Pengaruh Khalwah Dalam Ketetapan Nasab

Thu 29 October 2015 01:16 | 0
Zuria Ulfi

Sebelum mengetahui lebih jauh tentang hukum khalwah dan kaitannya dengan ketetapan nasab sang anak, ada baiknya pembahasan kali ini kita awali dengan pengertian khalwah secara bahasa juga maknanya dalam kaidah fiqih dari para ulama.

Dalam kamus Mu'jam al-Wasith al-khalwah diartikan sebagai sebuah keadaan dimana seseorang menyendiri dengan orang lain atau hanya dirinya sendiri. Sering kali khalwah selalu diartikan dalam konteks makna negatif, yaitu seseorang berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya di tempat yang sunyi, gelap dan tak terlihat. Dan terkadang pandangan ini menyesatkan karena tanpa sebab yang jelas, seseorang langsung tertuduh dengan perbuatan yang melanggar norma dan nilai sosial yang ada di masyarakat.

Padahal dalam tinjauan para fuqoha, al-khalwah memiliki banyak arti dan tidak semua bermakna negatif. Ada sebuah istilah yang mungkin terdengar asing ditelinga kita, al-khalwah ash-shahihah.Dan istilah ini mungkin sangat jarang dipakai dan digunakan oleh para penceramah di negera kita.

Secara global, al-khalwah ash-shahihah diartikan sebagai keadaan dimana suami berada bersama dengan istrinya dalam ruangan tertutup, yang tidak ada orang lain diantara mereka dan itu terjadi sesaat setelah akad nikah dan dinyatakan sah sebagai suami istri.

Lantas, apakah yang dimaksud dalam judul diatas tentang pengaruh khalwah dalam ketetapan nasab sang anak?

Sesaat setelah terjadinya khalwah, secara tiba-tiba suami mentalak istrinya yang baru saja dinikahi. Apabila setelah khalwah tersebut ada anak yang dilahirkan, maka nasab sang anak dinasabkan kepada suami yang mentalaknya, dan ini adalah kesepakatan para ulama. Sebab ada kemungkinan, suami sudah melakukan jima' terhadap istrinya.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak pendapat dari para ulama empat madzhab berikut ini :

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

وإن كان الطلاق بعد الخلوة لزمه الولد إلى سنتين لأن النكاح بالطلاق قد ارتفع إلى عدة ولما جعلنا الخلوة بمنزلة الدخول في إيجاب العدة فكذلك فيما ينبني عليه، وهو ثبوت نسب الولد.

Apabila talak terjadi setelah kholwah, jika ada anak yang dilahirkan oleh isterinya dalam tenggang waktu maksimal dua tahun pasca thalak, maka anak itu dinasabkan kepada suami yang menceraikannya, karena talak yang terjadi setelah pernikahan mewajibkan adanya iddah. Sebagaimana yang terdapat dalam madzhab kami bahwa kedudukan kholwah sama dengan dukhul dalam kewajiban iddah, maka inilah yang menjadi dasar dalam penetapan nasab.

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 6 hal. 50 | Zuria

Al-Mawaq (w. 897 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taju wa Al-Iklil sebagai berikut :

إذا تصادق الزوجان بعد الخلوة بالنكاح الفاسد أو الصحيح على نفي المسيس لم تسقط العدة بذلك، لأنه لو كان ولد لثبت نسبه

Apabila sepasang suami istri saling membenarkan bahwa tidak ada sentuhan badan setelah khalwah yang terjadi setelah pernikahan yang fasid ataupun yang sah, maka tidak gugur iddahnya (jika terjadi perceraian). Sebab setelah itu lahir seorang anak , maka nasab itu sudah jelas.

Al-Mawaq, At-Taju wa Al-Iklil, jilid 5 hal. 471 | Sarah

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Fathu Al-Wahhab bi Syarhi Minhaji Ath-Thullab sebagai berikut :

بخلاف الزوجة فإنها تكون فراشا بمجرد الخلوة بها حتى إذا ولدت للإمكان من الخلوة بها لحقه وإن لم يعترف بالوطء والفرق أن مقصود النكاح التمتع والولد فاكتفي فيه بالإمكان من الخلوة

Sebaliknya, istri sudah dapat disebut firasy bagi suaminya hanya dengan khalwat, bahkan apabila ia melahirkan seorang anak, maka nasabnya di kembalikan ke suami tersebut, meskipun ia belum mengakui adanya watha’, karena tujuan asal pernikahan adalah istimta’ dan keturunan, maka dengan khalwat sudah dianggap dapat terpenuhinya dua hal tersebut. .

