Apakah Gila, Kusta dan Belang Termasuk Aib?

Sat 14 November 2015 06:33 | 0
Isnawati

Dalam bab ini disebutkan, Apakah gila, kusta, dan belang merupakan aib bagi pasangan suami istri? dan Jika terdapat seperti kusta, atau belang ataupun gila pada salah satu pasangan suami istri, maka apakah pernikahan keduanya harus difasakh?

Maka dalam hal ini rata-rata para ulama menyatakan semua itu merupakan aib, hanya saja mereka berbeda-beda pendapat mengenai apakah pasangannya boleh khiyar, yaitu memilih untuk fasakh melanjutkan pernikahan, apakah tetap melanjutkannya, ataukah dia harus menthalaqnya dan mengembalikan kepada walinya? disinilah perbedaan pendapat diantara para ulama, berikut pendapat lebih lengkapnya?

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

(ولنا) أن النكاح لا يفسخ بسائر العيوب، فلا يفسخ بهذه العيوب أيضا؛ لأن المعنى يجمعها، وهو أن العيب لا يفوت ما هو حكم هذا العقد من جانب المرأة، وهو الازدواج الحكمي، وملك الاستمتاع،

Menurut madzhab kami adalah bahwa pernikahan tidak bisa di fasakh oleh aib apapun, maka tidak bisa di fasakh dengan aib yang telah tersebut ( kusta, belang, gila), karena maknanya jelas, bahwa aib tidak bisa menghilangkan hak sebuah akad dari sisi istri, yaitu percampur secara hukum, dan mendapatkan kesenangan...

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 327 | Ipung

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

وإذا كان بالزوج جنون أو برص أو جذام فلا خيار لها عند أبي حنيفة وأبي يوسف رحمهما الله وقال محمد رحمه الله لها الخيار

Menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf: jika si suami gila, berpenyakit belang, dan kusta, maka si wanita tidak memiliki khiyar (pilihan). Dan Muhammad berkata: si wanita memiliki khiyar. .

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 2 hal. 274 | Ipung

Khiyar adalah hak untuk menentukan apakah akan melanjutkan pernikahan atau menyudahinya. Al-Babarty (w. 786 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-'inayah Syarhul Hidayah sebagai berikut :

(وإذا كان بالزوجة عيب) أي عيب كان (فلا خيار للزوج في فسخ النكاح..... (وإذا كان بالزوج جنون أو برص أو جذام فلا خيار لها عند أبي حنيفة وأبي يوسف، وقال محمد لها الخيار) لأنه تعذر عليها الوصول إلى حقها لمعنى فيه فكان بمنزلة الجب والعنة فتخير دفعا للضرر عنها حيث لا طريق لها سواه

( Dan apabila terdapat aib pada istri) aib apapun, (maka tidak ada khiyar bagi suami untuk memfasakh pernikahan), (Dan apabila pada si suami terdapat aib berupa gila, belang, kusta, maka tidak ada khiyar menurut Abu Hanifah, Abu Yusuf, sedangkan Muhammad berkata: ada khiyar bagi istri) karena si suami berhalangan untuk memenuhi hak istrinya, sepereti jika ia memiliki aib dikebiri dan impoten maka si istri diberi pilihan (meneruskan pernikahan atau menyudahinya)memilih untuk mencegah daripada bahaya darinya, yang diamana tidak ada cara lain selain hal tersebut... .

Al-Babarty, Al-'inayah Syarhul Hidayah, jilid 4 hal. 303 | Ipung

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

(قوله لم يخير أحدهما بعيب) أي: لا خيار لأحد الزوجين بعيب في الآخر؛ لأن المستحق بالعقد هو الوطء والعيب لا يفوته بل يوجب فيه خللا ففواته بالموت قبل التسليم لا يوجب الخيار فاختلاله أولى

(perkataan penulis matan : salah satu dari kedua belah pihak tidak dapat memilih jika salah satu dari mereka memiliki aib) yang berarti jika salah satu dari kedua belah pihak memiliki aib, maka tidak ada khiyar bagi kedua belah pihak tersebut. Karena hak daripada sebuah akad adalah al-wath’u (jima’), dan aib tidak menghalangi seseorang untuk mendapatkannya,.. .

