا يعجبني إلا إلى سنة وسنتين؛ فإن وقع في المسألة الأولى لم أفسخه إلا في الأجل البعيد.

وقال ابن وهب: القريب الجائز إلى خمس ولا يفسخ، وكذلك العشرون أو أكثر قليلاً، ما لم يبعد جداً مثل الأربعين، ثم رجع فقال: وإن وقع إلى أكثر من ثلاثين، لم يفسخ وإن لم يدخل ما لم يبعد جداً.

Dalam kitab Ibnu Mawaj disebutkan, Imam Malik membenci pembayaran mahar yang dibayarkan sebagiannya sebelum akad, dan sebagiannya lagi dicicil sampai enam tahun. Ibnu Qasim juga mengatakan: Aku tidak menyukai pembayaran mahar yang dicicil kecuali sampai satu atau dua tahun (setelah akad). Jika terjadi seperti yang masalah pertama ini, maka pernikahannya tidak difasakh, namun, jika dicicil pembayarannya sampai waktu yang lebih lama maka pernikahannya difasakh.

Ibnu Wahab mengatakan: Mencicil mahar dalam kurun waktu yang tidak lama sampai lima tahun itu boleh, begitupun sampai dua puluh tahun atau lebih, selama waktunya tidak terlalu lama seperti sampai empat puluh tahun, kemudian beliau mengatakan, bahkan jika hal itu terjadi dalam kurun waktu tiga puluh tahun lebih maka pernikahnnya tidak difasakh selama tidak untuk waktu yang sangat lama..

Al-Qairawani, An-Nawadir wa Az-Ziyadat ’Ala Ma Fil Mudawanah Min Ghairiha Minal Ummahat, jilid 4 hal. 461 | Isna

Tajuddin Ad-Dimyati (w. 805 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya As-Syamil fi Fiqhi Imam Malik sebagai berikut :

فإن أُعْدِمَ أُجِّلَ لإثبات عسره بحميل أو سجن إحدى وعشرين يوماً ستة ستة ثم ثلاثة.

Jika seorang suami tidak mempunyai mahar waktu akad, dia boleh mencicilnya dengan alasan kesusahan disebabkan karena dia memiliki tanggungan atau dipenjara. Dalam keadaan itu dia punya waktu dua puluh satu hari untuk mencicil maharnya, angsuran pertama pada hari keenam, angsuran kedua enam hari berikutnya, begitupun angsuran ketiga enam hari berikutnya dan angsuran terakhir tiga hari berikutnya. .

Tajuddin Ad-Dimyati, As-Syamil fi Fiqhi Imam Malik, jilid 1 hal. 362 | Isna

Muhammad 'Illisy (w. 1299 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

أي فقر الزوج فيؤجل (ثلاثة أسابيع) ظاهره دفعة واحدة، والذي في المتيطي وابن عرفة يؤجل بثمانية أيام ثم بستة أيام ثم بأربعة ثم بثلاثة أيام.

ابن عرفة ليس هذا التحديد بلازم وإنما هو استحسان لاتفاق قضاة قرطبة وغيرهم عليه، وهو موكول لاجتهاد الحاكم.

Ketika suami faqir, maka dia boleh mencicil maharnya sampai tiga minggu, menurut pendapat yang paling jelas, itu di bayarkan satu kali pembayaran, dan menurut Al-Matithi dan Ibnu Arafah suami membayar maharnya dengan beberapa kali angsuran,( angsuran pertama) pada hari kedelapan, kemudian( angsuran kedua) enam hari berikutnya, kemudian (angsuran ketiga) empat hari berikutnya, dan yang terakhir tiga hari setelahnya.

Ibnu Arafah mengatakan: Ini bukan batas waktu yang pasti, melainkan bentuk istihsan berdasarkan kesepakatan para qadhi (hakim) di Cordova dan sekitarnya, semuanya diserahkan pada keputusan hakim.

Muhammad 'Illisy, Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 429 | Isna

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

فإذا نكحها بمهر مجهول ... عقد النكاح ثابت والمهر باطل فلها مهر مثلها ... وذلك مثل أن ينكح بثمرة لم يبد صلاحها على أن يدعها إلى أن تبلغ فيكون لها مهر مثلها وتكون الثمرة لصاحبها

Jika seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan mahar majhul ... akad nikah tetap sah dan maharnya bathil maka wanita berhak mendapat mahar mitsl ... contohnya jika laki-laki menikah dengan mahar buah-buahan yang belum matang dan harus menunggu hingga matang maka wanita yang dinikahi berhak mendapat mahar mitsl dan buah-buahan tadi kembali kepada pemiliknya. .

