|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

امرأة صلت خلف الإمام وقد نوى الإمام إمامة النساء فوقفت في وسط الصف، فإنها تفسد صلاة من عن يمينها ومن عن يسارها ومن خلفها

Seorang perempuan shalat di belakang imam yg berniat menjadi imam perempuan tersebut. Kemudian perempuan berdiri di tengah shaf, maka shalat orang yang di samping kanan dan kirinya menjadi batal.

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 1 hal. 183 | Kartika

Al-Mawaq (w. 897 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taju wa Al-Iklil sebagai berikut :

وفي المرأة تصلي في صف من صفوف الرجال عن يمينها رجل وعن يسارها رجل ، قال ابن القاسم : لا تفسد صلاتهم

Shof perempuan sejajar dengan shof laki-laki di kanannya laki-laki dan dikirinya laki-laki , ibnu alqosim berkata sholat mereka tidak batal.

Al-Mawaq, At-Taju wa Al-Iklil, jilid 2 hal. 434 | Ahda

An-Nafarawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani sebagai berikut :

فلو وقفت بجنبه كالرجل كره لها ذلك

Dan jika makmum wanita itu berdiri disampingnya seperti laki-laki maka baginya makruh.

An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, jilid 1 hal. 211 | Ahda

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

فلو أن رجلا أم امرأة وحدها وقفت خلفه ولم تقف إلى جنبه

Jika ada seorang laki-laki atau perempuan sendirian, ia berdiri di belakangnya, tidak berdiri di sampingnya.

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 2 hal. 340 | Anis

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

إذا صلى الرجل وبجنبه امرأة لم تبطل طلاته ولا صلاتها سواء كان إماما أو مأموما

Apabila seorang laki-laki shalat dan disampingnya terdapat perempuan, sholat laki-laki tersebut tidaklah batal begitu juga sholat perempuannya, baik ia menjadi imam ataupun makmum.

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 252 | Sofyana

Abul Khatab Al-Kalwadzani (w. 510 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

وإذا وقفت المرأة في صف الرجال كره ولم تبطل صلاتها ولا صلاة من يليها

Apabila seorang perempuan berdiri di shaf laki-laki (sejajar) hukumnya makruh walaupun tidak membatalkan shalat perempuan tersebut begitu pula shalat laki-laki tersebut .

Abul Khatab Al-Kalwadzani , Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad, jilid 1 hal. 101 | Sofyana

Al-Buhuti (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Syarh Muntaha Al-Iradat sebagai berikut :

إن وقفت امرأة (بصف رجال لم تبطل صلاة من يليها) من الرجال

Jika seorang perempuan berdiri pada shaf laki-laki ,maka tidaklah membatalkan sholat laki-laki yang berada di sampingnya.

Al-Buhuti, Syarh Muntaha Al-Iradat, jilid 1 hal. 281 | Irma

Baca Lainnya :