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 4 hal. 137 | Ipung

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

المذهب: الجذام، والبرص، وداء الفرج، والجنون، وذكر اللخمي العذيطة وكأنها ملحقة بداء الفرج وهذه العيوب إما أن تكون قديمة أو حادثة بعد العقد ولكل حكم يخصه، ولما كانت الثلاثة الأول أعني: البرص والجذام وداء الفرج حكمها واحد في كونها لا توجب الرد لكل واحد من الزوجين إلا إذا كان قديما بخلاف الجنون فإنه يوجبه

Pendapat madzhab: Kusta, belang, penyakit kelamin, dan gila, dan Al-Lakhami menyebutkan Al-‘Adzithah sejenis penyakit kelamin, ini semuanya merupakan aib, baik dia adanya sudah lama atau baru setelah terjadinya akad, maka keduanya memilki hukum khusus.

Ketiga aib yang awal-awal disebutkan yaitu belang, kusta dan penyakit kelamin, semua satu hukum, yaitu tidak diwajibkannya mengembalikan (kepada wali) bagi setiap suami atau istri yang memiliki aib ini, kecuali aibnya sudah ada sejak lama sebelum akad. Berbeda dengan aib gila, dimana aib ini mewajibkan mengembalikannya (kepada walinya).

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 3 hal. 484 | Isna

Al-Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Umm sebagai berikut :

ولا خيار في الجذام حتى يكون بينا فأما الزعر في الحاجب، أو علامات ترى أنها تكون جذماء ولا تكون فلا خيار فيه بينهما لأنه قد لا يكون

وله الخيار في البرص لأنه ظاهر وسواء قليل البرص وكثيره فإن كان بياضا فقالت ليس هذا برصا وقال هو برص أريه أهل العلم به فإن قالوا هو برص فله الخيار وإن قالوا هو مرار لا برص فلا خيار له فإن شاء أمسك وإن شاء طلق

(قال الشافعي) : والجنون ضربان خنق وله الخيار بقليله وكثيره وضرب غلبة على عقله من غير حادث مرض فله الخيار في الحالين معا وهذا أكثر من الذي يخنق ويفيق.

(قال الشافعي) : فأما الغلبة على العقل بالمرض فلا خيار لها فيه ما كان مريضا فإذا أفاق من المرض وثبتت الغلبة على العقل فلها الخيار

Tidak boleh khiyar dalam hal kusta sampai ada bukti yang jelas. Jika nampak rambut halus di alis atau tanda-tanda yang yang belum pasti apakah istrinya kusta atau tidak maka tidak boleh ada khiyar diantara mereka, karena bisa jadi bukan kusta...

Dan dia boleh khiyar dalam hal belang karena nampak jelas, baik sedikit maupun banyak. Jika ada belang, kemudian istri berkata, "itu bukan belang" tapi suami tetap berkata "itu belang" maka mintalah pendapat ahlinya (dokter). Jika mereka berkata "itu belang" maka suami boleh khiyar, tetapi jika mereka berkata "itu bukan belang" maka tidak ada khiyar baginya. Jika dia mau maka pertahankan, jika tidak maka ceraikan.

(Imam Syafi'i berkata) : Gila ada dua jenis ; tidak permanen maka dia boleh khiyar baik sering atau jarang kambuh, dan jenis lain yakni menutupi akal yang tidak disebabkan oleh sakit, maka suami boleh khiyar dalam dua jenis tersebut ....

(Imam Syafi'i berkata) : Jika akalnya tertutup karena sakit maka istri tidak boleh khiyar dalam hal ini selama masih sakit. Jka telah sembuh, namun akalnya masih tertutup maka dia boleh khiyar...

.

Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 5 hal. 91 | Qathrin

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

إذا وجد الرجل امرأته مجنونة أو مجذومة أو برصاء ... ثبت له الخيار , وإن وجدت المرأة زوجها مجنوناً أو مجذوماً أو أبرص ... ثبت لها الخيار

Jika suami mendapati bahwa istrinya gila, kusta, atau belang... maka suami boleh khiyar...

Dan jika istri mendapati bahwa suaminya gila, kusta, atau belang ... maka istri boleh khiyar... .

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 449 | Qathrin

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

العيوب المثبتة للخيار ثلاثة أقسام. أحدها: يشترك فيه الرجال والنساء، وهو ثلاثة: البرص، ... والثاني: الجذام، ...الثالث: الجنون منقطعا كان أو مطبقا، ولا يلحق به الإغماء بالمرض إلا أن يزول المرض ويبقى زوال العقل.

ومتى وجد أحد الزوجين بالآخر هذه العيوب، فله فسخ النكاح قل ذلك العيب أم كثر.

ولو تنازعا في قرحة، هل هي جذام؟ أو في بياض هل هو برص؟ فالقول قول المنكر، وعلى المدعي البينة، ويشترط كون الشاهدين عالمين بالطب.

