Baru Kholwah Sudah Dicerai, Wajibkah Iddah?

Mon 26 October 2015 23:49 | 0
Achadiah

Judul ini lahir berdasarkan fenomena, dan kasus perceraian yang kini kian marak baik disebab faktor internal maupun eksternal, namun ada hal penting yang harus kita perhatikan, dimana syariat sudah mengupasnya dengan sangat rinci dan detail, yaitu masa iddah bagi wanita yang dicerai oleh suaminnya, dan sebelum bercerai pasturi sudah berkhalwah, point inilah yang akan kita kaji dalam tulisan ini, apakah istri wajib menjalankan iddah atau tidak?

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

وإن كان قد خلا بها فطلاقها وعدتها مثل التي دخل بها لأن الخلوة الصحيحة في حكم العدة بمنزلة الدخول

Dan jika ia telah berkholwat dengan istrinya maka thalak dan iddahnya sama seperti ketika dia telah menjima' istrinya, karena kholwah shahihah dalam hukum iddah sama seperti dukhul..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 6 hal. 16 | Siska

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

وإن كان دخل بها أو خلا بها فلها ما سمي من المهر وعليها العدة؛ لأن أصل النكاح كان صحيحا فيتقرر المسمى بالتسليم إما بالدخول أو بالخلوة

Dan jika telah terjadi jima ataupun khalwah maka istri berhak atas mahar yang telah ditetapkan juga wajib iddah. Karena pernikahannya sah maka mahar yang telah disebutkan menjadi hak istri baik karena dukhul ataupun khalwah..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 26 | Nisa

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فلها كمال المهر، وعليها كمال العدة إن كان قد خلا بها في قول أبي حنيفة

Maka istri berhak atas sempurnanya mahar dan iddah jika suami telah berkholwah dengannya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 327 | Nisa

Al-Mawaq (w. 897 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taju wa Al-Iklil sebagai berikut :

إذا تصادق الزوجان بعد الخلوة بالنكاح الفاسد أو الصحيح على نفي المسيس لم تسقط العدة بذلك لأنه لو كان ولد لثبت نسبه

Apabila sepasang suami istri saling membenarkan bahwa tidak ada sentuhan badan setelah khalwah yang terjadi setelah pernikahan yang fasid ataupun yang sah, maka tidak gugur iddahnya (jika terjadi perceraian). Sebab setelah itu lahir seorang anak , maka nasab itu sudah jelas .

Al-Mawaq, At-Taju wa Al-Iklil, jilid 5 hal. 470 | Sarah

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

إذا كان معها في الخلوة نساء متصفات بالعفة والعدالة أو واحدة كذلك وعن خلوة لحظة تقصر عن زمن الوطء فلا عدة عليها، وأما لو كان معها في الخلوة نساء من شرار النساء وجبت العدة.

Jika saat terjadi khalwah (antara suami isteri) ada beberapa wanita didalamnya yang mereka mempunyai sifat iffah dan adil ataupun satu wanita saja dan khalwahnya itu terjadi dalam waktu yang singkat yang tidak memungkinkan terjadi jima' maka istri tidak wajib iddah. Akan tetapi jika yang didalamnya adalah wanita yang mempunyai sifat buruk maka istri wajib iddah (apabila terjadi perceraian)..

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 2 hal. 468 | Sarah

Asy-Syairazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafiiyah menuliskan dalam kitabnya At-Tanbih fi Al-Fiqh Asy-Syafi'i sebagai berikut :

وإن طلقها بعد الخلوة ففيه قولان: أصحهما أنه لاعدة عليها

Apabila suami menthalaq istrinya setelah mereka berkhalwat, dalam hal ini terdapat 2 pendapat : Dimana pendapat yang paling kuat dalam madzhab ini adalah tidak wajib melakukan iddah .

Asy-Syairazi, At-Tanbih fi Al-Fiqh Asy-Syafi'i, jilid 0 hal. 199 | Achad

Yahya Al-Imrani (w. 558 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafiiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bayan fii Mazhab Imam Asy-Syafi'i sebagai berikut :

فذهب الشافعي – رَحِمَهُ اللَّهُ – في الجديد إلى: أنه لا تأثير للخلوة في تقرير المهر، ولا في وجوب العدة

Imam syafi’i mengemukakan dalam qaul jadidnya : “Khalwat tidaklah berpengaruh dalam hal penentuan mahar ataupun masa iddah”. .

Yahya Al-Imrani, Al-Bayan fii Mazhab Imam Asy-Syafi'i, jilid 9 hal. 401 | Achad

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ولنا: إجماع الصحابة - رضي الله عنهم -، روى الإمام أحمد، والأثرم، بإسنادهما، عن زرارة بن أوفى، قال: قضى الخلفاء الراشدون المهديون، أن من أغلق بابا، أو أرخى سترا، فقد وجب المهر، ووجبت العدة.

Dalam mazhab kami: hal ini merupakan ijma’ para sahabat radiyallahu‘anhum yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Zaroroh bin Aufa. Beliau berkata : Khulafaur Rasyidin telah menetapkan bahwa jika seorang suami menutup pintu, atau menutup tirai jendela maka ia berhak mendapatkan mahar dan wajib melakukan iddah .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 249 | Zuria

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

الخلوة بعد العقد، لما روى الإمام أحمد بإسناده عن زرارة بن أوفى، قال: قضى الخلفاء الراشدون المهديون، أن من أغلق بابا، أو أرخى سترا، فقد وجب المهر، ووجبت العدة

Kholwah setelah akad sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Zaroroh bin Aufa, beliau berkata: Khulafaur Rasyidin telah menetapkan bahwa jika seorang suami menutup pintu, atau menutup tirai jendela maka isterinya berhak mendapatkan mahar dan wajib melakukan iddah .

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 65 | Zuria

Abdul Qodir Asy-Syaibani (w. 1135 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Nail Al-Marib bi Syarhi Dalil Ath-Tholib sebagai berikut :

المفارقة في الحياة لا تعتد إلا إن خلا بها أو وطئها وشرط لوجوب العدة للخلوة طواعيتها وعلمه بها فإن طلقها قبل الدخول أو الخلوة فلا عدة عليها

Seorang wanita tidak wajib melakukan iddah jika terjadi perpisahan kecuali setelah adanya khalwah atau terjadinya jima', dan syarat wajibnya iddah bagi seorang wanita setelah berkhalwah dengan suaminya yaitu ketaatan si istri dan pengetahuan suami terhadapnya. Maka apabila terjadi talak sebelum dukhul maupun khalwah maka tidak ada kewajiban iddah bagi istri.

Abdul Qodir Asy-Syaibani, Nail Al-Marib bi Syarhi Dalil Ath-Tholib, jilid 2 hal. 272 | Zuria

Dari pemaparan pendapat tiap madzhab diatas, dapat kita simpulkan bahwa pendapat yang diusung oleh masing-masing madzhab adalah senada, dalam artian tidak ada perbedaan pendapat diinternal madzhab. Bahkan 3 madzhab mu'tamad Hanafi, Maliki, dan Hanbali mewajibkan adanya iddah.

Wallahu a'lam bi Ash-Shawab

Baca Lainnya :

Definisi Kholwah Shohihah Dalam Pernikahan
Miratun Nisa | 29 October 2015, 11:45 | published
Baru Kholwah Sudah Dicerai, Wajibkah Iddah?
Achadiah | 26 October 2015, 23:49 | published
Pengaruh Kholwah Dalam Penentuan Mahar
Siti Sarah Fauzia | 1 November 2015, 11:51 | published