Zakaria Al-Anshari, Fathu Al-Wahhab bi Syarhi Minhaji Ath-Thullab, jilid 2 hal. 135 | Achad

watha': terjadinya hubungan suami istri Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

بخلاف الزوجة فإنها تكون فراشا بمجرد الخلوة بها حتى إذا ولدت للإمكان من الخلوة بها لحقه وإن لم يعترف بالوطء والفرق أن مقصود النكاح التمتع والولد فاكتفي فيه بالإمكان من الخلوة

Sebaliknya, istri sudah dapat disebut firasy bagi suaminya hanya dengan khalwat, bahkan apabila ia melahirkan seorang anak, maka nasabnya di kembalikan ke suaminya meskipun ia belum mengakui adanya watha’, karena tujuan asal pernikahan adalah istimta’ dan keturunan, maka dengan khalwat sudah dianggap dapat terpenuhinya dua hal tersebut..

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 5 hal. 121 | Achad

Firasy adalah wanita yang dijima' oleh suaminya dalam pernikahan yang sah Syamsuddin Abul Farraj Ibnu Qudamah (w. 682 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Syarhu Al-Kabir 'ala Matni Al-Muqni' sebagai berikut :

وإن كان بعد الخلوة قبل الإصابة فالمنصوص عن أحمد أن عليها العدة لأنه أجري مجرى النكاح الصحيح في لحوق النسب فكذلك في العدة

Apabila talak terjadi setelah kholwah dan belum terjadi senggama, maka menurut Imam Ahmad wajib baginya iddah karena suami berhak atas nasab sebagaimana dalam nikah shahih.

Syamsuddin Abul Farraj Ibnu Qudamah, Syarhu Al-Kabir 'ala Matni Al-Muqni', jilid 9 hal. 95 | Zuria

Wallahu a'lam

Baca Lainnya :

Kapankah Ibu Mertua Menjadi Mahram Bagi Menantu, Sejak Akad Atau Setelah Jima'?
Siti Sarah Fauzia | 12 May 2015, 05:24 | published
Bolehkah Menikahkan Orang Gila?
Zuria Ulfi | 21 November 2015, 17:04 | approved
Makna Nikah Hakiki : Akad atau Jima?
Achadiah | 21 September 2015, 15:01 | published
Bolehkah Nikah Dengan Meminta Syarat Tertentu?
Ipung Multiningsih | 10 September 2015, 09:29 | draft
Berbagai Kondisi Yang Mewajibkan Nikah
Siska | 24 September 2015, 04:00 | published
Haruskah Akad Dengan Bahasa Arab?
Siti Maryam | 17 September 2015, 11:06 | published
Haruskah Nikah Dengan Perawan?
Zuria Ulfi | 23 September 2015, 16:10 | published
Apakah Keridhaan Kedua Belah Pihak Menjadi Syarat Sahnya Akad?
Nur Azizah Pulungan | 15 October 2015, 06:00 | draft
Wajibkah Suami Menjima' Istrinya ?
Achadiah | 7 October 2015, 01:59 | published
Wajibkah Mengumumkan Pernikahan?
Siska | 8 October 2015, 23:16 | published
Nasab Anak Zina
Nur Azizah Pulungan | 10 October 2015, 16:48 | draft
Nasab Anak dari Hubungan Syubhat
Fatimah Khairun Nisa | 10 October 2015, 16:49 | draft
Wajibkah Seorang Istri Mengkhidmah Suaminya?
Ipung Multiningsih | 10 October 2015, 16:52 | draft
Kadar Nafkah Suami untuk Istri Menurut 4 Mazhab
Siti Maryam | 10 October 2015, 16:53 | draft
Pengaruh Khalwah Dalam Ketetapan Nasab
Zuria Ulfi | 29 October 2015, 01:16 | published
Siapa yang berhak menikahkan anak dibawah umur?
Fatimah Khairun Nisa | 7 November 2015, 06:03 | approved
Hukum menikahkan orang gila
Nur Azizah Pulungan | 7 November 2015, 14:13 | approved