Aib yang dibolehkan untuk khiyar dibagi menjadi tiga. Yang pertama : Bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan, ada tiga hal : belang ..., kusta... dan yang ketiga gila, baik gila semi permanen ataupun permanen. Sedangkan tertutupnya akal yang disebabkan sakit tidak termasuk kecuali akalnya masih tertutup setelah penyakitnya hilang.

Maka ketika salah satu dari suami atau istri mendapati aib pada pasangannya, maka dia boleh meminta fasakh baik aib tersebut sedikit ataupun banyak.

Dan jika mereka berselisih, apakah istrinya kusta? Atau jika nampak putih (di kulit), apakah suami punya penyakit belang? Maka perkataan yang diambil adalah perkataan yang tertuduh, dan yang menuduh harus punya bukti. Dan disyaratkan ada dua saksi yang mengerti tentang ilmu kedokteran... .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 7 hal. 176 | Qathrin

Fasakh : Menghapuskan ikatan pernikahan antara suami dan istri seakan belum pernah menikah sebelumnya. Dan status mereka dalam Islam bukan seperti duda atau janda, tetapi seperti perawan atau perjaka, meskipun sudah pernah menikah dan berjima' sebelumnya. Al-Hishni (w. 829 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Kifayatul Akhyar sebagai berikut :

باب عيوب المرأة والرجل

(وترد المرأة بخمسة عيوب بالجنون والجذام والبرص والرتق والقرن ويرد الرجل أيضا بخمسة عيوب بالجنون والجذام والبرص والجب والعنة)

لا شك أن النكاح يراد للدوام ومقصوده الأعظم الاستمتاع ... فيثبت الخيار بسبب ذلك لأنا لو لم نثبت الخيار في الفسخ بذلك لأدى إلى دوام الضرر ولا ضرر في الإسلام

Bab Aib Perempuan dan Laki-laki

(Perempuan ditolak karena lima aib yakni ; gila, kusta, belang, dan tertutupnya kemaluan baik oleh daging atau tulang. Dan laki-laki ditolak karena lima aib yakni ; gila, kusta, belang, dikebiri, dan impoten)

Tidak diragukan lagi bahwa yang paling diinginkan dalam pernikahan adalah kelanggengan dan tujuan utamanya adalah istimta'.... Maka dalam hal ini boleh khiyar jika terdapat aib, karena jika tidak dibolehkan khiyar untuk faskh berarti membiarkan madharat, dan dalam Islam madharat tidak dibiarkan. .

Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, jilid 1 hal. 366 | Qathrin

Dalam kitab ini aib dibagi dua. Aib yang menghalangi tujuan pernikahan yaitu jima' seperti tertutupnya kemaluan wanita, impoten dan laki-laki yang tidak punya kemaluan. Yang kedua yakni aib yang mengurangi kesempurnaan jima' seperti kusta, belang, dan gila. Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

(الباب الثامن في) أسباب (خيار النكاح وأسبابه المتفق عليها أربعة) ... (الأول العيوب وتنقسم) إلى ثلاثة أقسام (إلى مشترك) بين الزوجين (وهو ثلاثة البرص) ... (والجذام) ...(والجنون وإن تقطع) وهو زوال الشعور من القلب مع بقاء الحركة والقوة في الأعضاء واستثنى المتولي منه المتقطع الخفيف الذي يطرأ في بعض الزمان ... (لا الإغماء بالمرض)... (لا بعده) أي لا إن بقي الإغماء بعد زوال المرض أفيثبت به الخيار كالجنون

(فيثبت بها) أي بالعيوب السابقة والآتية أي بكل منها (الفسخ) للنكاح ...

(وإن اختلفا في كون شيء عيبا فشاهدان خبيران) بالطب

(Bab Kedelapan tentang) penyebab (Khiyar dalam Pernikahan)

(Dan sebab yang disepakati ada empat) ... (Yang pertama : Terdapat Aib. Dan aib dibagi) menjadi tiga.

1. (Bisa didapati) pada kedua pasangan (Dalam hal ini ada tiga yakni belang) ... (dan kusta) ... (dan gila jika permanen) yakni hilangnya kesadaran akal namun badan masih bergerak dan kuat. Dan dikecualikan jika gila semi permanen yang hanya terjadi sewaktu-waktu ... (tertutup akalnya bukan karena sakit... dan tidak setelahnya) yakni tidak dikecualikan jika akalnya tetap tertutup meskipun telah hilang penyakitnya, maka dalam kondisi ini dibolehkan khiyar sama seperti gila.

