|


 

Al-Qaduri (w. 428 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mukhtashar Al-Qaduri sebagai berikut :

ومن أعسر بنفقة امرأته لم يفرق بينهما ويقال لها: استديني عليه… وإذا مضت مدة لم ينفق الزوج عليها وطالبته بذلك فلا شيء لها إلا أن يكون القاضي فرض لها النفقة أو صالحت الزوج على مقدارها فيقضي لها بنفقة ما مض

Seseoranng yang tidak mampu memberikan nafkah untuk istrinya, maka keduanya tidak boleh dipisahkan. tapi hendaklah dikatakan kepada istrinya: Berhutanglah atas suamimu. Jika berlalunya waktu, sang suami tak kunjung menafkahinya, dan istri menuntut yang demikian itu, maka istri tidak berhak atas apapun, melainkan seorang hakim mewajibkan sang istri menafkahi dirinya sendiri, atau istri mengajukan perjanjian damai kepada suami dengan dia membayarkan kadar nafkah tersebut, maka suami wajib memeberikan nafkah yang sebelumnya belum dia ditunaikan..

Al-Qaduri, Al-Mukhtashar Al-Qaduri, jilid 1 hal. 173 | Isna

Al-Babarty (w. 786 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-'inayah Syarhul Hidayah sebagai berikut :

ألا ترى أن الزوج إن أعسر حتى خرج عن كفاءتها لم يكن لها خيار،

Tidakkah kamu melihat, jika seorang suami tidak mampu menafkahi istrinya, sampai-sampai hal itu keluar dari batas kafaah, tetaplah istri tidak mempunyai hak khiyar.

Al-Babarty, Al-'inayah Syarhul Hidayah, jilid 3 hal. 403 | Isna

Khiyar adalah memilih antara tetap mempertahankan rumah tangganya, atau memutuskan untuk mensudahinya dengan perceraian Al-Babarty (w. 786 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-'inayah Syarhul Hidayah sebagai berikut :

(ومن أعسر بنفقة امرأة لم يفرق بينهما ويقال لها استديني عليه) أي اشتري الطعام نسيئة على أن تقضي الثمن من مال الزوج

Orang yang tidak mampu memberikan nafkah untuk istrinya, tidaklah keduanya dipisahkan,dan dikatakan kepada istrinya: Berhutanglah atas suamimu. yaitu belilah makanan dengan berhutang, dan hutang tersebut dibebankan kepada suaminya..

Al-Babarty, Al-'inayah Syarhul Hidayah, jilid 4 hal. 389 | Isna

Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

(ومن أعسر بنفقة امرأته لم يفرق بينهما) ش: أي بينه وبين امرأته، وهو قال الزهري وعطاء بن يسار، والحسن البصري، وسفيان الثوري، وابن أبي ليلى، وابن شبرمة، وحماد بن أبي سليمان، والظاهرية. م: (ويقال لها) ش: أي للمرأة. م: (استديني عليه) ش: أي على الزوج. ومعنى الاستدانة أن تشتري الطعام على أن يؤدي الزوج ثمنه.

Orang yang tidak mampu memberikan nafkah untuk istrinya, tidaklah keduanya dipisahkan, yaitu suami dan istri. Dan ini adalah pendapatnya Azh-Zhuhri, Atha bin Yassar, Al-Hasan Al-Basri ,Sufyan Ats-Tsauri, dll. Dan dikatakan kepada istrinya: Berhutanglah atas suamimu. Yaitu dengan membeli makanan secara berhutang, yang hutang itu dibebankan kepada suaminya..

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 5 hal. 671 | Isna

Al-Qadhi Abdul Wahab (w. 422 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya 'Uyunul Masail sebagai berikut :

إذا أعسر بنفقة زوجته، فهي بالخيار بين أن تقيم معه ولا نفقة لها في ذمته إِلَّا برضاه، وبين طلب الفراق، فيفرق الحاكم بينهما

Jika seorang suami tidak mampu menafkahi istrinya, istri berhak memilih, antara tetap hidup bersamanya tanpa nafkah ... atau meminta cerai. Maka hakim yang akan memisahkan keduanya. .

Al-Qadhi Abdul Wahab, 'Uyunul Masail, jilid 1 hal. 394 | Isna

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

[فسخ النكاح لعدم النفقة] وحاصل المراد لها أولا طلب الفسخ والقيام به فإذا طلبته فعل

Bab: Pernikah yang difasakh karena ketiadaan nafkah

Kesimpulannya dalam hal ini, pertama, seorang istri berhak meminta fasakh dan harus dilaksanakan jika dia meminta..

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 745 | Isna

Muhammad 'Illisy (w. 1299 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

(ولها) أي الزوجة ولو محجورة (الفسخ) للنكاح بطلقة رجعية …(إن عجز) الزوج (عن نفقة حاضرة) سواء أثبت عجزه أم لا، وكذا الكسوة (لا) أي ليس لها الفسخ إن عجز عن نفقة (ماضية) تركها وهو موسر ولها مطالبته بها كالدين

Seorang istri, berhak meminta fasakh pernikahannya, dengan dijatuhkankannya thalaq raj’i (thalaq satu atau dua), jika suami kesulitan memberikan nafkah, begitu juga jika dia kesulitan memberikan pakaian. Tapi istri tidak mempunyai hak meminta fasakh karena masalah nafkah pada masa lampau, ketika keadaan suami masih lapang, jika dia meminta nafkah tersebut, maka itu menjadi hutang bagi suami. .

