Definisi Kholwah Shohihah Dalam Pernikahan

Thu 29 October 2015 11:45 | 0
Miratun Nisa

Berkhalwat merupakan hal yang tidak dibolehkan jika itu dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Akan tetapi jika yang berkhalwat adalah sepasang suami istri maka sudah pasti itu dibolehkan, bahkan bernilai ibadah. Lalu, kapankah seorang suami dan istri dikatakan berkhalwat? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Berikut pemaparan masing-masing madzhab:

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

حد الخلوة الصحيحة أن لا يكون هناك مانع يمنعه من وطئها طبعا ولا شرعا، حتى إذا كان أحدهما مريضا مرضا يمنع الجماع أو صائما في رمضان أو محرما أو كانت هي حائضا لا تصح الخلوة لقيام المانع طبعا أو شرعا، وفي صوم القضاء روايتان في أصح الروايتين تصح الخلوة

Batasan khalwah shahihah yaitu ketika tidak adanya penghalang yang dapat menghalangi terjadinya jima', baik secara alami maupun secara syar'i. Namun jika salah satunya sakit atau memiliki penyakit yang mencegahnya untuk berbuat jima', atau sedang berpuasa di siang hari bulan Ramadhan, atau sedang dalam keadaan ihram, atau si isteri sedang haid, maka tidaklah disebut khalwah. Sebab adanya penghalang secara alami atau secara syar'i. Akan tetapi, jika puasanya adalah puasanya qadha', maka dalam hal ini terdapat 2 riwayat. Dan riwayat yang paling shahih dalam madzhab ini adalah bahwa khalwah dinyatakan sudah terjadi. .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 5 hal. 150 | Zuria

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

ما يجري مجرى الدخول، وهو الخلوة الصحيحة

Keadaan yang memungkinkan terjadinya dukhul, itulah khalwah shahihah..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 3 hal. 191 | Siska

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

ولو خلا بها في حجلة أو قبة فأرخى الستر عليه فهو خلوة صحيحة؛ لأن ذلك في معنى البيت

Dan jika khalwah itu terjadi di ruangan yang tertutup kemudian membentangkan tirai maka itu termasuk khalwah shahihah karena ruang tertutup itu disamakan dengan rumah..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 2 hal. 293 | Nisa

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

(قوله: في خلوة الاهتداء) من الهدء والسكون؛ لأن كل واحد من الزوجين سكن للآخر واطمأن إليه وخلوة الاهتداء هي المعروفة عندهم بإرخاء الستور كان هناك إرخاء ستور أو غلق باب أو غيره

(Dalam masalah kholwah ihtida’), ihtida’ yang berasal dari kata hudu’ dan sukun, karena didalamnya mereka saling menentramkan, dan merasa tenang. Dan kholwah ihtida diartikan dengan membentangkan tirai atau dengan menutup pintu atau yang lainnya. .

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 2 hal. 301 | Nisa

Az-Zarkasyi (w. 772 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Syarah Az-Zarkasyi ala Mukhtashar Al-Khiraqi sebagai berikut :

معنى الخلوة أن يخلو بها بحيث لا يحضرهما مميز مسلم، ولو أنه أعمى أو نائم ……. بعد العقد يشمل العقد الصحيح والفاسد

Makna kholwah adalah ketika suami menyendiri dengan istrinya di satu ruangan sepi, tanpa kehadiran seorang muslim mumayyiz, walaupun muslim itu buta atau sedang tidur....setelah akad nikah shohih atau fasid.

Az-Zarkasyi, Syarah Az-Zarkasyi ala Mukhtashar Al-Khiraqi, jilid 5 hal. 316 | Zuria

Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bishshawab.

Baca Lainnya :

Definisi Kholwah Shohihah Dalam Pernikahan
Miratun Nisa | 29 October 2015, 11:45 | published
Baru Kholwah Sudah Dicerai, Wajibkah Iddah?
Achadiah | 26 October 2015, 23:49 | published
Pengaruh Kholwah Dalam Penentuan Mahar
Siti Sarah Fauzia | 1 November 2015, 11:51 | published