(Maka karena hal ini boleh khiyar) yakni karena aib-aib yan telah disebutkan (untuk memfasakh) pernikahan...

(Jika berselisih dalam menetapkan aib maka butuh dua saksi yang ahli) dalam ilmu kedokteran ... .

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 3 hal. 176 | Qathrin

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

وأسباب الخيار المتفق عليه ثلاثة، ... وتنقسم إلى ثلاثة أقسام: قسم مشترك بين الزوجين، وقسم مختص بالزوجة، وقسم مختص بالزوج،

وقد بدأ المصنف بالقسم الأول من العيوب، فقال إذا (وجد أحد الزوجين بالآخر جنونا) وإن تقطع أو كان قابلا للعلاج ثبت له الخيار ... (أو) وجد أحد الزوجين بالآخر (جذاما) ... (أو برصا) ... (ثبت) لواجد العيب من الزوجين (الخيار في فسخ النكاح)

Sebab khiyar yang disepakati ada tiga, ... dan dibagi menjadi tiga : Terdapat pada laki-laki dan perempuan, hanya terdapat pada istri, dan hanya terdapat pada suami.

Imam An-Nawawi memulai pembahasan dari bagian pertama, beliau berkata : (apabila suami atau istri mendapati bahwa pasangannya gila) baik gila permanen atau bisa disembuhkan maka boleh khiyar ... (atau) suami atau istri mendapati bahwa pasangannya (kusta)... (atau belang) ... (maka boleh khiyar untuk memfasakh pernikahan) karena terdapat aib pada pasangan. .

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 4 hal. 339 | Qathrin

Abul Khatab Al-Kalwadzani (w. 510 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

العيوب التي يثبت بها خيار الفسخ إذا قارنت النكاح تنقسم ثلاثة أقسام: والقسم الثالث: يشترك فيه الرجال والنساء وهو ستة أشياء: أحدها: الجنون ولا فرق بين المطبق وبين أن يحس في بعض الأوقات. والثاني: الجذام، وهو أن يتناثر به اللحم. والثالث: البرص، وهو بياض يظهر على الجلد

Adapun macam-macam aib yang telah ditetapkan untuk diperbolehkannya pilihan untuk menfaskh terbagi menjadi 3 bagian: Bagian ketiga : yang termasuk didalamnya laki-laki dan perempuan ada 6 hal : 1. Gila, baik gila permanen atau tidak permanen yang hanya muncul sewaktu-waktu 2. Kusta adalah dimana daging di tubuhnya berjatuhan 3. Belang adalah putih yang muncul di kulit .

Abul Khatab Al-Kalwadzani , Al-Hidayah 'ala Madzhabi Al-Imam Ahmad, jilid 1 hal. 393 | Sarah

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

في عدد العيوب المجوزة للفسخ، وهي فيما ذكر الخرقي ثمانية: ثلاثة يشترك فيها الزوجان؛ وهي: الجنون، والجذام، والبرص

Tentang aib-aib yang diperbolehkan untuk faskh ada 8 hal yang telah disebutkan oleh imam Al-Khiroqi.3 hal mencakup aib dalam laki-laki maupun wanita yakni gila, kusta dan belang.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 185 hal. 7 | Sarah

Wallahu'alam bis shawab

Baca Lainnya :

Apakah Status Perbudakan Termasuk Kriteria Sekufu?
Nur Azizah Pulungan | 15 October 2015, 06:00 | published
Kriteria sekufu dalam Syari'ah
Isnawati | 20 September 2015, 21:17 | published
Haruskah menikah dengan sekufu?
Isnawati | 11 October 2015, 05:01 | published
Hukum Menikahi Pasangan yang Tidak Sekufu
Siti Maryam | 13 October 2015, 05:37 | published
Apakah kecantikan atau ketampanan termasuk kriteria kafa'ah?
Qathrin Izzah Fithri | 16 October 2015, 04:53 | published
Apakah Kafaah Menjadi Syarat Dalam Pernikahan?
Ipung Multiningsih | 12 October 2015, 05:21 | published
Apakah Nasab Termasuk Kriteria Sekufu?
Fatimah Khairun Nisa | 14 October 2015, 06:00 | published
Apakah Kondisi Finansial Merupakan Standar Kafaah?
Isnawati | 31 October 2015, 05:59 | published
Apakah Kesamaan Profesi Termasuk Kriteria Kafaah?
Qathrin Izzah Fithri | 27 October 2015, 05:00 | published
Apakah Gila, Kusta dan Belang Termasuk Aib?
Isnawati | 14 November 2015, 06:33 | published