Muhammad 'Illisy, Manhu Al-Jalil Syahru 'Ala Mukhtashar Khalil, jilid 4 hal. 405 | Isna

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

قال وإذا وجد نفقة امرأته يوما بيوم لم يفرق بينهما وإذا لم يجدها لم يؤجل أكثر من ثلاث ولا يمنع المرأة في الثلاث من أن تخرج فتعمل أو تسأل فإن لم يجد نفقتها خيرت

Imam Asy-Syafii mengatakan: Ketika suami mampu menafkahi yang cukup menafkahi istrinya perhari, hakim tidak boleh memisahkan keduanya, tapi jika dia tidak mampu menafkahi lebih dari tiga hari, selama itu istri tidak dilarang untuk keluar rumah untuk bekerja atau meminta-minta, jika dia tidak juga mendapatkan nafkah untuk dirinya, maka dalam kondisi ini istri berhak menkhiyar (memilih). .

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 5 hal. 98 | Isna

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

إذا أعسر الزوج بنفقة المعسر فلها أن تفسخ النكاح…ولأنه إذا ثبت لها الفسخ بالعجز عن الوطء والضرر ففيه أقل فلأن يثبت بالعجز عن النفقة والضرر فيه أكثر من الأولى وإذا أعسر ببعض نفقة المعسر ثبت لها الخيار لأن البدن لا يقوم بما دون المد وإن أعسر بما زاد على نفقة المعسر لم يثبت لها الفسخ لأن ما زاد غير مستحق مع الإعسار وإن أعسر بالأدم لم يثبت لها الفسخ لأن البدن يقوم بالطعام من غير أدم وإن أعسر بالكسوة ثبت لها الفسخ لأن البدن لا يقوم بغير الكسوة كما لا يقوم بغير القوت وإن أعسر بنفقة الخادم لم يثبت لها الفسخ لأن النفس تقوم بغير خادم وإن أعسر بالمسكن ففيه وجهان: أحدهما: يثبت لها الفسخ لأنه يلحقها الضرر لعدم المسكن والثاني: لا يثبت لأنها لا تعدم موضع تسكن فيه

فصل: وإن لم يجد إلا نفقة يوم بيوم لم يثبت لها الفسخ لأنه لا يلزمه في كل يوم أكثر من نفقة يوم وإن وجد في أول النهار ما يغديها وفي آخره ما يعشيها ففيه وجهان: أحدهما: لها الفسخ لأن نفقة اليوم لا تتبعض والثاني: ليس لها الفسخ لأنها تصل إلى كفايتها وإن كان يجد يوماً قدر الكفاية ولا يجد يوماً ثبت لها الفسخ لأنه لا يحصل لها في كل يوم إلا بعض النفقة .

Istri memiliki hak fasakh jika suaminya tidak mampu memberikan nafkah sebagaimana nafkah orang yang susah. Karena sebagaimana difasakhnya pernikahan itu karena ketidak mampuan suami menjima’ istrinya, maka dengan ketidak mampuannya memberikan nafkah itu, hal ini jauh lebih besar mudharatnya bagi istri.

Ketika suami hanya mampu memberikan sebagian nafkah nafkahnya orang susah, maka istri memilki memilki hak khiyar, karena badan tidak mampu bertahan dengan asupan makanan yang kurang dari satu mud.

Dan ketika suami tidak mampu memberikan nafkan seperti nafkahnya golongan menengan ke atas, istri tidaklah memiliki hak fasakh, karena dia hanya tidak mampu memberikan yang lebih dari sekedar nafkahnya golongan bawah. Begitu pun kalau hanya karena ketidak mampuannya memeberikan lauk pauk, karena badan masih bisa bertahan dengan makanan pokok tanpa lauk.

Tapi dalam masalah pakaian, seseorang tidak bisa hidup tanpa pakaian seperti halnya tidak akan bisa hidup seseorang tanpa makanan pokok, sehingga dalam hal ini istri memilki hak fasakh, beda halnya kalau suami tidak mampu membayar jasa pembantu, karena seseorang bisa hidup tanpa pembantu. Tapi jika dia tidak mampu memberikan tempat tinggal, dalam masalah ini ada dua pendapat: 1. Dia memiliki hak fasakh, karena tanpa tempat tinggal seseorang akan mendapatkan mudharat. 2. Dia tidak memilki hak fasakh, karena dia bukan tidak memiiliki tempat untuk dia tinggali.