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 5 hal. 76 | Qathrin

Mahar majhul : mahar yang tidak diketahui bentuknya dan waktu pembayarannya. Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

وإذا جاز أن يعقد النكاح بغير مهر فيثبت فهذا دليل على الخلاف بين النكاح والبيوع والبيوع لا تنعقد إلا بثمن معلوم والنكاح ينعقد بغير مهر ... وأن الصداق لا يفسد عقده أبدا فإذا كان هكذا فلو عقد النكاح بمهر مجهول أو حرام فثبتت العقدة بالكلام وكان للمرأة مهر مثلها

Jika boleh melakukan akad nikah tanpa mahar dan sah, maka ini menunjukkan perbedaan antara pernikahan dan jual beli. Karena jual beli tidak sah kecuali dengan harga yang telah ditetapkan sedangkan pernikahan sah meskipun tanpa mahar ... Dan karena mahar tidak merusak akad, maka jika seseorang melakukan akad dengan mahar majhul atau haram maka akadnya sah dan wanita berhak mendapat mahar mitsl... .

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 5 hal. 63 | Qathrin

Mahar majhul : mahar yang tidak diketahui bentuknya dan kapan akan dibayarkan. Mahar mitsl : mahar standar. Abul Khatab Al-Kalwadzani (w. 510 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

ذهب في مسألة المهر إلى القول: إن أجل المهر ولم يذكر أجله فإنه لا يصح ويرجع لمهر المثل. (2)

Imam Ahmad berpendapat dalam masalah mahar : jika mahar itu diakhirkan dan tanpa menyebutkan batas waktunya maka tidak sah maharnya dan ia berhak mendapatkan mahar mitsl .

Abul Khatab Al-Kalwadzani , Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad, jilid 0 hal. 32 | Ipung

Mahar mitsl: mahar standart, yang sesuai dengan mahar ibu, bibi, maupun saudara perempuannya

Sebagian ulama madzhab hanafi memang membolehkan untuk mencicil mahar akan tetapi harus ditentukan batasan waktunya. Ulama mazhab Maliki pun membolehkannya dan memeberikan batasan waktu yaitu sekitar 21 hari. Ulama mazhab Syafi'i permasalahan ini menggunakan istilah mahar majhul (mahar yang tidak diketahui bentuknya dan kapan waktu dibayarnya) dan mewajibkan mahar mitsl. Ulama mazhab Hanbali menjadikan mahar yg dicicil itu tidak sah dan mewajibkan tetap berhak mendapatkan mahar mitsl

Baca Lainnya :

Akad Nikah Tanpa Mahar, Sah atau Tidak?
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:16 | draft
Batas Minimal Mahar
Miratun Nisa | 7 October 2015, 18:28 | published
Bolehkah Manfaat Dijadkan Mahar?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:17 | published
Suami Mengatakan Sudah Menyerahkan Mahar, Namun Istri Mengingkarinya
Miratun Nisa | 14 October 2015, 15:50 | published
Mengajarkan Al-Quran Bisakah Dijadikan Mahar?
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:18 | draft
Standar Mahar Mitsl
Miratun Nisa | 9 October 2015, 07:00 | published
Suami Istri Berbeda Pendapat dalam Penyebutan Mahar Saat Akad
Siti Sarah Fauzia | 31 October 2015, 19:38 | published
Pengertian Mahar Menurut Ulama
Zuria Ulfi | 11 October 2015, 13:03 | published
Batasan waktu mencicil mahar
Nur Azizah Pulungan | 18 November 2015, 06:00 | published
Hukum meminta pelunasan mahar saat suami kesulitan
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:04 | approved
Ketentuan adil dalam menggilir para istri
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:17 | approved
اشتراط الولي شيئاً من المهر لنفسه
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:18 | draft
Membunuh Suami Sebelum Dukhul, Gugurkah Hak Mendapatkan Mahar ?
Achadiah | 21 November 2015, 16:00 | published
Menikah dibawah umur, Siapakah yang Berhak Memegang Maharnya?
Siti Sarah Fauzia | 31 October 2015, 19:43 | approved