Fashal: Seorang istri tidak memilki hak fasakh jika suaminya hanya mampu mendapatkan nafkah harian, karena tidak mesti seseorang mendapatkan nafkah yang bisa melebihi kebutuhannya dalam sehari. Jika dia mendapatkan nafakah yang cukup buat makan siangnnya istri, di hari berikutnya hanya cukup buat makan malamnya, maka dalam hal ini ada dua pendapat: 1. Istri berhak memfasakh, karena nafkah buat sehari tidak bisa dibagi-bagi. 2. Istri tidak memilki hak fasakh, karean itu sudah termasuk kadar yang cukup. Tapi kalau suami misalkan sehari dapat nafkah, sehari tidak, maka istri memiliki hak fasakh, .

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 154 | Isna

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

إذا (أعسر) الزوج... (فإن صبرت) بها وأنفقت على نفسها من مالها أو مما اقترضته (صارت دينا عليه) . تنبيه: هذا إذا لم تمنع نفسها منه، فإن منعت لم تصر دينا عليه... بأن لم تصبر (فلها الفسخ)

Jika suami tidak mampu menafkahi istriny, maka jika sang istri bersabar dan menafkahi dirinya sendiri dari hartanya maupun dari hasil pinjaman, maka yang demikian menjadi hutang bagi suami yang harus dilunasi untuk istrinya. Meskipun hakim , dia seperti layaknya hutang yang telah ditetapkan. Catatan penting: ini jika istrinya tidak menolak keadaannya tersebut, tapi jika dia menolak, maka hal itu bukan merupakan hutang lagi. Sebagaimana yang dikatakan imam Ar-Rafi’I, jika dia tidak bisa bersabar dia boleh memfasakh..

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 5 hal. 176 | Isna

Syamsuddin Abul Farraj Ibnu Qudamah (w. 682 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Syarhu Al-Kabir 'ala Matni Al-Muqni' sebagai berikut :

(فصل) وإن أعسر الزوج بنفقتها أو بعضها أو بالكسوة خيرت بين فسخ النكاح والمقام وتكون النفقة ديناً في ذمته، وعن أحمد ما يدل على أنها لا تملك الفسخ بإعساره، والأول المذهب، إذا منع الرجل نفقة امرأته لعسرته وعدم ما ينفقه خيرت بين الصبر عليه وبين فراقه

Fasal: jika seorang suami kesulitan memberikan nafkah, atau sebagiannya, atau memberikan pakaian, maka istri memilki hak khiyar, diantara memfasakh pernikahnnya, atau tetap mempertahankan.dan nafkahnya itu menjadi hutang bagi suami. Dan diriwayatkan dari ImamAhmad, bahwasanya istri tidak memiliki hak fasakh dengan kesulitan suami. Tapi pendapat pertama yang diambil oleh madzhab. Dan jika suami menolak menafkahi istri lantaran keadaanya yang sulit, istri juga memiliki hak khiyar, bersabar dengan keadaan atau meminta fasakh..

Syamsuddin Abul Farraj Ibnu Qudamah, Syarhu Al-Kabir 'ala Matni Al-Muqni', jilid 9 hal. 263 | Isna

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

(وإن أعسر الزوج بنفقتها، أو ببعضها، أو بالكسوة) وكذا ببعضها (خيرت بين فسخ النكاح والمقام، وتكون النفقة دينا في ذمته) . يعني نفقة الفقير. ومحله إذا لم تمنع نفسها. الصحيح من المذهب: أن لها الفسخ بذلك مطلقا.

Jika seorang suami kesulitan memberikan nafkah, atau sebagiannya, atau memberikan pakaian, maka istri memilki hak khiyar, diantara memfasakh pernikahnnya, atau tetap mempertahankan.dan nafkahnya itu menjadi hutang bagi suami, dengan syarat istri menerima keadaan tersebut. Namun berdasarkan pendapat yang paling benar dalam madzhab adalah, Dia memiliki hak fasakh secara mutlak. .

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 9 hal. 383 | Isna

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

(فصل وإن أعسر الزوج بنفقتها) الواجبة (أو) أعسر الزوج (ببعضها) أي بعض النفقة بأن أعسر (عن نفقة المعسر) فلها الفسخ و (لا) تفسخ إذا أعسر (بما زاد عنها) أي عن نفقة المعسر، لأن الزيادة تسقط بإعساره (أو) أعسر الزوج (بالكسوة أو ببعضها أو) أعسر (بالسكنى أو) أعسر (ب) المهر (بشرطه وتقدم) السابق في آخر الصداق (خيرت على التراخي بين الفسخ من غير انتظار) أي تأجيل ثلاثا.

Fasal: Jika suami kesuliatan memberikan nafkah wajib istrinya, meski hanya sebagiannya, maka istri memiliki hak fasakh, tapi tidak dengan kesulitan untuk nafkah yang melebihi nafkahnya kalangan bawah. Karena nafkah yang melebihi kebutuhan standar kalangan bawah tidak menjadi tanggung jawabnya dengan kesulitan yang dialami. Adapun kalau suami kesulitan dalam memberi pakaian, atau sebagiannya, atau memberi tempat tinggal, atau kesulitan memberi mahar maka istri boleh memilih untuk fasakh tanpa menunggu ketiga hal tersebut (pakaian, tempat tinggal, dan mahar). .

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 5 hal. 476 | Isna

Baca Lainnya :